GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
RAPUH


__ADS_3

Setiap masalah pasti ada solusinya. Tapi kenapa masalah yang satu ini tidak ada solusinya sejak tadi? Gavin bolak balik keluar dari situs yang sama, tapi tetap saja hasilnya sama.


"Angga, masih hidup Lo?"


"Lumayan." Sahut Angga dari sebrang telepon, kebetulan sejak Gavin masuk kedalam ruangan rahasia di dalam walk closet. Gavin langsung menghubungi Angga, dan sambungan telepon masih tersambung.


"Ck, kenapa susah banget? Cuman hapus link doang." Gerutu Gavin.


"Coba Lo keluar, biar gue yang urus."


Gavin menurut, beralih membuka situs lain, yang sudah dipenuhi dengan ucapan selamat ada juga yang galau mengetahui hal itu.


Awalnya Gavin pikir orang-orang akan berkomentar yang tidak-tidak, tapi sayangnya tidak seburuk yang dibayangkan. Kebanyakan berada dipihak nya, apalagi teman-teman gamers lainnya membantunya menghapus beberapa link rekaman yang tersebar.


Tapi di akun Instagram istrinya, lebih banyak komentar jahat. Bahkan ada yang menghina Istrinya terang-terangan. Gavin dengan santainya membalas satu persatu, bahkan merekam semua akun yang merendahkan istrinya. Agar Erwin yang turun tangan, membalaskan dendam nya.


Rahangnya mengeras, tatapan matanya menajam. Hingga terdengar knop pintu diputar, menampakkan Kenzie dengan wajah cemberut.


"Kamu ninggalin aku."


Sontak Gavin tertawa kecil, bangkit dari tempatnya melangkah mendekat kearah Kenzie. Mengangkat tubuh kecil itu dengan entengnya, dan mendudukkannya di atas pangkuannya.


"Maaf." Ucap Gavin lembut, sembari merapikan helaan rambut panjang istrinya. Dan melilitkan kaki kecil itu, melingkar di pinggangnya.


"Muka nya jangan digituin, makin cantik."


"Gak lucu."


Terdengar kekehan geli dari bibir tebal itu, sesekali mengecup bibir mungilnya.


"Kenapa, hm? Lapar? Ngidam? Atau gimana?"


Kenzie hanya mengelengkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya diceruk leher suaminya merasakan sentuhan lembut jemari besar itu dipinggangnya.


"Jangan mikir yang aneh-aneh, ingat dede bayi kita." Peringat Gavin.


Sebenarnya Kenzie tidak memikirkan apa-apa, walaupun rekaman itu tersebar luas menurut Kenzie tidak ada yang perlu disembunyikan. Asal ada Gavin disampingnya.


"Vin, udah terhapus." Terang Angga dari sebrang telepon.


"Makasih bro."


"Sama-sama, Lo jaga aja bini Lo. Gak usah kemana-mana. Edo sama papa udah turun tangan ke pihak sekolah."


Gavin menghela napas lega, meraih ponsel itu dan menempelkannya di telinganya.


"Beliin gue hp baru."


"Lah, human gue bukan bapak Lo. Seenak jidatnya Lo nyuruh gue beli hp. Lo pikir itu murah?"


"Ck, uang bapak Lo banyak kalo Lo lupa."


"Lo juga punya uang, bapak Lo juga punya uang. Buat apa ngelapor sama gue?"


"Lo teman gue apa gak?"


"Ck, gue gak ada waktu. Tidur aja gue gak sempat cuman mikirin hidup Lo. Sekalian aja suruh nyokap Lo nikah sama gue."


"Kalo Lo bosan hidup, emang Lo mau si Viktor saingan Lo?"


"Br*ngsek, si Viktor bapak Lo Vin. Gila kali Lo. Gak ada sopan santunnya Lo jadi anak."


Sontak Kenzie tertawa kecil, mendongak kepalanya keatas menatap wajah tampan itu, yang juga menatapnya.


Hingga bibir tebal itu menyapa sudut bibirnya, sesekali mengusap lembut pinggangnya.


"Vin, si Edo lagi kencan sama si Dian."

__ADS_1


"Bilang aja Lo cemburu."


"Buat apaan, gue cuman–"


"Gosip? Itu maksud Lo? Bini gue aja gak tukang gosip kayak Lo. Makanya cari pacar, tuh si Fani aja pacari."


"Terserah, kerjaan Lo ngebully orang mulu."


Sambungan telepon terputus, Gavin hanya mengangkat bahunya acuh meletakkan ponsel Kenzie keatas meja.


"Kamu nakal banget sih Vin."


"Biarin yang, lagian keras kepala. Susah banget dibilangin."


"Emang kenapa?" Tanya Kenzie serius.


"Trauma. Dia benci wanita, tapi bukan belok. Gara-gara nyokap si Dea anjing." umpat Gavin tanpa filter.


"Ck, ngomong apaan sih. Mulut kamu gak pernah benar kalo ngomong."


"Iya, cuman diatas ranjang doang aku ngomong yang benar. Apalagi–"


"Diam gak!"


Sontak Gavin tertawa terbahak-bahak, memeluk erat tubuh kecil itu saking gemasnya.


"Sayang, udah satu bulan loh aku gak dapat jatah."


"Tunggu selesai ujian dulu oke, baru kita kedokter kandungan." Bisik Kenzie lembut.


"Iya-iya, apa sih gak buat mommy Kenzie."


"Asal jangan nikah sama Tiara." Ucap Kenzie ketus.


"Ulangi!" Tekan Gavin.


"Kamu gak boleh nikah sama siapapun, cukup cuman aku istri Gavin Megantara."


"Gak, masih nanya."


"Kamu cinta sama aku?"


"Kenapa masih ditanya?" Tanya Kenzie balik.


Menatap wajah tampan itu, yang terlihat menatap lurus kedepan dengan tatapan menerawang. Dahinya mengerut, ekspresi wajahnya berubah.


"Hidup itu sulit. Mulai dari SMP, aku sama Angga dan Edo udah biasa hidup monoton. Gak ada cinta, kasih sayang, apalagi perhatian. Kadang aku gak nyangka aja gitu, ada wanita yang mau sama aku secantik kamu. Udah cantik, perhatian, cinta lagi sama aku."


"Sekarang malah ada bayi diperut kamu, aku gak nyangka. Dua kali kecelakaan maut, tapi Tuhan masih beri kesempatan." Ungkap Gavin.


Manik hitam itu berkaca-kaca, wajah tampan tegas dan pemberani itu hilang sekejap. Digantikan wajah sedih, butuh perhatian layaknya anak kecil.


"Jangankan selingkuh, kamu aja udah cukup alasan aku bertahan." Ucap Gavin lembut.


Setetes air mata keluar dari pelupuk matanya, dengan kasar Gavin langsung mengusapnya. Sembari mengalihkan tatapannya kearah yang lain, malu menatap wajah cantik itu.


Baru kali ini Gavin terlihat menyedihkan di mata orang, yang sayangnya di mata istri sendiri. Rasanya terlihat seperti pengecut, bukan pria gentle idaman para wanita.


Hingga jemari lentik itu menyentuh rahangnya, mengelus lembut penuh kasih sayang. Lara saja wanita yang melahirkannya, jarang melakukan hal seperti itu. Kedua orangtuanya hanya mengajarkan sakitnya kehidupan.


Baik hidup susah ataupun senang, punya uang atau tidak. Pasti ada saatnya badai menyapa. Di situ akan ditunjukkan, seberapa kuatnya mental dan hati seseorang. Gavin gagal, dia tak sekuat yang dibayangkan.


"Vin."


Hening, tidak ada sahutan. Wajah tampan itu masih enggan menatapnya, bahkan sekedar meliriknya.


"Mau nangis, hm? Kenapa ditahan? Sini peluk." Tegas Kenzei lembut.

__ADS_1


Menarik wajah tampan itu kedalam dekapannya, mengelus lembut rambut suaminya hingga bahu tegar itu bergetar.


"Maaf, gara-gara aku. Kamu malah sengsara." Lirih Gavin.


"Siapa bilang? Aku senang hidup sama kamu. Susah senang, ada waktu dan masa nya. Gak mungkin tiap detik hidup kita bahagia, itu namanya serakah."


Terasa anggukan kecil diceruk leher Kenzie, lengan kekar itu memeluk erat tubuh kecilnya hingga tidak ada celah antara mereka berdua.


Sesekali Kenzei mencium pelipis suaminya, lengan kecilnya mengelus lembut punggung kekar itu. Maniknya tanpa sadar meneteskan air mata, seakan ikut merasakan beban suaminya.


Ruangan itu menjadi saksi bisu, seberapa rapuh nya mereka berdua. Bahkan tanpa tau malunya, bibir tebalnya mengeluarkan isakan tangis. Padahal Gavin sengaja mengigit bibir bawahnya, menahan isakan menyedihkan itu. Tapi tetap saja ketahuan.


"Sayang, udah nangis nya. Nanti aku ngambek." Bujuk Kenzei.


Menangkup wajah tampan itu dengan kedua tangannya, seraya menunjukkan seulas senyuman manis kearah Gavin.


Jemari lentiknya menghapus jejak air mata itu, dengan lembut mencium kening dan kedua manik suaminya.


"Suami aku cengeng banget, gak malu. Masa nangis sih." Rayu Kenzei, hingga bibir tebal itu terkekeh geli. Sembari menyelusupkan kepalanya di ceruk lehernya.


"Gak boleh nangis! Gak boleh nyalahin diri sendiri. Kita sama-sama berjuang, oke. Katanya suami, yah harus kuat."


"Tapi aku juga manusia tau yang." Kilah Gavin, dengan suara serak dan sayu.


"Emang yang bilang kamu setan siapa?"


"Kamu, masa lupa."


Kenzie hanya tertawa kecil, mengelus lembut rambut suaminya sesekali menangkup wajah tampan itu, mengecup bibir tebalnya.


"Jangan di cium terus, nanti bengkak." Goda Gavin.


"Biarin, biar makin tebal."


"Yah."


"Kenapa? Kamu gak mau?"


"Nanti kamu cari suami baru, aku mana mau. Nanti yang peluk aku siapa? Kalo aku pengen itu, minta sama siapa?"


"Mesum."


Gavin hanya terkekeh geli, meletakkan kepalanya dipundak Kenzie seraya menatap wajah cantik itu lekat.


Perasaan hangat menjalar di seluruh tubuhnya, apalagi manik lentik itu menatapnya dengan tatapan teduh, jemarinya mengelus lembut rahangnya.


"Sayang, aku antar kamu ke rumah bunda yah." Ujar Gavin tiba-tiba.


Sontak manik Kenzie melotot sempurna, napasnya tercekat mendengar ucapan suaminya.


"Maksud kamu apa? Kita cerai gitu?"


"Bukan sementara waktu, biar kamu punya teman di rumah."


"Maksud kamu gimana sih? Emang kamu mau kemana?" Sergah Kenzie dengan napas yang memburu.


"Aku mau urus ini semua dulu, udah ada wartawan satu dua orang di depan gerbang. Takutnya–"


"Gak, aku gak mau."


"Sayang."


"Jangan bilang kamu mau nikah sama Tiara." Tuduh Kenzie.


"Dengerin dulu. Kita berdua tinggal di rumah ayah sama bunda sementara waktu. Tempat ini gak cocok buat kamu, apalagi bayi kita." Jelas Gavin lembut, seraya menahan Kenzei yang hendak bangkit dari tempatnya.


"Aku bilang gak, tetap gak. Aku tau kamu tukang bohong, kamu mau bohongi aku lagi kan?"

__ADS_1


_____________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


__ADS_2