GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
SUASANA BARU


__ADS_3

Perlahan manik lentik itu mengerjap, menatap langit-langit kamar, dan mengerutkan dahi. Perasaan Kenzie ada yang aneh, seingatnya langit-langit kamar suaminya tidak seperti ini.


Sontak Kenzei bangkit dari tempatnya, mengamati sekeliling dan benar dugaannya. Ini bukan kamar nya apalagi kamar suaminya.


"GAVIN!"


Kenzie mengepalkan kedua tangannya, maniknya sudah berkaca-kaca tanpa sadar air mata jatuh dari pelupuk matanya. Apa Kenzie di culik? tapi tidak mungkin, suaminya selalu memperketat keamanannya selama ini. Tapi ini dimana? apa Gavin setega itu? Jujur Kenzie takut.


Hingga pintu terbuka, menampakkan Gavin dengan senyuman lebar dibibirnya, tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Kenapa sayang?"


Gavin duduk di tepi ranjang, menarik tubuh kecil itu kedalam dekapannya.


"Kamu tega ninggalin aku,"


"Iya-iya maaf, aku pikir kamu belum bangun,"


"Jahat banget sih, aku takut tau."


"Kenapa takut? kan ada aku,"


Gavin mengelus lembut rambut istrinya, sesekali tertawa kecil merasakan pukulan kecil di punggung kekarnya.


"Jahat, aku pikir kamu jual aku,"


"Astaga, ngomong apaan sih yang."


Spontan Gavin melepaskan pelukannya, menatap tajam wajah cantik itu. Semakin hari wanita ini semakin aneh. Ucapannya melantur, tidak sebijak sebelumnya.


"Siapa tau, karena gak dapat jatah tiap malam. Kamu malah jual aku, biar bisa nikah lagi,"


"Astaga, aku baru tau si ketua OSIS galak itu bodoh,"


"Dih sok pintar, nilai rapot kamu aja C semua,"


"Yah, kenapa malah sampai ke situ?"


"Kamu yang duluan, gak tau malu. Kalo anak kamu lihat itu gimana?"


"Yah aku bakar,"


"Bodoh,"


Kenzie bangkit dari tempatnya, menjambak kecil rambut suaminya. Gavin sudah biasa dengan itu, untung tidak sandal bulu-bulu istrinya yang melayang di wajahnya.


"Kamu jual rumah papa? mana berlian nya?" tanya Kenzei dengan santainya.


"ASTAGA, JAHAT BANGET KAMU INI."


"Jadi ini rumah siapa?"


"Mau lihat?"


"Tapi berlian nya mana?"


"Tunggu aku jual g*njal dulu,"


"Bagus itu,"


"Yah, kalo aku mati gimana?" tanya Gavin syok, tidak habis pikir dengan jawaban istrinya.


"Gak bakal, jual aja. Aku mau beli berlian,"


"Nyesel aku gak jual kamu,"


Sontak Kenzie tertawa terbahak-bahak, menangkup wajah tampan itu. Mengecup bibir tebal itu saking gemasnya.


"Suami aku makin hari makin durhaka,"


"Gak sadar,"


Gavin bangkit dari tempatnya, menarik lengan kecil itu keluar dari kamar. Membuka pintu rumah, menampakkan hamparan sawah dan sungai yang mengalir ditengah-tengah sawah.


"Eh, kita dimana?"

__ADS_1


"Tempat kita bulan madu, bukan di Bali yah sayang," goda Gavin.


Kenzie hanya mengangkat bahunya acuh, duduk di kursi panjang depan rumah, dengan tatapan tidak lepas dari pemandangan dihadapannya.


Suaminya benar-benar mewujudkan keinginannya, sebelum mereka pulang dari sini, Kenzie sempat membisikkan permintaannya.


"Vin, kalo aku hamil nanti. Kita tinggal di sini aja yah. Lingkungannya sehat, orang-orangnya baik. Cuman kamu doang yang kayak setan,"


Gavin ingat betul permintaan itu, sebenarnya setiap weekend rencananya Gavin ingin mengajak Kenzie ke sini. Tapi karena kecelakaan beberapa bulan yang lalu, rencananya hancur berantakan.


Terkadang setiap rencana itu tidak terwujud dalam waktu yang singkat, tapi semua ada waktunya.


"Sayang, aku ke rumah Abah bentar. Mau pasang lampu," ucap Gavin lembut, seraya mengikat rambut panjang istrinya.


"Hati-hati, takutnya lampunya nyala kamu yang mati."


"KAMU DOAIN AKU MATI?" Teriak Gavin syok.


Tanpa merasa berdosa nya Kenzie malah tertawa terbahak-bahak, memutar tubuhnya mengahadap kearah Gavin. Dengan tawa yang semakin pecah.


"Bercanda sayang, kalo kamu mati yang jadi suami aku siapa?"


"Gak lucu,"


"Iya maaf, gak usah ngambek. Jadi makin tampan," rayu Kenzei, walau tetap saja wajah tampan itu datar dengan tatapan tajam.


"Aku bercanda loh Vin, mukanya jangan digituin. Bukannya ganteng, malah bikin kesal."


"Tadi katanya ganteng,"


"Sekarang udah gak. Yaudah sana, hati-hati jangan ceroboh."


Gavin hanya mengerucutkan bibirnya, berlalu masuk kedalam rumah pak Harto.


Kenzie hanya tertawa kecil, beralih menatap pemandangan indah dihadapannya. Semua beban yang sempat singgah di benaknya, hilang sekejap. Suasana yang Kenzie impikan akhirnya terwujud, langit sore, angin sejuk, dan hamparan sawah.


Mungkin beberapa bulan yang lalu pikirannya terasa terbebani, untung ada suaminya yang setia disampingnya. Sekarang pemandangan indah yang Kenzie impikan di depan mata, lengkap dengan suami yang selalu stay disampingnya.


Hingga terdengar decitan sandal, mengalihkan perhatian Kenzie.


"Hai, namanya siapa?" tanya Kenzie lembut, seraya melambaikan tangannya.


"Sini sama Tante, gak usah malu,"


Tubuh kecil itu melangkah ragu, dan berlari kecil kearahnya.


"Namanya siapa?" ulang Kenzie, seraya mengelus lembut rambut gadis kecil dihadapannya.


"Rahel Tante,"


"Namanya cantik,"


"Iya, mama juga bilang gitu. Tapi papa jelek, bilang enggak."


Spontan Kenzei tertawa kecil, mengangkat tubuh kecil itu duduk disampingnya.


"Kok bilang papa jelek,"


"Karena papa jelek, Tante cantik. Di sini ada dede bayi yah Tante cantik?" tunjuk Rahel, kearah perut Kenzie.


"Iya, kakak tau darimana?"


"Dari mama, soalnya perut papa kayak gini. Tapi belum ada dede bayinya sampai sekarang,"


Sontak Kenzie tertawa terbahak-bahak, mengacak-ngacak rambut Rahel dengan gemas. Kenzie pikir mama nya hamil, ternyata papa nya yang buncit.


"Jadi papa sama mama mana?"


"Kerja jauh, kata nenek."


"Oh, Rahel tinggal sama nenek?"


"Iya Tante cantik,"


"Umur nya berapa?"

__ADS_1


Dahi kecil itu mengerut, detik berikutnya menjulurkan kelima jari kecilnya.


"4 kata mama,"


"Itu lima, empat kayak gini,"


Kenzie menunjukkan ke empat jari nya, hingga terdengar tawa kecil dari bibir mungil itu.


"Rahel lupa Tante,"


"Kakak udah sekolah?"


"Belum,"


"Kelas berapa coba?"


"Kelas lima,"


Kenzie tertawa kecil, mencubit pipi chubby itu saking gemasnya. Anak kecil memang begitu, jawabnya belum sekolah. Tapi saat ditanya kelas berapa, pasti ada aja jawabannya.


Kenzie ingat betul kelakuan Kenzo dulu seperti ini, polos, dan wajah Rahel sama persis lucunya dengan wajah Kenzo waktu kecil.


"Wow, sejak kapan anak kita lahir?" ucap Gavin asal, duduk disamping Kenzie. Mengangkat Rahel ke atas pangkuannya.


Bibir tebal itu membentuk senyuman lebar, manik hitamnya berbinar menatap wajah kecil itu. Pertama kali Kenzei melihat wajah tampan itu menampilkan ekpresi seperti itu, pemandangan yang langka.


"Namanya siapa cantik?" tanya Gavin lembut, seraya mencium pipi chubby itu.


"Rahel om,"


"Papa pakai gaya apa ciptain Rahel? cantik benar,"


"Gavin!"


"Gaya kodok, atau kupu-kupu?"


"Jangan ngomong yang aneh-aneh Gavin!"


"Gelap atau terang?"


"Vin,"


"1 malam atau 1 hari?"


"Gavin!"


"Iya sayang, kenapa?"


"Jangan ngomong yang aneh-aneh, dia masih kecil."


"Iya,"


Kenzie hanya menghela napas panjang, mengarahkan tatapannya kearah yang lain. Tanpa memperdulikan tingkah suaminya. Semakin diperingati, malah semakin berulah. Jadi dibiarkan saja.


Sesekali terdengar tawa kecil, dalam sekejap dua manusia itu kompak layaknya teman dekat. Hingga terasa sentuhan lembut di perut buncitnya, terdengar suara lembut menyapa telinganya.


"Anak om pasti cantik kayak Rahel, soalnya mama nya cantik. Gak ada tandingannya," Bisik Gavin lembut tepat di telinga Kenzie.


"Ngombal,"


"Kamu memang cantik, cantik banget malah. Sampai kapan pun, kamu tetap wanita tercantik di hati aku."


Sekejap wajah Kenzie memerah sempurna, senyuman yang Kenzie tahan muncul dengan sendirinya.


Ingin rasanya Kenzie berteriak sekencang-kencangnya, atau menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah bak kepiting rebus.


"Setiap detik cuman ada kamu di hati dan pikiranku. Hanya ada nama kamu yang aku sebut dalam doa. Wanita sempurna, yang tidak akan mungkin bisa aku miliki,"


"Ngomong apaan sih,"


Kenzie mengusap air matanya kasar, bangkit dari tempatnya berlalu masuk kedalam rumah. Kenzie bingung arah pembicaraan ini, tapi hati dan air matanya tidak bisa diajak kompromi seakan tau maksud ucapan suaminya.


_______________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)

__ADS_1


__ADS_2