GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
TIARA?


__ADS_3

"Sayang, pengen makan gado-gado." bisik Kenzie tepat tepat di telinga Gavin.


Spontan Gavin membalikkan tubuhnya, menatap wajah cantik itu dengan tatapan bingung.


"Ulangi!"


"Daddy Gavin, aku pengen makan gado-gado."


"Bukan yang itu, sebelumnya."


"Malas, cepatan gak. Orang udah lapar juga, masih aja sok romantis."


"Yah."


"Aduh Vin, cepatan. Telepon pak Erwin suruh beli gado-gado di ujung kompleks." Ucap Kenzei heboh.


"Iya-iya."


Gavin mengangguk-angguk kepala, seraya fokus menatap layar ponselnya. Menghubungi pak Erwin sesuai perintah Baginda ratu. Sekali panggil, langsung tersambung.


"Selamat malam tuan."


"Ck, panggil Gavin aja pak, yaelah udah kayak anjing sama tuan– Sakit banget yang." Adu Gavin, sembari mengelus lengan nya bekas cubitan Kenzie.


"Yang benar ngomongnya, masa sama orangtua ngomongnya gitu."


"Iya-iya, tapi jangan cubit. Sakit banget tau yang."


"Makanya sopan."


Gavin malah mengerucutkan bibirnya, meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja dan melipat kedua tangannya.


Sontak Kenzie membuka sandal bulu-bulunya, secepat kilat Gavin bangkit dari tempatnya.


"KDRT." Tunjuk Gavin kearah Kenzie.


"Duduk gak! Aku hitung sampai tiga, satu, dua, ti–"


"Tiga, empat, lima." Sela Gavin memotong ucapan Kenzie.


"Gavin."


"Turunin dulu sandalnya,"


"Duduk gak!"


Gavin menurut begitu saja, detik berikutnya sandal bulu-bulu itu mendarat dengan mulusnya di punggung kekar nya.


Ini nih yang paling Gavin tidak sukai, belakangan ini Kenzie sering memukulnya. Selama yang ia lakukan salah, bahkan hal sekecil pun itu.


"Udah berapa kali aku bilangin, ngomong sama orangtua yang sopan."


"Maaf."


"Besok-besok ulangi lagi."


"Iya."


Kenzie mencibir, mencubit bibir tebal itu saking gemasnya. Hingga terdengar teriakan dari siempunya, seraya mengelus bibirnya bekas cubitan Kenzie barusan.


"Sakit banget yang."


"Sini, biar aku obati."


Dengan santainya Kenzie menangkup wajah tampan itu, mengecup lembut bibir tebalnya membuat siempunya terkesiap diam mematung menatap maniknya.


Jantung Gavin berdetak kencang, seirama kecupan lembut bibir mungil itu. Hingga maniknya tertutup, tubuh kecil itu naik keatas pangkuannya seraya mengalungkan kedua lengannya di belakang lehernya.


Gavin yang awalnya membiarkan Kenzei melakukan aksinya sendiri, dengan sigap melingkarkan kedua lengannya kepinggang ramping itu. Membalas kecupan mesra itu, yang lama-lama semakin liar.


Jemari besarnya ikut bekerja, menyelip masuk kedalam piyama tidur Kenzei, mengelus lembut perut rata istrinya. Satu persatu kancing piyama itu terbuka, dengan sigap Gavin melemparnya asal jauh dari jangkauan Kenzie.


Tepat jemarinya menyelesuri tubuh ramping itu, suara Erwin terdengar dari ponselnya.


"Tuan muda, apa anda masih di sana?"


Spontan Kenzei tersadar, memeluk erat tubuh kekar itu seakan menyembunyikan tubuhnya.


"Masih pengen makan gado-gado?" Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie, dengan napas yang memburu.


"Gak jadi."


Dengan cepat Gavin meraih ponselnya kembali, seraya menahan umpatan yang ingin keluar dari mulutnya.


"Gak jadi pak." Ucap Gavin, dan memutuskan sambungan sepihak.

__ADS_1


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Gavin langsung mengangkat tubuh kecil itu, spontan siempunya melilitkan kedua kakinya di pinggangnya.


Mematikan lampu kamar mengantikanya dengan lampu tidur.


"Ngapain? Aku mau nonton TV, belum ngantuk." Ucap Kenzei, tepat tubuh kecilnya dibaringkan perlahan ke atas ranjang.


"Lanjut yang tadi."


"Tapi Vin–"


"Gak ada penolakan, siapa suruh godain aku."


"Yah."


Kenzie pasrah, membiarkan Gavin melanjutkan aksinya yang Kenzie yakin jam tidurnya terganggu lagi malam ini.


Ingin menolak, tapi takutnya Gavin sakit hati. Tapi ya sudahlah mereka berdua juga suami istri, bukan sepasang kekasih di mabuk asmara.


___________


"Sayang." Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie, sembari mengecup bibir mungil itu yang terlihat bengkak karena ulahnya.


"Bangun yuk."


"Kamu aja sana, aku masih ngantuk."


Kenzie menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, tanpa memperdulikan Gavin yang sedari tadi menganggu tidurnya.


Lagian salah dia sendiri, udah tau tengah malam, masih aja bergerak di atas tubuhnya. Sekarang Kenzie ngantuk, bercampur malas. Belakangan ini juga tubuhnya susah di ajak kompromi, kadang ngantuk tak kenal waktu. Seperti saat ini.


"Sayang, ayo."


"Bising, kamu aja sana aku izin hari ini."


"Gak boleh, ujian tinggal menghitung minggu."


Tanpa merasa bersalah, Gavin langsung menarik selimut. Mengakat tubuh kecil itu dengan entengnya kedalam kamar mandi.


"Gavin!"


"Mandi yang, nanti terlambat. Kamu mah makin hari makin malas."


Gavin memposisikan tubuh mereka berdua di bawah shower, hingga tubuh mereka berdua basah kuyup detik itu juga Kenzie gegalapan.


"Mandi, turun ni kaki nya."


Kenzie hanya mengerucutkan bibirnya, hingga kaki kecilnya menyentuh lantai kamar mandi.


Dengan sigap Gavin melepas semua pakaian basah di tubuh mereka berdua, seraya meneliti Kenzie dari bawah sampai atas.


"Kamu makin berisi, berat badan kamu bertambah yang?"


"Gak tau, tangan!"


"Ini juga makin besar."


"Gavin!"


"Ini juga."


"GAVIN!"


Siempunya hanya tertawa terbahak-bahak, seraya menurunkan jemari lentik itu.


Untung kamar kedap suara, kalo tidak orang yang lewat dari depan pintu, pasti memikirkan yang macam-macam.


Secepat kilat, Gavin sudah lengkap dengan seragam putih abu-abu nya. Tinggal Kenzie yang masih sibuk dengan sarapannya, malah terlihat santai. Gavin hanya mengaruk tengkuk, memilih mengikat rambut panjang itu kucir kuda mempercepat kegiatan istrinya.


"Ayo, makan di mobil aja."


Kenzie hanya mengangguk kan kepala, bangkit dari tempatnya sembari sibuk mengunyah.


"Tas sama bekal makan siang." Tunjuk Kenzie kearah ranjang.


Dengan sigap Gavin meraih ransel mereka berdua, menarik lengan kecil itu menuruni tangga satu persatu. Untungnya supir sudah stand by seperti biasa, tinggal berangkat.


"Masih pagi, tumben buru-buru?" Tanya Kenzei kearah Gavin.


"Angga sama Edo presentasi pagi ini, masih ada materi yang kurang paham."


Kenzie hanya mengangguk kan kepala, merapikan penampilannya yang masih sedikit berantakan.


Hingga mobil berhenti di depan gerbang, pintu langsung terbuka menampakkan Edo dan Angga dengan senyuman lebar.


"Selamat pagi–"

__ADS_1


"Ck, gak usah kita gak butuh." Sela Kenzie memotong ucapan Edo.


Sontak Gavin dan Angga tertawa terbahak-bahak, seraya melangkah kearah parkiran.


"Lo kasih berapa kilo cabe sama Kenzie?" Tanya Edo ketus.


"Kapan-kapan gue kasih tau, mana buku Lo biar bini gue yang jelasin." Ujar Gavin.


"Emang materi apa? IPA?" Tanya Kenzei, seraya menerima selembar kertas dari Angga.


"Ini mah gampang, gak usah dijelasin semuanya. Tinggal inti nya aja, gini caranya." Jelas Kenzie.


Angga dan Edo hanya mengangguk kan kepala, sesekali mencatat apa yang Kenzie jelaskan. Memang wanita yang satu ini gak ada tandingannya, ini di tanya tau, yang itu di tanya juga pasti tau.


"Nah jelasinnya gitu aja nanti, gak usah panjang lebar. Gue mau jaga gerbang dulu, bawa nih ke ruangan OSIS. Bayaran barusan." Ucap Kenzei, seraya menyondorkan jaket, ransel, kotak bekal makan siang, dan botol minumnya kearah Edo dan Angga.


"Bini Lo pintar banget Vin." Ucap Edo.


"Lihat syarat jadi ketua OSIS, kalo Lo lupa." Sahut Gavin.


Sekolah terbaik yang pastinya di pimpin orang yang terbaik. Bahkan ketua OSIS pun sama. Semua harus terlihat sempurna, mulai dari attitude, kerapian, prestasi, bahkan kebersihan.


Semua syarat itu ada pada Kenzie, jadi orang-orang tidak perlu heran dengan apa yang Kenzei lakukan.


Tepat punggung kecil itu berlalu menjauh, dengan sigap Gavin mengambil alih semua barang-barang istrinya. Melangkah dengan santainya kearah ruang OSIS.


"Yaelah Vin, gitu aja Lo cemburu." Teriak Angga.


"Bucin." Timpal Edo.


Siempunya hanya mengangkat bahunya acuh, tanpa memperdulikan teriakan kedua sahabatnya.


"Selamat pagi ibu ketua OSIS yang terhormat." Sapa Fani, bertepatan Kenzie berdiri didepan gerbang.


"Sana masuk, bentar lagi bel."


"Sombong banget sih Ken."


Bukannya mengindahkan ucapannya, Fani malah berdiri dibelakang Kenzie ikut berjaga di depan gerbang.


Tepat bel berbunyi, gerbang tertutup. Yang terlambat tidak di toleransi, kedisiplinan yang paling utama dalam peraturan sekolah.


"Ke ruang OSIS kan? gue ikut." Ucap Fani, seraya mengandeng lengan Kenzei.


"Pasti ada maunya."


"Gak ada kok, gue cuman malas baris. Kita keliling aja."


Kenzie hanya mengangguk kan kepala, menyelesuri lorong sekolah yang sepi hingga belakang sekolah. Biasanya jam segini banyak yang melompat dari dinding belakang, yang biasanya Gavin lakukan beberapa bulan yang lalu.


Tidak sia-sia Kenzie mengamuk tiap hari, Gavin yang dulu dan sekarang jauh berbeda perbandingannya.


"Maaf pa."


Sayu-sayu terdengar suara dari kejauhan, Kenzie dan Fani saling melemparkan tatapan satu sama lain. Seraya mencari asal suara.


"Aku udah berusaha pa, tetap aja hasilnya sama. Bang Gavin gak suka sama Rara, dia udah punya pacar."


Sontak Kenzie melototkan matanya, menutup mulut Fani yang hampir berteriak. Di ujung lorong terlihat punggung kecil, dengan ponsel di tempelkan di telinga.


Dengan cepat Kenzie menarik Fani, bersembunyi dibalik tembok yang lain.


"Maafin Rara pa."


Terdengar isakan tangis, bersahutan derap langkah dan punggung berlalu menjauh.


"Tiara?"


Dengan cepat Fani melepas paksa jemari Kenzei, dan menarik napas dalam-dalam.


"Gila kali Lo, kalo gue mati gimana?" Sergah Fani.


"Gue lupa." Balas Kenzie dan tertawa kecil.


"Bentar, yang tadi siapa? Kayaknya gue pernah lihat."


"Lihat dimana?"


"Club malam." Balas Fani dengan santainya.


_____________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓

__ADS_1


__ADS_2