
Peringkat ke 10 dari 40 orang. Gavin tidak habis pikir, dibenak nya hanya nilai diatas rata-rata. Nyatanya, belajar sebulan full, memuahkan hasil lebih.
Sebenarnya bisa saja Gavin juara 1, apalagi namanya terpampang dimana-mana. Siswa pemenang olimpiade matematika berturut-turut. Tapi logika, meskipun tidak juara satu Gavin bisa memenangkan olimpiade matematika, jadi buat apa juara 1?
"Padahal semalam ada yang galau, putus asa, hilang harapan, hilang arah, butiran debu." Ejek Kenzei, sembari sibuk mengunyah camilan yang baru saja Gavin beli dari supermarket.
"Lanjut, sampai besok itu aja yang di omongin." Balas Gavin.
"Lah aku ngomong sesuai fakta loh ini, situ aja gak sadar."
"Iya-iya."
"Ck, padahal aku pikir nilai rapot nya dibawah rata-rata, seru aja gitu lihat suami nahan n4psu."
"Br*ngsek."
"Hei, jangan mulut anda tuan."
Gavin hanya menatapnya tajam, perlahan melajukan mobil meninggalkan parkiran supermarket.
"Kenapa Vin?"
"Ngumpulin tenaga buat nanti malam."
Kenzie tertawa kecil, melempar camilannya ke arah Gavin. Lama-lama Kenzie ikutan mesum gara-gara pria yang satu ini, untung suami sendiri.
"Berapa jam? Bisa tahan satu malam gak?" Tanya Kenzie.
"Satu hari, satu malam pun kuat. Sekarang lawan mainnya nih, tahan apa gak?"
Kenzie memutar matanya jengah, menatap lurus kedepan. Jalanan macet, mungkin karena pembagian rapot serentak.
"Tergantung servisnya, memuaskan apa gak?"
"Nantangin."
"Kita lihat nanti malam." Tantang Kenzie.
Gavin hanya mengangguk kan kepala, fokus menatap jalanan. Takutnya mereka kenapa-napa, karena tidak ada yang tau sebuah kecelakaan.
Hingga mobil terparkir didepan rumah, mereka langsung disambut teriakan Lara.
"Ganti baju, makan, baru berangkat. Mama bosan lihat Gavin tiap hari." Teriak Lara didepan pintu.
"Gavin malah lebih bosan. Mana uang jajan dipotong tiap hari, jadi orangtua pelit amat." Sahut Gavin tak kalah sengit.
"Ngomong apa kamu?"
"Istri Gavin cantik, kalah jauh dari mama."
"GAVIN."
Siempunya hanya mengangkat bahunya acuh, melangkah masuk kedalam rumah sembari merangkul pundak Kenzie.
"Sayang, Mama jangan di tiru, kalo kita punya anak nanti jangan pelit kayak mama." Ucap Gavin, sedikit meninggikan suaranya.
"Mama coret kamu dari kartu KK." Teriak Lara, tak mau kalah.
"Nanti nangis. Punya anak sebiji juga."
"Gavin." Kenzie menyiku perut suaminya. Bisa-bisanya ngomong begitu sama orangtua, ada-ada aja.
"Biarin, biar kamu tau yang. Anak orang kaya uang jajan nya 2 ribu tiap hari. Beli apa aku di sekolah? Beli bensin aja hampir 300 ribu, untung aku punya penghasilan." Jelas Gavin, sembari menutup pintu kamar.
"Serius? Dua ribu Vin?"
"Iya, gak percaya?"
Kenzie hanya menganggukan kepala, menatap Gavin mengeluarkan uang recehan dari dompetnya ke atas ranjang.
__ADS_1
Gila, Kenzie tidak habis pikir. Mana uang receh, dua ribu, warnanya pudar, bentuknya hancur pulak. Memang keluarga yang satu ini benar-benar kelakuannya, anak sama orangtua gak ada yang beres.
"Nah bukti kelakuan mama, pelitnya gak ada tandingannya. Beli apa coba pakai dua ribu?"
Kenzie hanya diam, meneliti uang recehan diatas ranjang. Mau ketawa, tapi malu. Mau ngomong, tapi binggung ngomong apa.
"Papa malah lebih parah." Adu Gavin. Duduk disampingnya, membuka ranselnya dan mengeluarkan uang logam.
Sontak Kenzie tertawa terbahak-bahak, tidak tahan melihat kekonyolan ini. Bagaimana mungkin anak orang kaya dikasih uang jajan recehan, benar-benar.
"Untung masih di kasih makan, kalo gak. Aku udah minggat mulai dari kemarin."
Kenzie hanya mengelengkan kepala, tawanya semakin kencang.
Gavin yang awalnya kesal, terhanyut mendengar tawa itu. Jarang-jarang Kenzie tertawa lepas seperti ini, momen langka yang tidak boleh terlewatkan.
"Aku gak habis pikir, bisa-bisanya mama sama papa kasih uang recehan." Ucap Kenzei, sembari bangkit dari tempatnya.
Tawa nya langsung reda, saat menyadari tatapan kagum yang terpancar dari manik hitam itu. Jangan bilang Gavin menyukainya, karena tatapan itu berbeda. Yang biasanya hanya tatapan mesum, barusan berbeda. Kenzie yakin hal itu.
"Sayang."
Gavin bangkit dari tempatnya, mengikuti Kenzie masuk kedalam walk closet.
"Kenapa?"
"Gak papa."
Kenzie berdecak kecil, memilih fokus mengeluarkan baju dari lemari.
"Sediain baju yang seksi, buat dinas malam."
"Buat apaan, lagian di buka."
"Ya Tuhan, bini gue malah ikutan mesum. Hei, cukup aku yang mesum." Ucap Gavin, menepuk jidat Kenzie dengan pelan.
"Kamu yang ajarin juga."
"Aku mandi duluan." Ucap Kenzei.
"Aku dikamar sebelah aja, biar cepat."
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, berlalu masuk kedalam kamar mandi membawa handuk dan baju ganti. Berbeda dengan Gavin yang hanya membawa handuk keluar dari kamar.
Lagian yang ditutupi cuman bagian bawah, tidak mungkin Kenzie melakukan hal yang sama.
Bertepatan Gavin keluar dari kamar sebelah, Kenzie hendak keluar dari kamar.
"Mau kemana?"
Kenzie menunduk, menunjuk koper tepat ditengah-tengah mereka berdua.
"Ck, masuk!"
"Apaan sih Vin, biar cepat kelar."
"Gak ada bantahan."
Kenzie mencibir, mendorong kembali koper masuk kedalam kamar. Rencananya urusan pindah ke desa sebelah cepat kelar. Eh, malah gak mau.
"Bawa dompet sama hp aku, masukin kedalam tas kamu dong yang."
Kenzie menurut, sekalian menghindar pemandangan merusak kepolosan matanya. Entah apa kegunaan Gavin memakai baju tepat dihadapannya. Ada-ada aja.
"Ada lagi?"
"Gak."
Gavin memakai sepatunya asal, meraih lengan Kenzie sembari mendorong koper keluar dari kamar.
__ADS_1
"Kunci pintunya, nanti mama masuk."
Kenzie menurut, menguci pintu kamar, dan memasukkan kunci kedalam tas nya.
"Mama kadang kayak maling tau, udah di bilangin biar gak masuk kedalam kamar. Masih aja suka masuk. Padahal aku udah dewasa, bukan bocah ingusan lagi." Adu Gavin.
Kenzie hanya tertawa kecil, sembari menuruni tangga satu persatu.
"Bang, perlengkapan yang lain udah mama masukin kedalam mobil. Tapi bukan mobil yang biasa kamu pakai." Ucap Lara.
"Iya ma, makasih."
Lara hanya mengangguk kan kepalanya, mengikuti mereka berdua kearah mobil yang terparkir didepan rumah.
"Mama titipin menantu mama yah Vin. Pulang Kenzie juga harus begini, Abang juga jaga kesehatan. Jangan macam-macam di kampung orang loh Vin. Nurut apa kata pemimpin desa."
"Iya ma."
Lara menghela napas panjang, beralih mengelus rambut Kenzie.
"Kalo suami kamu nakal, cubit aja yah nak."
Kenzie hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Lara, tanpa mengucapkan sepatah kata pun langsung memeluk tubuh Lara.
Wanita paruh baya yang sudah Kenzie anggap sebagai ibu, pengganti bunda nya dirumah.
"Mama jangan nangis, kita cuman satu Minggu di sana." Ucap Kenzei menenangkan Lara.
"Kalian baik-baik di sana, mama titipin Gavin yah nak." Balas Lara, sembari menahan tangis.
Bagaimanapun juga Gavin anak mereka satu-satunya. Senakal-nakalnya Gavin, dia tetap putra semata wayangnya. Apa yang terjadi di kehidupan Gavin, Lara sebagai orangtua ikut khawatir.
"Maaf yah nak, papa lagi meeting jadi gak bisa ngantar kalian ke sana." Ucap Lara, sembari melepaskan pelukannya.
"Gak papa ma, kita titip salam sama papa aja." Tutur Kenzie sopan.
"Kita pamit ma."
Gavin memeluk erat tubuh mama nya, seakan tak ingin melepaskannya. Pria dewasa yang Gavin ucapkan tadi, sudah hilang entah kemana, yang ada Gavin bocah ingusan dan manja.
"Mama baik-baik di sini sama papa. Jangan bulan madu terus ke rumah tentangga." Ucap Gavin, sekedar mengalihkan perhatian mama nya.
Lara hanya tertawa kecil, perlahan melepaskan pelukannya. Beralih mencium wajah tampan putranya.
"Anak mama udah besar."
Gavin hanya mengerucutkan bibirnya, mengusap wajahnya bekas air liur mama nya.
"Vin jangan lupa pesanan mama."
"Tenang aja ma, doain aja."
Lara menepuk pundak putranya, mendukung seratus persen untuk yang satu itu. Lara tidak sabar gendong cucu.
"Kita pergi dulu yah ma." Teriak Gavin, diikuti Kenzie.
"Hati-hati, selamat bersenang-senang dengan hukumannya." Balas Lara.
Kenzie hanya mengelengkan kepala, beralih menatap lurus kedepan.
"Mau mampir ke suatu tempat, atau gimana?" Tanya Gavin.
"Gak usah."
Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sesekali melirik kearah Kenzie, dan meraih jemari lentik itu.
"Aku gak sabar nanti malam." Ucap Gavin, sekedar mengoda gadisnya.
______________
__ADS_1
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓