GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
PREMAN PASAR


__ADS_3

Dengan wajah sumringah Gavin menuruni tangga satu persatu, duduk di samping papa nya yang terlihat fokus dengan sarapannya. Kenzo bangkit dari tempatnya, menyalim yang lain terakhir kearahnya.


"Ingat ucapan Abang," bisik Gavin tepat ditelinga Kenzo.


"Siap bos, Kenzo berangkat dulu."


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, menatap punggung kecil itu berlalu menjauh dari meja makan.


"Semalam berapa jam?" tanya Viktor tiba-tiba, mengalihkan perhatian Gavin.


"Apanya berapa jam?"


"Olahraga malam,"


Gavin hanya menghela napas panjang, memilih fokus dengan sarapan paginya. Semalam mereka berdua kelepasan, kadang suara mengelikan itu memenuhi ruangan tanpa mereka sadari.


"Kepo,"


Terdengar tawa kecil, mertuanya dan mama nya ikut bergabung menikmati sarapan.


"Istri kamu mana?" tanya Lara.


"Masih tidur,"


"Istri kamu lagi hamil muda loh Vin, jangan di ajak dulu berhubungan suami istri,"


"Maksud mama gimana sih?"


"Masih aja sok polos, di leher kamu itu apaan?"


Terdengar decakan kecil, siempunya hanya fokus mengunyah tanpa memperdulikan ucapan orangtuanya. Gavin juga tau banyak bekas gigitan di area lehernya, dia sendiri yang menyuruh Kenzei melakukan hal itu.


"Biarin aja ma, Abang juga tau batasannya. Lagian mereka berdua udah dewasa, udah tau apa yang mereka lakuin," tutur Viktor.


"Iya Ra, biarin aja. Dokter juga memperbolehkan, asal jangan berlebihan yah nak Gavin," peringat Agatha.


"Iya bund," sahut Gavin.


"Mentang-mentang sama mertua sopan, sama mama gak ada sopan-sopan nya," sindir Lara.


Sontak mereka semua tertawa terbahak-bahak, terkadang mengobrol ringan sembari menikmati sarapan.


Hingga satu persatu bangkit dari tempatnya, meninggalkan Gavin berdiri di depan pintu menatap kedua orangtuanya dan mertuanya berlalu menjauh membawa mobil masing-masing.


Sekolah berakhir, tinggal menunggu hasil. Kedepannya Gavin harus fokus dengan urusan bisnis, apalagi mereka berdua akan menjadi orangtua sebentar lagi. Dengan langkah lebar Gavin melangkah masuk kedalam kamar, terlihat tubuh kecil itu masih setia berbaring di atas ranjang. Tanpa ada tanda-tanda istrinya akan bangun.


Dengan pergerakan sepelan mungkin Gavin naik keatas ranjang, masuk kedalam selimut memeluk tubuh kecil itu dari belakang.


"Sayang, bangun yuk. Sarapan dulu baru lanjut tidurnya." Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie.


Tidak ada sahutan, jemari lentik itu malah menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


"Bentar, ngantuk."


"Sarapan dulu,"


"Malas banget Vin, badan aku pegel semua. Gara-gara kamu sih,"


Terdengar kekehan geli, hingga jemari besar itu menyelip masuk kedalam piyama tidurnya. Mengelus lembut punggung kecilnya.


"Maaf,"


Terasa anggukan kecil dari kepala Kenzei, perlahan membalikkan tubuhnya menghadap kearah tubuh kekar itu.


"Bunda sama ayah udah berangkat kerja?"


"Udah, tinggal kita berdua di rumah," bisik Gavin seakan mengodanya.


"Kenapa emangnya?"


"Lanjut yang semalam yuk,"


"Capek,"


"Bercanda,"


Kenzie hanya mengangkat bahunya acuh, bangkit dari tempatnya duduk di tepi ranjang, menatap langit biru dari kaca balkon yang terbuka lebar.


Hingga terasa elusan lembut di pinggangnya, baru Kenzie melangkah ke arah kamar mandi. Tanpa berniat membalas ucapan suaminya.


"Jangan lama-lama di kamar mandi!" teriak Gavin sembari sibuk merapikan tempat tidur.


Wanitanya kadang suka duduk melamun di atas closet, entah apa yang dipikirkan. Padahal di tanya malah diam, kadang mikirin mimpi semalam katanya, padahal maniknya menahan ngantuk. Ternyata ketua OSIS yang disiplin itu, memiliki kebiasaan yang aneh.


"Vin,"


Kenzie menarik-narik ujung kaos suaminya, yang terlihat sibuk merapikan kamar.


"Ngomong aja,"

__ADS_1


"Buka!"


Sontak Gavin membalikkan tubuhnya, detik berikutnya melototkan matanya.


"Astaga, mau kemana pakai begituan?" tanya Gavin syok, menatap tubuh kecil itu yang hanya ditutupi br* hitam, dan celana pendek sebatas paha.


"Buka baju nya!"


Gavin menurut, membuka kaosnya dan langsung ditarik lengan kecil itu dipasangkan ditubuhnya.


"Yah?"


"Ikat!"


Kenzie malah menyondorkan ikat rambut berwarna hitam, dan membalikkan tubuhnya membelakangi Gavin.


"Padahal itu baju semalam yang," ungkap Gavin, sembari mengikat rambut panjang istrinya menampakkan leher putih itu dengan tanda kemerahan yang tercetak jelas di sana.


"Emang kamu belum mandi?"


"Belum,"


Spontan Kenzei membalikkan tubuhnya, mengendus-endus tubuh kekar itu.


"Pantasan bau, mana bau bawang lagi,"


"Serius?"


"Iya, tapi kok baju nya gak bau. Kamu masak gak pakai baju?"


"Ngomong apaan sih yang,"


"Siapa tau,"


Gavin hanya menghela napas panjang, mengikuti istrinya keluar dari kamar.


"Mau makan apa?" tanya Gavin, tepat Kenzie mendudukkan tubuh nya diatas kursi meja makan.


"Ini aja, kamu cuci piring aja sana!"


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, mengumpulkan semua piring kotor ke wastafel, dan memulai aksi cuci piring.


Kenzie hanya fokus menatap punggung kekar itu, sesekali menyuapkan makanan kedalam mulutnya. Pria nakal yang Kenzie kenal dulu, ternyata bisa berubah seiring berjalannya waktu.


Awalnya Kenzie sempat berpikir mental suaminya sedikit bermasalah saking nakal nya, ternyata hanya sekedar mencari perhatian, dan butuh bimbingan. Terkadang kata-kata yang di lontarkan orang lain maupun orangtua, bisa mengubah pola pikir seseorang. Apalagi mertuanya terlalu keras mendidik suaminya.


"Sayang, rencana kuliah nya gimana?"


"Terserah kamu aja,"


"Emang kamu gak kuliah?"


Kenzie bangkit dari tempatnya, memeluk tubuh kekar itu dari belakang.


"Kuliah kok yang. Kalo kamu pengen kuliah juga biar aku urus,"


"Gak usah deh, aku fokus sama anak kita aja dulu."


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, manik nya hanya fokus ke satu objek, tanpa memperdulikan Kenzie memeluknnya dari belakang.


Sesekali bibir mungil itu mengecup punggung kekar nya, atau mengelus lembut bekas kecelakaan beberapa waktu yang lalu.


"Masih sakit?" tanya Kenzei khawatir.


"Kadang,"


"Jadi gimana caranya biar gak sakit lagi?"


"Cium,"


Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, mencium punggung kekar itu berulang kali.


______________


Pukul 12:30, Kenzie sudah tidur lelap di atas ranjang. Dengan Kenzo sibuk mengotak ngatik ponsel Kenzei. Dengan pergerakan sepelan mungkin, Gavin bangkit dari tempatnya. Masuk kedalam kamar mandi, menganti pakaiannya secepat kilat.


"Dek, jagain kakak yah. Jangan kemana-mana! kalo ada apa-apa, telepon Abang, oke," bisik Gavin, dan mengacak-ngacak rambut Kenzo.


"Emang Abang mau kemana?"


"Ada urusan bentar, kamu di sini aja jagain kakak!"


Kenzo hanya mengangguk kan kepalanya, menatap Gavin sibuk merapikan selimut tipis menutupi tubuh Kenzie.


Hingga tubuh kekar itu berlalu keluar dari kamar, terdengar deru mobil menjauh dari pekarangan rumah.


Dengan kecepatan sedang Gavin membelah jalanan yang sedikit lengang, hanya membutuhkan waktu 10 menit Gavin sudah sampai di tempat tujuan.


Turun dari mobil, melangkah lebar masuk kedalam gedung tinggi dihadapannya, tanpa memperdulikan tatapan mata yang tertuju kearahnya.

__ADS_1


Tepat pintu terbuka, dua manusia yang duduk di kursi masing-masing mengedarkan pandangan ke arahnya.


"ASTAGA, PREMAN PASAR DARIMANA INI?" Teriak Lara, sembari bangkit dari tempatnya menatap tajam kearah putranya.


Celana jeans sobek di lutut, kaos oblong, dan rambut berantakan. Penampilan Gavin saat ini.


"MAMA NYURUH KAMU PAKAI BAJU FORMAL SEMALAM, JADI NGAPAIN KAMU PAKAI BAJU BEGITUAN?" Lanjutnya lagi.


Gavin hanya memutar matanya jengah, menutup pintu dan duduk dengan santainya di kursi bersebrangan dengan kursi kebesaran papa nya.


"ASTAGA GAVIN, INI KUPING DI PAKAI."


Lara menjewer telinga Gavin, beralih memukul kecil bibir tebal itu.


"INI MULUT JUGA DI GUNAIN BICARA, KENAPA MAMA GAK DI JAWAB MULAI DARI TADI?"


"Iya-iya, maaf. Gavin lupa ma,"


Lara hanya menghela napas panjang, beralih menoleh ke arah suaminya yang sedari tadi diam membisu menatap mereka berdua.


"INI JUGA, DIAM AJA MULAI DARI TADI," sergah Lara kearah suaminya.


"Jadi papa ngomong apa ma?"


"YA TUHAN, SEBENARNYA PAPA INI SUAMI APA GAK SIH?"


"Yah suami,"


"GAK ADA SUAMI KAYAK PAPA,"


"Gak usah teriak-teriak ma, papa belum tuli,"


"DIAM KAMU!"


Gavin hanya menghela napas panjang, meraih kopi hangat dari hadapan papa nya, dan menenguk dengan santainya. Sebenarnya kuping nya panas mendengar ocehan tidak penting ini, tapi menghindari amukan lebih baik di nikmati dengan secangkir kopi hangat.


Melihat reaksi Gavin yang tidak seperti biasanya, membuat emosi Lara reda sekejap. Melangkah mendekat kearah Gavin, merapikan rambut putranya yang berantakan.


Lara tau ini sengaja, walau pun sudah menjadi kebiasaan Gavin sejak dulu. Tapi belakangan ini putranya terlihat berbeda. Rambut berantakan ini selalu terlihat rapi berangkat dan pulang sekolah, Lara lihat dari rekaman cctv depan rumah.


Bahkan masalah kecelakaan maut dan rekaman yang tersebar luas di media sosial itu juga mereka tahu. Tapi Gavin terlihat biasa saja melewati itu semua, makanya mereka berdua seakan bungkam tidak menanyakan perihal itu.


"Besok Abang jangan lupa! mama desain sendiri loh Vin kemeja sama celana nya. Apalagi jas hitamnya. Dasi sama sepatu juga mama sediain, kamu tinggal pakai," ucap Lara lembut.


"Iya, ma."


"Jangan cuman iya bang,"


"Iya loh, nyonya Megantara."


Lara hanya menghela napas lega, menarik tubuh kekar itu kedalam dekapannya. Memeluk erat putranya yang hampir membuat nya mati beberapa bulan yang lalu.


Jangankan Kenzie, ia saja stres memikirkan putranya. Tapi Erwin melapor, Kenzie memerintahkan mereka tutup mulut. Akhirnya Lara dan suaminya hanya melihat dari kejauhan saja. Sekalian melihat kemampuan putra dan menantunya bertahan menghadapi badai yang besar.


Lara akui, Kenzei memang hebat. Mampu bertahan dalam cobaan sebesar itu.


"Istri kamu mana?" tanya Lara, sembari mengelus rambut putranya.


"Di rumah tidur siang, sekarang gak tau."


"Yaudah kita pulang aja,"


"Lah emang mama mau kemana?"


"Rumah mertua kamu,"


"Bunda kerja ma jam segini, sore baru pulang."


"Antar mama ke toko mertua kamu aja, mama mau bergosip. Gak ada kerjaan,"


Gavin hanya mengelengkan kepala, bangkit dari tempatnya mengikuti Lara dari belakang.


"Yah, papa gak di ajak ma?" sanggah Viktor.


"Papa kerja aja cari duit, gak usah pikirin keluarga," sindir Lara. Sembari melilitkan lengannya kepinggang Gavin, berjalan beriringan keluar dari perusahaan.


Selama perjalanan Lara tidak henti-hentinya mengoceh tidak jelas, Gavin hanya tertawa kecil menanggapi ucapan mama nya. Hingga tak terasa mobil berhenti di tempat tujuan.


"LOH INI KUBURAN,"


"Ck, di sebrang jalan ma. Pantasan mulai dari tadi bau tanah, orang yang mama pikirin udah kuburan."


"GAVIN!"


___________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


MAAF SEMALAM TIDAK BISA DOUBLE UP SEPERTI BIASANYA, GAK SEMPAT AKU MASIH KERJA:(

__ADS_1


SEMOGA KALIAN TIDAK BOSAN BACA SETIAP PART, AKU SELALU BERUSAHA SEMAKSIMAL MUNGKIN.


__ADS_2