
Gavin duduk dengan putus asa nya di atas sofa, Ayah Tiara bangkit dari tempatnya seakan menantangnya.
"Bagaimana menurut kamu? Rekaman ini tersebar atau menikah dengan putri saya?" Tanya pria paruh baya itu, entah keberapa kalinya.
Spontan Kenzei yang hendak menuruni tangga satu persatu berhenti di tempat, diam mematung mendengar ucapan itu. Kenzie tidak tau siapa tamu yang datang, entah mengapa suaminya tidak masuk juga kedalam kamar.
Sekarang pertanyaan Kenzie terjawab, ada Tiara duduk di samping suaminya. Tanpa menyadari keberadaannya.
Kenzie memilih duduk di atas lantai, menunggu kelanjutan ucapan pria paruh baya itu.
"Ujian Nasional hari Senin, tinggal 2 hari lagi. Sekali saya sebar, kamu tidak diperbolehkan ujian."
"Jangan om, Gavin mohon." Pinta Gavin, dengan kepala menunduk.
"Ceraikan istri kamu, menikah dengan putri saya."
"Gak bisa om."
"Kenapa? Kurang apa putri saya? Tiara cantik, saya rasa lebih cantik dari istri kamu."
*I*stri saya lebih cantik om, bukti nya dia yang jadi istri saya. Batin Gavin.
"Nikahi putri saya, kalo tidak saya sebarkan rekaman ini detik ini juga."
Sontak Gavin mengangkat wajahnya, menatap pria paruh baya itu dengan menaikkan alisnya.
"Kenapa om ngotot nikahin saya sama Tiara? Putri om hamil di luar nikah?" Tanya Gavin dengan santainya.
Wajah keduanya langsung berubah drastis, bahkan Gavin bisa melihat jemari keduanya terkepal kuat. Mungkin di masa lalu Gavin masih toleransi kelakuan mereka, tapi saat ini tidak.
Kejahatan yang mereka lakukan sudah melewati batas. Semua orang berjuang mendapatkan apa yang mereka mau, tapi bukan berarti merebut harta kekayaan yang dimiliki orang lain.
Walaupun ada, menurut Gavin tidak sebanding dengan yang mereka lakukan. Tidak bisa dibayangkan, 5 perusahaan bangkrut begitu saja. Padahal banyak orang di luar sana mencari nafkah, lewat perusahaan itu.
"Lo hamil? Kenapa gak cari pria kaya di luar sana? Gue gak punya apa-apa, ini semua harta kedua orangtua gue. Gak usah capek-capek om nikahin saya sama Tiara, bagaimanapun juga harta kekayaan keluarga Megantara tidak akan jatuh ke tangan saya, jika menikah dengan putri om." Ucap Gavin tenang, walau terselip emosi didalamnya.
"DIAM KAMU!" Bentak ayah Tiara.
"Santai om, ini rumah saya. Bisa aja om saya usir detik ini juga."
"NGANCAM SAYA KAMU? SAYA SEBARKAN REKAMAN INI."
"Silahkan om, lagian itu cuman rekaman. Mana ada orang yang mau percaya. Saya aja barusan akting. Keren gak om?" Tanya Gavin sumringah.
"BR*NGSEK."
__ADS_1
Pria paruh baya itu sibuk mengotak ngatik ponselnya, dengan sigap Gavin bangkit dari tempatnya. Mengeluarkan ponsel Kenzie dari saku nya, kebetulan belakangan ini Gavin yang mengambil alih. Karena hp nya belum diganti sampai saat ini.
"Kamu pikir kamu bisa macam-macam dengan saya, ha?" Geram ayah Tiara.
Gavin hanya diam, membuka email yang sudah Angga kirimkan. Tapi sayangnya, rekaman itu keduluan tersebar bertepatan pesan dari Fani dan Dian masuk.
Br*ngsek, dasar tua bangka. Batin Gavin.
Saking kesalnya, Gavin langsung mengirim semua bukti yang mereka dapat ke 5 perusahaan itu sekaligus. Hanya membutuhkan waktu sebentar, semua langsung bergerak ke alamat yang Gavin kirimkan.
Grasa grusu Gavin menekan ikon telepon, langsung tersambung ke nomor yang tertuju.
"Hapus tanpa jejak, buruan!" Bisik Gavin.
Terdengar tawa mengema seisi ruangan, ayah Tiara menatap Gavin dengan tatapan sok kasihan.
"Gimana? Sudah lihat? Tunggu kemiskinan. Ayo Tiara, pulang!" Tekan pria paruh baya itu kearah Tiara.
"Tapi pa–"
"Papa gak Sudi punya mantu kayak dia, kamu mau bekas orang lain?"
"Dih, siapa juga yang mau sama piala bergilir."
Spontan ucapan itu keluar dari mulut Gavin, emosinya sudah diujung ubun-ubun. Mungkin sebentar lagi, sisi gelap nya akan bangkit.
"Ck, saya tau om membedakan gadis sama wanita. Kemungkinan besar Tiara udah hamil, hamil di luar nikah maksudnya." Sindir Gavin.
"BASTARD."
Ayah Tiara melangkah mendekat, mencengkeram kerah kemeja Gavin dengan emosi.
"JANGAN MACAM-MACAM KAMU SAMA SAYA!"
"Cuman satu macam om." Jawab Gavin santai, bahkan terdengar biasa saja.
Dengan kesal Ayah Tiara melepas cengkraman tangannya, bergegas menarik lengan Tiara keluar. Bodyguard langsung menutup pintu, detik berikutnya terdengar umpatan ayah Tiara dari luar.
Gavin memilih mengintip sedikit dari kaca, terlihat beberapa mobil terparkir di depan rumah, bahkan polisi. Semua bergerak cepat, Ayah Tiara sudah ditangan polisi dan Tiara menangis sejadi-jadinya.
Sebenarnya Gavin kasihan, tapi mereka duluan yang mengusiknya. Untung jiwa gelapnya belum bangkit, kalo tidak Gavin kurang yakin mereka masih hidup detik ini juga.
"Vin."
Spontan Gavin membalikkan tubuhnya, menatap wajah Kenzei yang sudah berlinang air mata.
__ADS_1
"Kamu gak kenapa-napa kan?" Lirih Kenzie, sembari meraba-raba tubuh kekar suaminya dari bawah sampai atas.
"Aku gak papa, jangan nangis oke." Bujuk Gavin lembut, menarik tubuh kecil itu kedalam dekapannya.
Mengelus lembut pucuk rambut istrinya, dengan pikiran yang berkeliaran kemana-kemana. Angga sempat bilang, rekamannya sudah tersebar luas.
Sepertinya ayah Tiara sudah merencanakan ini sejak lama. Sebenarnya itu tidak masalah, yang jadi masalahnya pihak sekolah. Takutnya warga sekolah memojokkan istrinya, padahal Kenzei sedang hamil.
"Vin."
"Hei, jangan nangis. Ingat anak kita, biar aku yang urus. Kamu tenang aja, ini gak berdampak sama perusahaan ayah sama papa. Lagian kita nikah sah, bukan hamil di luar nikah." Jelas Gavin lembut, mengangkat tubuh kecil istrinya menaiki tangga satu persatu.
Gavin sebenarnya senang itu tersebar luas, lulus sekolah Gavin tidak capek-capek menyebarkan ke publik Kenzie adalah istrinya, bukan hanya sekedar pacar.
Tapi balik lagi ke istrinya, belakangan ini Kenzie berubah. Karena hormon ibu hamil. Sedikitpun Gavin salah mengucapkan kalimat, Kenzie bisa menangis seharian. Apalagi jika orang-orang tau hubungan mereka, Gavin yakin komentar jahat sudah memenuhi media sosial mereka berdua.
"Kamu ganti baju dulu yah, baru kita tidur siang lagi." Bujuk Gavin.
Kenzie hanya menurut, melepas seragamnya, diganti dengan pakaian santai dengan bantuan suaminya. Gavin sendiri hanya melepas baju putihnya, menyisahkan celana abu-abu nya.
Membaringkan tubuh mereka berdua diatas ranjang, menarik selimut tebal menutupi seluruh tubuh mereka berdua tanpa peduli hari yang masih siang.
Gavin hanya ingin istrinya tenang dan tertidur, baru Gavin mengurus semuanya.
"Vin, kamu gak papa kan?" Tanya Kenzie khawatir, sembari memeluk erat tubuh kekar itu.
"Aku gak papa kok, kamu tenang aja yah."
"Tapi kamu jangan kemana-mana, jangan tinggalin aku."
"Iya sayang."
"Jangan cuman iya."
Gavin hanya menghela napas panjang, mengelus lembut punggung kecil istrinya seraya memejamkan matanya.
Entah mengapa kehidupan mereka semakin hari semakin rumit. Ada saja cobaan. Untung Tuhan mengirimnya wanita yang baik, kalo tidak Gavin tidak tau apa yang akan terjadi.
Kepalanya hampir pecah menghadapi cobaan ini, tapi karena ada Kenzei yang selalu setia disampingnya. Gavin rela menghadapi ini semua, bahkan mengobarkan nyawanya sekalipun.
Hingga tubuh kecil itu terasa tenang, dengan napas yang teratur. Baru Gavin bangkit dari tempatnya.
"Aku mencintaimu!" Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie, mengecup lembut bibir mungil itu.
_____________
__ADS_1
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
SELAMAT HARI MINGGU