
Dengan kecepatan tinggi Gavin membelah jalanan yang mulai sepi. Hingga tiba di lokasi yang Angga kirimkan, bertepatan kedua sahabatnya sampai di lokasi.
"Katanya di simpang." Sindir Gavin kearah Angga.
Siempunya hanya terkekeh geli, mengintruksi bodyguardnya menjaga mereka dari kejauhan. Beberapa di luar, sebagian masuk kedalam.
"Apartemen ini aman gak?" Tanya Gavin, seraya mengamati sekeliling.
"Seperti biasa, udah gue cek sebelumnya." Balas Angga.
"The real anak mafia, keren juga. Tapi jangan ikuti jejak bapak Lo, gak baik." Ucap Gavin.
Angga hanya mengangkat bahunya acuh, tanpa berniat membalas ucapannya. Toh pekerjaan orangtuanya tidak salah menurutnya, melenyapkan orang yang sepantasnya dilenyapkan memang harus.
Apalagi kesalahannya sudah fatal, merebut bahkan menghancurkan kebahagiaan orang lain. Semua orang pantas bahagia, tapi tidak untuk orang jahat. Itu menurut Angga.
Bertahun-tahun Angga tidak memiliki ibu, dia juga ingin seperti orang lain. Memiliki kedua orangtua, dan keluarga yang harmonis. Tapi sayangnya, semua lenyap hanya karena satu orang. Ibu Dea, istri kedua ayah Rian.
Wanita penggoda yang tidak berhasil merebut hati papa nya, berujung melakukan hal diluar batas. Rumor yang beredar, wanita gila itu meninggal seminggu setelah kematian ibunya. Tapi Angga tidak percaya dengan rumor itu, sebelum mendengar langsung dari mulut anak nya.
Bertahun-tahun mereka mencari jejak Dea, sekarang dia datang dengan sendirinya.
"Masuk gak nih?" Tanya Gavin.
Angga hanya mengangguk kan kepalanya, melangkah masuk kedalam diikuti Edo dari belakang.
Rian dan Dea sama-sama harus diamankan, apalagi dendam pribadi Gavin dengan keduanya belum tuntas. Manusia yang berniat melakukan pelecahan, harus diamankan takutnya mencari mangsa yang tidak bersalah.
Korban pelecahan sangat berdampak fatal untuk kesehatan mental para korban. Untung saja istrinya baik-baik saja. Tapi mengingat wajah ketakutan Kenzei setelah kejadian itu, membuat emosi Gavin naik drastis.
Getaran tubuh kecil itu, hingga wajah linglung ketakutan. Padahal waktu itu masih tahap ancaman, sudah membuat Kenzie takut. Bagaimana korban yang sudah tersentuh, pasti lebih takut dari itu.
"Apartemen no 105." Tunjuk Gavin.
Angga hanya mengangguk kan kepalanya, menyerahkan kunci cadangan kearah Gavin.
Dengan grasa grusu Gavin memutar kunci, hingga pintu apartemen terbuka. Penampakan pertama gelap, di dalam gelap terlihat tidak berpenghuni.
"Nyalain lampu Do."
Gavin mendorong Edo masuk kedalam, sekedar berjaga-jaga. Siapa tau mereka ada didalam kegelapan itu, jadi Edo yang duluan kena.
Gavin belum siap mati, ada Kenzie di rumah menunggunya pulang.
__ADS_1
"Penakut Lo." Sergah Edo, seraya meraba dinding menyalakan lampu. Hingga apartemen semula gelap, kini terang. Terlihat apartemen kosong, tapi jendela terbuka lebar.
"Si*l, bodyguard Lo gak ada yang beres." Geram Gavin, seraya menarik tali yang menjuntai ke bawah dari jendela apartemen.
Angga grasa grusu ke sana kemari memeriksa semua ruangan, tapi hasilnya nihil. Tali itu hanya sekedar, karena tidak mungkin mereka kabur secepat itu.
Tau begini ceritanya, Gavin tidak akan datang. Lebih baik mengangu Kenzie, daripada membuang waktu seperti saat ini.
"Ck, gue balik. Bini gue di rumah."
Gavin berlari terbirit-birit keluar dari apartemen, diikuti Angga dan Edo dari belakang. Mungkin biasanya mereka akan mencari keberadaan kedua manusia itu, tapi karena status Gavin berbeda mereka harus mengalah.
Gavin hampir lupa Kenzie orangnya penakut, bisa-bisanya dia meninggalkan istrinya sendiri di rumah. Mana bodyguard hanya berjaga di luar, rumah kosong hanya Kenzie di kamar.
Dengan kecepatan tinggi Gavin membelah jalanan yang sepi, di ikuti Angga dan Edo dari belakang seperti biasa. Tapi sayangnya, baru setengah perjalanan Gavin merasa ada yang tidak beres dengan motornya, rem blong.
"Br*ngsek, rem gue blong. Woi!" Teriak Gavin sekencang mungkin, agar Angga dan Edo bisa mendengar teriakannya.
Sontak Angga meningkatkan kecepatan motornya, mencoba mensejajarkanya dengan motor Gavin.
"Ke tempat yang sepi di ujung jalan."
Teriak Angga.
"Keselamatan Lo dulu pikirin."
"Gue belum siap mati jing."
Gavin mencoba setenang mungkin, tapi tetap saja jantungnya berdetak kencang, pikirannya berkeliaran kemana-mana.
___________
Pukul 23:00, Gavin belum juga menunjukkan batang hidungnya. Kenzie sedari tadi bolak balik ke sana kemari, sesekali melirik kearah pintu. Hampir 100 panggilan, tak satu pun yang diterima.
Bahkan spam pesan yang Kenzei kirimkan, tak satu pun yang terbalas. Entah apa yang terjadi, Kenzei takut setengah mati. Jantungnya berdetak kencang, prasangka buruk yang sempat singgah di benaknya kembali berputar.
"Ya Tuhan, manusia yang satu ini kenapa belum pulang juga? di telepon gak di angkat."
Kenzie mengusap air matanya kasar, mencoba menenangkan diri.
Hingga terdengar ketukan pintu, bersahutan teriakan dari luar.
"Nona, anda sudah tidur?"
__ADS_1
Spontan Kenzei grasa grusu membuka pintu, menampakkan bodyguard terpercaya di rumah ini.
"Kenapa pak? suami saya belum pulang, bapak tau kemana?" Tanya Kenzei serius.
"Maaf nona, saya tidak tau. Tuan muda hanya menyuruh saja mengantar anda ke suatu tempat."
"Kemana? ini udah tengah malam pak. Bapak bohong kan?"
Wajah bodyguard itu tetap tenang, terlihat tidak terjadi apa-apa. Dengan cepat, Kenzie meraih jaket Gavin yang tergeletak di atas sofa, dan berlari terbirit-birit mengikuti bodyguard dari belakang.
Jalanan sepi, beberapa kendaraan berlalu lalang. Biasanya itu pemandangan indah menurut Kenzie, lampu-lampu di sepanjang jalan, bintang dan bulan menghiasi langit malam.
Tapi sayangnya, tak satu pun yang menarik perhatiannya. Maniknya hanya fokus menatap lurus kedepan, jantung berdetak kencang.
Menurut Kenzie ini bukan kejutan kencan yang biasa dilakukan pasangan romantis. Ini kejutan menyedihkan, tepat mobil terparkir di parkiran rumah sakit.
Tanpa sadar air matanya menetes, kedua tangannya keringat dingin. Hingga pintu mobil terbuka, menampakkan beberapa bodyguard.
"Pak kita ngapain ke sini? Ada yang sakit? Siapa?" Tanya Kenzie, sembari menahan tangis yang sebentar lagi pecah.
"Mari saya antar nona."
Kenzie berlari sekencang-kencangnya, tanpa memperdulikan tatapan mata yang tertuju kearahnya. Hingga salah satu ruangan pasien terbuka, menampakkan satu brankar di isi seseorang.
"Silahkan masuk nona. Kalo butuh sesuatu, kita ada di luar."
Kenzie hanya diam, melangkah ragu kearah brankar. Jantungnya semakin berdetak kencang, tepat wajah tampan yang ia cari mulai dari tadi Tenang diatas brankar.
"Vin, gak lucu. Jangan bercanda Gavin."
Kenzie menangkup wajah tampan itu, memastikan penglihatannya yang semakin buram, tertutupi air mata.
"Gavin, jangan bercanda."
Tangis Kenzie pecah, lengan kecilnya memukul lengan kekar itu. Tapi sayangnya tidak ada pergerakan sedikit pun, wajah tampan itu tetap tenang, bibir tebalnya bungkam dan pucat.
"Kamu bohongi aku, iya? Kamu jahat banget Vin. Kamu tega ninggalin aku? Gavin."
Kenzie menangis sejadi-jadinya, memeluk erat tubuh kekar itu. Mungkin biasanya lengan kekar itu akan sigap membalas pelukannya, tapi saat ini pergerakan sedikitpun tidak ada.
___________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
__ADS_1
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓