
Apa semua wanita hamil ngidam yang aneh-aneh? Pertanyaan yang muncul dibenak Gavin. Masa Boba campur jus buah naga. Kenapa gak sekalian aja jus tomat campur cabe? Garam sama gula mungkin.
Tapi anehnya, Kenzie malah menikmati keinginannya. Tanpa ada rasa aneh keluar dari mulutnya. Padahal Gavin merinding, rasanya saja nano-nano bercampur aduk.
Daripada kejadian tadi terulang kembali, diam-diam Gavin bangkit dari tempatnya masuk kedalam selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya.
Tapi sayangnya, baru lima menit ranjang terasa bergerak hingga selimut di tarik-tarik.
"Vin, ngantuk."
Gavin memilih diam, tanpa berniat membuka suara atau sekedar membuka selimut.
"Sayang."
Spontan bibir tebal itu terangkat, membentuk sebuah senyuman manis. Jarang-jarang Kenzie memanggilnya dengan sebutan itu.
"Vin, pengen peluk."
Dengan cepat Gavin membuka selimut, merentangkan kedua tangannya hingga tubuh kecil itu berhambur memeluk tubuh kekarnya.
"Kenapa, hm?"
"Kamu tega ninggalin aku."
"Maaf."
Kenzie hanya mengangguk kan kepala, mencari posisi yang nyaman diatas tubuh kekar itu.
"Eh, ngapain? Kamu hamil yang."
Sontak Kenzie bangkit dari tempatnya, duduk ditengah-tengah ranjang sembari menatap wajah tampan itu.
"Lupa." Ucap Kenzei dengan polosnya.
Gavin hanya mengelengkan kepala, menarik lengan kecil itu berbaring disampingnya.
"Kapan-kapan aja, lain kali mommy jangan ceroboh. Ingat dede bayi kita."
Gavin menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua, lengan kekarnya memeluk erat tubuh kecil istrinya. Perubahan wajah dan tubuh Kenzie semakin terlihat, terutama bagian perut. Untungnya UN tinggal menghitung jari, jadi Gavin akan lebih leluasa mengawasi pergerakan istrinya.
"Vin."
"Iya, kenapa sayang? Butuh sesuatu?"
"Aku makin gendut yah? Kalo ada yang tau aku hamil gimana?"
"Gak kelihatan, cuman muka kamu doang yang kelihatan. Perut masih tertutupi seragam. Tapi harus lebih hati-hati, aku gak bisa jagain kamu tiap detik di sekolah." Jelas Gavin lembut.
Kenzie hanya mengangguk kan kepala, memilih memejamkan mata merasakan sentuhan lembut jemari besar itu di punggungnya.
"Selamat malam mommy Kenzie."
____________
Seperti pagi-pagi sebelumnya, Kenzie selalu sibuk menyiapkan bekal makan siang sebelum berangkat. Tapi kali ini bertambah satu, berisi sandwich sesuai janjinya dengan Ando.
Merasa semua sudah lengkap, Kenzie berlalu dari dapur dengan mulut penuh dengan makanan.
Gavin hanya mengehela napas panjang, mengambil alih bekal makan siang mereka berdua, seraya menuntut istrinya masuk kedalam mobil.
"Buka." Ucap Kenzei, seraya menyondorkan camilan kearah Gavin.
"Besok-besok makan buah aja, kurangi makan camilan."
"Iya, tadi gak sempat."
"Aku juga lupa." Jelas Gavin, sembari menyodorkan camilan itu kembali kearah Kenzie.
Tepat mobil keluar dari gerbang, Tiara malah berdiri ditengah-tengah menghalangi jalan. Terpaksa supir berhenti, hingga terdengar ketukan kaca mobil.
__ADS_1
"Bang Gavin, bisa numpang?"
"Ck, ngapain lagi nih bocah." Gerutu Gavin.
"Buka pintunya pak, kasian anak orang." Tegas Kenzei sembari tertawa kecil.
Supir hanya menganggukan kepala, hingga pintu disebelah Gavin terbuka.
"Bang Gavin, Rara boleh ikut? Supir di rumah sakit."
"Hm."
Tiara tersenyum lebar, beralih menatap kearah Kenzie.
"Kakak bisa pindah ke depan?"
"Ck, udah numpang malah gak tau diri." Sindir Gavin to the point.
Kenzie hanya mengangkat bahunya acuh, mulutnya hanya sibuk mengunyah, tanpa memperdulikan Tiara.
"Cepatan, nanti terlambat." Sergah Gavin, tanpa berniat melirik sedikit pun kearah Tiara.
Terdengar decakan kecil, hingga pintu mobil tertutup Tiara duduk di depan di samping kursi kemudi.
Selama perjalanan, Kenzie memilih bersandar seraya sibuk mengunyah. Dan Gavin hanya fokus dengan ponselnya, sesekali melirik kearahnya.
"Bang Gavin pacaran sama kak Kenzie?"
Gavin hanya mengangguk kan kepala, tanpa berniat membalas ucapannya.
"Tapi kalian berdua sepupu, emang bisa bang?"
Gavin tersenyum smirk, mematikan ponselnya menyondorkan nya kearah Kenzie. Manusia licik, dia pikir Gavin tidak tau benda kecil yang terselip di seragamnya. Salah pilih lawan, Gavin diajak bercanda.
"Sepupu, tak sedarah. Kebetulan ujian kelulusan makin dekat, mama minta Kenzie pindah ke rumah biar punya teman belajar. Lo belum kenal dia?" Tunjuk Gavin kearah Kenzie.
"Tapi–"
"Mama sama papa malah dukung kita pacaran. Katanya, jadiin Kenzie panutan gue. Minimal akhlak gue sedikit berubah, biar pantas jadi pasangan suami-istri di masa depan. Iya, gak yang?"
Spontan wajah Tiara berubah drastis, kedua tangannya terkepal kuat. Dan itu tidak lepas dari pandangan Gavin.
Gimana? Terjebak sendiri? Batin Gavin.
Hingga mobil berhenti di depan gerbang, Tiara langsung keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sontak Gavin tertawa terbahak-bahak, menarik perhatian Kenzie yang sedari tadi diam membisu.
"Kenapa Vin? Gak ada yang lucu juga. Makin hari kamu makin aneh."
"Gak papa kok sayang, ayo."
Gavin memasangkan ranselnya, keluar dari mobil di ikuti Kenzei dari belakang sembari membersihkan rok abu-abu nya.
Di parkiran terlihat Edo dan Angga, hingga ke duanya mendekat menerjang tubuh Gavin.
"Bucin." Sindir Angga.
"Apaan sih Lo berdua, Edo br*ngsek."
Siempunya malah tertawa terbahak-bahak, naik keatas punggungnya layaknya monyet bertemu tuan nya.
"Anjing, punggung gue Edo br*ngsek." Umpat Gavin, sembari mendorong Edo menjauh.
"Ck, Edo. Punggung Gavin belum sembuh." Ucap Kenzei tegas, mendorong Edo menjauh dari tubuh suaminya dan mengelus lembut punggung kekar itu.
"Iya-iya maaf."
Gavin menjulurkan lidahnya, merasa menang dari kedua sahabatnya. Jarang-jarang Kenzie menunjukkan perhatiannya di depan orang lain, mana wajah cantik itu terlihat khawatir.
"Aku gak papa kok yang, gih kamu duluan." Gavin menyodorkan bekal makan siang mereka berdua, seraya tersenyum hangat meyakinkan Kenzie.
__ADS_1
"Jangan di ulangi!" Peringat Kenzie kearah Edo dan Angga.
"Siap laksanakan ibu ketua OSIS yang terhormat." Sahut Edo.
Merasa punggung kecil itu berlalu menjauh, Gavin langsung merangkul pundak kedua sahabatnya seraya berbisik serius.
"Tolongin gue dong, club malam biasa. Nanti gue kirim identitasnya, tapi bukti-buktinya harus jelas. Gue tunggu nanti malam." Bisik Gavin.
"Gue tobat Vin." Sahut Angga.
"Ck, cuman satu orang. Tiara tetangga gue kalo Lo lupa."
"Gue bantu, Lo dirumah aja. Takutnya Angga sasaran amukan bini Lo." Ucap Edo, dan tertawa terbahak-bahak.
"Emang Kenzie ngomong apaan?" Tanya Gavin bingung.
"Dia nyindir gue habis-habisan, mana pedas banget lagi. Sampai ke ulu hati saking sakitnya." Jelas Angga.
"Lain kali Vin, jangan suka bohong sama bini. Lo tau akibatnya, kita berdua malah kena anjing." Timpal Edo.
Kebetulan saat di rumah sakit, mereka berdua sadar dan Gavin belum sadarkan diri. Saking khawatir nya, mereka datang ke ruangan Gavin. Udah khawatir, malah kena omelan.
"Iya-iya maaf." Ucap Gavin ketus, berjalan beriringan melewati koridor sekolah seraya merangkul pundak kedua sahabatnya.
____________
Kenzie pikir pertemuannya dengan Tiara hanya tadi pagi, nyatanya bel istirahat berbunyi Tiara rela datang ke ruangannya entah apa maksud dan tujuannya.
"Ngapain?" Tanya Kenzie kearah Tiara, sembari sibuk mengunyah.
Ando yang duduk disampingnya juga menoleh kearah Tiara, menatapnya dengan tatapan bingung dan tidak suka. Mungkin Ando tau tujuan Tiara, apalagi mereka berdua hampir sama. Tidak mudah percaya orang baru.
Umur memang muda, tapi masalah pikiran dan hati tidak ada sangkut pautnya dengan umur.
"Adek kelas?" Tanya Ando kearah Tiara.
"Iya bang, nama aku Tiara."
Ando hanya mengangguk kan kepala, memilih fokus menyantap bekal dari Kenzie.
Mereka berdua menempati janji, dan hari ini keinginan Kenzie makan gado-gado terwujud.
"Kak Kenzie suka makan gado-gado?"
"Lumayan." Jawab Kenzie singkat.
"Kakak makin gendut belakangan ini."
"Masa sih?"
"Iya, muka kakak jadi imut."
"Bisa aja Lo."
"Kakak udah lama pacaran sama bang Gavin?"
"Bukan urusan Lo!"
Bukan Kenzie yang menyahut, tapi Gavin.
"Jangan dekat-dekat sama pacar gue!" Peringat Gavin kearah Tiara.
Rupanya drama tadi pagi belum berakhir, kelihatan anak yang satu ini sudah tau status mereka berdua atau sekedar mencari informasi untuk menjatuhkan mereka berdua. Gavin tau hal itu.
Diseragam Tiara, ada benda kecil terselip. Perekam suara. Gavin di bodohin, benda apalagi yang tidak Gavin kenal. Berawal dari dunia game, Gavin hampir kenal barang-barang sekecil apapun itu yang menyangkut elektronik.
__________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
__ADS_1