GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
AKU MENCINTAIMU


__ADS_3

Kenzie mengehela napas panjang, melangkah mendekat kearah Gavin memukul kecil dada bidangnya.


"Baru bangun juga, udah marah-marah aja."


"Aku tanya darimana?" Tanya Gavin, mengulangi pertanyaannya.


"Dari luar."


"Ngapain?"


"Cerita sama mbak Ayu."


"Jangan dekat-dekat sama dia."


"Ck, ngomong apaan sih."


Kenzie melongos begitu saja masuk kedalam kamar, tanpa memperdulikan tatapan tajam yang mengarah ke arahnya.


"Kita cuman cerita biasa, apa salahnya sih."


"Kata Abah dia–"


"Aku tau, tapi bukan berarti di jauhi. Dia juga manusia, butuh teman."


"Tapi–"


"Gak, ada tapi-tapian. Diam!"


Gavin hanya menghela napas panjang, naik keatas tubuh kecil Kenzie. Memeluk erat tubuh kecil itu.


Siempunya hanya diam, fokus menatap layar ponselnya. Banyak foto camping dikirimkan kedua sahabatnya. Jujur Kenzie iri, tapi apa boleh buat. Kehidupan mereka berbeda.


"Vin."


"Kenapa?"


"Pengen camping."


"Besok aja."


"Ha?"


Gavin mendongakan kepalanya keatas, menatap wajah cantik dengan senyuman manis.


"Di atas kata Abah bisa camping, besok kita camping di sana."


"Berdua gitu?"


"Emang kenapa? Biar lebih seru. Bebas ngapain aja."


"Mesum."


"Sesekali yang, biar gak cuman di sini." Ucap Gavin, seraya menyembunyikan wajahnya diceruk leher putih itu. Menyelipkan jemarinya masuk kedalam kaos oversize Kenzie, tapi sayangnya lengannya lebih dulu dipukul kecil.


"Jangan macam-macam."


Gavin hanya berdecak kecil, memilih memejamkan mata menghirup dalam-dalam aroma khas istrinya. Padahal tangan nya tidak tahan lagi menyentuh bagian kesukaannya.


Apalagi dada bidangnya bersentuhan langsung dengan dada Kenzie, hanya baju penghalangnya.


"Sayang."


"Tetap gak boleh."


"Cuman–"


"Kita jalan-jalan aja yuk." Sela Kenzie, memotong ucapan Gavin.


Dengan girang bangkit dari tempatnya, otomatis Gavin ikut bangkit dari atas tubuhnya.


"Ayo."


Kenzie menarik-narik ujung kaos Gavin, yang terlihat malas bangkit dari tempatnya. Wajah tampan nya ditekuk, bibir tebalnya mengerucut kedepan.


"Ck, malas banget yang."


"Bilang aja mau modus, jangan mesum mulu. Masih siang."


"Berarti nanti malam boleh dong?" Selidik Gavin.


"Gimana yah."


Kenzie menimbang-nimbang ucapan suaminya, sembari menarik lengan kekar itu keluar dari kamar.


Gavin yang paham kelakuan istrinya, langsung mengehentikan langkahnya. Tepat jemari lentik itu meraih ganggang pintu.


"Jawab dulu."


"Ck, iya-iya. Kalo yang begituan gercep." Omel Kenzie, melangkah duluan dari Gavin.


Kadang Kenzie binggung dengan isi kepala itu, gak ada yang benar isinya. Cuman ranjang doang yang dipikirin. Mana kekuatannya gak bisa ditandingi, padahal tubuhnya kecil tak seimbang dengan tubuh kekarnya.


Gavin hanya tertawa kecil, mengikuti Kenzei dari belakang. Dengan cepat merangkul pundaknya, dan tersenyum lebar kearah Kenzie.

__ADS_1


"Jangan dipikirin, masih siang. Gak sabaran amat kayaknya." Ucap Gavin.


"Dih, nyindir diri sendiri."


"Gak juga tuh, biasa aja."


Kenzie hanya mengakat bahunya acuh, fokus menatap lurus kedepan. Rumah penduduk desa terlihat tersusun rapi, disepanjang jalan ada 10 rumah yang mereka lewati, dan naik keatas sedikit tanjakan ada 7 rumah. Berarti ada 17 rumah penduduk, 2 rumah kosong, termasuk yang mereka tempati saat ini.


"Sini."


Gavin menarik lengan Kenzie, duduk di atas rerumputan mengahadap kearah sawah.


Semua penduduk desa terlihat memanen padi, tersisa satu sawah. Semalam hampir semua sawah yang mereka panen, makanya tenaga Gavin terkuras habis.


Pulang dari sawah, Pak Harto malah melarang mereka berdua ikut panen hari ini, entah Gavin juga tidak tau.


"Di sini adem banget, gak ada beban yang harus dipikirin." Ucap Kenzei, menghirup dalam-dalam udara segar.


Gavin hanya mengangguk kan kepala, meletakkan kedua tangannya dibelakang tubuh, menatap wajah cantik itu dari samping.


Helaan rambut panjang itu terhempas angin, senyuman manis terukir indah dibibir mungil itu. Spontan bibir tebalnya membentuk senyuman, senang melihat pemandangan indah itu.


"Cantik."


Sontak siempunya diam mematung, senyuman manis itu perlahan pudar. Hingga elusan lembut menyapa pipi nya.


"Kamu cantik." Bisik Gavin, tepat ditelinga Kenzie.


Jemari besarnya melilit dipinggang ramping itu, seraya merapatkan tubuhnya dengan tubuh kecil Kenzie.


"Jangan lupa napas."


Spontan Kenzei gegalapan, mengigit bibir bawahnya malu sendiri dengan tingkahnya.


Gavin hanya mengulum senyum, mengarahkan tatapannya kearah yang lain. Tingkah wanitanya mengemaskan, takutnya Gavin khilaf.


"Kita belum pernah kencan yah."


"Kencan?" Tanya Kenzie.


"Iya, kamu pernah kencan?"


Kenzie hanya mengelengkan kepala, menjawab seadanya. Jangankan kencan, pdkt-an saja belum pernah. Kedua orangtuanya menjaga ketat pertemanannya, bahkan hari-hari sebelumnya Kenzie lebih banyak menghabiskan waktu belajar, dan mengurung diri di kamar.


Apa yang orangtua bilang, itu juga yang Kenzie turuti. Karena dia juga rugi menghabiskan waktu bermain, apalagi sudah biasa menghabiskan waktu dengan buku.


"Berarti aku yang pertama dong."


Kenzie tertawa kecil, menoleh kearah Gavin menatap wajah tampan itu yang terlihat percaya diri.


"Ngomong apaan sih."


Kenzie memukul kecil paha kekar nya, tawanya semakin kencang merasa terhibur melihat wajah tampan itu.


"Besok kita kencan, punya rekomendasi tempat kencan nyonya? Siapa tau pengen ke suatu tempat."


"Gak ada."


"Yaelah, mommy kaku sekali. Atau kita kencan didalam mobil saja? Melanjutkan kegiatan yang tertunda waktu itu."


"Jangan mesum ih."


"Kurang seru kalo gak ngomong mesum."


Kenzie hanya mengelengkan kepala, mengabaikan ocehan yang keluar dari bibir tebal itu.


Untung penduduk desa tidak ada dikampung, semua sibuk di sawah memanen padi.


"Aku mau ngomong sesuatu." Bisik Gavin.


"Mulai dari tadi juga ngomong, aneh."


"Yang ini penting."


"Palingan masalah ranjang."


"Gak, lebih penting."


"Masalah anak, kalo gak–"


"Aku mencintaimu!"


Kenzie diam seribu bahasa, menatap wajah tampan itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Telinganya pasti salah dengar, gak mungkin.


"Ulangi!"


"Kamu cantik." Kilah Gavin.


"Bukan yang itu, sebelumnya."


"Yang mana?"


"Ck, pura-pura."

__ADS_1


"Mana ada."


Gavin bangkit dari tempatnya, melangkah turun kebawah meninggalkan Kenzei begitu saja.


S*ialan, jantung dan lidahnya tidak bisa diajak kompromi. Apa salahnya coba ngomong langsung. Gavin mengepalkan kedua tangannya, kesal dengan diri sendiri.


Gavin pengecut, cuman ngomong doang jing. Susah banget. Batin Gavin.


"Eh, kok aku ditinggal sih."


Sontak Gavin berlari terbirit-birit, sesekali menoleh kebelakang. Saking tidak fokusnya, kaki nya kesandung batu. Terjatuh dengan mulusnya, mencium tanah.


Kenzie yang awalnya ingin melempar sandal nya, melayang di udara melihat tubuh kekar itu tidur telungkup di atas tanah dengan mulusnya. Detik berikutnya, tawa Kenzie pecah. Ia tertawa terbahak-bahak, tanpa berniat membantu sedikitpun.


"Istri lucknut." Gumam Gavin.


"Ngapain Vin?"


Kenzie melangkah mendekat, dengan tawa yang semakin kencang. Bibir tebal itu kotor terkena tanah, wajahnya memerah menahan emosi.


"Kamu–"


Kenzie memegang perutnya, bahkan sudut matanya meneteskan air mata. Sumpah Kenzie tidak tahan lagi, perutnya sakit saking lamanya tertawa.


Tanpa mereka sadari, dua pasang mata tertuju kearah mereka berdua. Diam mematung ditempat, melihat pemandangan aneh dihadapannya.


"Bantuin." Lirih Gavin.


"Bentar."


Kenzie menormalkan napasnya, walau tetap saja tawa nya belum reda.


"Yang."


Sontak Kenzie membantu Gavin duduk di atas tanah, membersihkan wajah tampan itu. Sesekali tertawa kecil.


"Jangan ketawa."


"Gak bisa."


Kenzie tertawa kecil, sembari membersihkan pasir yang m*nempel di baju suaminya.


"Kamu kayak bocil tau gak."


"Jangan di ejek."


"Iya-iya."


Gavin hanya mengerucutkan bibirnya, sesekali mengusap bibirnya yang terkena pasir.


Mereka berdua terlihat seperti anak dan ibu. Apalagi Gavin terlihat manja dengan istrinya, bahkan tanpa tau malunya merengek seperti anak kecil.


"Ekhm."


Spontan Gavin dan Kenzie mengalihkan tatapannya, menoleh kearah suara. Ternyata seorang pria dan Ayu menatap kearah mereka berdua. Kenzie acuh, kembali membersihkan kaki jenjang suaminya.


"Ayo."


Gavin bangkit dari tempatnya, dengan sigap Kenzie membersihkan bagian belakang suaminya.


"Siapa Yu?" Tanya Rendi, anak pak Harto kearah Ayu.


"Penghuni baru."


Istilah, orang baru yang terkena sanksi desa. Saking banyaknya yang melakukan hal yang tidak pantas di area desa.


Pemandangan desa memang tak bisa diragukan lagi, tapi sayangnya banyak orang yang salah arti menggunakan tempat ini.


Bahkan beberapa kedapatan melakukan hubungan suami-istri dipinggir sungai, yang sayangnya berdampak besar untuk penghuni desa.


"Kita permisi dulu." Pamit Kenzei, sembari menarik lengan kekar suaminya yang masih setia mengerucutkan bibirnya.


"Sakit yang." Adu Gavin.


"Rasain, siapa suruh gak mau jujur."


Rendi dan Ayu hanya menatap kedua punggung itu, hingga berlalu masuk kedalam rumah.


"Masih muda."


"Iya, katanya di jodohkan." Balas Ayu.


"Istrinya cantik, galak lagi."


Ayu hanya tertawa kecil, karena ucapan Rendi benar. Wajah Kenzei memang terkesan dingin dan galak. Tapi nyatanya, Kenzie hangat dan dewasa.


"Tapi suaminya ganteng juga, kayak kenal." Ucap Rendi, sembari meronggoh saku celananya. Mengeluarkan ponsel dan membandingkan wajah tampan pria muda barusan dengan pria yang ia kenal di sosial media.


"Gavin Megantara?"


____________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI;)

__ADS_1


TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓


__ADS_2