
Tengah malam, Kenzei terbangun dari tidurnya. Meraba-raba dadanya mencari lengan kekar yang biasa bertengger manis di sana. Tapi sayangnya, Kenzie tidak menemukan apa-apa.
Spontan membalikkan tubuhnya, dan menghela napas panjang. Kenzie lupa, ternyata mereka tidur terpisah. Hanya ada Ayu memeluk guling disampingnya, terlihat tidur nyenyak.
Bolak balik Kenzie menganti posisi tidurnya, tapi sayangnya manik nya tetap terbuka.
Ck, gara-gara Gavin. Batin Kenzie
Padahal itu semua murni kesalahannya. Ayu sempat menyarankan mereka tidur bersama diruang tamu, tapi Kenzie tetap kekeh dengan keras kepalanya. Sekarang dia sendiri yang tersiksa.
Daripada gak tidur semalaman, Kenzei perlahan turun dari ranjang. Membuka pintu dengan hati-hati, menampakkan ruang tamu dengan cahaya temaram.
Dua tubuh kekar tidur diatas tikar, dengan jarak yang berjauhan dan selimut yang berbeda. Bahkan Gavin menjemput bantal dan selimut dari rumah, hanya demi membujuknya.
Dengan hati-hati Kenzie melangkah mendekat, masuk kedalam selimut yang sama dengan suaminya. Tapi sayangnya, manik hitam itu terbuka merasakan pergerakannya.
"Nga–"
Kenzie langsung menutup bibir tebal itu, takutnya tidur yang lain terganggu.
"Jangan berisik." Ucap Kenzei sepelan mungkin.
Gavin hanya mengulum senyumnya, memberi ruang untuk Kenzie dan mendekap erat tubuh kecilnya.
"Kenapa pindah?" Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie.
"Dingin." Kilah Kenzie.
Tidak mungkin Kenzie jujur, yang ada Gavin keras kepala.
"Bohong."
Gavin menarik selimut menutupi seluruh tubuh mereka berdua, memeluk erat tubuh kecil Kenzei, mengunci pergerakannya.
Lagian siapa suruh membuatnya kesal, sekarang malah datang sendiri.
"Vin."
"Tidur."
"Aku mau ngomong."
"Besok aja, tidur."
"Tapi–"
"Gak ada tapi-tapian sayang, aku ngantuk."
Kenzie hanya menghela napas panjang, memeluk tubuh kekar itu tak kalah erat.
Hingga manik keduanya tertutup rapat, dengan napas yang teratur.
___________
Manik lentik itu perlahan terbuka, menatap langit-langit kamar yang terlihat berbeda. Sontak Kenzie bangkit dari tempatnya, menatap sekeliling.
"Bukannya, tapi kok."
Kenzie mengaruk kepalanya, hingga pintu kamar terbuka.
"Udah bangun?"
Gavin duduk disampingnya, sembari meneguk segelas susu.
"Cuci muka sana, sarapan udah aku siapin. Nanti siang kita pulang."
"Pulang?"
Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, meletakkan gelasnya di sela-sela dinding. Beralih merapikan koper.
Spontan Kenzei bangkit dari tempatnya, memeluk tubuh kekar itu dari belakang.
"Vin."
"Ada mau nya pasti."
"Iya, pulangnya bisa dipending besok?"
"Ngapain? Pdkt-an sama bang Rendi?"
"Ck, ngomong apaan sih."
"Jadi?"
"Ada, rahasia."
Gavin hanya menghela napas panjang, perlahan membalikkan tubuhnya menghadap kearah Kenzie. Dengan cepat melilitkan kedua lengannya dipinggang ramping itu, sesekali mengecup sudut bibirnya.
"Boleh, tapi tidak gratis."
"Terserah, asal kita pulang besok."
Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, menatap punggung kecil itu berlalu keluar dari kamar. Pasti ada sangkut pautnya dengan Ayu, entah Kenzie terlihat nyaman dengan wanita yang satu itu.
__ADS_1
Hingga terdengar ketukan pintu, Gavin bergerak dari tempatnya hendak membuka pintu. Sebelum jemari Kenzie mendahului.
"Bang Rendi." Sapa Kenzie girang, seraya tersenyum lebar kearah Rendi.
Spontan Gavin menutup wajah cantik itu dengan telapak tangannya, menyembunyikan Kenzie dibelakang tubuhnya.
"Ngapain bang pagi-pagi?" Tanya Gavin ketus.
"Gue–"
"Bang, bisa bantuin Kenzie. Kali ini aja, please." Ucap Kenzei memohon, dari balik punggung Gavin.
Spontan Rendi ikut tersenyum, merasa lucu dengan tingkah Kenzie.
"Boleh, mau minta tolong apa?"
"Jangan senyum-senyum sama bini gue, kita gak terima orang ketiga." Sindir Gavin.
Bukannya mengindahkan ucapannya, Rendi semakin melebarkan senyumnya. Membuat Gavin kesal setengah mati.
"Lo–"
"Dompet kamu mana?"
Kenzie mencari letak sakunya, hingga jemari nya meraih benda yang ia cari disaku hodiie suaminya.
Tanpa menunggu persetujuan dari siempunya, Kenzie maju kedepan tepat dihadapan Rendi.
"Abang punya motor kan?"
Rendi hanya mengangguk kan kepalanya, seraya menatap Kenzie mengeluarkan uang dari dompet hitam itu.
Isinya lumayan, lumayan kalah jauh dari isi dompetnya maksudnya.
"Beliin perawatan wajah dong bang, kalo Abang gak tau tanya aja sama orang yang lewat." Ucap Kenzei asal, sembari tertawa kecil.
"Dari aku tiga ratus ribu, kalo kurang Abang tambahin."
"Yah."
"Ck, ini buat calon istri Abang. Mau gak? Udah aku bantuin loh ini."
"Maksudnya?"
"Lelet, udah tua juga."
Sontak Gavin tertawa terbahak-bahak, melihat perubahan wajah Rendi. Padahal mereka baru kenal, tapi Rendi sudah jadi bahan bulyan mereka berdua.
"Suami istri sama aja."
"Hati-hati bang, Kenzie tunggu di rumah mbak Ayu. Jangan lama-lama." Teriak Kenzie.
Rendi hanya diam, tanpa berniat membalas ucapannya. Melongos begitu saja masuk kedalam rumah, meraih kunci motor dan jaketnya.
"Mau kemana Ren?"
"Ke kota bah sebentar."
Pak Harto hanya mengangguk kan kepalanya, menatap punggung putranya berlalu menjauh.
_____________
Waktu berputar seperti semalam, Gavin dan Rendi duduk di sofa ruang tamu. Kenzie dan Ayu sibuk didalam kamar.
Demi istri, Gavin mengalah. Asal Kenzie senang. Sesekali terdengar tawa dari dalam kamar, dan suara pasrah Ayu menuruti ucapan Kenzei.
"Vin, mereka berdua ngapain?" Bisik Rendi, seraya menatap pintu kamar Ayu.
"Gak mungkin bikin anak, itu tugas gue."
"Ucapan Lo gak ada yang benar."
Rendi menjauhkan tubuhnya dari Gavin, menatapnya dengan tatapan horor.
"Sok polos. Dibilangin bu*ntungi Ayu, malah gak mau."
"Gue gak habis pikir, muka Lo tampan benar. Tapi ucapan Lo gak ada yang benar."
Gavin hanya mengangkat bahunya acuh, memilih sibuk mengunyah camilan yang ia bawa dari rumah. Tanpa berniat menyondorkan nya kearah Rendi. Toh dia punya uang, bisa beli sendiri.
The real, manusia pelit.
___________
"Dek."
"Jangan bicara mbak, nanti maskernya hancur." Ucap Kenzei sepelan mungkin, takut masker diwajahnya hancur.
Mereka berdua tiduran diatas ranjang, menatap langit-langit kamar menunggu masker diwajahnya kering.
Entah apa kegunaannya, Ayu binggung. Dia jarang mengunakan masker yang mereka gunakan, palingan hanya sabun pencuci wajah, dan perawatan wajah sebelum tidur.
"Kita foto dulu."
__ADS_1
Kenzie mengotak ngatik ponselnya, hingga wajah mereka berdua muncul dilayar ponsel. Dengan senyuman mengembang, tanpa peduli dengan masker di wajahnya, Kenzie mengambil beberapa foto mereka berdua.
"Kita lucu banget mbak."
Kenzie tertawa terbahak-bahak, hingga masker diwajahnya hancur berantakan. Membuat Ayu ikut tertawa kecil.
"Jarang-jarang Ayu tertawa, makasih Vin. Berkat khilaf Lo berdua, calon bini gue punya teman."
Gavin hanya mengangguk kan kepala, tanpa melepaskan tatapannya dari arah pintu kamar.
"Istri Lo memang kayak bidadari. Udah cantik, baik, sexy–"
"Lanjut."
Gavin bangkit dari tempatnya, melempar camilannya asal keatas meja. Berdiri menjulang tinggi tepat dihadapan Rendi.
"Kenapa diam?"
Rendi menahan tawanya, hingga jemari Gavin melayang diwajahnya.
"Sok polos, nyatanya otak Lo mikirin bini orang."
Rendi hanya tertawa terbahak-bahak, tanpa memperdulikan wajah Gavin yang memerah menahan emosi.
Padahal ucapannya barusan hanya sebatas candaan, jangankan mengamati Kenzie, melirik saja Rendi tidak sempat. Wajah Ayu lebih menarik di matanya.
"Kalo bukan bapak Lo yang punya desa, udah gue lempar Lo mulai dari tadi ke sungai." Geram Gavin.
Rendi hanya mengelengkan kepala, bangkit dari tempatnya seraya menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Gue kasih tau Lo sama bapak gue."
"Dih, bocil."
Rendi melangkah menjauh dari Gavin, mengetuk pintu kamar Ayu tak sabaran, dan berlari terbirit-birit keluar dari rumah sebelum Gavin memukulnya kembali.
"Kenzie, tolongin gue. Suami Lo kumat." Teriak Rendi dari luar.
Sontak Kenzie melototkan matanya, dengan grasa grusu keluar dari kamar di ikuti Ayu dari belakang.
Terlihat Gavin berdiri didepan rumah, menatap Rendi tak jauh dari tempatnya. Dengan darah keluar dari sudut bibirnya.
"Ck, kamu apain bang Rendi?" Tanya Kenzie, sembari menarik-narik ujung kaos suaminya.
"Tanda pertemanan."
Kenzie hanya berdecak kecil, menoleh kearah Ayu yang diam membisu disampingnya.
"Mbak obati bang Rendi dong." Pinta Kenzie memohon.
"Tapi–"
"Kali ini aja mbak, Kenzie gak bisa nanti suami Kenzei marah."
Terpaksa Ayu menganggukan kepalanya, segan menolak Kenzie. Apalagi Kenzei sudah senang hati membantunya, bahkan menjadi temannya.
"Bang di obati mbak Ayu katanya." Ujar Kenzie kearah Rendi.
Dengan antusias Rendi mendekat kearah Ayu, tanpa memperdulikan tatapan mengejek dari Gavin.
"Sekalian bawa ke kamar, kita jaga dari luar."
"Ngomong apaan sih Vin." Sergah Kenzie.
"Kalo Abah datang, kita gantian."
"Vin."
"Kalo gak kita nginap di hotel."
"GAVIN."
"Kalo dia hamil, Lo tinggal nikahi. Udah. Jangan teriak-teriak. Bilang pengen aja susah banget."
"Ya Tuhan." Kenzie menghela napas panjang, memilih masuk kedalam meninggalkan Gavin begitu saja.
Rendi dan Ayu hanya mengulum senyum, melihat interaksi pasangan muda itu.
Memang gak ada yang benar, satu emosian, satu lagi bikin geleng-geleng kepala. Apalagi ucapan Gavin gak ada yang benar, Rendi saja tak habis pikir Gavin seperti itu orangnya.
Wajah tampan tak sesuai ucapan. Tapi bagi Rendi, Gavin tetap keren.
"Mbak, pinjam kamar nya sebentar." Ucap Gavin kerah Ayu, dan melongos begitu saja masuk kedalam kamar.
"GAVIN, KELUAR!"
Sontak Rendi dan Ayu tertawa terbahak-bahak, merasa terhibur melihat tingkah pasangan muda itu.
____________
*TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓*
__ADS_1