
Seharian Gavin menghabiskan waktu di perpustakaan, hanya membaca buku dan menghapal materi penting.
Sebenarnya Gavin ingin melihat wajah cantik gadisnya, tapi ia tahan sedari tadi. Takutnya malah menarik Kenzie ke gudang belakang sekolah.
Hingga bel berbunyi, Gavin bergegas keluar dari perpustakaan, tanpa berniat merapikan buku-buku yang baru saja ia gunakan. Hanya ada Kenzie, yang menghantui pikirannya saat ini.
"Eh, mau kemana?" Tanya Gavin, menarik lengan Kenzie yang hendak masuk ke dalam perpustakaan.
"Mau cari Gavin."
Siempunya terkekeh, menarik lengan Kenzie ke lorong yang sepi.
"Eh, aku pikir siapa."
"Melamun."
"Vin, kamu pulang duluan aja yah. Anggota OSIS mau rapat, mungkin pulangnya agak sore."
Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, tersenyum manis kearah Kenzie.
"Salam perpisahannya mana?"
"Maksudnya?" Tanya Kenzei binggung.
"Kiss."
"Gak tau tempat banget sih Vin, sana pulang. Di rumah aja."
"Yah."
"Gak boleh Vin, nanti kita ketahuan." Bisik Kenzie, sembari melirik ke sana kemari. Takutnya ada yang melihat mereka berdua.
"Tapi di rumah harus lebih, gak ada penolakan."
"Terserah, hati-hati jangan ngebut. Ingat makan jangan langsung tidur."
"Iya."
Kenzie tersenyum manis kearahnya, melirik ke sana kemari. Merasa aman, Kenzie berdiri disamping Gavin, menghirup dalam-dalam aroma khas suaminya.
"Kamu harum banget Vin."
Gavin tertawa kecil, dengan gemas mengacak-ngacak pucuk rambut gadisnya.
"Sana, nanti kamu malah dicariin. Padahal ketua OSIS nya lagi manja sa– Sakit Ken."
Gavin mengusap lengannya, bekas cubitan Kenzie. Siempunya malah berlalu menjauh dengan santainya, tanpa merasa bersalah.
"Minta di hukum."
_________
Satu jam berlalu, akhirnya rapat OSIS berakhir. Satu persatu anggota keluar dari ruangan, sesekali terdengar bisikan dengan manik yang mengarah ke arahnya.
Kenzie mengerutkan dahinya, meneliti penampilannya dari bawah sampai atas. Tidak ada yang aneh, penampilannya biasa saja.
"Ada yang salah sama penampilan gue?" Tanya Kenzei ke salah satu anggotanya.
"Gak ada kok, Lo tetap cantik seperti biasa."
"Bisa aja Lo."
Kenzie tertawa kecil, meraih kunci ruangan OSIS melangkah keluar dengan anggota yang tersisa.
"Kita pulang duluan yah kak." Pamit adek kelas, yang kebetulan anggota OSIS.
"Iya, hati-hati."
Kenzie mengunci pintu, hendak melangkah menyelesuri lorong sekolah yang sepi. Sebelum dehemen keras menyapa telinganya.
"Ekhm."
Kenzie membalikkan tubuhnya, sontak terbelalak melihat Gavin duduk di kursi panjang didepan ruangan OSIS. Dengan tubuh yang masih mengunakan seragam sekolah.
"Lah bukan nya pulang?" Tanya Kenzei bingung.
"Nungguin bini."
Gavin bangkit dari tempatnya, merangkul pundak Kenzie dan melangkah beriringin melewati lorong sekolah yang sepi.
__ADS_1
"Pantasan mereka ngomongin aku."
"Siapa?"
"Anggota OSIS. Banyak juga yang nanya hubungan kita."
"Jadi jawab apa?"
Kenzie hanya mengelengkan kepalanya, karena dia hanya menanggapi pertanyaan itu dengan senyuman.
"Good girl. Gak usah ditanggapi, manusia kepo memang begitu."
Sebenarnya Gavin ingin hubungan mereka publik, entah sebatas sepasang kekasih. Tapi Gavin pikir-pikir lagi, buat apa orang tau hubungan mereka. Gak ada gunanya, malah pelakor yang bertambah.
Sampai diparkiran Gavin membuka pintu mobil untuk Kenzie, dibalas dengan senyuman manis siempunya. Tapi hanya sebentar.
"Sok romantis." Cibir Kenzie.
Gavin berdecak kecil, mengelilingi mobil masuk dari pintu sebelah duduk dibelakang kemudi.
"Jadi mau nya gimana?" Tanya Gavin, sembari membuka kancing seragam putihnya dan melemparnya asal ke jok belakang. Kenzie sempat kaget, tapi ternyata Gavin memakai kaos hitam didalam.
"Kenapa di buka?"
"Panas."
"Jelas panas, ngapain juga pakai kaos hitam didalam. Ada-ada aja."
Gavin hanya mengangkat bahunya acuh, perlahan melajukan mobil meninggalkan pekarangan sekolah.
Sepanjang perjalanan Kenzie hanya diam, menatap lurus kedepan fokus dengan jalan. Hingga mobil berputar kearah yang lain, baru Kenzie membuka suara.
"Mau kemana?"
"Satu empat."
"Yakin Vin? Udah mau hujan." Ucap Kenzie serius.
Langit mulai gelap, angin terasa dingin. Kenzie sengaja menurunkan kaca mobil, merasakan angin sepoi-sepoi menerbangkan rintik hujan.
Dingin, tapi menyejukkan. Aromanya menenangkan, apalagi jalan yang mereka lewati kiri dan kanan banyak pepohonan. Walau sedikit curam.
Hingga mobil berhenti, dibawah pohon rindang tepat disamping sungai yang terlihat jernih.
Kenzie membuka sealtbet nya, dengan cepat keluar dari mobil duduk di tepi sungai yang berbatu.
"Tau darimana tempat ini?"
"Udah lama, dulu sering ke sini."
"Sama siapa?"
"Angga sama Edo."
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, menatap pemandangan indah dihadapannya. Aliran airnya deras, perlahan kotor mungkin di atas sudah hujan.
Hingga tetesan hujan turun, sekejap deras. Dengan cepat Gavin menarik lengan Kenzie masuk kedalam mobil.
"Yah, aku basah Vin."
"Sama."
Gavin langsung melepaskan kaosnya, melemparnya asal ke jok belakang. Tubuh kekar itu shirtless, perut kotak-kotak nya tidak tertutupi apa-apa.
"Pakai seragam aku aja, nanti sakit."
Gavin meraih seragam putihnya dari jok belakang, meletakkannya di atas pangkuan Kenzie.
"Ganti!"
"Dimana?"
"Terserah."
"Hadap sana, jangan ngintip."
Gavin mendengus kesal, memutar tubuhnya mengahadap kearah pintu. Tapi sayangnya, tubuh itu terpantul di kaca mobil. Terlihat jelas lekukan tubuh yang selama ini muncul dalam pikirannya.
Sontak Gavin menelan salivanya kasar, saat seragam putih itu sudah sepenuhnya terlepas. Dua bukit yang selalu menarik perhatian Gavin, terpampang jelas walaupun tertutupi br* putih.
__ADS_1
Gavin tidak yakin bakalan bertahan, sekujur tubuhnya sudah panas.
"Udah."
Sontak Gavin mengelengkan kepalanya, berbalik kembali mengahadap Kenzie. Tapi sayangnya, fokusnya kembali pecah karena pemandangan yang baru saja ia lihat.
Dengan gegalapan Gavin meraih seragam putih Kenzie, melemparnya asal ke jok belakang.
"Ck, besok itu masih dipakai. Aku belum cuci seragam putih yang satunya lagi." Gerutu Kenzei, menatapnya tajam.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kenzie bangkit dari tempatnya pindah ke jok belakang.
Melihat itu sisi liar Gavin semakin bangkit, tanpa memperdulikan apa-apa Gavin ikut pindah ke jok belakang. Menarik tubuh kecil itu duduk di atas pangkuannya.
"Eh, ngapain sih Vin?"
"Gak, cuman peluk doang."
Kenzie mengerutkan dahinya, teringat sesuatu. Bahu sebelah kiri. Dengan cepat Kenzie mendekatkan tubuhnya, mencari bekas jahitan yang Angga ucapkan. Ternyata benar, bekas nya masih terlihat jelas.
"Ini bekas apa?" Tanya Kenzei pura-pura.
"Bawaan dari lahir."
"Oh, jadi gak papa nih aku pukul."
"Ck, pasti Angga sama Edo cerita yang aneh-aneh."
"Apa salahnya sih jujur."
"Kapan-kapan aja aku lagi gak mood, yang dibawah udah bangun."
"Udah tau baperan, masih aja dekat-dekat." Ucap Kenzie, yang sudah tau arah pembicaraan ini. Apalagi ia bisa merasakan sendiri.
"Bantuin yah."
"Apaan, ingat perjanjian."
Gavin mengusap wajahnya gusar, tanpa menunggu persetujuan dari siempunya. Gavin menyatukan bibirnya dengan bibir mungil itu. Meny*cap dan mengulum dengan lembut. Kenzie yang awalnya menolak, perlahan terbuai.
Tanpa sadar rok nya tersingkap keatas, tubuhnya digerakkan jemari besar itu.
Gavin memejamkan matanya, menikmati permainan yang ia ciptakan sendiri. Ia bisa merasakan bagian itu, walau terhalang kain tipis.
"Vin."
"Gerak aja, gak papa."
Kenzie menuruti tubuhnya, bergerak tanpa sadar. Mereka berdua hilang arah, hanya fokus satu tujuan.
Hingga terdengar teriakan, bersahutan ketukan kaca mobil.
"Permisi."
Sontak Kenzie kegelapan, jiwanya kembali kedunia nyata. Bisa-bisanya ia terbuai dengan permainan Gavin, tanpa tau tempat. Dengan cepat Kenzei turun dari pangkuan Gavin, menetralkan detakan jantung dan napasnya.
Gavin menoleh kearahnya, merapikan penampilan gadisnya dan menyembunyikannya dibelakang tubuhnya.
"Kenapa pak?" Tanya Gavin, membuka kaca mobil sedikit karena hujan deras diluar.
"Anak SMA pak." Ucap salah satu dari mereka, terkejut melihat seragam putih yang Kenzie gunakan.
Ada tiga pria paruh baya, memakai jas hujan. Menatap mereka berdua, dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Hubungi orangtua kalian, suruh datang kesini." Ucap salah satu pria paruh baya itu.
"Kenapa pak?"
"Ini area terjaga, dilarang melakukan hal yang tidak pantas."
"Tapi dia istri saya pak."
"Kami tidak percaya, hubungi orangtua kalian. Ikuti kami dari belakang."
____________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK
__ADS_1
STAY TUNED 🌱
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓