
Rumah yang biasanya sepi, kini ramai berpenghuni. Lebih tepatnya taman belakang rumah, yang sudah Kenzei ubah sedemikian rupa.
Taman mini di samping kolam berenang, kini diganti pondok kecil dengan karpet bulu-bulu alasnya, dan bantal sofa. Angga benar-benar datang, dengan Edo, Dian, dan Fani.
Camilan dan botol minum berceceran dimana-mana, walau tetap saja Kenzie hanya diperbolehkan memakan buah dan susu ibu hamil. Sesuai peraturan sang suami.
Gavin dan kedua sahabatnya sibuk dengan ponsel masing-masing, sesekali terdengar umpatan kecil. Kenzie dan kedua sahabatnya hanya mengobrol ringan, sesuai peraturan Gavin tepat mereka menginjakkan kaki memasuki rumah. Takutnya, membebani pikiran istrinya.
"Lo benar-benar hamil?" Bisik Fani, seraya mengelus perut Kenzie yang semakin membuncit.
"Iya loh Fa."
"Sekarang Lo jadi mama muda." Lanjutnya lagi.
Kenzie hanya tertawa kecil, menoleh kearah Dian yang sibuk mengunyah camilannya.
"Gimana?" Tanya Kenzie kearah Dian.
"Apanya?"
Kenzie menunjuk kearah Edo, lewat tatapan mata. Spontan wajah Dian memerah, tersenyum malu kearah Kenzei.
"Kita udah jadian." Bisik Dian.
"SERIUS LO?" Pekik Kenzei dan Fani bersamaan.
Bahkan Fani bangkit dari tempatnya, menatap Dian dengan tatapan tidak percaya.
"Kenapa yang?" Tanya Gavin khawatir, mematikan ponselnya tanpa memperdulikan kegiatannya.
"Gak papa, kita cuman cerita." Jawab Kenzei dengan tenangnya, menarik lengan Fani kembali duduk di tempatnya.
Mereka berdua terlihat alay, hanya mendengar pengakuan Dian barusan. Lagian Dian kemakan ucapan sendiri, dia sempat mengaku Edo bukan tipenya. Tapi sekarang, malah jadian.
"Edo, sejak kapan Lo jadian sama temen gue?" Tanya Kenzei tiba-tiba, mengangetkan Gavin dan Angga.
"Maksudnya yang?"
"Edo sama Dian pacaran Vin."
"Serius?"
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, menatap Dian dan Edo secara bergantian.
Hingga jemari Angga melayang di udara, mendarat dengan sempurna dipunggung Edo.
"Lo gak ingat gue yang masih jomblo, ha?" Tukasnya.
Dengan cepat Angga bangkit dari tempatnya, diikuti Gavin seakan tau maksud dan tujuannya. Dengan sigap mereka berdua mengangkat Edo, dilempar begitu saja kedalam kolam berenang.
"Selamat." Ucap Gavin.
Terdengar tawa Kenzei, seraya bangkit dari tempatnya berdiri tepat dibelakang Gavin. Sembari memegang ujung kaos suaminya.
"Kalian jahat banget sih, kasian Edo nya." Ejek Kenzei.
__ADS_1
Gavin hanya mengangkat bahunya acuh, hingga Angga melompat begitu saja masuk kedalam kolam berenang.
Gavin yang melihat itu, berancang-ancang hendak membuka kaosnya. Sebelum lengan kecil menahannya.
"Pakai." Tekan Kenzie.
Di sini bukan hanya mereka berdua saja, ada Fani dan Dian. Apalagi kedua sahabatnya sempat tergila-gila dengan suaminya. Takutnya malah heboh melihat pemandangan dibalik kaos itu.
Gavin hanya mengangguk kan kepala, melompat begitu saja kedalam kolam berenang.
Tawa ketiganya terdengar memenuhi taman, bahkan Fani dan Dian ikut menatap pemandangan itu di pinggir kolam berenang.
"Ken, ikut yuk. Kayaknya seru." Ujar Dian.
"Gak deh, takutnya gue malah tengelam."
"Kan ada suami Lo. Gavin! Kenzie pengen ikut katanya." Teriak Dian tiba-tiba.
Sontak Gavin mendekat kearah mereka, mengulurkan kedua lengannya kearah Kenzie.
"Yah, Dian yang pengen bukan aku." Protes Kenzei.
Gavin hanya mengerutkan dahi, menatap wajah cantik itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Kalo begini ceritanya, Kenzei mana tega menolaknya.
Terpaksa Kenzie menurunkan kakinya perlahan, hingga tubuh kecilnya diraih lengan kekar itu.
"Vin."
"Gak papa, ada aku." Ucap Gavin lembut, membalikkan tubuh kecil itu hingga berada dipunggung kekarnya.
Hanya mereka berdua yang terlihat menempel kesana kemari, yang lain di larang keras melakukan hal yang sama. Takutnya khilaf.
Tawa mereka berenam memenuhi taman belakang, walau tetap saja Edo yang jadi sasarannya.
Hingga sifat posesif Gavin muncul dipermukaan, mereka semua sudah naik keatas dengan baju yang basah kuyup. Dengan sigap Gavin menarik kedua sahabatnya, didorong pelan masuk kedalam kamar mandi bawah. Takutnya khilaf melihat tubuh para perempuan, yang terlihat menerawang di balik kaosnya.
"Bentar gue ambil baju ganti." Ujar Gavin.
______________
Kenzie pikir kedua sahabatnya akan di usir dari rumah setelah mandi. Nyatanya hingga sore menjelang, mereka semua malah menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan.
Ingin rasanya Kenzie memeluk erat tubuh kekar itu, keinginan Kenzie menghabiskan waktu dengan kedua sahabatnya akhirnya terwujud. Apalagi setelah menikah hampir 1 tahun, Kenzie tidak pernah keluar dari rumah dengan kedua sahabatnya. Lebih banyak dikurung di kamar, atau kegiatan OSIS.
"Ngantuk?" Tanya Gavin tiba-tiba, menarik tubuh kecil itu kedalam dekapannya seraya menarik selimut tipis menutupi tubuh Kenzie.
"Tidur aja, kamu kecapean. Gak tidur siang mulai dari tadi." Ucap Gavin lembut, mengelus rambut Kenzie dengan manik fokus menatap layar TV di isi dengan game online.
Fani dan Dian malah ikutan membaringkan tubuhnya, tepat disamping Kenzie dengan tubuh ditutupi selimut tipis.
Kenzie memilih memejamkan mata, memeluk erat tubuh kekar itu tanpa memperdulikan yang lain. Toh mereka suami istri, tidak ada salahnya menurut Kenzie.
"Berapa bulan Vin?" Tanya Angga, tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar Televisi.
"Apanya?"
__ADS_1
"Bini Lo."
"Gak tau, dia gak mau kedokter kandungan."
Angga hanya mengangguk kan kepala, mengerti akan hal itu. Mereka masih terlalu muda mengantri di dokter kandungan, apalagi jaman sekarang orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu mengurus kehidupan orang lain daripada diri sendiri.
Apalagi Kenzie lumayan berpengaruh dengan ucapan orang lain, bagaimanapun juga dia seorang wanita.
"Berapa perusahaan?" Tanya Gavin balik.
"5 perusahaan. 3 pengambil alihan, 2 proses. Gila sih menurut gue, jangka satu minggu Tiara udah dapat 5 mangsa sekaligus. Keren juga dia." Papar Angga, sembari terkekeh geli.
"Club malam bapak Lo pengusaha semua, pasti gampang." Sahut Edo.
"Muda semua?" Tanya Gavin.
"Iya, anak SMA seumuran kita. Yang berumur mana tertarik, Lo aja yang beristri biasa aja." Celetuk Angga.
"Gue masih pengen hidup, Lo kayak gak kenal bini gue aja. Lagian bini gue punya semua, apalagi yang kurang. Iya gak?" Ucap Gavin.
"Karena Lo bersyukur, gak semua orang kayak Lo. Mungkin jika semua sepemikiran kayak gitu, pengadilan udah tutup mulai kemarin." Sambung Angga.
Sontak Gavin dan Edo tertawa kecil, melempar bantal sofa kearah Angga.
"Tapi bentar, waktu kecelakaan kenapa Lo diam mulu Do?" Tanya Angga, dia baru ingat menanyakan hal itu.
"Emak larang keluar dari rumah, kita malah sempat adu mulut. Tapi gue malah ngelawan." Ungkap Edo.
"Orang tua Lo lawan, gila kali Lo." Sergah Gavin, memukul kecil kepala Edo.
"Sok alim Lo Vin. Gara-gara Kenzie Lo jadi malaikat, malaikat pencabut nyawa." Sindir Edo.
Gavin hanya mengangkat bahunya acuh, meraih remote dan mematikan tv begitu saja.
"Br*ngsek, gila kali Lo." Umpat Angga, dan Edo secara bersamaan.
"Bini gue udah tidur, pulang sana. Lo berdua antar Fani sama Dian." Ucap Gavin dengan santainya, bangkit dari tempatnya dengan Kenzie digendonganya.
Angga dan Edo hanya tercengang, menatap punggung Gavin berlalu masuk kedalam kamar.
"Ck, padahal itu skor baru gue." Imbuh Angga.
Edo memilih diam, mendekat kearah Dian membangunkan kekasihnya terlihat tidur nyenyak.
Perlahan Gavin meletakkan tubuh kecil itu keatas ranjang, dengan gerakan sepelan mungkin Gavin ikut berbaring disampingnya. Memeluk erat tubuh kecil itu, sembari mengelus lembut perut istrinya yang semakin terasa berisi.
Gue jadi orangtua bentar lagi, makan apaan gue waktu kecil? Batin Gavin.
Maniknya hanya fokus menatap wajah cantik itu, dengan seulas senyuman manis terukir indah dibibirnya. Hingga bibir tebal nya menyatu dengan bibir mungil itu, mengecup lembut takut mengangu tidur siempunya.
"Mama gak salah pilih." Ucap Gavin, tepat didepan wajah Kenzei.
_______________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI;)
__ADS_1