GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
SALING MENGUATKAN


__ADS_3

DOUBLE UP:)


Beberapa saat hening, tidak ada yang berniat membuka suara. Hingga terdengar isakan kecil, bersahutan pukulan kecil pada punggung Gavin.


"Bodoh."


Kenzie menangis sejadi-jadinya, perlahan turun dari tubuh kekar itu. Menghapus air jejak matanya kasar, dengan kesal memukul dada bidang tel*nj*ng Gavin.


"Harusnya dengar dulu penjelasan aku, hiks."


"Maaf."


"Aku terpaksa berduaan sama Rian ditaman, cuman mau bilang GAVIN ITU SUAMI AKU."


Gavin tersentak, semua pikiran kotor hilang sekejap. Ucapan Rian yang awalnya tergiang-giang dikepalanya, ternyata hanya bohongan semata.


Karena bisa saja Kenzie masih mencintai Rian, pria pertama yang masuk kedalam kehidupan gadisnya.


"Kamu jangan bodoh Vin, bisa-bisanya kamu percaya sama omongan orang. Kalo kamu begitu terus, pernikahan kita akan hancur secepatnya."


"Gak aku gak mau."


"Bodoh." Umpat Kenzei dengan napas yang memburu.


"Maaf."


"Mandi sana."


Kenzie memungut seragam putih Gavin dari atas lantai, memasukkannya kedalam keranjang baju kotor.


"Cepatan."


Kenzie memutar tubuhnya mengahadap kearah dinding, tanpa berniat keluar dari kamar mandi. Takutnya Gavin melakukan hal yang tidak terduga lagi.


"Keluar!"


"Diam! aku bilang mandi yah mandi."


Gavin menghela napas panjang, memilih menuruti ucapan gadisnya. Walau sebenarnya Gavin tidak yakin,


bagaimana mungkin dia satu ruangan dengan Kenzie, dengan tubuh polos seperti ini.


Hingga terdengar suara percikan air, Kenzie menelan salivanya kasar jantungnya berdetak kencang, jemarinya terkepal kuat. Rasa takutnya hilang sekejap, terganti dengan gejolak panas dan aneh.


"Handuk."


Kenzie tersentak kaget, meraih handuk yang tergantung tepat dihadapannya. Dengan ragu menyodorkannya kebelakang, tanpa berbalik.


"Mandi sana."


Sontak Kenzie membalikkan tubuhnya, tepat dada bidang tel*nj*ng didepan matanya. Pemandangan yang paling Kenzie sukai. Apalagi tetesan air dari rambut Gavin, mengalir membasah dada bidangnya.


Takut ketahuan siempunya, Kenzie langsung menarik lengan kekar itu keluar dari kamar mandi.


Gavin hanya menurut, menerima baju ganti dari jemari lentik itu dan langsung memakainya dibelakang Kenzie.


"Udah?"


"Hm."


Kenzie menghela napas lega, kembali menarik lengan kekar itu. Menuntunnya duduk di tepi ranjang.


"Bentar."


Kenzie grasa grusu kesana kemari, mencari letak kotak p3k. Seingatnya ia terakhir mengunakan itu, tapi sekarang entah kemana.


"Jangan kemana-mana."


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, menatap punggung kecil itu berlalu keluar dari kamar. Hingga terdengar teriakan dari luar, bersahutan dengan teriakan Kenzo memarahi kakaknya.


Jangankan Kenzo, Gavin yang duduk dikamar sebelah saja meringgis mendengar teriakkan itu. Kebiasaan gadisnya yang baru terungkap selain marah-marah, teriak-teriak walau didalam rumah.


Tapi Gavin suka, selama pelakunya Kenzie.


"Jangan keluyuran Kenzo, udah sore."


"Bentar."

__ADS_1


"Kalo kakak bilang gak boleh. TETAP GAK BOLEH."


Kenzie menarik ujung kaos Kenzo, menariknya masuk kedalam kamarnya dengan cepat mengunci pintu.


"Kak bentar aja."


"Kamu pikir kakak bisa kamu bohongi?kakak udah biasa denger alasan kamu. Ujung-ujungnya gak pulang-pulang."


"Yah."


"Apa?" Sergah Kenzie, bercakak pinggang dihadapan Kenzo layaknya ibu memarahi anak.


Gavin yang sedari tadi melihat interaksi mereka berdua, mengulum senyumnya. Gadisnya terlihat cocok jadi ibu, Gavin jadi tidak sabar.


"Kak Kenzei yang cantik, baik hati–"


"Gak mampan."


"Kak."


"Tetap gak boleh."


"Bentar aja."


"KAKAK BILANG GAK–"


"Ekhm."


Gavin berdehem keras, mengalihkan perhatian kedua saudara kandung itu.


Kenzo yang baru menyadari hal itu, bergegas berlari kearah Gavin memeluk tubuh kekar itu.


"Bang."


"Jangan nakal sama kakak."


"Tapi–"


"Gak ada tapi-tapian, minta maaf."


"Maaf."


"Kak Kenzie, Kenzo minta maaf."


"Good boy."


Gavin mengacak-ngacak rambut Kenzo, membiarkan bocah kecil itu tidur beralaskan paha kekar nya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kenzie duduk disamping Gavin di sisi yang lain. Menarik lengan kekar sebelah kanannya dan menghela napas kasar.


"Untung tulang-tulangnya gak patah."


Ucap Kenzie sendu.


Dengan telaten Kenzie mengobati luka itu, sesekali terdengar ringisan dari bibir tebal siempunya.


"Besok-besok ulangi."


Gavin hanya diam, mengigit bibir bawahnya menahan perih. Hingga kelima jarinya dibalut perban, dan terdengar helaan napas panjang.


"Jangan tidur dulu."


Kenzie bangkit dari tempatnya, melangkah keluar dari kamar. Pukul 16:30, mereka berdua belum makan siang.


Untungnya makan siang sudah tersaji di meja makan, mungkin bundanya pulang menyiapkan makan siang.


"Kita makan di sini aja."


Kenzie tersentak kaget, menoleh kearah Gavin yang duduk disampingnya.


"Kenzo?"


"Udah tidur."


Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, menyondorkan makan siang Gavin yang sudah ia siapkan. Siempunya hanya diam, menatap makanannya tanpa berniat menyentuhnya.


Kenzie yang awalnya menikmati makan siangnya, menoleh kearah Gavin yang sedari tadi diam membisu.

__ADS_1


"Kenapa?"


Gavin mengangkat tangan kanannya, sontak Kenzie memukul jidatnya.


"Lupa."


Kenzie mengeser piring Gavin, menyendokkan makanannya dan menyondorkan nya tepat didepan bibir tebal itu.


"Buka mulut!"


Gavin menurut, menerima suapan Kenzie hingga makanan habis tak tersisa.


"Jangan langsung tidur!" Peringat Kenzie.


"Mau kemana?"


"Mandi."


Kenzie meraih baju gantinya asal dari lemari, dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi.


Tubuhnya gerah, jejak sentuhan pria br*ngs*k itu masih menempel ditubuhnya. Dengan kasar Kenzei mengusap lengan dan pipinya, merasa terhina dengan perlakuan Rian.


Seumur-umur Kenzie belum pernah di perlakukan seperti itu, entah apa yang terjadi kalo Gavin tidak datang tepat waktu.


Merasa hati dan tubuhnya sudah membaik, Kenzie keluar dari kamar mandi.


"Kenapa lama?"


Kenzie mengelus dada, menatap tajam kearah Gavin.


"Harus banget berdiri didepan pintu kamar mandi?"


Gavin berdecak kesal, menangkup wajah cantik itu menatap manik lentik gadisnya yang terlihat sembab baru menangis.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Gavin langsung mencium setiap inci wajah cantik itu. Menghapus jejak sentuhan pria br*ngs*k yang berani-beraninya menyentuh miliknya.


"Maaf." Lirih Gavin.


Air mata yang Kenzie tahan akhirnya luruh juga, tubuhnya gemetar jantung berdetak kencang. Demi Gavin Kenzie rela menahan semua ketakutannya sedari tadi, walau sebenarnya ia butuh pelukan. Apalagi bayang-bayang kejadian itu terekam jelas di otaknya.


"Vin, aku takut."


Gavin menghapus jejak air mata itu, tersenyum manis menenangkan gadisnya. Jangankan Kenzie, ia sendiri saja takut. Bagaimana kian jika miliknya di sentuh? Mungkin Gavin tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.


"Vin."


"Jangan takut, aku di sini."


Kenzie menangis sejadi-jadinya, menumpahkan semua isi hatinya. Tanpa sadar Gavin ikut menangis, menarik tubuh kecil itu kedalam dekapannya.


Gadis kuat yang ia kenal, bisa serapuh ini. Ucapan pedas yang selalu keluar dari bibir mungil itu, tergantikan dengan isakan tangis.


Jemari lentik itu memeluknya erat, tubuhnya perlahan lemas dengan sigap Gavin menahannya.


"Vin."


"Iya aku di sini, jangan takut yah."


Gavin melangkah kecil tanpa melepaskan pelukannya, perlahan duduk diatas lantai bersandar pada ranjang.


Kamar yang hening, di isi isakan tangis. Gavin kalang kabut sendiri, khawatir dengan kondisi gadisnya.


"Vin, aku takut."


Gavin semakin mengeratkan pelukannya, sesekali mencium pucuk rambut gadisnya. Rian akan mendapatkan balasan setimpal dengan perbuatannya.


Manusia yang berani mengangu bahkan menyentuh miliknya, berarti sudah siap menerima resiko yang ia terima dari Gavin.


"Sayang." Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie. Perlahan menangkup wajah cantik itu, menghapus jejak air mata yang membasahi pipinya.


Senyuman manis terukir indah dibibir Gavin, perlahan menyatukan bibirnya dengan bibir mungil itu. Mengulum dengan lembut bagaikan kapas. Semoga sedikit membantu, mengalihkan perhatian dan pikiran Kenzie dari kejadian itu.


__________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


JANGAN LUPA BERI HADIAH🤭

__ADS_1


STAY TUNED 🌱


TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓


__ADS_2