
1 bulan berlalu keadaan Gavin semakin membaik, arm sling sudah terlepas walau tetap saja lengan sebelah kiri tidak bisa di gerakkan seperti biasa. Kaki jenjangnya masih pincang, minimal Gavin bisa melakukan aktivitas seperti biasa.
Sesuai tawaran Bu Dora, selama sebulan terakhir ini Gavin pembimbing les privat matematika. Awalnya Gavin pikir gratis, ternyata setiap hari Jumat Bu Dora selalu menyelipkan amplop putih ke saku seragam putih nya.
Padahal Gavin melakukan semua ini ikhlas, sekalian mengulangi pelajaran yang di uji untuk UN nanti. Tapi tak di sangka, Gavin dapat modus lengkap pengetahuan.
"Terimakasih nak, kita lanjut Minggu depan." Ucap Bu Dora kearah Gavin.
Siempunya hanya mengangguk kan kepala, menatap punggung Bu Dora berlalu keluar dari perpustakaan.
Dengan cepat Gavin meraih ranselnya, melangkah ke pojok perpustakaan. Kebetulan ujian UN semakin dekat, perpustakaan sengaja di buka hingga sore.
Banyak siswa kelas 3 membentuk sebuah kelompok, seperti yang dilakukan Kenzie dengan kedua sahabatnya di ikuti Angga dan Edo.
"Sayang." Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie, sembari duduk disampingnya.
Siempunya hanya mengangguk kan kepala, menyondorkan sebotol air mineral kearahnya.
"Guru matematika udah datang guys." Ucap Edo heboh yang baru saja menyadari keberadaan Gavin.
"Diam bodoh, perpustakaan. Di usir tau rasa Lo." Sergah Angga.
Edo hanya mengangkat bahunya acuh, memilih fokus dengan soal-soal ujian yang mereka bahas.
"Pulang yuk." Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie.
"Bentar."
"Ngantuk yang."
Sontak Kenzie bangkit dari tempatnya, mengumpulkan semua buku yang berantakan di atas meja, memasukkan kedalam tas nya.
"Kita pulang aja, udah sore." Ucap Kenzei, kearah yang lain.
"Siap ibu ketua OSIS yang terhormat." Sahut Edo.
Yang lain hanya mengelengkan kepala, tidak heran lagi dengan tingkah Edo.
Mereka berenam melangkah beriringin melewati lorong sekolah yang sepi, hingga di parkiran baru terpisah.
Kenzie dan Gavin melangkah kearah halte, menunggu angkot seperti biasa. Sesuai ucapan Kenzie, Gavin di larang keras membawa motor dan mobil. Berakhir mereka berdua naik angkot, hal yang paling Gavin sukai.
Hidup sederhana dengan Kenzie itu menyenangkan, wajah cantik itu selalu tenang menikmati kehidupan yang mereka lewati. Tanpa ada keluhan yang keluar dari bibir mungil itu.
"Sayang."
"Kenapa?"
"Sini."
"Apa?"
"Tangan kamu."
Kenzie mengerutkan dahinya, sembari menjulurkan jemari lentiknya kearah Gavin. Dengan cepat Gavin meronggoh saku celananya, meletakkan amplop putih dari Bu Dora ke atas telapak tangan Kenzei.
Detik berikutnya, Kenzie sadar dan melototkan matanya.
"Ck, kenapa di kasih lagi sama aku?"
"Simpan aja."
"Tapi Vin–"
__ADS_1
"Gak ada tapi-tapian, angkot udah datang."
Gavin langsung menarik lengan Kenzie, masuk kedalam angkot duduk berdampingan.
Seperti biasa sore begini angkot sepi, hanya mereka berdua penumpang seperti biasa. Sebulan belakangan ini, Gavin biasa dengan kehidupan seperti ini dan tidak terlalu buruk menurut nya. Asal ada Kenzie disampingnya.
"Vin."
"Simpan aja, lagian apa salahnya sih?"
Ucap Gavin, seakan mengerti maksud ucapannya. Karena selama ini, uang sepeser pun itu yang Gavin dapat. Pasti Kenzie yang menyimpan semuanya.
Toh mereka berdua suami istri, Gavin rasa itu bukan ide yang buruk.
"Kamu mah gak seru."
Kenzie mengerucutkan bibirnya, mengalihkan tatapannya kearah yang lain. Gavin hanya mengangkat bahunya acuh, sudah biasa menghadapi mood istrinya yang berubah-ubah.
Kadang tiba-tiba nangis, tapi yang lebih parah nya sifat galak nya semakin bertambah. Entah apa yang terjadi, Gavin hanya menebalkan telinga mendengar teriakkan dan ocehan istrinya.
Hingga tak terasa angkot berhenti di gang kompleks, dengan cepat Gavin menarik lengan Kenzie kembali, seraya menyondorkan ongkos ke arah supir.
"Makasih bang." Ucap Gavin kearah supir angkot.
Dengan wajah yang ditekuk, bibir dimanyukan kedepan Kenzie menyamakan langkah kaki suaminya. Tanpa memperdulikan tatapan dan senyuman mengoda dari bibir tebal itu.
"Kenapa? Muka nya kok digituin?" Tanya Gavin basa-basi.
"Aku ngambek."
"Silahkan, aku gak marah. Lagian sampai di rumah, ada orang yang minta dimandiin."
"Kamu gak ikhlas?"
Gavin mengulum senyum, sesekali melirik kearah Kenzie yang masih setia mengerucutkan bibirnya.
Entah, Gavin penasaran apa yang terjadi dengan istrinya. Banyak perubahan Kenzie belakangan ini, menurut Gavin sedikit aneh.
Hingga kaki kecil itu berhenti, spontan Gavin ikut menghentikan langkahnya.
"Kenapa yang?"
"Gendong."
Gavin hanya mengangguk kan kepala, menundukkan sedikit tubuhnya hingga tubuh kecil itu naik keatas punggungnya.
"Udah, jalan."
"Di bayar gak nih?"
"Gak, jangan harap."
Kenzie memeluk erat lehernya, kedua kakinya melilit dipinggang suaminya. Bahkan Gavin bisa merasakan napas hangat menerpa wajahnya, sesekali bibir mungil itu mengecup telinganya.
"Gimana les privat nya?" Tanya Kenzie tepat di telinga Gavin.
"Biasa, tiap hari makin bertambah. Tapi kebanyakan betina, aku jadi risih yang."
"Gak papa, gak usah di tanggapi. Anggap aja marketing, menarik perhatian pelanggan."
"Emang aku jualan?"
"Gak lupain, ngomong sama kamu gak pernah nyambung."
__ADS_1
Gavin hanya tertawa kecil, menginjakkan kaki memasuki pekarangan rumah. Tanpa memperdulikan bodyguard yang mengulum senyum melihat mereka berdua.
Seperti biasa, Kenzie langsung melepaskan ranselnya tanpa berniat turun dari punggung kekar itu.
"Kekamar mandi gak nih?" Tanya Gavin, sembari melepaskan sepatu Kenzie.
"Gak, aku mau tidur. Ngantuk."
"Yah, mandi dulu baru tidur."
"Gak dulu, kamu aja mandi duluan."
Gavin hanya mengangguk kan kepala, tanpa berniat membuka suara. Takutnya singa betina ngamuk, Gavin tidak punya tenaga menangapi ucapannya untuk hari ini. Jadi Gavin menurut saja, asal singa betina tdur dan tenang.
Hanya membutuhkan waktu sebentar, manik lentik itu sudah tertutup rapat. Wajah cantik nya terlihat tenang, dengan napas yang teratur.
"Bini gue sakit?"
Gavin mengaruk tengkuknya, sembari melangkah kearah kamar mandi.
Selesai dengan ritual mandinya, Gavin naik keatas ranjang. Membuka satu persatu kancing seragam putih dari tubuh kecil itu, menganti nya dengan piyama tidur.
Kenzie akan tidur sepuas-puasnya, tapi saat menyadari dia tidak ada disampingnya, manik lentik itu akan terbuka dengan sendirinya.
"Aku mencintaimu!" Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie, mengecup bibir mungil itu sekilas.
Menarik selimut menutupi sebatas dadanya, perlahan turun dari ranjang.
Gavin memilih belajar, les privat matematika membuatnya sibuk dengan buku. Banyak rumus yang harus ia pahami, agar les privat nanti nya mudah di jelaskan kembali.
Bu Dora juga suka metode pengajarnya, Gavin jadi semangat jika di beri kritik seperti itu.
Jam berputar tak terasa pukul 22:00, terdengar decitan sandal mendekat kearahnya. Detik berikutnya, lengan kecil memeluk erat lehernya dari belakang.
"Vin."
"Iya, kenapa sayang?"
"Lapar."
"Bentar."
"Kamu udah makan?"
"Belum, nungguin kamu bangun."
"Tumben baik."
Gavin hanya tertawa kecil, sembari fokus dengan kegiatannya. Sesekali bibir mungil itu mengecup sudut bibirnya, kaki kecilnya dililitkan di pinggangnya.
"Sayang, pengen makan gado-gado." bisik Kenzie tepat tepat di telinga Gavin.
______________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
#MOMMY KENZEI
__ADS_1