
Percikan air terdengar bersahutan dikamar mandi, Kenzie dan Gavin sengaja mandi bersama, hanya sekedar mandi tidak lebih. Kenzie tidak tega menyuruh Gavin menjaganya mandi, berjalan saja kaki jenjang itu tidak bertenaga.
"Yang, handuk."
Dengan sigap Kenzie menarik handuk menutupi tubuhnya, dan menyodorkan handuk yang lain ke arah Gavin.
"Ayo."
Kenzie menarik lengan kekar itu keluar dari kamar mandi, mendudukkan nya di tepi ranjang. Dengan sigap membantu Gavin memakai pakaiannya.
"Makan dulu yah, baru tidur."
"Gak n4psu, capek."
Kenzie hanya menghela napas panjang, mengeringkan rambut suaminya dengan hair dryer agar lebih cepat.
"Kalo gak, makan roti aja. Yang penting ada pengganjal perut."
Gavin hanya mengangguk kan kepala, melilitkan kedua lengannya kepinggang ramping Kenzie, sembari tersenyum tipis melihat pemandangan indah dihadapannya.
Khayalan melihat istri memakai handuk keluar dari kamar mandi akhirnya terwujud. Handuk yang hanya sebatas paha, menampakkan kaki putih itu.
"Sayang, aku boleh minta tolong gak?"
"Apa?"
"Mulai besok, kalo selesai mandi cukup pakai handuk keluar dari kamar mandi. Boleh?"
"Boleh."
Gavin tersenyum lebar, dengan gemas mencium perut rata istrinya yang tertutupi handuk.
"Udah kering, aku pakai baju dulu."
Dengan cepat Gavin melepaskan pelukannya, duduk membelakangi Kenzie menghadap dinding. Gavin tau istrinya belum terbiasa, jadi ia berinisiatif sendiri tanpa menunggu ucapan keluar dari mulut itu.
"Tumben, kenapa gak cari kesempatan?"
"Gak ada tenaga. Kurang puas kalo cuman 1 kali."
Kenzie hanya tertawa kecil, memakai pakaiannya secepat mungkin dan berlalu keluar dari kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Menyeduh dua gelas susu, dan membuat roti lapis dengan bahan seadanya, selada dari ladang pak Harto semalam, tomat dipotong kecil, dan telur dadar.
"Yang."
"Bentar."
Kenzie masuk kedalam kamar, membawa dua gelas susu dan piring berisi roti lapis dua potong.
"Makan!"
Gavin meneliti piring, menatap roti lapis ala kadarnya dan Kenzie secara bergantian.
"Sesekali makan apa adanya." Ucap Kenzei, duduk di tepi ranjang menyantap roti dengan lahapnya. Gavin melakukan hal yang sama, sesekali melirik kearah Kenzei.
"Gak terlalu buruk kan?"
Gavin hanya mengangguk kan kepala, tersenyum tipis melihat wajah cantik itu. Wanita yang satu ini membuatnya jatuh cinta sedalam-dalamnya, apa yang ada pada Kenzie semua Gavin sukai. Mulai dari suara, aroma tubuh, kepribadian, kesederhanaan, hingga fisik.
Semua terlihat sempurna, tanpa ada kekurangan sedikitpun. Pantas saja orangtunya menjodohkannya dengan Kenzie, banyak hal positif yang Gavin dapatkan dari wanitanya.
"Jangan melamun, tidur."
Kenzie mengambil alih gelas dari genggaman Gavin, dan berlalu keluar dari kamar.
Akhirnya Gavin bisa merebahkan tubuh keatas ranjang, menunduk lama-lama membuat seluruh tubuhnya pegal, terutama lengan kekarnya mengangkat tumpukan padi.
Demi Kenzie, Gavin rela mengangkat tumpukan padi sekaligus. Asal istrinya tidak ikut. Untung juga Kenzie menuruti ucapannya, kalo tidak mereka adu mulut ditengah-tengah sawah.
"Vin."
Hening tidak ada sahutan, tubuh kekar itu tidak bergeming sedikitpun. Posisi tubuhnya tetap sama, tengkurap. Hingga terdengar dengkuran kecil, napas teratur.
Kenzie memilih menarik selimut menutupi tubuh kekar itu, seraya ikut berbaring disampingnya. Memeluk erat tubuh kekar itu dari samping, menyelusupkan kepalanya dibawah ketiak Gavin.
Sesekali jemari lentiknya mengelus lembut punggung kekar itu, hingga terdengar teriakan dari luar.
"Ayu mengamuk?"
Kenzie menelan salivanya kasar, jantung berdetak kencang. Dengan cepat jemari lentiknya menutup kedua telinga Gavin, takut tidur suaminya terganggu.
Lagian itu bukan urusan mereka, di sini mereka hanya menjalankan hukuman, tidak lebih dari itu.
__ADS_1
Walau di lubuk hati yang paling dalam, Kenzie takut sekaligus kasihan. Padahal Ayu wanita cantik, terlihat seperti wanita kota pada umumnya. Tapi sayangnya, hati nya tak secantik wajahnya. Dia tidak tau mengendalikan diri.
Tanpa peduli sekitar bahkan jam yang masih menunjukkan pukul 19:30, Kenzie memilih memejamkan mata. Menyelusuri dunia mimpi bersama pria disampingnya.
"Selamat malam tuan mesum." Bisik Kenzie, mengecup sekilas bibir tebal itu.
______________
Ketukan pintu terdengar lagi pagi ini, menyadarkan Kenzie yang baru saja sadar dari alam mimpinya.
"Ck, ngantuk."
Kenzie mengerucutkan bibirnya, dengan malas bangkit dari tempatnya melangkah gontai membuka pintu.
Dibalik pintu terlihat Ayu membawa rantang makanan, dengan senyuman manis terukir indah dibibirnya. Spontan Kenzei ikut tersenyum, tanpa memperdulikan penampilannya yang berantakan.
Rambut panjang tergerai bebas, dua kancing piyama teratas terbuka. Menampakan selangka, dan bel*han dada. Sebelumnya Kenzie mengintip sedikit dari balik pintu, memastikan orang yang datang berkunjung.
"Kenapa mbak?" Tanya Kenzie tenang.
"Ngantar sarapan pagi."
"Terimakasih mbak sebelumnya." Balas Kenzie, sembari menerima rantang makanan.
Hingga detik berikutnya Ayu tetap diam ditempat, tanpa bergeming sedikitpun. Kenzie yang sadar, langsung menggeser sedikit tubuhnya. Menampakkan kamar dengan pintu terbuka sedikit.
"Suami saya masih tidur mbak, mingkin kecapean semalam." Tunjuk Kenzie kearah kamar, terlihat lengan kekar Gavin menjuntai turun kebawah.
Ayu hanya mengangguk kan kepala, mengarahkan tatapannya kembali kearah Kenzie. Wanita beruntung, masih muda sudah memiliki suami.
Pria tampan itu juga terlihat mencintai istrinya, tanpa tertarik dengannya. Ayu iri dengan kehidupan wanita ini.
"Nanti siang saya boleh kemari?"
"Boleh, mbak." Sahut Kenzie antusias.
Toh Kenzie tidak menganggapnya sebagai musuh, suaminya juga tidak pernah tertarik dengan wanita lain. Jangankan tertarik, melirik saja Gavin enggan. Kadang Kenzie heran, sekaligus senang.
"Saya pulang dulu."
Kenzie hanya mengangguk kan kepala, melangkah masuk kedalam kamar melanjutkan mimpi yang sempat tertunda.
Tapi sayangnya, Kenzie bolak balik menganti posisi tidurnya tetap saja maniknya terbuka. Terpaksa Kenzie bangun dari tidurnya, membuka jendela seraya mengikat rambutnya asal.
"Yang."
Kenzie tersentak kaget, mendengar suara bariton berat khas bangun tidur. Hingga lengan kekar melilit dipinggangnya, menghentikan pergerakannya.
"Ngantuk." Adu Gavin, menyembunyikan wajahnya diceruk leher Kenzei.
"Sarapan dulu, baru lanjut tidurnya."
"Udah sarapan?"
"Udah, mbak Ayu antar sarapan."
"Gak ada racunnya kan?"
"Ngomong apaan sih."
"Siapa tau yang."
"Ada-ada aja, sana sarapan."
Gavin mendengus kesal, melepas pelukannya dengan ragu dan melangkah gontai keluar dari kamar mandi.
Untung jemuran di kamar mandi, Kenzie tidak perlu repot-repot keluar dari rumah. Bertepatan kaki kecilnya keluar dari kamar, terdengar ketukan pintu.
"Eh, mbak Ayu. Masuk mbak."
"Suami kamu mana?"
"Masih tidur." Balas Kenzie seadanya. Karena habis sarapan, Gavin melanjutkan tidurnya.
"Kita diluar aja."
Kenzie hanya mengangguk kan kepala, menutup pintu dan mengikuti Ayu duduk dikursi panjang mengarah ke sawah.
"Suami kamu pasti pegal, coba nanti pijitin."
"Iya mbak."
__ADS_1
"Namanya juga orang kota, tidak terbiasa dengan kehidupan desa."
Kenzie hanya mengangguk kan kepala, mendengar ucapan Ayu.
"Dulu saya juga pernah kena saksi desa, ketahuan membawa tunangan saya kedalam rumah." Jelas Ayu, dan terkekeh geli.
Maniknya berkaca-kaca, hingga setetes air bening keluar dari pelupuk matanya.
"Satu bulan kita menjalani hukuman, nyatanya hukuman itu membuat hubungan kita makin langgeng. Kemana-mana berdua, melakukan semuanya bersama."
Kenzie akui, iya. Karena beberapa hari tinggal di sini, dia dan Gavin semakin dekat. Bahkan sudah melakukan hubungan suami istri.
"Tapi sayangnya, satu hari sebelum pernikahan dia tega ninggalin saya selama-lamanya." Lirih Ayu, dengan air mata membasahi wajahnya.
"Pernikahan, bulan madu, masa depan yang kita rencanakan. Terhempas angin lalu. Realita tak seindah Ekpestasi."
Kenzie tersenyum tipis, meraih jemari Ayu dan mengelus lembut.
"Kamu beruntung."
"Mbak juga beruntung."
"Maksud kamu?"
"Saya tau, apa yang mbak alami memang pahit. Tapi terlarut dalam kesedihan juga tidak boleh. Awalnya saya tidak terima perjodohan itu, masa depan yang saya rencanakan hancur begitu saja."
"Sedih, iya. Satu Minggu saya menangisi hal yang tidak berguna. Tapi saya sadar, mungkin Tuhan memiliki rencana lain dibaliknya."
"Tapi tak semua orang seberuntung kamu." Balas Ayu.
"Beruntung dari mananya mbak? Kehidupan pernikahan itu tidak gampang, dua orang yang berbeda dipersatukan, dan harus menerima kekurangan masing-masing. Suami saya memang tampan, tapi nyebelin. Apalagi mengambil kesepakatan yang berbeda, salah satu harus mengalah. Karena mengalah juga perlu mbak."
Ayu menundukkan kepalanya, merasa malu dengan wanita muda disampingnya.
"Mbak harus mengalah dengan hati dan keras kepala. Coba buka hati untuk yang lain. Mbak cantik, saya akui. Biar masa lalu itu menjadi kenangan, bila perlu lupakan. Bagaimanapun juga, mbak harus ikhlas. Ikhlas buka hal yang gampang, tapi kalo mbak berusaha, pasti bisa."
"Tapi saya takut." Lirih Ayu.
"Gak ada yang perlu ditakuti mbak. Mungkin di bukan jodohmu, ada yang lain mendoakan mbak agar menjadi jodohnya."
Ayu hanya tertawa kecil, sembari menghapus jejak air matanya.
"Jangan lukai diri sendiri mbak, gak baik. Sebesar-besarnya masalah, jangan lari dari kenyataan. Sakit memang menerima kenyataan, tapi namanya juga hidup."
Kenzie tersenyum hangat, sembari mengelus lembut jemari Ayu. Ternyata wanita ini tak seburuk yang dibayangkan.
Dia hanya butuh teman cerita, mungkin selama ini dia menahan sendiri rasa sakitnya.
"Ayu."
Spontan Kenzei dan Ayu mengarahkan tatapannya, kearah asal suara. Ternyata seorang pria, berdiri didepan rumah pak Harto dengan menenteng tas besar.
"Siapa mbak?" Bisik Kenzie.
"Anak pak Harto."
"Kayak dia suka sama mbak."
"Iya, udah lama."
"Terima aja mbak, lumayan juga. Tampan dan tinggi. Nanti keburu orang lain loh, mbak Ayu nanti nyesal."
"Saya takut."
"Gak usah takut, saya bantu. Lupain aja mas tampan itu, doain agar tenang. Mbak jangan lukai diri sendiri, gak baik."
Ayu hanya menghela napas panjang, tersenyum manis kearah Kenzie.
"Terimakasih."
Kenzie hanya mengangguk kan kepala, menepuk pundak Ayu dan melangkah masuk kedalam rumah.
Tepat pintu terbuka, menampakkan Gavin berdiri didepan pintu kamar, menatapnya tajam.
"Darimana?"
Ck, k*surupan lagi. Batin Kenzie.
_____________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
__ADS_1
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓