
Senyuman manis terukir indah dibibir mungil itu, apalagi sentuhan lembut jemari besar itu masih melekat di jemari lentiknya.
Bertepatan Kenzei keluar dari ruang BK, suara bariton langsung menyapa telinganya.
"Terimakasih Baginda ratu." Ucap Gavin pelan, yang sayangnya terdengar errrrr seksi.
"Eh, mulai dari tadi berdiri di situ?"
"Iya."
Kenzie hanya menggelengkan kepala, merasa tingkah Gavin berlebihan.
Dia dalam hampir 1 jam, bahkan sekolah terlihat sepi hanya beberapa orang yang berlalu lalang. Hingga manik Kenzie bertemu Fani, melambaikan tangan kearah nya.
"Lama banget sih Ken, gue tungguin juga mulai dari tadi." Cerocos Fani, sembari menyerahkan ransel Kenzie.
"Iya, maaf. Tapi makasih."
"Satu lagi, ruangan kita masih tetap. Gue duluan, bye."
"Fa jangan lupa."
Fani hanya mengangkat tangannya, membentuk O atau oke.
"Lupa apa?" Tanya Gavin penasaran.
"Ada, gak usah kepo. Ayo, pulang."
Gavin mendengus kesal, mensejajarkan langkahnya dengan Kenzie.
Di depan gerbang, mobil sudah terparkir, berarti supir menunggu mulai dari tadi. Kenzie merasa bersalah akan hal itu. Tepat pantatnya duduk di jok belakang, Kenzie langsung mencondongkan tubuhnya ke kursi kemudi.
"Pak supir udah lama yah, aduh maaf yah pak. Kita ada urusan penting sama guru." Ucap Kenzei merasa bersalah.
"Eh, gak papa non udah tugas saya."
"Tapi tetap aja, maaf yah pak."
Supir itu hanya mengangguk kan kepala, merasa binggung sekaligus salah tingkah. Bertahun-tahun bekerja dengan keluarga Megantara, baru pertama kalinya ia mendengar kata maaf dari boss sendiri. Lebih herannya, istri tuan muda.
Gavin yang melihat itu tersenyum tanpa sadar. Dengan gemas, mengacak-ngacak pucuk rambut gadisnya.
"Sama pak supir minta maaf, sama suami?" Bisik Gavin.
"Beda, pak supir orangtua."
"Yah."
"Kenapa?"
Gavin berdecak kecil, memilih bersandar pada jok mobil dan memejamkan matanya. Punya bini gak peka jadi orang. Apa salahnya minta maaf atau bilang terimakasih. Ditungguin berjam-jam, ucapan manis tidak ada yang keluar dari bibir mungil itu.
Kenzie hanya mengangkat bahunya acuh, memilih membaca materi penting untuk ujian hari Senin.
Hingga mobil berhenti di depan rumah, Gavin langsung keluar. Melangkah lebar masuk kedalam.
"Lah malah ngambek." Ucap Kenzei pelan, mengikuti Gavin masuk kedalam rumah.
Tepat pintu kamar terbuka, menampakkan Gavin tidur telungkup di atas ranjang dengan bertel*ngjang dada. Seragam putihnya tergeletak ganas di atas lantai, sepatu dan kaos kaki berserakan.
"Jangan langsung tidur Vin! cuci kaki dulu, makan siang baru tidur." Peringat Kenzie, sembari memungut seragam putih Gavin dari atas lantai.
"Vin."
Kenzie menarik-narik ujung celana abu-abu itu, tapi siempunya tidak bergeming sama sekali. Padahal Kenzie tau, Gavin belum tidur.
"Ngambek ceritanya?"
Kenzie duduk di tepi ranjang, mengelus lembut rambut hitam lebat itu.
"Makasih yah Vin, udah nungguin aku berjam-jam di depan ruang BK." Ucap Kenzei akhirnya.
Sontak Gavin tersenyum lebar, tanpa Kenzie sadari.
__ADS_1
"Makan siang yuk, aku suapi kok." Rayu Kenzei.
Tapi sayangnya, siempunya tetap kekeh bahkan tidak bergeming sama sekali.
"Yaudah, kamu makan sendiri. Suruh pak satpam suapin."
Sontak Gavin bangkit dari tempatnya, menatap Kenzei tajam seakan protes dengan ucapannya barusan. Sekali tarikan, tubuh kecil itu sudah dibawah kuasa tubuh kekarnya.
Kenzie hanya tertawa kecil, menatap manik hitam itu seakan menantangnya.
"Gak takut ketahuan ketua OSIS itu?"
"Biarin, lagian salah sendiri gak mau melayani suami."
"Oh, pelayanan seperti apa yang anda mau?" Goda Kenzie, sembari mengalungkan kedua lengannya ke belakang leher Gavin.
"Pelayanan diatas ranjangg."
"Sayang sekali, aku lagi datang bulan."
Sontak Gavin melototkan matanya, tubuhnya luruh begitu saja di atas tubuh Kenzei. Gagal lagi hari ini.
"Makan siang yah, baru belajar. Ingat nilai diatas rata-rata."
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Gavin langsung bangkit dari tempatnya. Berlari terbirit-birit masuk ke kamar mandi. Gavin lupa akan hal itu, hanya tersisa dua hari lagi tantangan di mulai.
__________
Kini meja penuh dengan buku, dan Gavin sibuk mendengar penjelasan dari bibir mungil itu. Padahal seragam masih melekat ditubuh mereka berdua, tanpa berniat mengantinya.
"Kalo aku dapat nilai lebih diatas rata-rata, bonus nya apa?" Tanya Gavin, di sela-sela kegiatannya.
"Mau kamu apa?"
"Morning kiss tiap pagi."
"Cuman itu?"
"Banyak sih, tapi satu-satu aja dulu."
Pulang sekolah sampai sekarang, Gavin tidak mengunakan atasan apa-apa. Seakan pamer dengan perut kotak-kotaknya.
"Jangan cuman di lihat, pegang aja gak papa." Ucap Gavin, seakan tau isi hatinya.
"Ngomong apaan sih."
Tanpa melirik sedikit pun, Gavin meraih jemari lentiknya diarahkan tepat di perut kotak-kotaknya. Seperti Dejavu.
(Yang belum tau arti Dejavu bisa cari di Google biar lebih paham. Tapi intinya; Dejavu kejadian yang pernah terjadi di masa lalu seakan terulang kembali "Pernah terlihat" Bisa dibilang seperti itu).
Sontak Kenzie diam mematung, saat jemarinya bersentuhan langsung dengan otot yang sedari tadi mengodanya.
"Jadi gak fokus belajar." Ucap Gavin seakan mengodanya.
Sontak Kenzie bangkit dari tempatnya, melangkah lebar kearah walk closet. Tubuhnya panas, wajahnya memerah. Kenzie harus mandi, tubuhnya gerah.
"Mau kemana?" Goda Gavin semakin gencar menggodanya.
"Mandi."
"Aku ikut yah."
"Boleh, tapi jangan harap selamat yang di bawah."
Gavin menelan salivanya kasar, menatap punggung kecil itu berlalu masuk kedalam kamar mandi.
"Lebih baik di tolak dari pada sunat."
Gavin mengelengkan kepalanya, berdigik ngeri membayangkan ucapan Kenzie.
"Sabar yah nak, tinggal menghitung hari." Ucap Gavin frustasi.
__________
__ADS_1
Pukul 21:00 Gavin masih berkutat dengan buku-bukunya, sembari sibuk mengelus perut rata istrinya. Kenzie tidur disampingnya, dan Gavin duduk bersandar dikepala ranjang.
Mulai dari tadi Kenzie mengeluh sakit dibagian perut, efek datang bulan. Katanya biasa setiap datang bulan. Tapi Gavin khawatir, apalagi bibir mungil itu sesekali meringis kesakitan.
"Kita kedokter yah." Bisik Gavin, beralih mengelus rambut panjang gadisnya.
"Muka kamu pucat banget."
"Aku gak papa Vin."
Kenzie memeluk kaki jenjang suaminya, menyembunyikan wajahnya dibawah bantal. Rasanya ingin berteriak saking sakitnya, tapi mendengar suara bariton itu khawatir, Kenzie menunda aksi gila nya.
"Jadi gimana? Mulai dari tadi ka–"
"Diam Vin, bising." Geram Kenzie.
Gavin menghela napas panjang, perlahan berbaring. Mendekap erat tubuh kecil gadisnya. Menepuk pelan punggung kecil itu, sesekali mencium pucuk rambutnya.
"Sakit banget yah?"
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, membalas pelukan itu tak kalah erat.
"Cara ngobatin gimana?"
"Diam, jangan berisik."
Gavin tertawa kecil, menyelipkan helaan rambut gadisnya dan mencium pelipis Kenzei berulang kali.
Hingga terdengar deringan ponsel, mengalihkan perhatiannya. Tanpa menunggu persetujuan dari siempunya, Gavin langsung menerima panggilan.
"Ken."
"Iya kenapa?"
"Istri Lo mana, gue mau ngomong sesuatu."
Gavin mengalihkan tatapannya kearah Kenzie, berbisik tepat ditelinganya.
"Fani mau ngomong."
Sontak Kenzie membuka matanya lebar, menjulurkan tangannya menerima hp nya.
"Iya kenapa?" Tanya Kenzei to the point.
"Rumah sakit seperti biasa."
Kenzie langsung memutuskan panggilan sepihak, dengan grasa grusu bangkit dari tempatnya.
"Eh, mau kemana?"
Kenzie hanya diam, memasangkan jaket dan kaos kakinya secepat kilat. Tanpa peduli memakai piyama, atau sandal bulu-bulu yang terpenting sampai di tujuan dengan cepat.
"Pakai."
Kenzie membantu Gavin memakai jaket, dan juga kaos kakinya. Tanpa berniat membuka pembicaraan.
"Bisa nyetir kan?"
Gavin hanya mengangguk kan kepala, meraih kunci mobil dari atas nakas. Dengan asal Kenzei meraih selimut tipis, berlari kecil mengikuti Gavin melupakan nyeri pada perut nya.
"Rumah sakit .... "
Perlahan Gavin memutar kemudi, melaju meninggalkan pekarangan rumah. Untung bahunya sudah lumayan, walau terkadang sakit.
Hanya membutuhkan waktu yang singkat, mereka berdua sudah memasuki pekarangan rumah sakit.
Gavin hanya mengikuti langkah kaki gadisnya, hingga berhenti disalah satu ruangan pasien.
"Tukang bohong, apa salahnya jujur." Lirih Kenzie kesal.
___________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
__ADS_1
STAY TUNED 🌱
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓