GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
THE POWER OF GAVIN


__ADS_3

Hal yang paling mengesalkan menurut Kenzie, ketika mengambil keputusan, suami yang menang dan tidak bisa dibantah.


Gavin benar-benar mengantarnya ke rumah orangtuanya beberapa jam yang lalu, hingga pukul 21:30 manusia tampan itu belum juga menunjukkan batang hidungnya. Padahal perjanjian, Gavin pulang pukul 21:00. Tapi sayangnya, Gavin ikar janji.


Kenzie bolak balik mengintip dari balik kaca, berharap mobil suaminya terparkir di depan rumah. Walau tetap saja hasilnya sama sejak tadi.


"Ck, Gavin mana sih?" Gerutu Kenzei, kerutan tampak jelas diwajahnya.


Hingga suara deru mobil terdengar jelas di depan rumah. Manik yang semula mengantuk, langsung terbuka lebar.


Sontak Kenzie melangkah lebar keluar dari kamar, memutar kunci pintu utama hingga pintu terbuka. Menampakkan tubuh kekar berbalut jaket hitam berdiri di balik pintu.


Kenzie langsung berhambur memeluk tubuh kekar itu, sesekali memukul kecil punggung suaminya.


"Kenapa baru pulang? Kamu tega banget ningalin istri, mana hamil pulak." Omel Kenzie.


"Maaf." Jawab Gavin, membalas pelukan Kenzie tak kalah erat. Seraya mendorong tubuh kecil itu pelan masuk ke dalam rumah, dan mengunci pintu.


"Orang rumah mana?" Tanya Gavin, mengamati rumah yang terlihat sepi dan lampu utama diganti dengan lampu minim pencahayaan.


"Jam segini orang rumah udah tidur, capek kerja seharian. Kamu aja yang berkeliaran jam segini, mana gak ingat istri lagi." Omel Kenzie lagi.


"Iya-iya maaf. Kita ke kamar aja yuk."


"Bentar, kamu udah makan?" Tanya Kenzie, mendongakkan kepalanya keatas menatap wajah tampan itu.


"Belum."


Spontan Kenzei melepaskan pelukannya, menarik lengan kekar itu kearah dapur.


"Udah hampir tengah malam loh Vin kamu belum makan. Benar-benar dah."


"Lupa yang."


"Jelas, sama istri sendiri aja kamu lupa. Apalagi makan."


Gavin hanya mengulum senyum, menatap punggung kecil itu sibuk menyiapkan makanannya. Benar kata Angga, Gavin beruntung memiliki Kenzie. Dari sekian banyak pria yang menganggumi Kenzie, dia yang beruntung mendapatkan ketua OSIS galak itu. Plus resmi menjadi suami sah, bahkan sudah memiliki Kenzie seutuhnya.


Flashback


"Kenapa Lo mau bantuin gue?" Tanya Gavin serius, menatap Angga yang sibuk dengan alkoholnya.


Kebetulan anak yang satu ini pecinta alkohol, mengikuti jejak ayahnya.


"Karena gue suka sama bini Lo." Jawab Angga tanpa merasa berdosa.


"Maksud Lo?"


"Yaelah Vin, emang siapa yang gak suka sama bini Lo? Kayaknya Lo udah tau bini Lo terkenal dikalangan buaya, termasuk gue. Tapi tenang aja, gue cuman sekedar kagum. Gak lebih."


"Jadi?"


"Jaga bini lo sebelum gue ambil. Kenzie terlalu sempurna buat Lo, apalagi gue. Lo beruntung Vin dapat Kenzei tanpa perjuangan. Lo lihat sendiri kan selama ini perjuangan yang lain menarik perhatian Kenzie, ditolak mentah-mentah bro."


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, menatap lurus kedepan dengan tatapan yang sulit diartikan.


Ucapan Angga benar semua, mungkin jika Gavin melakukan hal yang sama seperti yang lain. Kemungkinan besar Kenzie akan menolaknya.


Tipe pria idaman Kenzie, tripikal pria langka. Pintar, baik, sopan, taat beragama, bijak, polos tak terlalu tampan. Dan itu semua tidak ada gambaran diri Gavin.


"Kurang apalagi hidup Lo Vin? Punya istri idaman, dapat servis tiap malam, punya keturunan malah sebentar lagi. Kalo boleh, kita tukar posisi 1 bulan." Celutuk Angga.


"Kalo bini gue mau."


Sontak Angga tertawa terbahak-bahak, meletakkan botol alkoholnya diatas meja.


"Gue lupa, Lo berdua manusia bucin."


Gavin hanya mengangkat bahunya acuh, meraih kotak ponsel baru dari atas meja. Ucapan Angga saja yang menolak, tapi sayangnya mereka tidak pernah menolak permintaan satu sama lain, asal masih bisa dilakukan.


"Pulang sana, bini Lo lagi hamil. Gak usah pikirin hari esok. Jaga Kenzie baik-baik, mungkin Lo pemenang nya. Kita bisa apa. Lo lihat aja hari Senin, pasti banyak surat cinta di laci bini Lo."


"Makasih bro."


Gavin menepuk pundak Angga, berlalu keluar dari kamar pria itu. Tepat di depan pintu, Gavin membalikkan tubuhnya menatap Angga dengan tatapan jahilnya.


"Ingat Fani, sebelum ada yang keduluan."


"Br*ngsek, pergi gak Lo!"

__ADS_1


"Yaelah bro, teman bini gue yang itu juga cantik. Nikahin aja setelah lulus, lumayan dapat servis tiap malam."


"Anjing."


Sontak Gavin tertawa terbahak-bahak, berlari terbirit-birit keluar dari rumah Angga. Sebelum mereka berdua adu tojos.


"Makan! Malah melamun."


Sontak Gavin tersadar dari lamunannya, tersenyum lebar kearah Kenzei menarik tubuh kecil duduk di atas pangkuannya.


"Eh, mau ngapain?"


"Jangan kemana-mana."


"Nanti ada yang lihat Vin."


"Gak bakal, bunda sama ayah udah tidur."


Gavin melilitkan lengannya sebelah kepinggang istrinya, dengan santainya menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Aku berat tau Vin."


"Gak."


"Masa sih, perut aku makin besar."


"Yah bagus, biar cepat lahir. Kita buat lagi yang banyak."


"Gampang banget ngomongnya."


Gavin hanya mengangkat bahunya acuh, mulutnya sibuk mengunyah, sesekali Kenzie menyondorkan segelas air.


"Urusannya gimana?"


"Udah kelar kok yang."


Akhirnya Kenzie menghela napas lega, mengambil alih piring kosong bekas suaminya, diletakkan di tempat pencucian piring.


"Ayo tidur, besok aja bersihin dapur. Malam-malam itu melayani suami."


Kenzie hanya berdecak kecil, memegang ujung kaos suaminya sembari melangkah kearah kamar.


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, membuka jaket dan kaosnya. Menyisahkan celana jeans hitam menutupi kaki jenjangnya.


"Ck, ganti baju bukan buka baju." Omel Kenzie.


"Malas banget yang."


"Astaga, punya suami modelan nya gini amat." Imbuh Kenzie. Membuka lemari pakaian, meraih celana training dan kaos oblong.


"Pakai, buka celana jeans-nya." Ujar Kenzie.


Gavin hanya menurut, secepat kilat menganti pakaiannya. Mematikan lampu, dan menarik tubuh kecil istrinya kedalam selimut.


"Vin, gelap."


"Gak papa, tidur aja."


"Aku takut Vin, gak bisa tidur kalo gelap begini."


"Gak papa sayang, peluk biar gak takut."


Kenzie memeluk erat tubuh kekar itu, mengahalau rasa takut yang selalu muncul saat berada di ruangan gelap seperti ini.


"Harus terbiasa, aku lebih suka tidur seperti ini. Kapan-kapan kita coba bikin debay tanpa pencahayaan."


"Mesum banget sih Vin."


"Mau coba sekarang?"


"Gavin!"


"Bercanda, jangan teriak-teriak. Nanti bunda sama ayah dengar."


Kenzie memukul kecil punggung kekar itu, mencoba menutup mata rapat-rapat walau tetap saja hasilnya sama. Hingga tubuh kekar itu bangkit dari tempatnya, menyalakan lampu kembali.


"Udah, tidur!"


Spontan Kenzei tersenyum lebar, kembali memeluk erat tubuh kekar suaminya.

__ADS_1


"Suami aku perhatian banget sih, jadi makin cinta."


"Ulangi dong sayang, aku gak dengar." Goda Gavin, sembari mengulum senyum.


"Aku makin cinta sama suami Kenzie."


Sontak Gavin tertawa kecil, menarik selimut menutupi tubuh seluruh tubuh mereka berdua. Membalas pelukan Kenzie tak kalah erat.


"Selamat malam Baginda ratu."


"Selamat malam pangeran."


"Bukan setan?" Tanya Gavin, semakin gencar menggoda istrinya.


"Tidur, udah malam."


"Bilang aja malu."


"Udah tau masih aja nanya." Sergah Kenzie.


_______________


Hari pertama ujian Nasional, Kenzie bangun lebih awal pagi ini. Menyiapkan keperluan mereka berdua, hingga keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit ditubuhnya.


"Vin, bangun." Ucap Kenzei, duduk di tepi ranjang menarik selimut yang membungkus tubuh kekar itu.


"Ujian loh Vin, bukan liburan kalo kamu lupa."


Wajah tampan itu terlihat ditekuk, perlahan bangun dari tidurnya duduk ditengah-tengah ranjang dengan manik yang enggan terbuka.


"Mandi sana, aku udah siapin air hangat. Merendam sebentar gak papa, asal jangan tidur lagi."


Sontak Gavin membuka matanya lebar, menatap Kenzie dengan tatapan kesal.


"Ck, ngapain repot-repot sih yang. Kamu gak boleh kecapean."


"Yasudah, mandi sana." Jawab Kenzie ketus, bangkit dari tempatnya bercakak pinggang disamping ranjang.


"Jangan ngambek, pakai baju gih. Nanti masuk angin." Ujar Gavin seraya bangkit dari tempatnya. Berdiri menjulang tinggi dihadapan Kenzie, mengecup bibir mungil itu sekilas.


Gavin sejak tadi sudah rapi dengan pakaiannya, dari bawah hingga atas lengkap, dengan bantuan sang istri. Dasi dipasang di lehernya, seragam putih masuk kedalam celana, bahkan rambut di sisir rapi.


Tapi sayangnya, manusia yang sejak tadi membantunya masih sibuk di depan cermin. Kadang membuka baju putihnya, menyisahkan tank top putih.


"Kenapa sayang?" Tanya Gavin lembut, berdiri tepat dibelakang Kenzie. Menatap pantulan mereka berdua di depan cermin.


"Perut aku kelihatan banget."


Gavin hanya mengigit bibir bawahnya, membalikkan tubuh kecil istrinya dengan tatapan fokus menatap perut Kenzie.


"Perasaan kamu aja, gak nampak banget kok."


Gavin mengambil alih seragam putih Kenzie, memasangkannya di tubuh kecil itu.


"Kalo kamu amati pasti keliatan berbeda, buktinya gak nampak kok." Ucap Gavin meyakinkan istrinya.


"Ayo, nanti kita terlambat." Ajak Gavin, meraih ransel mereka berdua. Lalu menarik lengan Kenzie keluar dari kamar.


____________


Di gerbang Angga, Edo, Fani, dan Dian sudah stand by menunggu mereka berdua. Beberapa orang yang berlalu lalang hanya sekedar menatap mereka, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Kenzie dan Gavin terlihat tenang, terlihat tidak terjadi apa-apa. Hingga bel berbunyi, mereka semua langsung bergabung ke barisan. Berdoa bersama, dan mendengar ceramah kepala sekolah. Hingga pembicaraan beralih kearah mereka berdua.


"Mungkin diantara anak-anak kami sudah tau kejadian yang sedang tersebar luas di media sosial. Itu semua murni kesalahan salah satu siswi tingkat pertama. Saya harap itu tidak terjadi lagi. Apalagi sampai memojokkan korban, bahkan melontarkan kata-kata yang tidak pantas."


"Ambil sisi positif, buang sisi negatif nya. Terimakasih, dan selamat ujian."


Sontak Kenzie mengalihkan tatapannya kearah Gavin, bertepatan manik hitam itu menatapnya dengan seulas senyuman tipis terbit dibibir tebalnya. Hingga punggung kekar itu berlalu menjauh memasuki ruangan ujian.


Dia ngomong apaan ke pihak sekolah? Batin Kenzie.


_____________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


SELAMAT PAGI DAN SELAMAT BERAKTIVITAS🍓


__ADS_1


__ADS_2