GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
AMBYAR


__ADS_3

Sedari tadi, Kenzie dan Gavin hanya fokus belajar. Sesekali Gavin bertanya dan Kenzie dengan sabar nya menjelaskan secara rinci.


Gavin akui, otak gadisnya boleh juga. Sedari tadi ia bertanya, Kenzie selalu menjawab pertanyaannya.


"Sayang."


"Kenapa?"


"Bu Dora bilang, tahun depan akhir bulan januari ada olimpiade matematika. Menurut kamu gimana? Aku tolak atau terima?"


Kenzie yang awalnya fokus dengan pelajarannya, mengalihkan tatapannya kearah Gavin.


"Terserah kamu sih, soalnya kamu yang ikutan olimpiade. Tapi menurut aku, gak usah deh."


"Kenapa?"


"Kita bentar lagi lulus, kamu fokus sama masa depan aja. Mending baca buku referensi tentang bisnis, atau belajar langsung ke lapangan. Ujian kelulusan tinggal menghitung bulan, padahal kita harus ke desa dekat sungai setelah pembangian rapot."


"Benar juga."


"Jangan terlalu di paksa, serakah itu nama nya. Lagian banyak adek kelas yang mendaftar, mungkin ke pengen ikut olimpiade, atau cuman ngeliat kamu doang." Jelas Kenzie kesal.


Sontak Gavin tertawa kecil, melihat wajah cantik itu ditekuk, bibir dimanyukan kedepan. Dia sendiri yang ngomong, di sendiri yang cemburu.


"Jadi, aku harus bagaimana Baginda ratu?"


"Fokus ujian sama bisnis aja. Itu lebih penting sekarang, apalagi ujian masuk perguruan tinggi makin dekat."


"Emang kamu kuliah? Aku kurang yakin."


"Maksudnya?"


"Percaya sama aku, satu bulan lulus sekolah kamu bakalan hamil besar."


"Ck, ngomong apaan sih?"


"Lihat aja."


Kenzie memutar matanya jengah, malas meladeni ucapan Gavin. Punya suami mesum pusing juga lama-lama.


Daripada mendengar ocehan tidak jelas yang keluar dari bibir tebal itu. Lebih baik Kenzie kembali belajar.


Gavin tertawa kecil melihat perubahan wajah cantik itu. Padahal ucapannya barusan benar. Hanya menghitung hari, apa yang ia mau bakalan terwujud. Otomatis Kenzei hamil.


"Kenapa?"


Bibir mungil itu diam membisu, bahkan tidak berniat melirik sedikit pun kearahnya.


"Ngambek?"


Gavin bangkit dari posisinya, duduk dibelakang tubuh kecil itu. Kebetulan mereka berdua duduk lesehan diatas karpet bulu-bulu, meja diletakkan di tengah-tengah sesuai permintaan gadisnya


"Emangnya mau kuliah dimana, hm? Mau ambil jurusan apa?" Tanya Gavin lembut, memeluk tubuh kecil itu dari belakang, meletakkan kepalanya di bahu Kenzie.


"Bukan urusanmu."


"Kenapa?"


Kenzie hanya diam, tanpa berniat membalas ucapannya. Hingga konsentrasinya pecah, saat kaki jenjang itu tepat disamping kaki kecilnya.


Bayang-bayangan kejadian liar di mobil tadi berputar kembali di otaknya. Bagaimana jemari besar itu menyelip ke sana kemari, hingga wajah tampan itu terlihat berbeda tapi Kenzei sukai.


"Mau ambil jurusan apa, hm?"


Sontak Kenzie berdigik ngeri, menjauhkan tubuhnya sedikit dari jangkauan Gavin.


Bukannya menjauh, tubuh kekar itu malah merapatkan tubuhnya. Mendekap erat tubuh kecilnya, seakan tidak ingin melepaskannya.

__ADS_1


"Marketing." Ucap Kenzie ketus.


"Alasannya?"


"Bisnis ayah sama bunda."


"Lah itu kan tanggung jawab aku, tunggu Kenzo dewasa."


"Yah."


"Ambil jurusan bisnis aja sama aku, nanti kamu juga yang gantiin mama."


"Gak mau."


"Kalo kamu hamil, kuliahnya gak ketinggalan. Nanti ada aku yang jelasin ulang. Kalo masalah marketing, kita bisa ikut seminar online mulai dari sekarang."


"Vin, jangan bawa-bawa hamil terus. Lama-lama kuping aku panas."


"Udah gak sabar?"


"Gavin!" Sergah Kenzie.


"Iya-iya."


"Jauh-jauh sana, aku mau tidur. Jangan main game langsung tidur. Kalo kebangun tengah malam berdoa, bukan main game!" Peringat Kenzie.


Kadang Gavin terbangun tengah malam, bukan nya lanjut tidur malah main game. Pantasan terlambat tiap hari.


Dengan cepat Kenzie bangkit dari tempatnya, menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Hanya sekejap, mata lentik itu tertutup rapat dengan napas yang teratur.


Gavin sempat tidak percaya, tapi melihat tubuh kecil itu tidak bergeming sama sekali. Gavin baru percaya.


"Ratu tidur." Cibirnya.


Tanpa berniat merapikan buku-buku yang berserakan, Gavin bangkit dari tempatnya. Mematikan lampu, mengantinya dengan lampu tidur temaram.


Dengan hati-hati Gavin naik keatas ranjang, merapikan posisi tidur Kenzie dan menyelimuti tubuh mereka berdua.


"Cantik."


Gavin tersenyum tipis, mengecup bibir mungil itu berulang kali. Walaupun harus menahan diri untuk tidak mengigit nya, takutnya bengkak besok pagi.


"Jadi pengen makan."


Gavin gemas sendiri, apalagi bayangan kejadian di mobil tadi berputar kembali di otaknya. Jemarinya memang berkeliaran kemana-kemana, tapi sayangnya hanya menyentuh bagian tertentu saja.


Bahkan dua bukit yang ia lihat itu, belum tersentuh jemarinya. Gavin tidak berani. Bahkan mengerakkan tubuh kecil itu saja tanpa sadar.


"Good night my wife." Bisik Gavin, perlahan menyelusupkan kepala Kenzie di dada bidangnya.


____________


Entah mengapa baru-baru ini Kenzie selalu terlambat bangun. Padahal sebelum menikah, Kenzie manusia paling rajin bangun pagi.


Tidur dengan Gavin rasanya berbeda, nyaman dan hangat. Tidurnya lebih nyenyak daripada sebelumnya, tapi sayangnya malah terlambat bangun.


"Vin, dasi kamu mana?"


"Ini." Tunjuk Gavin, mengeluarkan dasinya dari saku celananya.


"Bentar."


Dengan grasa grusu Kenzie memasangkan sepatunya, dengan cepat mendekat kearah Gavin.


Satu persatu kancing seragam putih itu terpasang, kini dasi yang dipasangkan dilehernya. Gavin berinisiatif sendiri, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh kecil Kenzie, agar kerjanya lebih mudah.


Jemarinya belum bisa digunakan seperti biasa, ditambah bahu sebelah kiri kumat tidak bisa digerakkan.

__ADS_1


"Aku gak boleh terlambat."


"Masih lama Ken."


"Masalahnya, rapat semalam harus dibaca didepan podium. Padahal belum aku catat ulang."


"Santai masih banyak waktu."


Kenzie mencibir, merapikan kerah dan seragam Gavin. Sebelum siempunya menjauh, Gavin langsung mengecup bibir mungil itu.


"Semangat ibu ketua OSIS yang terhormat."


"Gombal."


Gavin tertawa kecil, mengikuti gadisnya keluar dari kamar.


"Ma, kita berangkat dulu!" Teriak Gavin.


"Eh, sarapan dulu." Teriak Lara dari dapur.


"Gak sempat ma, udah terlambat."


"Bentar, jangan kemana-mana." Tahan Lara.


Gavin mengelus lembut rambut gadisnya, dengan jemari yang dililitkan perban. Menyakinkan Kenzie semua baik-baik aja.


Hingga terdengar suara Lara mendekat, dengan cepat Kenzie menerima kotak bekal sarapan mereka berdua.


"Jangan lupa makan sarapannya."


"Iya ma." Sahut mereka berdua, dengan cepat keluar dari rumah tanpa menyalim Lara.


"Dasar anak muda." Ucap Lara.


Mereka berdua di antar supir, Kenzie melarang Gavin membawa mobil. Jangankan membawa mobil, makan saja harus disuapi seperti saat ini.


Sesekali Kenzie mengigit roti nya, dan di sondorkan kearah Gavin hingga sarapan habis tak tersisa.


Tak terasa mobil berhenti tak jauh dari sekolah, sesuai permintaan Kenzei. Dengan cepat Gavin keluar di ikuti Kenzei.


"Terimakasih pak." Ucap Kenzie kearah supir.


Dengan langkah lebar Kenzei memasuki pekarangan sekolah, meninggalkan Gavin jauh dibelakangnya.


Dengan cepat kilat Kenzie mencatat hasil laporan rapat OSIS semalam, hingga kalimat terakhir tertulis bel berbunyi.


"Selamat."


Kenzie merapikan penampilannya di depan cermin, dengan cepat keluar dari ruangan OSIS.


"Semangat kak Kenzie." Ucap anggota OSIS lainnya.


Kenzie hanya tertawa kecil, menanggapi ucapan mereka.


Semua siswa berbaris, ibadah pagi berjalan dengan hikmah hingga tiba ke bagian Kenzie.


Dengan serius Kenzie membacakan laporan rapat OSIS semalam, hingga maniknya bertemu dengan manik hitam Gavin.


Senyuman manis terukir indah dibibir tebal itu, yang ditunjukkan hanya ke arahnya.


Kenzie yang awalnya fokus, gugup sekejap. Jantungnya berdetak kencang, maniknya tidak lepas dari manik Gavin.


Gila, gue gak fokus. Lagian ngapain senyum-senyum, mana ganteng banget lagi. Batin Kenzie.


__________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)

__ADS_1


STAY TUNED 🌱


TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓


__ADS_2