
Kenzie pikir Gavin bercanda dengan ucapannya, nyatanya seragam putih abu-abu nya sudah terlepas dari tubuhnya. Spontan Kenzei menjambak rambut suaminya, menatap wajah tampan itu dengan tatapan memelas.
"Stop, aku mau ngomong sesuatu." Ucap Kenzei tepat didepan wajah tampan itu.
"Bohong."
"Aku hamil!"
Sontak Gavin bangkit dari tempatnya, menarik lengan kecil itu seraya menatap wajah Kenzie dengan tatapan tidak percaya.
"Kamu bercanda yang?"
Kenzie hanya mengelengkan kepala, meraih selimut tipis menutupi tubuhnya yang hampir t*lanjang.
"Tadi pagi kamu bilang aku makin berisi, Fani juga bilang gitu. Porsi makan aku juga bertambah, gak kayak biasanya. Aneh nya lagi, mood aku gak beraturan belakangan ini."
"Iya juga sih, emang kamu udah periksa?"
"Belum."
"Kita cek aja yuk."
"Caranya?" Tanya Kenzei, seraya bangkit dari tempatnya dengan selimut tipis menutupi tubuhnya.
"Pakai testpack. Mama udah ajarin aku cara pemakaiannya."
"Serius Vin?"
Gavin hanya mengangguk kan kepala, menarik lengan Kenzie menaiki tangga satu persatu. Jujur jantung Gavin berdetak kencang, semoga saja hasilnya positif.
"Bentar."
Gavin menekan tombol kunci pintu kamar kedua orangtuanya, hingga pintu terbuka menampakkan kamar dekorasi klasik.
"Kita ngapain?"
"Bentar yang, waktu itu mama udah beli persediaan testpack."
"Buat apaan?"
"Yah buat kamu, paduan buku ibu hamil aja udah aku simpan."
"Ya Tuhan, sampai segitunya?" Tanya Kenzie syok.
"Yaelah yang, kamu gak tau aja mama sama papa udah pengen punya cucu. Apalagi cuman aku keturunan Megantara. Dari dulu sampai sekarang, keturunan Megantara selalu satu yang untungnya cowok." Jelas Gavin serius.
Jemari besarnya mengengam erat jemari lentik Kenzie, sembari sibuk mencari kotak kecil yang seinggatnya di simpan di lemari rias mama nya.
Perkiraan Gavin benar, kotak kecil itu ada di sana.
"Jadi kalo aku gak hamil gimana?"
"Kita coba lagi sampai kamu hamil." Balas Gavin dengan santainya.
"Ngampang banget ngomongnya, kamu pikir aku gak capek meladeni kamu tiap malam?"
"Iya-iya maaf."
Gavin melangkah keluar, diikuti Kenzie dari belakang yang masih setia di genggam jemari besar itu. Pikiran Kenzie berkeliaran kemana-kemana, antara senang, khawatir, dan takut yang paling mendominasi.
Hingga 5 testpack sekaligus, diletakkan di atas telapak tangannya. Dan elusan lembut terasa menyentuh wajahnya.
"Coba gih, gak usah digituin mukanya. Yang tadi nanti kita lanjut." Ucap Gavin lembut, mengecup bibir mungil itu sekilas.
"Tapi Vinโ"
"Gak ada tapi-tapian sayang, atau perlu aku temanin?"
Kenzie hanya mengelengkan kepala, melangkah ragu masuk ke dalam kamar mandi. Sebenarnya Kenzie sudah tau cara pemakaian alat ini, saking penasarannya dengan ucapan Fani.
"Lo lagi hamil Ken? ciri-ciri Lo kayak wanita hamil."
Detik itu juga Kenzie mencari tahu tanda-tanda wanita hamil, sampai cara pemakaian testpack yang biasanya digunakan wanita.
Didepan pintu kamar mandi Gavin mondar-mandir, meramalkan doa didalam hati semoga hasilnya positif. Entah sejak kapan Gavin terobsesi menjadi seorang ayah, yang pastinya kedua orangtuanya mendukung penuh untuk hal yang satu ini.
__ADS_1
Hingga pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Kenzie dengan lima testpack di jemari lentiknya. Wajahnya tidak menyakinkan, tidak ada ekpresi sama sekali.
Gavin jadi bimbang, meraih benda kecil itu dengan ragu dan menatapnya satu persatu dengan mengerutkan dahi.
"Dua garis merah, berarti?"
Detik berikutnya tawa Gavin memenuhi ruangan.
"YES, POSITIF!" Teriak Gavin girang, menangkup wajah cantik itu dan menciumnya bertubi-tubi.
"Makasih sayang, aku makin cinta sama kamu."
Kenzie hanya diam mematung, dengan ekpresi wajah yang sama.
"Kenapa? Kamu sakit?" Tanya Gavin khawatir.
"Aku takut Vin."
"Kenapa takut?"
"Kamu bakalan tanggung jawab kan?"
Spontan Gavin menarik tubuh kecil itu kedalam dekapannya, memeluk erat seraya mengelus lembut rambutnya.
Pasti ada yang ngomong aneh-aneh nih, apalagi jaman sekarang banyak rumor anak SMA hamil di luar nikah tanpa suami. Sayangnya Gavin tidak seperti itu.
"Kamu belum percaya sama aku?" Tanya Gavin.
"Bukan gitu maksudnya."
"Jadi?"
"Cuman takut aja."
Gavin hanya mengehela napas panjang, mengangkat tubuh kecil itu, spontan Kenzie melilitkan kedua kakinya di pinggangnya.
"Aku suami kamu loh, bukan pacar. Gak ada yang perlu kamu takuti. Untuk masalah ucapan, itu cuman berlaku sama kamu doang. Lagian apa salahnya kalo aku mesum, toh kita suami istri." Ucap Gavin lembut, seraya duduk di tepi ranjang.
Jemarinya berpindah ke punggung kecil itu, mengelus lembut sesekali mencium pelipis Kenzei.
Di tanya Gavin bahagia atau tidak? lebih dari kata bahagia. Kenzie perempuan yang baik-baik, banyak yang menganggumi sosok Kenzie, yang sayangnya hanya bisa dilihat dari kejauhan.
Kadang beberapa teman sekelasnya bercerita tentang Kenzie, ketua OSIS cantik yang sayangnya galak. Ada juga yang secara terang-terangan mendekati Kenzie, tapi sayangnya di tolak mentah-mentah. Gavin yang tidak melakukan apa-apa, malah ia yang dapat.
"Sayang, kamu tidur?" Tanya Gavin, sembari menyelipkan helaan rambut yang menutupi wajah cantik itu.
"Gak."
"Mau mandi atau ganti baju aja?"
"Bentar."
Kenzie merapatkan tubuhnya dengan tubuh kekar itu, memeluk erat leher Gavin dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher suaminya.
Posisi mereka masih sama, Kenzie duduk di atas pangkuan Gavin, menghirup dalam-dalam aroma khas suaminya.
"Vin."
"Kenapa sayang?"
"Jangan kasih tau mama sama bunda dulu yah, cukup kita berdua aja yang tau. Boleh yah?"
"Iya."
Kenzie mengehela napas lega, perlahan melongarkan pelukannya turun dari atas paha kekar itu, berpindah duduk disamping Gavin.
"Kita ke dokter kandungan yah." Bujuk Gavin tiba-tiba.
"Gak usah deh Vin, tunggu kita lulus dulu. Nanti orang-orang malah mikir yang aneh-aneh lagi."
"Terserah kamu, aku ikut aja." Takutnya malah ngambek. Ucap Gavin yang sampai ditenggorokan.
"Ambilin sana seragam kita dari bawah, entah kemana kamu lempar."
"Nanti aja, aku mau mandi. Mau ikut?"
__ADS_1
Kenzie mengerutkan dahinya, detik berikutnya mengelengkan kepalanya. Kejadian di bawah tadi tertunda, takutnya Gavin melanjutkan aksinya.
"Ck, jangan mikir yang aneh-aneh. Cuman mandi, gak lebih. Kayak yang tadi pagi. Siap mandi aku mau belajar."
"Yah."
"Makanya ayo."
"Tapi jangan pegang-pegang."
"Iya loh sayang."
Dengan cepat Kenzie naik keatas punggung kekar itu, memeluk erat leher Gavin.
"Lah ngapain?" Tanya Gavin bingung.
"Ayo buruan, katanya mandi. Gimana sih kamu."
Gavin hanya mengusap wajahnya gusar, bangkit dari tempatnya melangkah kearah kamar mandi dengan Kenzie di punggungnya.
Sesuai perkataan Gavin, mereka berdua hanya mandi. Walau tetap saja bibirnya mencicipi bagian favoritnya, sesekali jemari besarnya meraba kesana kemari mencari kesempatan.
"Gavin!"
"Iya sayang, kenapa?" Tanya Gavin tanpa merasa berdosa nya.
Meraih handuk dari belakang pintu, melilitkannya di tubuh kecil itu. Dengan perhatian penuh, Gavin menyiapkan baju ganti istrinya bahkan membantu Kenzei memasangkan di tubuhnya.
"Ck, padahal aku bisa sendiri juga. Bukannya sakit, cuman hamil Vin!"
"Terserah Daddy, mommy tinggal nurut."
"Astaga, risih diginiin."
"No, mommy harus nurut kata Daddy."
"Aku bisa gila kalo begini ceritanya."
"Jangan ngomong yang aneh-aneh, cuman nurut kata suami apa salahnya sih yang."
Gavin mendudukkan tubuh kecil itu ditepi ranjang, beralih menyalakan lampu kamar dan menutup kaca balkon.
Dengan grasa grusu Gavin naik keatas ranjang, tidur berbantalkan paha Kenzie memeluk erat perut rata istrinya.
"Sayang, aku jadi Daddy."
Kenzie hanya mengulum senyum, mengelus lembut rambut suaminya tanpa memperdulikan tingkah aneh Gavin. Jemari besarnya menyelip masuk kedalam piyama tidurnya, mengelus lembut perut ratanya.
"Pantasan perut kamu agak buncit, gak kayak pertama kali aku lihat." Ucap Gavin, menyelusupkan kepalanya kedalam piyama Kenzie, mencium perutnya dengan lembut.
"Eh, ngapain?"
"Bentar yang."
"Jangan aneh-aneh deh Vin."
"Kayaknya anak kita kembar Lima deh yang."
"Gavin!"
"Daddy Gavin."
"Astaga nih anak benar-benar kelakuannya."
"Kenapa? Kamu makin cinta sama aku? Keren kan aku, langsung jadi pembuatannya. Daddy Gavin gitu."
"Terserah, jauh-jauh sana."
Kenzie mendorong tubuh kekar itu dengan santainya, hingga jatuh dengan mulusnya keatas lantai.
_____________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
TUNGGU PART SELANJUTNYA ๐
__ADS_1