GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
CERMINAN DIRI


__ADS_3

Waktu tak terasa cepat berlalu, usia kehamilan Kenzei sudah memasuki bulan ke-6. Tiga bulan berlalu, dan setiap bulan selalu ada perubahan. Terutama perut Kenzie yang semakin terlihat membesar.


Manusia tampan yang sudah setahun hidup berdampingan dengannya, semakin menunjukkan perhatian lebih, layaknya seorang suami. Mungkin di masa lalu hidup Gavin keras, jarang mendapatkan perhatian dari kedua orangtua.


Dari situ Gavin belajar, bahwasanya orang yang kita cintai juga memerlukan kasih sayang, dan perhatian. Cukup papa nya saja yang gila kerja, Gavin tidak. Masih ada manusia yang menunggunya pulang ke rumah, apalagi saat ini sedang mengandung anak nya.


"Siang Baginda ratu,"


Sontak Kenzie mengalihkan tatapan kearah suara, tersenyum lebar menatap wajah tampan itu.


"Cepat banget pulangnya, emang papa gak marah?" tanya Kenzei, sembari menerima jas hitam dan dasi suaminya.


"Papa lagi meeting ke luar, jadi aku kabur deh."


Kenzie hanya mengelengkan kepala, bangkit dari tempatnya membuka kancing kemeja suaminya satu persatu


"Kita pulang aja yah ke rumah papa, sore baru jemput Kenzo ke sini. Kuping aku panas denger Mama marah-marah mulu," ungkap Gavin.


"Iya, terserah kamu aja,"


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, melilitkan kedua lengannya kepinggang Kenzei dan mengecup bibir mungil itu.


"Oh, iya. Bunda mana?" tanya Gavin, sembari menyelipkan helaan rambut istrinya.


"Gak tau, mungkin cuci baju di belakang,"


"Yaudah kita izin aja yuk,"


"Gak tunggu Kenzo pulang sekolah dulu?"


"Gak usah deh yang, nanti sore kan aku datang kesini lagi,"


"Yah, padahal aku udah buka kemejanya,"


"Kenapa emangnya? lagi pengen?"


"Ck, ngomong apaan sih,"


Gavin hanya tertawa kecil, memasangkan kemeja nya kembali sembari menatap punggung kecil itu ke sana kemari.


Kebetulan setelah orangtua mereka tau Kenzei hamil, mulai hari itu semua heboh terutama Kenzo. Terkadang mereka berdua harus membagi waktu, antara menginap di rumah orangtuanya, dan rumah mertuanya.


Kenzo saja ikutan heboh, bahkan bocah kecil itu berubah seratus persen. Sebenarnya ada untungnya, selama Gavin bekerja ada Kenzo setia menjaga Kakak nya 24 jam. Bahkan bisa di ajak kompromi, menyiapkan susu hamil sesuai jadwal nya.


"Bund, kita mau pulang!" teriak Kenzie mengema seisi rumah.


"Gak usah teriak-teriak yang, udah aku bilangin loh tiap hari."


"Ck, udah kebiasaan Vin."


Gavin hanya mengelengkan kepala, menyalim mertuanya yang kebetulan sibuk di dapur.


"Hati-hati, bulan depan gak usah datang ke sini lagi. Ayah sama bunda aja yang ke sana," ujar Agatha.


"Iya bund, titip salam sama ayah." ucap Gavin lembut.

__ADS_1


Agatha hanya mengangguk kan kepalanya, mengantar putri dan menantunya hingga mobil Gavin berlalu menjauh.


Selama perjalanan Kenzie memilih diam, sesekali melirik kearah Gavin yang terlihat fokus menyetir.


"Kenapa? aku ganteng yah?" tanya Gavin, menyadari Kenzei sedari tadi melirik kearahnya.


"Iya,"


"Masa sih? tumben bilang Daddy ganteng,"


"Sebenarnya sih muka kamu diatas rata-rata. Tapi mulut kamu gak pernah benar kalo ngomong, jadi hilang deh gantengnya."


Sontak Gavin tertawa terbahak-bahak, memarkirkan mobil di depan rumah. Tapi tawa itu hanya sebentar, tiba-tiba Kenzie turun dari mobil keluar dari pekarangan rumah.


"Eh, mau kemana?"


Gavin berlari kecil mendekat kearah Kenzie, menarik lengan kecil itu yang hendak melanjutkan langkahnya.


"Mau kemana?" ulang Gavin.


"Tiara Vin," tunjuk Kenzie kearah rumah besar di sebrang rumah mertuanya, terlihat Tiara dengan beberapa perawat pasien rumah sakit jiwa.


"Ya Tuhan, dia kenapa Vin?"


Mereka berdua diam mematung di tempat, menatap Tiara di paksa masuk kedalam mobil putih rumah sakit jiwa. Perutnya terlihat besar, bahkan lebih besar dari perut Kenzie.


Sebenarnya Gavin kasihan, apalagi Tiara sedang hamil. Takutnya terjadi apa-apa dengan kandungannya, padahal anak itu tidak salah apa-apa.


Karena rakus akan harta, anak malah kena imbas. Ulah ayah Tiara memang terlalu b*adab, anak dibawah umur pun harus melakukan hal yang tidak-tidak demi mewujudkan keinginannya.


"Vin, tolongin Tiara," lirih Kenzie, dengan air mata yang membasahi pipinya.


"GAVIN, KAMU DENGAR GAK SIH AKU NGOMONG? BANTUIN TIARA GAVIN!" Teriak Kenzie, seraya memberontak dalam pelukannya.


"Gak boleh yang, itu bukan urusan kita."


"KAMU PUNYA HATI GAK SIH?"


Kenzie menangis sejadi-jadinya, bahkan luruh begitu saja di atas tanah. Untung Gavin sigap memopong tubuhnya, mendekap tubuh istrinya sembari menghapus jejak air mata yang membasahi wajah cantik itu.


"Hei jangan nangis, kita gak bisa bantu. Dia lebih aman di sana," bisik Gavin lembut.


"Tetap aja, kasian Tiara Vin. Bantuin,"


Gavin hanya menghela napas panjang, menoleh kearah Erwin yang kebetulan siap siaga menjaga mereka berdua belakangan ini.


"Pak," panggil Gavin, menginstruksi Erwin mengambil alih Tiara dari manusia yang tidak memiliki hati itu.


Gavin tau, itu pasti rencana ibu tiri Tiara. Memang ayah dan ibu tiri Tiara bukan manusia, hanya karena harta, anak yang tidak berdosa pun rela melakukan apa yang mereka minta.


"Udah jangan nangis lagi, pak Erwin udah turun tangan,"


Sontak Kenzei melongarkan pelukannya, menoleh kearah Tiara yang terlihat berantakan di pelukan pak Erwin. Manik kecil itu terlihat ketakutan, bengkak dan sembab. Tubuh kurus tak terawat, hanya perut yang terlihat membesar.


"Dia hamil Vin?" lirih Kenzie, dengan air mata yang tiada hentinya keluar dari pelupuk matanya.

__ADS_1


"Iya,"


"Kasian banget sih Vin,"


Gavin hanya tersenyum lebar, menangkup wajah cantik itu dan menghapus jejak air mata yang membasahi wajah istrinya. Sebenarnya wanita yang satu ini terbuat dari apa? Gavin tidak habis pikir. Mulai dari ucapan hingga hati, semua terlihat sempurna tanpa celah. Baru Gavin tau istrinya memiliki hati seperti ini.


Kenzei terlihat seperti hati nya, walaupun ucapan terkadang pedas dan melantur. Tapi hati mereka berdua tersimpan kasih sayang, dan rasa empati yang besar.


Jujur senakal-nakalnya Gavin, hati nya tidak tahan melihat pemandangan barusan. Bahkan sejahat-jahatnya keluarga Tiara, Gavin tidak pernah kepikiran membalas perbuatan yang mereka perbuat.


Karma is real. Karma itu nyata. Tanpa di balas, akan ada saatnya mereka menanggung perbuatan yang mereka perbuat. Dan Gavin percaya, karma itu nyata.


Untuk masalah beberapa bulan yang lalu, Gavin hanya terbawa emosi saking kesalnya dengan ayah Tiara. Rencananya, itu hanya ancaman saja agar mereka berubah. Tapi ayah Tiara memulai semuanya, terpaksa Gavin membalas perbuatannya.


"Kita masuk aja yah," bujuk Gavin.


"Tapi–"


"Tenang aja, pak Erwin bisa ngurus itu semua. Kamu jangan nangis, makin cantik tau."


Terdengar kekehan geli dari bibir mungil itu, hingga kedua lengan kecil itu melingkar di lehernya.


"Makasih Vin,"


"Demi kamu, sama anak kita. Jangan bebani hati sama pikiran kamu, aku di sini, oke."


Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, detik berikutnya terasa tubuhnya melayang di udara. Hingga punggung kecilnya menyentuh ranjang empuk.


"Kita tidur siang aja, mumpung masih siang."


"Maksudnya gimana sih Vin?"


"Tidur siang yah tidur siang. Tidur malam, yah tidur malam."


Kenzie hanya menghela napas panjang, memeluk tubuh kekar itu erat.


"Namanya juga hidup yang, gak semua orang beruntung. Tapi tergantung orangnya juga, gimana caranya dia mensyukuri hidup. Jadi gak usah di pikirin, semua ada waktunya," ucap Gavin lembut.


Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, memilih memejamkan mata menikmati sentuhan lembut jemari besar itu di punggung kecilnya.


Hingga wajah cantik itu terlihat tenang dengan napas yang teratur. Bertepatan pintu kamar terbuka.


"Bang mobil udah siap, kalian hati-hati. Jaga istri kamu yah, mama percaya sama kamu," ucap Lara.


_____________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓


#TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA, JUJUR AKU SENANG BANGET. TERIMAKASIH YAH BUND, AKU CUMAN BISA BILANG TERIMAKASIH YANG BANYAK. INI SUATU KEHORMATAN UNTUK SAYA SEBAGAI PENULIS. UNTUK YANG LAIN JUGA TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA:)


#GBU


#Author Ga

__ADS_1


#Just call me Ga, atau panggil Ga saja. Jangan Thor, apalagi kak.



__ADS_2