GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
KELAKUAN BUMIL


__ADS_3

Kenzie memilih merebahkan tubuhnya keatas ranjang, tanpa memperdulikan ringisan yang keluar dari bibir tebal itu. Lagian salah sendiri, udah dibilangin masih sok romantis.


"Sayang, sakit." Adu Gavin, sembari bangkit dari tempatnya hendak memposisikan tubuhnya ke atas tubuh Kenzie.


"Stop, jangan dekat-dekat. Aku hamil kalo kamu lupa."


Terdengar decakan kecil, hingga tubuh kekar itu terhempas ke sisi ranjang sebelahnya.


"Sakit banget yang."


"Makanya jangan bandel." Omel Kenzie, seraya memiringkan tubuhnya menghadap kearah Gavin.


"Hadap sini!"


Dengan cepat Gavin membalikkan tubuhnya, memeluk erat tubuh kecil itu dengan senyuman lebar dibibirnya.


Wanitanya memang galak, tapi saat ia mengeluh kesakitan, Kenzie akan menunjukkan perhatiannya. Seperti saat ini, jemari lentiknya menyelip masuk kedalam kaosnya mengelus lembut punggung kekarnya.


"Masih sakit?" Tanya Kenzei khawatir.


"Sakit banget yang." Balas Gavin dramatis. Seraya merapatkan tubuhnya dengan tubuh kecil itu, dengan senyuman mengembang di bibirnya. Mumpung istrinya percaya dengan ucapannya, jarang-jarang Kenzie bisa dibohongin.


"Vin."


"Iya, kenapa sayang?"


"Tadi pagi aku keliling sama Fani, dibelakang sekolah ada Tiara lagi telepon. Tapi anehnya malah bawa-bawa nama kamu."


Spontan Gavin mendongakan kepalanya keatas, mensejajarkanya wajahnya dengan wajah Kenzei dengan wajah serius. Sepertinya anak yang satu itu harus di musnahkan, entah rencana apalagi yang dia rencanakan.


"Sebenarnya mama sama papa musuhan sama keluarga Tiara."


"Serius Vin?"


"Iya, keluarga Tiara gila harta. Mereka akan menghalalkan segala cara agar dapat yang mereka mau."


"Fani juga bilang, Tiara sering ke club malam."


"Mungkin cari mangsa baru."


"Maksudnya?"


Gavin mendekat, hingga napas hangat terasa menerpa wajahnya. Jemari besarnya terangkat keatas mengelus lembut rambut istrinya, seraya menyelipkan helaan rambut yang menutupi wajah cantik itu.


"Toxic family. Papa Tiara gunain kecantikan gadisnya buat menarik perhatian anak orang kaya. Kalo mangsa masuk perangkap, sekejap mangsanya bangkrut."


"Serem banget."


"Marketing, kayak yang kamu bilang." Gavin terkekeh geli, dengan gemas mengecup bibir mungil itu.


"Marketing darimana nya? Orang yang di makan uang haram."


"Menurut kamu, menurut mereka beda. Dunia bisnis itu sulit, pandai-pandai aja mengatur keuangan, apalagi marketing. Kalo gak, yah gulung tikar."


"Iya sih, ayah sama bunda pernah diposisi itu."


Gavin hanya mengangguk kan kepala, manik nya hanya fokus menatap bibir mungil itu. Sesekali mengecup lembut.


Semua yang ada pada Kenzie, bagaikan candu baginya. Rasanya tidak bosan memandang atau sekedar mengecup bibir mungil itu. Rasanya tetap sama, manis.


"Jadi dulu kamu gak punya hubungan apa-apa sama Tiara?"


"Just friend. Tapi setelah aku tau mereka busuk, mulai saat itu aku gak mau dekat-dekat. Malah sok polos lagi."


Kenzie hanya tertawa kecil, menutup bibir tebal itu dengan jemari lentiknya. Sedari tadi Gavin mengganggunya, takutnya malah kelepasan. Ia sedang hamil muda, takutnya terjadi apa-apa dengan kandungannya.


"Stop, nanti kamu tersiksa sendiri."


Kenzie bisa merasakan bibir tebal itu mengerucut kedepan, dengan gerakan kilat Kenzie mengecup bibir tebal itu.


"Katanya belajar, ingat les privat nya pak guru." Peringat Kenzie.


"Lah, aku hampir lupa yang."


Gavin bangkit dari tempatnya, grasa grusu mengeluarkan semua buku nya ke atas ranjang.

__ADS_1


Kenzie memilih meletakkan kepalanya di atas paha kekar itu, sesekali Gavin mengangu nya dengan wajah yang terlihat gusar dan serius.


Bulan depan sekolah mengadakan olimpiade matematika, sepertinya murid suaminya utusan dari sekolah. Jika mereka menang, biasanya guru pengajar dapat bonus dari sekolah. Mungkin Bu Dora dan Gavin mengejar target. Apalagi bonusnya lumayan.


"Berapa orang?"


"Empat orang, tapi masalahnya Bu Dora gak ikut turun tangan. Cuman aku doang yang ngajarin." Jelas Gavin, seakan tau maksud ucapannya.


"Yah bagus dong, kapan lagi kamu maju. Punya otak pintar malah di sembunyiin."


Spontan Gavin terkekeh geli, memukul kecil jidat Kenzie dengan pensil nya.


"Jangan bising yang, aku kurang yakin kalo kamu ngomong mulu. Lebih enak dengerin suara kamu tidur di bawah aku."


"Mulai lagi."


Kenzie menghela napas panjang, menjauh dari tubuh kekar itu dan memejamkan mata.


"Jangan langsung tidur, makan dulu sana. Ingat diperut kamu ada siapa."


"Masih kenyang."


"Yaudah kamu tidur aja, nanti aku bangunin.


Gavin mengeser tubuhnya, bersandar di kepala ranjang mengelus lembut rambut istrinya, sembari fokus memahami materi yang akan diajarkan besok.


______________


Pagi ini Kenzie sudah stand by duduk di meja makan, mulut penuh makanan dengan manik berbinar. Bahkan Kenzie tidak peduli dengan suaminya, yang terpenting makan.


Tepat Gavin duduk disampingnya, Kenzie malah bangkit dari tempatnya. Meraih kotak bekal makan siangnya, mengisi sandwich 8 potong sekaligus.


"Yakin?" Tanya Gavin kearah Kenzie.


"Iya, kenapa emangnya?"


Gavin hanya mengelengkan kepala, memilih fokus dengan sarapannya. Sebenarnya Gavin heran, tapi kejadian semalam terlintas di pikirannya. Istrinya sedang mengandung, bukan kesurupan.


"Ayo." Ajak Gavin, meraih ransel mereka berdua dan kotak bekal makan siang.


"Cuman 1 jam, kamu langsung pulang aja. Biar supir yang jemput."


Kenzie hanya mengangguk kan kepala, menuruti ucapannya. Rencananya juga Kenzie ingin bermalas-malasan di atas ranjang, sesuai keinginan tubuhnya.


"Terimakasih pak." Ucap Gavin kearah supir, sesuai ajaran nyonya besar.


Spontan Kenzei menepuk-nepuk punggungnya, dengan senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya.


"Good boy, ada kemajuan."


"Daddy Gavin gitu." Bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie.


"Yaudah sana, aku mau mau ke kantor."


"Jangan banyak gerak, apalagi sampai kecapean." Peringat Gavin.


"Iya-iya, bawel."


____________


Hari ini kelas Gavin pelajaran olahraga, seperti biasa di habiskan di lapangan. Pelajaran praktek berakhir, guru olahraga memberi kebebasan melakukan kegiatan apa saja.


Tapi sayangnya Gavin memilih melangkah masuk kedalam ruangan, di ikuti Angga dan Edo dari belakang. Tubuhnya malas bergerak, pikirannya hanya fokus dengan rumus-rumus matematika.


"Tumben Vin, kenapa Lo?" Tanya Edo sembari meraih botol air mineral dari atas meja.


"Malas."


Gavin menganti baju olahraga nya dengan seragam putih abu-abu nya kembali, tanpa mengucapkan sepatah kata pun Gavin melangkah keluar dari ruangan.


Entah mengapa Gavin ingin melihat wajah cantik itu, sekedar melihat keadaannya. Kebetulan ruangan mereka bersebelahan, Gavin tinggal mengintip dari balik kaca.


Di dalam ruangan, terlihat Bu Dora duduk di meja guru. Yang lain sibuk dengan soal. Tapi sayangnya, Gavin tidak menemukan keberadaan istrinya. Bangkunya di isi yang lain, dengan Fani.


"Bini Lo dipojok." Bisik Angga, seakan mengerti tujuannya.

__ADS_1


Spontan Gavin mengarahkan tatapannya ke meja paling pojok, terlihat istrinya makan dalam jam pelajaran. Wajah cantik itu penuh dengan makanan, sesekali melirik kedepan. Dan yang paling lucunya, Kenzie makan dengan ketua kelas nya. Anak teladan, sekaligus anak pemilik kantin.


Sebenarnya Gavin tidak heran lagi dengan pria yang satu itu, kelakuannya memang teladan tapi soal makanan jangan di tanya. Dia terkenal karena sering makan pas jam pelajaran.


Bini gue ya Tuhan, kenapa jadi gini? Batin Gavin.


"Lo gak kasih makan bini Lo dari rumah?" Bisik Angga lagi.


Gavin hanya mengelengkan kepala, tepat bel istirahat berbunyi. Gavin melongos masuk begitu saja kedalam ruangan istrinya.


Duduk di meja tepat dibelakang Kenzie, tanpa siempunya sadari.


"Lo bawa apa?" Tanya Kenzie, kearah Ando. Ketua kelas mereka, sekaligus teman Kenzie makan jam pelajaran barusan.


Ando mengeluarkan semua camilannya dari laci, meletakkannya di atas meja.


Dengan wajah sumringah, Kenzie meraih satu camilan, memakan nya tanpa seizin siempunya.


"Lo mau?" Tanya Kenzie, seraya meletakkan kotak bekal makan siangnya. Tersisa sandwich 4 potong lagi.


"Yakin Lo?" Tanya Ando memastikan, walau tetap saja mulutnya keduluan mengunyah.


Kenzie hanya mengangguk kan kepala, memilih fokus dengan camilannya.


"Enak banget gila, Lo buat apaan?"


"Roti mahal." Balas Kenzie asal.


"Besok bawain lagi dong Ken."


"Bayarannya apa?"


"Terserah Lo aja, makan kesukaan Lo apa di kantin? Biar gue bungkus, gratis."


"Gado-gado, tapi jangan cuman sayurnya."


"Lah maksud Lo apaan?"


"Gue tau Lo pelit, awas aja besok gak sesuai pesanan gue."


Ando hanya tertawa kecil, melahap bekal makan siang Kenzie dengan sumringah. Tiga tahun SMA, akhirnya Ando mendapat teman yang suka makan di jam pelajaran. Ibu ketua OSIS yang terhormat.


Hingga terdengar dehemen keras, mengalihkan perhatian mereka berdua. Sontak Ando bangkit dari tempatnya, takut Gavin memarahinya. Apalagi Ando tidak ketinggalan berita, Kenzie dan Gavin pacaran.


"Duduk aja, gue gak makan manusia." Ucap Gavin bercanda.


Dengan ragu Ando kembali duduk di tempat semula, melanjutkan kegiatannya.


"Eh, sejak kapan di situ?" Tanya Kenzie, sembari sibuk mengunyah.


"Tahun lalu."


"Pantasan kita gak sadar."


Gavin hanya tertawa kecil, mengacak-ngacak pucuk rambut istrinya dengan gemas.


"Mau?" Kenzie meletakkan beberapa camilan di depan Gavin, dengan senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya.


"Gak, kamu aja yang makan."


Kenzie hanya mengangguk kan kepala, mulutnya sibuk mengunyah dengan manik tidak lepas dari wajah tampan itu.


"Ngidam?" Tanya Gavin tanpa bersuara.


Kenzie hanya mengerutkan dahi, binggung antara iya atau tidak. Mulutnya hanya ingin mengunyah, dan perutnya selalu minta di isi. Entah Kenzie binggung.


_____________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


SELAMAT MALAM 🍓


#ISTRI GUE NGIDAM GUYS


__ADS_1


__ADS_2