
Selama jam pelajaran, pikiran Kenzei berkeliaran kemana-kemana. Entah apa maksud dan tujuan Tiara selanjutnya, tapi menurut Kenzie ada rencana jahat yang sedang dia di rencanakan.
Sayang sekali, suaminya tidak tertarik dengan wanita lain. Jangankan tertarik, melirik saja Gavin enggan. Lagian apapun caranya, suaminya tetap miliknya.
Hingga bel berbunyi, baru Kenzie tersadar dari lamunannya. Satu persatu keluar dari ruangan, tersisa ia dan Fani. Dengan pintu ruangan tertutup rapat, seperti biasanya.
"Ken, ajarin gue dong." Ucap Fani, seraya mengeser buku catatannya ke arah Kenzie.
"Materi apa? Kalo soal matematika gue malas, nanti aja Gavin yang ajarin."
"Yah, pelit banget sih Ken. Gue kurang paham soal logaritma."
"Nanti aja, gue ngantuk."
Kenzie meletakkan kepalanya di atas meja, seraya memejamkan mata. Rasa malas kembali menyapa, jadi Kenzie harus apa. Palingan tidur, tunggu istirahat berakhir.
"Tapi akhir-akhir ini gue lihat, Lo makin gendut. Muka Lo berisi, jadi chubby."
"Masa sih? Soalnya Gavin juga bilang begitu." Balas Kenzie, sembari menegakkan tubuhnya. Menepuk-nepuk pipinya yang sedikit berbeda.
"Iya, sini gue lihat."
Fani menangkup wajah Kenzie, meneliti wajah cantik itu yang terlihat berbeda, terutama bagian bibir.
"Ck, suami Lo ganas banget. Masa tiap hari bibir Lo bengkak."
"Ngomong apaan sih."
Spontan Kenzei menghempaskan jemari Fani dari wajahnya, dan mengulum bibirnya kedalam. Ketiga kalinya Kenzie ketahuan, untung dengan orang yang sama.
"Kalian udah begituan?" Tanya Fani penasaran.
Kenzie hanya mengangguk kan kepala, menjawab seadanya. Toh buat apa di tutupi, Fani juga sahabatnya bukan orang lain.
"Serius Ken?" Tanya Fani, seraya merapatkan tubuhnya dengan tubuh Kenzie.
"Iya."
"Gila, Lo berani banget. Kalo Lo hamil gimana?"
"Yah syukur, orang gue punya suami. Lo jangan ngelakuin yang begituan, tunggu punya suami dulu."
"Amit-amit dah, gue masih punya harga diri. Enak aja di bu*ntungi tanpa status yang jelas. Hamil nangis." Ucap Fani, dan tertawa terbahak-bahak.
Kehidupan Fani jauh berbeda dengan Kenzie, apalagi dia anak yatim-piatu. Dunia luar sudah kehidupan Fani, tapi untuk melakukan hal yang tidak pantas itu bukan tipenya.
"Sakit gak?"
"Lumayan."
Kenzie mengangguk-angguk kepala, membuka bekal makan siangnya meletakkannya ditengah-tengah mereka berdua.
Sontak Fani tersenyum lebar, menerima satu sendok dari Kenzie.
"Tumben Lo baik." Ucap Fani bercanda.
"Nyindir diri sendiri. Lagian ini buat gue kian rencananya."
"Sebanyak ini, gila kali Lo."
"Banyak darimana nya?"
"Astaga Ken, bekal makan siang Lo ini bisa di makan tiga orang. Lo mana pernah makan sebanyak ini. Pantasan aja Lo makin gendut."
Kenzie hanya mengangkat bahunya acuh, memilih fokus dengan makanannya. Menurutnya makan sebanyak ini biasa belakangan ini, apalagi rasanya selalu pas dengan lidahnya.
"Hidup Lo enak banget Ken, gue pengen jadi Lo."
"Ngomong apaan sih, jangan pernah bandingin hidup Lo sama orang lain. Lo pikir dunia pernikahan itu gampang apa?"
"Siapa tau."
"Jadi istri orang itu lebih banyak gak enaknya, tapi yah dinikmati aja. Setiap orang punya masalah kehidupan masing-masing, jangan Lo pikir karena suami gue ganteng hidup gue bakalan enak. Ganteng aja gak cukup Fa. Ini realita bukan ekpestasi."
"Setiap hari kita juga punya masalah, tapi yah begitu pintar-pintar menyembunyikan masalah. Gak perlu semua orang tau hubungan kita lagi berantakan, hidup kita begini dan begitu. Karena kita yang lewati dan hadapi. Bukan mereka."
__ADS_1
Fani hanya mengangguk kan kepala, menyesal mengeluh di depan manusia yang salah.
Kenzie memang jarang mengeluh, bahkan pernikahan mereka beberapa bulan yang lalu orang-orang gak ada yang tau. Bahkan dia dan Dian sahabatnya tidak tau pernikahan itu.
Tapi balik lagi ke orangnya, gak semua orang sama, gak semua mental orang juga sama. Buktinya dia saja tiap hari mengeluh, padahal kehidupan Kenzie lebih rumit dari kehidupannya.
"Nikmati aja selagi masih muda, lakuin semua semau Lo. Sekarang aja Lo udah kerja, apalagi yang kurang Fa?"
"Gak ada sih."
"Nah kan, Lo aja yang kurang bersyukur. Oma juga masih hidup, Lo masih punya teman di rumah."
"Iya-iya, maaf."
"Bentar, Dian mana?"
"Bucin sama Edo." Balas Fani ketus.
______________
Bel istirahat berbunyi, pelajaran terakhir sedang berjalan. Tiga sekawan, Gavin dan kedua sahabatnya hanya fokus mendengar guru menerangkan di depan.
Sesekali terdengar decakan kecil dari mulut Edo, karena tidak paham juga. Kalo begini ceritanya, Kenzei jalan ninjanya. Bini Gavin selalu bisa diandalkan, buktinya presentasi mereka tadi pagi berjalan dengan lancar.
"Vin." Bisik Angga kearah Gavin.
"Apaan?"
"Lihat tuh si Edo."
Sontak Gavin tertawa kecil, memukul kepala Edo dengan pulpen nya.
"Biar encer." Ucap Gavin, tepat Edo hendak membuka suara.
Hingga bel pulang sekolah berbunyi, Gavin langsung bangkit dari tempatnya, melangkah keluar dari ruangan di ikuti Angga dan Edo dari belakang.
"Kayaknya Lo bakalan gila kalo gak lihat Kenzei satu detik." Ejek Angga.
"Terserah gue, kenapa Lo yang sewot." Sahut Gavin.
Dari balik kaca terlihat Kenzie sibuk memasukkan bukunya, sesekali bibir mungil itu bergerak berbicara dengan santainya. Hingga Edo masuk kedalam, baru mereka bertiga bangkit dari tempatnya.
"Rumah gue, kita naik angkot ikuti dari belakang." Sela Gavin memotong ucapan Angga.
"Ayo yang." Ajak Gavin kearah Kenzie.
Dengan santainya Gavin melangkah beriringin dengan Kenzei, melewati lorong sekolah yang ramai tanpa memperdulikan teriakan Angga dari belakang.
Gavin tau anak yang satu itu tidak akan mau berboncengan dengan perempuan, tanpa terkecuali. Bahkan selama ini Kenzie yang memaksanya berboncengan dengan Fani, kalo tidak motor hitam itu tidak akan pernah di naikin perempuan.
"Kita belajar di rumah?" Bisik Kenzie, tepat mereka berdua naik ke angkot.
"Iya, gak papa kan?"
"Gak papa kok."
Gavin hanya mengangguk kan kepala, meletakkan jaketnya keatas pangkuan Kenzie menutupi rok nya yang sedikit tersingkap keatas.
Hingga tak terasa angkot berhenti di tempat biasa, baru terdengar umpatan Angga. Gavin hanya mengangkat bahunya acuh, merangkul pundak Kenzie berjalan beriringan.
"Gak mau di gendong?" Tanya Gavin, seraya tertawa kecil.
Kenzie hanya mengelengkan kepala, walau rasanya malas berjalan. Tapi tidak mungkin Kenzie melakukan hal memalukan itu, di sini bukan hanya ada mereka berdua. Dibelakang ada motor Angga dan Edo.
"Kenapa? Biasanya di gendong." Ucap Gavin, semakin gencar menggoda istrinya.
"Apaan sih."
"Oh, malu sama mereka berempat?"
"Gak tau."
"Mau aku gendong? mumpung aku baik."
"Diam gak!"
__ADS_1
"Iya-iya."
Gavin mengangguk-angguk kepala, seraya menahan tawa melihat wajah cantik itu yang terlihat di tekuk lucu. Gavin tau istrinya menahan keinginannya, tapi mengodanya untuk saat ini bukan ide yang bagus.
Tepat kaki mereka memasuki pekarangan rumah, detik itu juga Fani dan Dian melototkan mata. Ini pertama kalinya mereka menginjakkan kaki di rumah ini, dan mereka baru tau keluarga Megantara sekaya ini.
Rumah megah bak istana, bodyguard berjejer rapi di depan gerbang, dan dua mobil terparkir di depan rumah tapi pemilik rumah naik angkot. Primitif.
"Gak ada yang boleh duduk di sofa, ke ruang keluarga." Ucap Gavin, tepat Edo hendak mendaratkan pantatnya menyentuh sofa.
"Astaga, Lo pelit banget a*jing." Umpat Edo.
"Ck, bini gue yang bersihin rumah. Jangan nambahin kerjaan." Bisik Gavin, seraya menarik ransel Edo kearah ruang keluarga.
Bukannya pelit, tapi Kenzie ikut serta membersihkan rumah belakangan ini. Dibilangin malah ngeyel, berakhir Gavin membiarkannya melakukan semaunya, atas pengawasannya.
"Sekarang matematika, biar suami gue aja yang ngajarin. Gue ngantuk." Ucap Kenzei, sembari duduk disamping Gavin merebahkan tubuhnya diatas karpet bulu-bulu, berbantalkan paha kekar suaminya.
"Ganti baju dulu sana." Ujar Gavin.
"Malas Vin."
"Ck, terserah."
Yang lain memilih sibuk dengan urusan masing-masing, menebalkan telinga dan mata melihat pemandangan itu.
"Fani bilang dia kurang paham soal logaritma, jelasin lagi Vin." Ucap Kenzei.
"Logaritma? Buka aja soal dari Bu Dora, pilih soalnya biar gue jelasin." Ucap Gavin dengan tenangnya.
Apa mereka sebodoh itu? Ingin rasanya Fani berlari sejauh-jauhnya, malu dengan diri sendiri. Bisa-bisanya selama ini Fani suka pria modelan Gavin, otaknya saja tidak satu server. Untung Kenzei yang dapat, kalo Fani mungkin mereka terlihat seperti guru dan murid, bukan sepasang kekasih.
Jam berputar, tak terasa pukul 17:00, selama itu juga mereka menghabiskan waktu belajar tapi tidak untuk Kenzie.
Wajah cantik itu terlihat tenang dengan napas yang teratur, mulai tubuhnya di rebahkan.
Bahkan tubuh kecilnya sudah ditutupi selimut kecil, sesekali lengan Gavin mengelus lembut pucuk rambutnya. Mungkin jika hanya ada mereka berdua, Gavin bisa pastikan bibir mungil itu bengkak dalam jangkau lima menit.
"Lo semua gak ada rencana pulang ke rumah?" Ucap Gavin tanpa merasa berdosa nya.
"Pulang-pulang kita di usir maksudnya." Sahut Edo heboh, seraya bangkit dari tempatnya.
"Untung Lo sadar, sana balik Lo pada. Bini gue tidur, ganggu aja Lo semua."
"Bilang aja Lo mau berduaan di kamar." Sindir Angga.
"Nah Lo tau juga, yaudah sana." Usir Gavin.
Sontak Angga, Fani dan Dian ikut bangkit dari tempatnya. Melangkah keluar dari rumah, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Br*ngsek Lo pada, udah di ajari bilang makasih aja gak mau." Teriak Gavin mengema seisi ruangan, membuat tidur Kenzie terganggu. Dengan kesal, menutup menutup bibir tebal itu dengan r*masan kertas dari atas meja.
"Bising!"
"Yah."
"Apa? Ini rumah malah teriak-teriak." Teriak Kenzie, tak kalah bising.
"Lah kamu juga teriak."
"Terserah aku kenapa emangnya, ha?"
Gavin hanya menghela napas panjang, naik keatas tubuh kecil itu dengan gerakan kilat.
"Eh, mau ngapain?" Tanya Kenzie gegalapan.
"Bikin debay, kayaknya seru. Biar gak cuman di kamar mulu."
"GAVIN!"
"Kenapa sayang? Mau?" Tanya Gavin, sembari melepas kancing kemejanya satu persatu dan melemparnya asal.
"Jangan macam-macam Gavin!"
"Cuman satu macam, bikin debay."
__ADS_1
__________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)