GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
PERJUANGAN GAVIN


__ADS_3

Ucapan Kenzie beberapa jam yang lalu hanya sebatas candaan semata, sekalian melihat reaksi Gavin. Kenzie pikir Gavin akan biasa saja dengan tantangan itu, atau mungkin memilih cara yang lain mendapatkan apa yang ia mau.


Tapi semua pikiran-pikiran jahat Kenzie mengenai Gavin hilang sekejap, setelah melihat kegigihan suaminya.


Kebetulan setelah pulang sekolah, Kenzie mengurus buku-buku, menganti pengurus perpustakaan yang sedang sakit. Ternyata Gavin mengikutinya, membawa ranselnya tanpa sepengetahuannya dari dalam ruangan.


Sekarang, Gavin terlihat serius belajar dipojok perpustakaan. Tanpa ada keluhan yang terdengar dari bibir tebal itu.


"Ken." Bisik Fani, diikutan Dian mendekat kearahnya.


"Suami Lo ngapain?" Tanya Fani, sesekali melirik kearah Gavin. Kedua sahabatnya heboh datang ke perpustakaan, dengan alasan melihat tontonan gratis.


Emang mereka pikir mereka berdua mau live streaming? Kenzie mana mau mempertontonkan kehidupan pernikahan mereka yang sebenarnya, terutama hal yang pernah ia lihat dari tubuh kekar itu.


"Kayak yang Lo lihat."


"Tapi maksud gue–"


"Tanya sendiri, kenapa jadi kepo Lo berdua." Sela Kenzie, menatap tajam kedua sahabatnya secara bergantian.


"Lo mah gak seru." Ucap Dian kesal.


"Bising." Sergah Kenzie.


Dian dan Fani melipat kedua tangannya, bersandar pada sandaran kursi. Sekejap hening tidak ada yang berniat membuka percakapan.


Hingga terdengar suara bariton, bersahutan dengan langkah kaki mendekat kearah mereka bertiga.


"Permisi ibu ketua OSIS yang terhormat, bapak Gavin suami anda mana?" Tanya Edo, sembari menyelusuri perpustakaan dengan maniknya.


"Belajar." Sahut Kenzie.


Edo hendak melangkah menyelusuri perpustakaan, sebelum Angga menahannya.


"Jangan macam-macam Lo."


Edo mendengus kesal, memilih duduk di kursi panjang dekat pintu perpustakaan. Kalo Gavin dalam mode on, berarti mereka harus menjauh. Takutnya sisi gelap yang selalu mereka hindari muncul.


"Ken, kita pulang duluan. Kasih tau sama Gavin." Ucap Angga dan berlalu menjauh dari perpustakaan sembari menarik ransel Edo.


"Ck, gue mau pdkt-an sama teman Kenzie. Main tarik-tarik aja Lo." Gerutu Edo, menghempaskan lengan Angga dari ranselnya.


"Gak usah kegantengan Do, mereka mana mau sama Lo." Sindir Angga, dan tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Edo.


____________


Pukul 17:00, Gavin dan Kenzie masih didalam perpustakaan. Dian dan Fani sudah pulang setelah kepergian kedua sahabat Gavin, katanya bosan.


Merasa tugasnya sudah selesai, Kenzie menutup kaca jendela, menarik gorden menutupi kaca.


"Vin."


Kenzie mendekat kearah Gavin, berdiri tepat dibelakangnya. Jemari besar itu terlihat serius menari-nari di atas kertas.


"Pulang yok, udah sore."


"Bentar."


Kenzie menghela napas, meletakkan kepalanya di bahu Gavin menghirup dalam-dalam aroma khas suaminya.


"Jangan dipaksa, masih banyak waktu."


"Iya."


Gavin berusaha fokus dengan kegiatannya, tanpa memperdulikan tingkah gadisnya. Mereka berdua sama-sama ketinggalan pelajaran, mungkin belakangan ini gadisnya sibuk dengan kegiatan OSIS.


Dengan inisiatif sendiri, Gavin melengkapi catatan gadisnya sedari tadi. Di rumah dia tinggal menyalin dan menghapal.


"Udah yok Vin, gue capek."

__ADS_1


Sontak Gavin menoleh kearah Kenzei, mencium kening gadisnya sedikit lama. Perlahan bangkit dari tempatnya.


"Langsung pulang?"


"Iya, gue ngantuk, lapar, pegal." Jelas Kenzei lesu.


Gavin tertawa kecil, merapikan buku yang berantakan di atas meja memasukkan kedalam ransel Kenzie.


"Mari kita pulang!" Seru Gavin, merangkul pundak Kenzie sembari tertawa kecil.


"Gak capek Vin?"


"Gak, biasa aja. Kenapa emang?"


Kenzie hanya mengelengkan kepalanya, mengunci pintu perpustakaan.


Sepanjang lorong sekolah yang sepi, Gavin merangkul pundak Kenzie. Sesekali melontorkan candaan yang menurut Kenzie garing. Tubuhnya lemas, bibirnya malas hanya membentuk sebuah senyuman tipis.


Kenzie hanya mendengar ocehan tidak jelas itu, yang sedari tadi keluar dari mulut Gavin.


Sampai diparkiran, Gavin bergegas membuka pintu mobil untuk gadisnya dan berlari kecil duduk dibelakang kemudi. Melempar ransel Kenzie ke jok belakang, perlahan melajukan mobil meninggalkan pekarangan sekolah.


"Katanya tahun ini ada camping, khusus kelas tiga. Perayaan akhir tahun, sekalian perpisahan." Ucap Kenzie, sembari memejamkan matanya.


"Serius?"


"Iya. Kita ikut Vin?"


"Tanggal berapa?"


"Pembangian rapot tanggal 20, kira-kira tanggal 25 atau 27."


"Gue pikir-pikir dulu."


Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, menuruti ucapan Gavin. Karena tepat tanggal 20 pembangian rapot bulan depan, hasil penentuan nilai semester Gavin sesuai rencana.


Tapi mereka tidak boleh ketinggalan, apalagi jarang-jarang sekolah mengadakan camping besar-besaran. Jadi semoga keinginan Gavin juga terwujud.


"Eh, Mama. Ngapain ma?" Tanya Gavin, melihat mama nya duduk disofa ruang tamu.


"Emang mama gak boleh mampir? Baru jadi menantu, udah banyak gaya kamu." Ucap Lara mama Gavin.


Sontak Kenzie mengulum senyumnya, menyalim mertuanya dan bunda nya secara bergantian. Interaksi anak sama ibu yang satu ini selalu berbeda, tidak pernah akur sama sekali.


"Yaelah ma, Gavin cuman nanya. Belum jungkir balik nih."


"Mandi sana, kamu bau. Mama mau bicara sama kalian berdua."


"Iya, ayo yang mandiin. Dosa nolak suami." Goda Gavin.


Kenzie menghela napas panjang, wajahnya memerah bak kepiting rebus. Mulut suaminya tidak pernah di rem kalo ngomong, apaan coba ngomong begituan di depan orangtua.


Sontak Lara dan Agatha menatap Gavin dan Kenzie secara bergantian, dan tersenyum mengoda kearah mereka berdua.


"Kita bukan nyamuk loh Vin." Ucap Lara seakan mengoda putranya.


"Lah kirain lalat."


"GAVIN!" Teriak Lara.


Siempunya tertawa terbahak-bahak, berlari terbirit-birit masuk kedalam kamar.


________


Saat ini Gavin terlihat tampan, rambut basah disisir rapi, kaos oblong warna hitam dipadukan dengan celana jeans selutut.


Sesekali jemarinya menguyar rambutnya kebelakang, senyuman manis terukir indah dibibirnya ditunjukkan kearah Kenzei.


"Apa Lo senyum-senyum?" Sergah Kenzie menatap aneh kearah Gavin.

__ADS_1


"Emang salah?"


"Salah, gak ada yang lucu malah senyum-senyum sendiri."


Gavin tertawa kecil, duduk ditepi ranjang disamping Kenzie. Jemari besar itu hendak meraih wajah cantik Kenzei, sebelum ketukan pintu terdengar bersahutan teriakan mama nya.


"Mama masuk yah."


Gavin berdecak kecil, bangkit dari tempatnya berdiri menjulang tinggi dihadapan Kenzie.


"Masuk aja ma, biar jadi nyamuk."


"Ngomong apaan sih Vin." Ucap Kenzie.


Lara mendorong pintu kamar Kenzie, tersenyum hangat kearah mereka berdua dan menutup pintu.


"Maaf mama mengangu."


"Syukur, sadar sendiri ternyata."


"Gavin!" Sergah Kenzie.


Siempunya mengaruk tengkuknya, memilih duduk disamping Kenzie diikuti bundanya duduk di tepi ranjang disamping Kenzie. Tubuh kecil itu ditengah-tengah, hingga terasa sentuhan jemari dipundaknya.


"Mama mau ngomong serius."


"Silahkan ma." Ucap Kenzie.


"Jadi papa udah tua, tau kan Vin. Anak mama sama papa cuman satu, suami kamu nak. Mama minta Gavin belajar mulai sekarang, cuman kamu harapan Megantara meneruskan perusahaan papa."


"Mulai dari hal kecil, contohnya mempelajari dunia bisnis. Setelah tamat nanti, Gavin harus belajar terjun langsung ke perusahaan."


"Boleh yah Vin, mama mohon. Tinggal menghitung bulan loh kalian sekolahnya. Urusan cucu, silahkan. Kita gak larang, malah senang punya cucu."


Blush, wajah Kenzie langsung memerah, seringai muncul dibibir Gavin. Setidaknya mereka sudah mendapatkan izin, tinggal menunggu hari yang tepat.


"Kenzie bantu yah, suami kamu orangnya malas. Kadang ingkar janji."


"Iya ma, Kenzie usahain."


"Makasih yah nak."


Lara mengelus rambut panjang Kenzie, dengan cepat bangkit dari tempatnya.


"Mama pulang dulu, takutnya di cariin papa."


"Kepedean." Sindir Gavin.


"Nah sekalian nak, akhlak Gavin wajib diubah. Pusing mama ngeliat nya."


Sontak Kenzie tertawa terbahak-bahak, melihat wajah kesal suaminya.


"Mama tunggu yah Vin, mama gak sabar gendong cucu."


Sontak tawa Kenzie reda, berganti dengan wajah berantakan.


___________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


STAY TUNED 🌱


TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓


Curhat sedikit


Keluh kesan saya beberapa hari ini, sampai tidur pun susah. Novel ini belum terikat kontrak, belum ada kemajuan;(


i'm so sad:(

__ADS_1


Doain yah teman-teman, rasanya tuh sia-sia begadang kalo gak dapat hasil. Mood menulis pun hilang saking sedihnya:(


__ADS_2