GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
HARI BERLALU TANPAMU


__ADS_3

3 hari, 3 malam. Jangan tanyakan bagaimana kondisi Kenzie saat ini. Mata yang semula bengkak, lebih dari kata bengkak. Suara serak, rambut panjang tergerai bebas berantakan. Bahkan mandi saja Kenzei lupa, piyama tidur dari hari pertama di rumah sakit, masih melekat ditubuhnya.


Belum ada tanda-tanda Gavin bangun dari tidurnya, suaminya seakan betah dengan dunia yang ia ciptakan sendiri, tanpa mengajaknya.


Helaan napas panjang, itu saja yang terdengar mengisi ruangan yang hening. Bahkan air mata saja enggan keluar dari pelupuk matanya, hampir tiga hari Kenzie menghabiskan waktu menangis.


"Aku capek Vin, pengen tidur." Adu Kenzie, seraya mengalihkan tatapannya kearah yang lain.


Manik nya tidak tahan melihat pemandangan dihadapannya, Kenzie capek bersedih sepanjang hari.


Hingga terdengar deringan ponsel, mengalihkan perhatiannya. Di layar tertera nama mama, manusia yang paling Kenzie hindari belakangan ini. Dengan ragu Kenzie menerima panggilan, takutnya rahasia yang ia sembunyikan ketahuan.


"Halo ma."


"Eh, kamu sakit sayang? kok suaranya gitu?"


"Baru bangun ma." Kilah Kenzie.


"Ck, jangan diturutin terus kemauan Gavin. Memang anak yang satu itu."


Kenzie hanya tertawa kecil, berusaha menahan air mata yang ingin keluar dari pelupuk mata.


Bahkan jika di suruh memilih, Kenzie memilih lembur menghabiskan waktu semalaman meladeni Gavin. Daripada saat ini, Kenzie hanya bisa menatap wajah tampan nya.


"Suami kamu mana?"


"Masih tidur ma." Udah tiga hari gak bangun-bangun. Kenzie capek, butuh pelukan. Ucap Kenzei yang sampai ditenggorokan.


"Maaf yah nak, Gavin memang mesum kayak papa nya."


Terdengar tawa disebrang, dan suara papa mertuanya membantah ucapan Lara.


"Oh iya, kalian baik-baik di sana yah. Gavin udah kasih tau kan mama sama papa pergi kemana?"


"Udah ma."


"Mama sama papa mungkin lama di sini, kalian baik-baik di sana. Jangan diladenin terus yah suami kamu, kalo diladeni terus lama-lama melunjak."


"Mama ngomong apaan sih, harusnya mama senang dong. Biar kita cepat punya cucu." Sela Viktor dari sebrang.

__ADS_1


"Yah, papa gimana sih. Udah kemesuman mendarah daging di tubuh kalian berdua. Pikirin juga menantu kita."


"Papa gak setuju,"


"Yah terserah papa, mama gak peduli. Sayang jangan di dengerin yah kata papa, mama yakin mereka berdua kerjasama. Memang anak sama bapak sama aja." Geram Lara.


Kenzie hanya tertawa kecil, menanggapi ucapan mertuanya. Akhirnya Kenzie tertawa, minimal pikirannya teralihkan sekejap.


"Sayang, mama titip Gavin yah. Jaga kesehatan, jangan begadang terus. Ingat waktu istirahat. Gak usah di paksa belajar, otak Gavin memang lelet. Mama juga binggung. Masa gen kita berdua jadi gitu, padahal AQ kita berdua tinggi. Atau jangan-jangan papa AQ jongkok lagi."


"Mama!"


Kenzie tertawa terbahak-bahak, hingga sambungan telepon terputus begitu saja. Pantasan ucapan Gavin melantur tiap hari, kedua mertuanya juga begitu. Kenzie jadi kangen.


"Vin kamu gak kangen sama aku?"


Kenzie melengkungkan bibirnya kebawah, dengan putus asa meletakkan kepalanya di atas brankar.


Selama hidup akan ada masa pahitnya, tapi kenapa hidup Kenzei masa pahit nya terlalu banyak. Kenzie kadang binggung, apa semua orang sama sepertinya? Entahlah, Kenzie harap tidak.


Jujur ini rasanya menyakitkan, Kenzie ingin menyerah saking sakitnya.


Kadang Kenzie berpikir, apa suaminya akan bertahan? Tanda-tanda kehidupan belum terlihat di wajah tampannya.


Hingga terdengar suara pintu terbuka, bersahutan dengan decitan sandal.


"Kenzie."


Siempunya hanya mengangguk kan kepala, tanpa berniat membalas ucapannya.


Angga hanya bisa mengehela napas panjang, memposisikan tiang infus nya dan berdiri tepat di samping Kenzie.


3 hari berlalu Gavin belum sadarkan diri, selama itu juga Kenzei seperti orang linglung.


Ketua OSIS yang terkenal karena galaknya, sekarang seperti manusia yang hilang arah. Penampilan yang selalu rapi, sekarang tidak terurus. Ini semua gara-gara dia, andai Angga melarang Gavin saat itu, semua tidak akan terjadi.


"Maaf."


Hening, tidak ada sahutan. Tubuh kecil itu tidak bergeming sedikitpun, posisinya masih sama. Tanpa berniat meliriknya.

__ADS_1


"Lupain, suami gue gak bakalan balik seperti semula. Lain kali jangan ajak suami orang berbohong. Ada manusia yang menunggunya pulang ke rumah."


Angga meringgis mendengar ucapan itu, rasanya berbeda jika wanita yang satu ini berbicara. Sekali mengeluarkan suara, tembus hingga tulang-tulang.


Seketika hening, tidak ada yang berniat membuka pembicaraan. Kenzie memilih memejamkan mata, Angga menatap wajah Gavin.


Kecelakaan beberapa hari yang lalu terasa begitu cepat. Sebelumnya juga Angga merasa ada yang aneh. Edo yang biasanya mengeluarkan ocehan tidak jelas, hari itu hanya diam tanpa berniat membuka suara.


Hingga rem motor Gavin blong, hanya dia juga yang sibuk mencari cara agar Gavin tetap selamat. Tapi sayangnya, keberuntungan tidak berpihak. Mobil truk datang dari depan.


Edo yang awalnya diam, melajukan motornya dari sisi yang lain sengaja membelokkan motornya kearah motor Gavin, otomatis motor mereka bertiga ambruk dan terseret. Untungnya mobil truk dari depan langsung berhenti, kalo tidak mereka mati di tempat.


Vin, bangun br*ngsek. Lo gak kasian sama bini Lo? Mana ada suami yang tega ninggalin istri. Kalo Lo tega ninggalin Kenzie, gue nikahin bini Lo detik itu juga. Batin Angga.


Dari kecelakaan beberapa hari yang lalu, Angga baru tau Gavin sudah mencintai Kenzie. Tepat motor mereka bertiga berhenti, Gavin sempat mengatakan nama Kenzie. Sebelum maniknya tertutup.


Akhirnya Gavin bisa melupakan percintaan masa lalunya, yang sempat membuatnya trauma di dunia percintaan.


"Gue keluar dulu." Ucap Angga, tanpa diubriks sama sekali. Didepan pintu, para bodyguard dengan sigap membantunya masuk kedalam ruangannya semula. Sesekali Angga meringgis menahan sakit.


Tepat pintu tertutup, Kenzie baru mengangkat kepalanya. Menyeka air matanya dengan kasar, seraya menatap wajah tampan suaminya.


"Vin."


Kenzie menundukkan kepala, air mata yang ditahan-tahan sejak tadi luruh kembali.


Angga sudah sadar dari koma, bahkan sudah berjalan. Kenapa suaminya tidak? Bodyguard bilang, kedua sahabat suaminya ikut dalam kecelakaan itu. Hanya suaminya yang belum sadar, dan masih setia memejamkan mata.


"Kamu bohong yah sama aku selama ini? Bekas kecelakaan itu kambuh kan sebelumnya? Kamu tega banget sih Vin."


Kenzie memukul kecil lengan kekar itu, walau tetap saja tidak ada pergerakan sedikit pun.


Gavin seakan kekeh dengan pendiriannya, setia dengan posisinya tanpa berniat bergeming sedikitpun.


"Gavin, bangun dong. Kamu tega ninggalin aku? jahat banget sih Vin. Aku baru tau kamu sejahat itu. Besok kalo kamu belum bangun juga, kita cerai."


_____________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)

__ADS_1


TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓


__ADS_2