
Sebenarnya Kenzie sudah rapi mulai dari tadi, tapi semangat yang ia dapatkan semalam dari Gavin, hilang entah kemana.
Kenzie memilih duduk di tepi ranjang, menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.
"Jangan melamun."
Gavin duduk disampingnya, mengelus lembut jemari lentiknya.
"Kamu yakin sekolah?" Tanya Kenzei, entah keberapa kalinya.
Bangun tidur, Gavin mengeluh sakit dibagian bahu. Kenzie memberi bantuan, sekedar mengoles minyak kayu putih ke bahunya tapi siempunya malah gak mau.
Padahal jemari sebelah kirinya juga tidak bisa digunakan seperti biasa, karena perban yang menutupi luka memar semalam.
"Aku baik-baik aja kok."
"Bohong aja terus." Cibir Kenzie, bangkit dari tempatnya melangkah keluar dari kamar. Orang khawatir, dia malah santai.
"Suami kamu mana?" Tanya Agatha, sembari fokus dengan masakannya.
"Di kamar bund."
"Panggil sana."
"GAVIN SARAPAN!" teriak Kenzie sekali tarikan napas.
Kenzo yang duduk disampingnya menutup telinga, meringgis mendengar teriakkan kakak nya.
"Kak jangan teriak-teriak, telinga Kenzo sakit."
"Gak nanya."
"Bunda." Adu Kenzo.
"Iya."
"Kak Kenzie."
"Bunda angkat tangan, tiap hari dibilangi tetap aja teriak-teriak. Udah punya suami loh Ken, bentar lagi punya anak. Buang kebiasaan buruk."
Ucap Agatha.
"Iya bund." Balas Kenzie ketus.
Agatha hanya mengelengkan kepala, binggung dengan tingkah putrinya. Entah apa yang terjadi dengan Kenzie, mulai dari semalam cemberut, di tanya malah diam.
Gavin saja terlihat frustasi membujuknya. Mungkin mereka berantam, makanya Agatha memilih diam. Kebetulan Gavin tidak menceritakan apa-apa, kejadian itu cukup dia dan Kenzie yang tau.
"Pagi bund." Sapa Gavin, sembari duduk disamping Kenzie.
"Kenzo gak disapa bang?"
"Pagi Kenzo."
"Pagi juga bang Gavin."
"Lebay." Cibir Kenzie.
"Ada yang iri bang." Ejek Kenzo, dan tertawa terbahak-bahak.
Gavin hanya mengulum senyumnya, merapatkan kursinya dengan Kenzie tanpa memperdulikan tatapan tajam siempunya.
"Mukanya jangan digituin." Bisik Gavin, meraih gelas bekas Kenzie, meneguk tandas sampai tak tersisa.
Siempunya hanya diam, tanpa mengubris. Karena itu sudah menjadi kebiasaan Gavin belakangan ini, kalo Kenzie meminumnya sampai tandas. Gavin akan marah-marah. Jadi Kenzie mengalah.
"Yakin nak sekolah? nanti belajarnya gimana?" Tanya Agatha khawatir.
"Udah bund gak usah khawatir, manusia keras kepala susah dibilangi."
__ADS_1
Sahut Kenzie kesal.
Gimana gak kesal. Hampir satu rumah melarang Gavin tidak sekolah, karena perban yang melilit dilengan nya. Bahkan lebih parahnya lagi, lengan sebelah kanan.
Jadi gak ada gunanya Gavin sekolah, makan saja harus disuapi.
"Tenang aja bund, Gavin gak papa kok."
"Dengar sendiri kan bund, keras kepala." Geram Kenzei.
"Lagian kenapa sampai begitu tangannya?" Tanya Agatha. Mulai dari semalam Kenzie dan Gavin bungkam, tidak mau mengatakan yang sebenarnya.
"Ke jepit pintu mobil bund semalam." Kilah Kenzie.
"Ya Tuhan, jadi udah ke dokter?"
"Pulang sekolah bund, kita berangkat nanti terlambat." Pamit Kenzie. Takutnya pembicaraan ini panjang lebar, malah ketahuan.
_________
Suara riuh memenuhi kantin, hal yang paling Kenzie tidak sukai. Kepalanya langsung pusing ditempat yang ramai, walau sudah biasa berdiri didepan banyak orang.
"Pesanan datang." Ucap Dian heboh, meletakkan bakso kesukaan mereka bertiga.
"Tumben Ken makan di kantin? ngidam Lo?" Bisik Fani.
"Ngomong apaan sih."
"Siapa tau."
"Ngawur."
Fani tertawa kecil, melihat wajah kesal Kenzie. Padahal Fani hanya bercanda, dan siapa tau Kenzei benar-benar ngidam. Orang dia udah punya suami, apa salahnya.
Malah mereka senang, memiliki keponakan dari sahabat sendiri.
Terdengar suara bariton menyapa mereka, sontak Dian gegalapan menarik lengan Fani.
"Ken, kita ke toilet dulu." Ucap Dian, dengan cepat menarik lengan Fani.
"Yah, ayang malah kabur." Ucap Edo dramatis.
"Siapa?"
"Edo suka sama Dian." Sahut Angga, sembari menarik lengan Edo duduk dikursi berseberangan dengan Kenzie. Takutnya Gavin melihat interaksi mereka, malah dijadikan samsak.
"Ken, gue boleh nanya?" Tanya Angga serius."
"Silahkan."
"Gavin ngamuk semalam?"
"Darimana Lo tau?"
"Perban yang melilit ditanganya, tapi Lo gak papa kan?" Tanya Angga khawatir
"Oh, gue papa kok."
"Syukur deh."
"Maksudnya?"
"Lo belum tau?" Tanya Edo serius.
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, menjawab seadanya. Orang dia binggung, tidak tau arah pembicaraan ini.
"Sebenarnya Gavin orangnya tempramen, mungkin keturunan. Karena om Viktor juga orangnya galak." Ucap Angga.
"Lo kenal papa Gavin?"
__ADS_1
"Yaelah Ken, kita berdua sahabat Gavin dari kecil. Semua tentang Gavin kita tau. Mulai dari cinta pertama, cita-cita, kenakalan Gavin, sampai masalah keluarga Gavin juga kita tau. Iya gak Do?" Jelas Angga.
"Cinta pertama?" Tanya Kenzie. Dia penasaran dengan yang satu ini, apalagi Gavin belum menceritakan masalah percintaannya.
"Iya, cinta pertama Gavin. Namanya Dea. Tenang aja gak usah cemburu, itu udah lama waktu kelas 1 SMP. Percaya deh sama kita, dia gak bakalan balik lagi. Kalo pun balik, dia bakalan takut sama Gavin." Jelas Angga, bersahutan tawa Edo.
Kejadian yang satu itu lucu menurut mereka, tingkah konyol Gavin yang gak bakalan bisa mereka lupakan hingga tujuh turunan.
"Kenapa takut?"
"Kalo masalah itu, tanya sendiri aja sama Gavin. Kita gak ikut campur." Balas Angga.
"Bikin penasaran aja Lo." Ucap Kenzie ketus.
"Satu lagi, Gavin pernah kecelakaan maut koma satu hari. Kalo dia marah ninju tembok, itu bakalan sakit. Kalo gak salah dibahu, sebelah mana Do gue lupa?"
"Kiri."
"Serius?" Tanya Kenzie syok.
"Iya, coba lihat bahu sebelah kiri. Ada bekas jahitan di sana. Kalo gak salah ada 15 jahitan deh." Jelas Angga.
Kenzie menghela napas panjang, syok mendengar penjelasan Angga barusan. Pantasan Gavin mengeluh sakit di bahu, ternyata itu penyebabnya.
Mungkin mulai hari ini, Kenzie harus mencari tau tentang Gavin. Masa kehidupan suami sendiri Kenzie tidak tau. Kenzie merasa bodoh mengetahui hal itu.
"Gavin beruntung miliki Lo, manusia berandalan yang kita kenal berubah 100 persen setelah menikah." ucap Angga.
"Keluar rumah aja Gavin jarang belakangan ini, kebanyakan di rumah." Timpal Edo.
"Makasih Ken, kita sebagai sahabat senang Lo jadi istri Gavin. Tapi maaf Gavin juga banyak kekurangannya, tapi kita harap Lo gak pernah kepikiran ninggalin Gavin." Lanjut Angga.
Kenzie tersenyum manis, menganggukan kepalanya mendengar ucapan mereka berdua.
Rasanya iri dengan persahabatan mereka bertiga, jarang-jarang Kenzie bertemu manusia seperti mereka.
"Oh iya, Gavin mana?" Tanya Kenzie. Ia baru sadar akan hal itu.
"Perpus belajar." Sahut Edo.
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, tanpa berniat bangkit dari tempatnya menemui Gavin. Kalo pun ada rasa kangen melihat wajah tampan itu, tapi Kenzie harus memberi ruang sendiri untuk Gavin.
Selama ini mereka berdua selalu bersama entah kemana, tapi setelah mendengar ucapan Angga dan Edo. Kenzie harus memberi waktu sendiri untuk Gavin.
Bagaimanapun juga, setiap manusia membutuhkan ruang sendiri. Entah berkhayal, mengambil keputusan, memikirkan hidup, mencari solusi, bahkan menenangkan pikiran.
"Lo gak ke perpus?" Goda Angga.
"Gak."
"Kenapa?" Tanya Edo yang ikut-ikutan mengoda Kenzie.
"Gak papa."
"Pergi aja, kalo Lo yang gangu Gavin dia gak bakalan marah. Beda cerita kalo kita berdua." Ucap Angga, dan tertawa terbahak-bahak di ikuti Edo.
"Tiap hari aja kita di usir dari rumah, katanya lebih enak di kamar sama istri." lanjut Edo.
"Br*ngs*k." Umpat Kenzei.
___________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK
STAY TUNED 🌱
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓
__ADS_1