GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
EMPAT PULUH


__ADS_3

Pukul 22:00, Gavin belum menunjukkan batang hidungnya. Awalnya Kenzie biasa saja, tapi lama-lama jiwa keibuannya meronta-ronta.


Berulang kali Kenzei menatap hp dan pintu secara bergantian. Berharap pintu terbuka, atau ponselnya bergetar. Tapi sayangnya, hingga jarum jam menunjukkan pukul 22:30 Gavin belum juga pulang.


Hingga knop berputar, menampakkan Gavin dengan penampilan urakan. Rambut berantakan, sudut bibir mengeluarkan darah, dan jemari kanannya kembali mengeluarkan darah.


Sontak Kenzie bangkit dari tempatnya, menatap tajam kearah suaminya.


"Kenapa baru pulang?" Sergah Kenzie.


"Ada urusan penting."


"Oh, urusan penting."


Gavin hanya mengangguk kan kepala, menghempaskan tubuhnya ke atas sofa tepat dihadapan Kenzie.


Malam ini gadisnya terlihat cantik, tubuh kecilnya ditutupi kaos oversize dipadukan celana pendek sebatas paha. Biasanya, Kenzie hanya mengunakan pakaian tertutup bahkan panas terik sekalipun.


Mungkin menghindari tatapan mesumnya, terutama jemari nakalnya.


"Seberapa penting urusannya, makanya baru pulang?"


"Ha?"


Emosi Kenzie tidak bisa ditahan lagi, dengan kesal membuka sandal bulu-bulunya memukul tubuh kekar itu secara bruntal.


"Ini mulut sama tangan, dipakai buat hal yang baik."


"Aduh sakit yang."


"Biarin, jadi suami gak pernah benar kelakuannya, apa salahnya satu hari gak berulah. Ha?"


"Iya-iya, maaf."


"Sekarang bilang maaf, besok diulangi."


"Yah, harus."


"Ngejawab lagi."


Gavin meringis, pukulan sandal gadisnya terasa sakit. Ditambah suara melengking yang hampir memecahkan gendang telinga.


Merasa puas melepaskan emosinya, Kenzie duduk disamping Gavin dengan tatapan tidak lepas dari wajah tampan itu.


"Ini bibir kenapa?" Tunjuk Kenzie tepat didepan bibir tebal itu.


Siempunya hanya mengelengkan kepala, memilih bersandar pada sandaran sofa sembari memejamkan mata.


"Ck, jangan berbuat masalah Vin."


"Iya sayang."


Kenzie menghela napas panjang, meraih kotak p3k dari bawah meja dan mengeser tubuhnya merapat dengan tubuh kekar suaminya.


Dengan telaten mengobati ujung bibir tebal itu, sesekali siempunya meringgis kesakitan.


"Tau sakit masih aja berulah." Omel Kenzie.


Merasa sudut bibir tebal itu bersih dan menghentikan darah, jemari lentik Kenzie beralih meraih jemari kanan Gavin. Padahal luka lama belum sembuh, malah muncul luka baru.


"Kamu susah banget sih dibilangin."


"Maaf."


"Ganti, aku muak dengan kata itu."


Sontak Gavin tertawa kecil, membuka matanya perlahan menatap wajah cantik itu yang terlihat serius mengobati jemarinya.


Punya istri seperti Kenzie, ternyata bukanlah hal yang buruk. Malah hidupnya berubah seratus persen. Luka kecil yang biasanya dibiarkan seperti itu, kini diobati dengan telaten ditambah bibir mungil yang tiada henti mengomel. Layaknya ibu memarahi anak.


"Sayang."


"Apa?"


"Ck, marah-marah mulu."


"Aku gak bakalan marah kalo kamu gak berulah."


"Iya, maaf."


Kenzie mencibir, sembari mengumpul kapas yang baru saja ia gunakan.


"Ganti baju sana, baru makan. Udah hampir tengah malam, kamu belum makan. Sakit, baru tau rasa."


"Makanya jangan didoain."


"Jangan banyak omong, ganti baju sana!"


Gavin berdecak kecil, dengan malas bangkit dari tempatnya melangkah kearah walk closet.


Rasa ngantuk Kenzie hilang sekejap, manik nya fokus menatap layar televisi. Tanpa menyadari Gavin duduk disampingnya.


"Sayang."


"Kenapa?"


"Tidur yuk."


"Makan dulu, jangan langsung tidur!" Peringat Kenzie, tanpa mengalihkan tatapannya dari layar televisi. Hingga layar berubah gelap, remote tv diletakkan diatas meja.

__ADS_1


"Aku udah makan, tidur yuk. Aku ngantuk."


Sontak Kenzie mengalihkan tatapannya kearah Gavin, yang si*lnya terlihat tampan malam ini. Kaos hitam ketat, mencetak jelas otot tubuhnya. Dipadukan dengan celana training.


"Jangan bohong."


"Gak minat."


Kenzie hanya mengangguk kan kepala, bangkit dari tempatnya menganti lampu tidur.


"Sini."


Gavin menepuk ranjang kosong disebelahnya, dengan senang hati Kenzie ikut bergabung tidur disampingnya. Menyelusupkan kepalanya di dada bidang itu, membalas pelukan hangat siempunya.


"Tumben pakai celana pendek."


"Dulu juga sering pakai ini."


"Kenapa sekarang baru pakai?"


"Biar terbiasa."


"Terbiasa jadi apa?"


"Jadi istri suami mesum."


Gavin tertawa kecil menanggapi ucapan gadisnya. Benar dugaannya, Kenzie hanya menghindari tatapan mesumnya.


Padahal tatapan itu hanya berlaku untuk tubuhnya, tidak dengan tubuh yang lain. Entah mengapa saat melihat tubuh ramping Kenzei, pikirannya langsung bekerja liar, jiwa laki-lakinya ikut berkobar.


"Me–"


"Katanya ngantuk." Sela Kenzie memotong ucapan Gavin.


Siempunya hanya menganggukkan kepala, menarik selimut menutupi seluruh tubuh mereka berdua. Dan memeluk erat tubuh kecil gadisnya.


"Selamat malam Baginda ratu."


"Selamat malam tuan mesum."


Gavin terkekeh geli, hingga rasa ngantuk menyerang.


____________


Sinar matahari masuk dari celah-celah jendela, mengusik tidur manik lentik itu. Dengan malas membuka matanya, mengerjap berkali-kali.


Merasa nyawanya sudah terkumpul, Kenzie mencari keberadaan suaminya. Membuka selimut tebal yang menutupi tubuhnya, menampakkan Gavin menyelusupkan kepalanya didada nya bak anak kecil.


Kenzie hanya menghela napas pasrah, harus terbiasa dengan kebiasaan baru suaminya.


"Vin."


"Bangun yuk."


"Lima menit."


"Terserah, tapi lepasin tangannya. Aku mau kerja. Gak enak banget kalo masih tidur. Masa menantu bangun kesiangan."


"Aku dijodohin sama kamu, bukan jadiin kamu pembantu."


"Iya tau, tapi minimal membantu sedikit. Ini malah tidur seharian."


"Ck, ngomong apaan sih." Omel Gavin, terpaksa membuka matanya menatap wajah cantik itu.


"Lepasin tangannya, aku mau cuci baju."


"Nanti siang aja."


"Biar sempat kering loh Vin."


Gavin mengerucutkan bibirnya, dengan terpaksa melepaskan pelukannya. Padahal rencananya menghabiskan waktu bermalas-malasan seharian diatas ranjang. Tapi melihat wajah cantik itu memohon, terpaksa rencananya dipending dulu.


"Kamu tidur aja."


Kenzie bangkit dari tempatnya, melangkah kearah kamar mandi. Untung dikamar ada mesin cuci, jadi Kenzie tidak perlu repot-repot turun kebawah.


Kadang Kenzie heran, entah mengapa ada mesin cuci dikamar mandi. Padahal pemilik kamar pria.


"Ck."


Gavin berdecak kecil, hendak bangkit dari tempatnya sebelum deringan ponselnya mengalihkan perhatian.


"Halo."


"Dia kabur Vin."


"Gue percaya sama Lo."


"Gue usahain."


"Terimakasih bro."


Gavin langsung memutuskan sambungan sepihak, dengan cepat bangkit dari tempatnya melangkah kearah kamar mandi.


"Eh."


Kenzie tersentak kaget, saat merasakan lengan kekar melilit dipinggangnya.


"Apaan sih Vin, bikin kaget aja." Omel Kenzie, sembari sibuk memasukkan baju kotor kedalam mesin cuci.

__ADS_1


Selama di dalam kamar mandi, Kenzie sibuk dengan baju-baju kotor dengan Gavin setia memeluknya. Sesekali bibir tebalnya menyapa sudut bibirnya, jemarinya semakin erat memeluk tubuhnya.


"Awas, mau jemur ini dulu."


"Yaudah ayo."


Kenzie berdecak kecil, mengangkat ember berisi pakaian yang baru saja ia cuci. Jujur rasanya seperti ketempelan setan, mana tubuh Gavin berat, pergerakannya tidak bebas.


Padahal pria dibelakangnya pria dewasa, bukan bocah kecil.


"Ck, lepasin dulu Vin." Gerutu Kenzei, rasanya tidak nyaman melakukan kegiatan seperti ini. Apalagi saat tubuhnya menunduk, belakang tubuhnya bersentuhan langsung dengan bagian bawah Gavin.


"Butuh bantuan?"


Kenzei hanya mengangguk kan kepala, membalikkan tubuhnya meletakkan satu baju basah ditelapak tangan besar itu.


"Jemur, aku mau rapiin kamar dulu."


"Siap Baginda ratu."


"Yang benar."


"Nantangin."


Gavin menjemur pakaian satu persatu, hingga ember kosong.


"Sayang."


"Apaan?"


"Udah."


"Masa sih, cepat banget."


Kenzie bangkit dari tempatnya, melangkah kearah balkon mengamati setiap pakaian yang sudah mengantung.


"Rapi."


"Itu mah gampang."


Kenzie hanya mengangguk kan kepala, melangkah masuk kedalam dengan sigap Gavin memeluknya dari belakang.


"Apaan sih Vin."


"Cuman peluk doang kok."


"Tapi aku nya susah gerak."


"Aku bantu dari belakang."


Bukannya mendengar ucapannya, Kenzei malah mencubit lengan kekarnya yang melilit dipinggangnya.


"Sakit banget bund."


"Jauh-jauh sana, risih lama-lama."


"Gak boleh ngomong gitu mommy."


"Ngomong apaan sih Vin."


"Call me Daddy, not Gavin." (Panggil aku Daddy, bukan Gavin)


"Gaya kau ji*g, jangan kebanyakan halu."


"Ha?"


Sontak Kenzie menutup mulutnya, bisa-bisanya dia keceplosan berkata kasar dengan suami sendiri. Mampus dia dalam bahaya.


"Ulangi!"


Kenzie hanya mengelengkan kepala, berusaha tetap dalam posisinya. Walau tetap saja kekuatan Gavin lebih kuat.


"Ngomong apa barusan?"


Gavin menaikkan alisnya, menatap manik lentik itu tajam seakan siap menerkam mangsanya.


"Maaf, keceplosan."


"Oh, keceplosan. Kenapa gak sekalian keceplosan minta anak?"


Kenzie hanya mengelengkan kepala, seraya memundurkan langkah guna menjauh dari jangkauan Gavin. Tapi sayangnya, keberuntungan tidak berpihak lagi dengannya. Tubuh kecilnya lebih dulu ditarik dan dibanting kecil keatas ranjang, bersamaan tubuh kekar itu diatas tubuhnya.


"Minta dihukum, hm?"


"Maaf."


Bibir tebal itu tersenyum smirk, dengan gerakan kilat menyatukan bibirnya dengan bibir mungil itu. Mengulum sedikit kasar, hingga pasokan napas dari bibir mungil itu habis.


"Vin."


Kenzie menarik napas dalam-dalam, hingga bibir tebal itu kembali menyatu dengan bibir mungilnya.


____________


*TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


STAY TUNED 🌱


TUNGGU PART SELANJUTNYA πŸ“*

__ADS_1


__ADS_2