GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
MENGUSIR PELAKOR DENGAN ELEGAN


__ADS_3

Baru juga Gavin keluar dari ruangan ujian, telinganya langsung disambut suara cempreng.


"Kenzie mana?" Tanya Fani.


"Kita cari kemana-mana tapi belum ketemu juga. Tadi izin entah kemana, sampai sekarang gak balik-balik juga." Jelas Dian tak kalah heboh.


Sontak manik Gavin melotot, tanpa mengucapkan sepatah kata pun berlari terbirit-birit kearah parkiran. Tapi sayangnya, Kenzie tidak ada disana bahkan pintu mobil masih terkunci.


Dengan kecepatan tinggi, Gavin membelah jalanan tanpa memperdulikan pengendara lainnya, bahkan keselamatan sendiri.


Hingga mobil berhenti di depan rumah, Gavin langsung masuk kedalam menaiki tangga satu persatu. Membuka pintu kamar tak sabaran, hingga terlihat manusia yang ia cari membersihkan kamar dengan santainya.


Dengan napas yang memburu, Gavin meraih tubuh kecil itu membanting kecil tubuh mereka berdua ke atas ranjang.


"Capek." Ucap Gavin, sembari mengatur napas dan detakan jantung yang berdetak kencang.


"Eh, apaan sih Vin?"


"Diam! Jadi bini bikin khawatir orang mulu."


Kenzie berdecak kecil, mendongakkan kepalanya keatas guna menatap wajah tampan itu.


"Emang aku ngapain?"


"Masih nanya."


Gavin bangkit dari tempatnya, membuka seragam putih dan celana abu-abu nya, menyisahkan celana boxser.


"Tunggu hukuman!"


Gavin berlalu keluar dari kamar, hingga terdengar suara percikan air dari bawah.


Saking penasarannya, Kenzie melangkah kearah balkon menatap kebawah tepat kolam berenang. Tubuh kekar itu terlihat lihai kesana kemari, hingga kepalanya menyembul keluar dari air, dengan menguyar rambutnya kebelakang.


'Tampan' Kata pertama yang terlintas dalam pikiran Kenzei.


Hingga tanpa sadar maniknya bertemu dengan manik hitam itu, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"TURUN!" Teriak Gavin, terdengar tidak bisa dibantah.


Terpaksa Kenzie menuruti perintahnya, keluar dari kamar berdiri dipinggir kolam berenang. Baru kali ini Kenzie menginjakkan kaki ke area ini, rasanya segan dan canggung. Makanya selama ini Kenzie lebih banyak menghabiskan waktu di kamar.


Saking fokusnya mengamati sekeliling, Kenzei tidak sadar tubuh kekar itu berdiri tepat dihadapannya.


Tepat bibir tebal hendak membuka suara, terdengar suara cempreng berasal dari dalam rumah. Sontak Kenzie gegalapan, mendorong tubuh mereka berdua kedalam kolam menyembunyikan tubuh kekar suaminya.


Tidak ada yang boleh melihat pemandangan indah itu, karena itu hanya miliknya.


"Bang Gavin–" Ucapan Tiara terpotong, matanya membola sempurna.


Dengan napas yang tersengal-sengal,


Kenzie melilitkan kedua kakinya dipinggang Gavin, memeluk leher suaminya erat. Untung Gavin sigap menangkap tubuh kecilnya, kalo tidak Kenzie tengelam.


"Dalam banget Vin." Ucap Kenzei, sembari menormalkan detakan jantung dan napasnya.


"Kamu gak papa kan?"


Gavin menangkup wajah cantik itu, menyelipkan helaan rambut gadisnya yang terlihat berantakan. Amarahnya hilang sekejap, tergantikan rasa khawatir.


"Kamu gak kasih tau aku sih Vin."


"Kamu gak nanya."

__ADS_1


Kenzie mengerucutkan bibirnya, mengalihkan tatapannya kembali kebawah air. Tinggi kolam berenang sebatas dada suaminya. Padahal Kenzie hanya sebatas bahu Gavin. Otomatis tubuhnya tenggelam.


"Kalian berdua–"


Sontak mereka berdua sadar dari dunia yang mereka ciptakan, mengalihkan tatapannya kearah bocah ingusan penganggu ketenangan.


"Ck."


Gavin berdecak kecil, memeluk erat tubuh gadisnya tanpa memperdulikan Tiara yang semakin syok melihat mereka berdua.


"Bang Gavin sama kak Kenzie ngapain?"


Mereka berdua hanya diam, hingga Gavin membawa tubuh mereka berdua ketepi kolam tepat dihadapan Tiara.


"Turun yang, dipinggir pendek kok." Bisik Gavin.


Perlahan Kenzie menurunkan kakinya, hingga tubuhnya masuk kedalam kolam berenang sebatas dadanya. Dengan sigap Kenzie mengubah posisi mereka, menyembunyikan Gavin dibelakang tubuhnya.


"Ngapain?"Tanya Kenzie ketus.


"Mau lihat bang Gavin, abang darimana aja selama ini?"


Siempunya hanya diam, meletakkan kedua lengannya dibahu Kenzie. Memeluk erat leher gadisnya.


Didalam hati Kenzie tersenyum kemenangan, melihat wajah sok polos itu syok. Padahal terserah mereka melakukan apa, toh mereka berdua suami istri.


"Kok bang Gavin gitu sama kak Kenzie?" Tiara tak terima Kenzie diperlakukan seperti itu. Selama ini mereka dekat, tapi tak sedikit pun Gavin menyentuhnya.


"Emang kenapa? Ada masalah?" Tanya Kenzei tenang.


"Kalian berdua kan saudara, gak pantas."


Mendengar ucapan Tiara, Gavin malah mencium pelipis gadisnya dengan mesra, dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher istrinya.


"Bang Gavin–"


"Mau ikut berenang?" Tawar Kenzie, dengan niat jahat dibaliknya.


Tiara memutar matanya, detik berikutnya mengelengkan kepala.


"Rara gak tau berenang."


"Kan ada bang Gavin."


"Emang bang Gavin mau ajarin aku?"


"Big NO." Sahut Gavin cepat.


Tanpa mengubris keberadaan Tiara, kedua lengan Gavin beralih memeluk pinggang ramping gadisnya. Menyemburkan tubuh mereka berdua kedalam air, tanpa menunggu persetujuan dari siempunya.


"GAVIN!"


Kenzie terengah-engah, menghirup udara dengan rakusnya. Bukannya berhenti, Gavin malah semakin membawa tubuhnya kedalam kolam yang lebih dalam. Otomotis Kenzie ikut menyebur kedalam air.


"Vin, udah."


Sontak Gavin tertawa terbahak-bahak, mengangkat tubuh kecil gadisnya ketepi kolam dengan entengnya.


"Gimana?"


Kenzie hanya diam, menetralkan napas yang tercekat. Hingga jemari besar itu bergerak hendak meraih tubuhnya, dengan sigap Kenzie menjauh.


"Sini, biar aku kasih napas buatan."

__ADS_1


"Napas buatan pala mu."


Gavin tertawa kecil, merasa terhibur melihat wajah cantik itu kesal.


Tiara yang sedari tadi berdiri mematung menonton interaksi mereka berdua, mengepalkan kedua tangannya dengan napas yang memburu.


Gavin lebih perhatian dengan Kenzie, daripada dia yang selama ini mengemis perhatian. Dengan kesal Tiara meninggalkan area kolam berenang, dengan menghentak-hentakan kakinya. Menarik perhatian Gavin dan Kenzie.


"Kenapa tuh bocil?"


Gavin hanya mengelengkan kepala, merasa aneh dengan tingkah bocah ingusan penganggu ketenangan hidupnya. Merasa tersisa hanya mereka berdua, Gavin keluar dari kolam berenang duduk disamping Kenzie.


"Kamu gak papa kan?"


Gavin merapikan rambut panjang gadisnya, menangkup wajah cantik itu dengan kedua tangannya.


"Maaf."


Kenzie hanya diam, detik berikutnya berhambur memeluk tubuh kekar itu. Duduk di atas pangkuan paha kekar suaminya.


"Kita jahat banget sih Vin."


"Biarin,"


"Gak boleh gitu, kamu jahat banget tau."


"Lah dia malah lebih jahat dari aku."


Gavin melilitkan kedua kaki Kenzie dipinggangnya, perlahan bangkit dari tempatnya meninggalkan area kolam berenang.


"Emang Tiara ngapain?"


"Kapan-kapan aja aku cerita, kamu mandi dulu."


Gavin menurunkan tubuh kecil gadisnya, hingga kaki kecil itu menyentuh lantai kamar mandi.


"Mau aku mandiin?" Goda Gavin.


"Kapan-kapan aja, aku mau mandi." Ucap Kenzei seakan mengcopy paste ucapannya.


Sontak Gavin tertawa kecil, sembari melangkah keluar dari kamar mandi.


Kejadian di kolam berenang tadi hanya akalan semata Gavin, dia sempat berbisik saat tubuhnya diangkat dari air.


"Maaf yang, biar dia keluar dari rumah."


Tapi yang lebih ngeselin, Gavin malah mengajaknya menyembur ke dalam kolam yang lebih dalam. Padahal Gavin tau, dia tidak bisa berenang.


"Sayang."


Kenzie mengerutkan dahinya, membuka pintu kamar mandi sedikit. Menampakkan Gavin yang terlihat rapi.


"Aku izin keluar sebentar, jangan keluar dari rumah tanpa izin dari aku. Tunggu hukuman."


Gavin mengecup sudut bibirnya, dengan grasa grusu meraih kunci motornya.


__________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


STAY TUNED 🌱


TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓*

__ADS_1


__ADS_2