
Lara yang baru saja menerima panggilan telepon Gavin, langsung grasa grusu ke kantor suaminya. Anak sama suami sama saja, keturunan darah mesum. Ngapain coba melakukan hal yang tidak pantas ditempat yang tidak tepat. Punya anak satu, malah Poto Kofi bapaknya semua.
Tidak ada sedikitpun darah Lara mengalir ditubuh Gavin, mulai dari wajah sampai perilaku semua dari bapaknya.
"Papa." Teriak Lara mengema seisi ruangan, dengan kesal membuka hak tinggi nya. Melemparnya asal ke arah suaminya.
"Di telpon gak diangkat-angkat, jadi orangtua gak pernah kepikiran sama anak."
"Pelan-pelan ngomongnya ma, papa belum tuli."
Lara mengepalkan kedua tangannya, menatap tajam kearah suaminya. Pria sempurna yang ia kenal dulu, ternyata jauh berbeda setelah menjadi suami.
Hanya kepalsuan yang terlihat masa pacaran, setelah menikah sifat buruknya terlihat sudah.
"Papa masih kenal Gavin? Papa tau apa yang terjadi sama Gavin? JAWAB PA!"
"Ck, iya. Barusan Gavin nelpon."
"Jadi?"
Lara melangkah mendekat kearahnya, sontak Viktor siap siaga bangkit dari tempatnya. Dia dalam bahaya, istrinya benar-benar mengamuk.
"Gavin bilang, kita datang ke desa dipinggir sungai. Iya kan ma?" Ucap Viktor lembut, mengalihkan perhatian istrinya.
"JADI NGAPAIN MASIH DI SINI, HA?"
"Nungguin mama."
"Ayah sama anak sama aja kalian berdua. Pusing mama lama-lama."
"Iya-iya maaf."
"Udah tua, masih aja cuman kerjaan yang dipikirin. Ingat anak sama istri pa."
"Iya."
Viktor meraih hak tinggi Lara, memasangkannya kembali ke kaki istrinya.
"Ayo, jangan marah-marah mulu."
__________
Gavin dan Kenzie masih didalam mobil, menunggu kedatangan Lara dan Viktor. Kenzie sedari tadi gugup, sesekali melirik kearah Gavin. Tapi sayangnya, siempunya malah terlihat santai. Merapikan dan mengikat rambut panjangnya, yang terlihat berantakan karena ulahnya sendiri.
"Vin."
"Iya, kenapa?"
"Kok kita bisa ketahuan yah?"
Gavin tertawa kecil, sembari menatap rambut panjang gadisnya yang sudah tertata rapi. Dengan perlahan memutar tubuh kecil itu, dan menangkup wajah cantik gadisnya.
"Mau tau banget?"
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, mengerjapkan matanya berkali-kali menatap manik hitam itu.
"Mobil kita ikutan bergoy–"
"Stop!"
Sela Kenzie, menutup bibir tebal itu dengan telapak tangannya. Si*l Kenzie sudah tau maksudnya. Tapi masa, bapak-bapak itu melihat mobil mereka seperti itu. Memalukan.
"Kenapa?" Tanya Gavin geli, menyingkirkan jemari lentik itu dari mulutnya.
Wajah cantik itu terlihat syok, mungkin malu ketahuan orang lain.
__ADS_1
"Vin."
"Iya sayang."
"Kamu gak bercanda kan?"
"Gak, coba ulangi kejadian tadi sama aku. Pasti mob– Sakit banget Ken." Adu Gavin, mengusap lengan kekarnya bekas cubitan jemari lentik itu.
"Ck, di tanya itu. Jawabnya ini."
"Lah kamu tanya, yah aku jawab."
"Tapi jawabnya bukan itu."
"Iya-iya, mobil bergoyang. Apalagi kamu tadi lincah banget."
"Mulai lagi."
"Iya loh Ken, untung mobil kedap suara. Kalo gak–"
"GAVIN!"
Sontak Gavin tertawa terbahak-bahak, dengan gemas menangkup wajah cantik itu, mengayunkannya seirama dengan gerakan tubuh mereka berdua.
"Apaan sih Vin, sakit tau."
"Kamu makin gemes, jadi pengen makan."
"Mesum."
"Tapi kamu suka kan? Apalagi tadi–"
"Gavin!"
"Aku jadi ke pengen."
"Mama sama papa datang."
___________
Semua mata tertuju kearah mereka berdua, bahkan kedua orangtuanya berada di pihak penghuni desa. Lara akui Gavin dan Kenzie salah di sini. Tidak tau tempat melakukan hal yang tidak pantas.
"Jadi sesuai peraturan desa kami, kalian berdua wajib menjalankan hukuman selama satu minggu. Walau sebenarnya, hukuman itu seharusnya satu bulan. Tapi karena kalian berdua masih sekolah. Jadi kita kurangi." Jelas pemimpin desa.
"Pak saya boleh bicara?" Tanya Gavin yang sedari tadi diam membisu, dengan Kenzei.
"Iya silahkan."
"Kebetulan minggu depan kita ujian, bisa hukumannya di undur dulu?"
"Boleh."
"Terimakasih pak." Ucap Gavin sopan.
Akhirnya mereka bisa menghela napas lega, suasana mencekam itu perlahan hilang. Karena sedari tadi mereka berdua disidang, layaknya maling yang ketahuan mencuri ayam tentangga.
"Sebelumnya kami minta maaf pak, atas kesalahan kedua anak kami." Ucap Viktor membuka suara.
"Iya pak, namanya juga anak muda."
"Maaf sebesar-besarnya." Timpal Lara, menundukkan kepalanya, sebagai tanda hormat kepada pemimpin desa.
Bagaimanapun juga mereka tetap bersalah sebagai orangtua.
"Gak papa Bu, pak. Kami malah mengucapkan terimakasih atas kebaikan bapak dan ibu. Desa kami sudah lama tidak masuk listrik." Ucap pemimpin desa.
__ADS_1
Kebetulan Lara melihat ada kejanggalan di desa ini. Yang ternyata, listrik tidak masuk. Sebagai pengusaha sukses, Viktor segera turun tangan. Bahkan petugas listrik, langsung bekerja.
"Kalo begitu kita pulang dulu, sudah hampir gelap." Pamit Viktor.
"Iya pak, hati-hati."
"Kita pamit pak." Pamit Gavin, menyalim pemimpin desa diikuti Kenzie dari belakang.
"Kalo sudah ada waktu menjalankan sanksi, kalian datang melapor kerumah saya dulu."
"Iya pak, kami permisi dulu." Pamit Gavin terakhir kalinya.
Gavin langsung menuntun gadisnya masuk kedalam mobil, sebelumnya Gavin berbicara sebentar dengan kedua orangtuanya.
"Pulang ke rumah, ada yang mau mama omongin."
"Iya, tapi seragam sama–"
"Nanti supir yang jemput, gak usah banyak alasan kamu." Sela Lara, memotong ucapan Gavin.
"Ikuti mobil papa dari belakang!"
"Iya pa." balas Gavin ketus.
Gavin langsung masuk kedalam mobil, perlahan melajukan mobilnya meninggalkan lingkungan desa.
"Kita pulang ke rumah kata mama."
"Oke." Balas Kenzie singkat.
Selama perjalanan tidak ada yang berniat membuka percakapan. Sesekali Gavin melirik kearah Kenzie.
Tak terasa mobil sudah terparkir di depan rumah, mereka berdua langsung masuk kedalam. Duduk disofa bersebrangan dengan kedua orangtuanya.
"Kalian tau apa kesalahan yang kalian perbuat?" ucap Lara, membuka pembicaraan.
"Tau ma." Sahut Gavin.
"Jangan di ulangi. Udah kayak gak punya modal aja kamu Vin. Masa menantu mama di ajak begituan didalam mobil."
Sontak wajah Kenzie memerah bak kepiting rebus. Ingin berlari sejauh-jauhnya, menghindari percakapan ini. Apalagi ucapan Lara ceplas-ceplos, tanpa filter.
"Maaf yah nak, kamu yang sabar sama Gavin. Karena bukan cuman kamu aja yang pusing, mama juga pusing. Dua bayi besar harus mama rawat. Yang satunya lagi, mama titip sama kamu." Jelas Lara dramatis.
Viktor berdecak kecil, drama ini harus segera di selesaikan. Takutnya tidak berakhir.
"Ayo ma ke kamar, papa mau mandi." Viktor langsung menarik lengan Lara, memutuskan drama yang sempat diciptakan istrinya.
Sontak Gavin melototkan matanya, menatap punggung kedua orangtuanya berlalu menjauh.
"Yah, Gavin gak mau punya adek. Masa anak mau punya anak malah punya adek baru lahir. Gak lucu." Teriak Gavin.
Kenzie hanya diam, mengelengkan kepalanya melihat interaksi keluarga kecil dihadapanya. Bisa-bisanya satu keluarga satu server, mesum semua otaknya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Gavin langsung menarik lengan Kenzie masuk kedalam kamar. Mengunci pintu, baru melepaskan genggamannya.
"Ken lanjut yang tadi yuk."
"Lanjut aja terus, jangan harap dapat minggu depan." Ancam Kenzie.
____________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)
STAY TUNED 🌱
__ADS_1
TUNGGU PART SELANJUTNYA 🍓