
2 hari berlalu kejadian memalukan itu, mulai detik itu juga Kenzie malu menunjukkan batang hidungnya didepan kedua orangtuanya.
Entah keberapa kalinya Kenzie ketahuan. Mulai dari bibir bengkak tiap hari ke sekolah, yang untungnya Fani yang selalu menyadari hal itu. Ketahuan warga, hingga kena sanksi selama seminggu. Dan terakhir ketahuan Kenzo, plus dipermalukan Kenzo tanpa sadar.
Apa mereka berdua terlalu mesum? kayaknya iya. Ingin rasanya Kenzie berlari sekencang-kencangnya, bersembunyi kemana pun asal jauh dari tempat ini.
Jika rekaman itu berputar kembali di otaknya, wajah Kenzie akan memerah dalam sekejap.
"Ck, gara-gara suami mesum aku malah ikutan mesum," gumam Kenzie.
Merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar sembari mengelus lembut perut buncitnya.
Hari ini hari terakhir ujian, mungkin biasanya di habiskan bermain-main. Tapi sayangnya, Kenzie malas. Apalagi perutnya semakin membesar. Untung Kenzie terbiasa memakai seragam kebesaran, jadi perutnya tertutupi beberapa hari ini.
"Gavin lama banget pulangnya," keluh Kenzie, sesekali menoleh ke arah pintu kamar.
Kebetulan yang lain mengadakan aksi coret-coret baju, jadi Kenzei membiarkan Gavin ikut merasakan hal yang sama. Apalagi itu sekali seumur hidup.
"Kak, bang Gavin belum pulang?"
Sontak Kenzie tersentak kaget, menoleh kearah Kenzo entah sejak kapan masuk kedalam kamarnya.
"Ck, ketuk pintu dulu baru masuk, kakak udah punya suami Kenzo!" peringat Kenzie entah keberapa kalinya.
"Maaf, Kenzo lupa."
"Jangan di ulangi!"
"Iya-iya."
Kenzo ikut membaringkan tubuhnya di atas ranjang, memeluk tubuh Kenzie dari samping.
Mungkin sebelum Kenzei menikah mereka berdua selalu bertengkar, layaknya tom and Jerry. Tapi setelah Gavin masuk kedalam kehidupannya, Kenzo malah berubah seiring berjalannya waktu, dan menuruti semua perkataan suaminya.
"Kak,"
"Apa?"
"Bang Rian di tangkap polisi,"
"Serius?" tanya Kenzei pura-pura.
Kebetulan Gavin sudah menceritakan kejadian sebenarnya, Kenzie tidak habis pikir Rian bisa sejahat itu.
"Iya, ayah sama bunda kadang pergi ke kantor polisi ngeliat bang Rian."
Kenzie hanya menghela napas panjang, membalikkan tubuhnya menghadap kearah Kenzo. Mungkin jika kedua orangtuanya tau kejadian beberapa bulan yang lalu, mungkin Rian menjadi sasaran amukan kedua orangtuanya di balik jeruji besi.
Apalagi kecelakaan maut yang menimpa suaminya, hanya mereka berdua yang tau dan beberapa bodyguard. Kenzie malas perkara itu di perpanjang, apalagi Gavin bilang Rian akan mendapatkan balasan setimpal.
"Kamu belajar yang baik, jangan nakal! biar gak masuk penjara!" peringat Kenzie.
Kenzo hanya mengangguk kan kepalanya patuh. Kebetulan pergaulan mereka berdua dibatasi dan di jaga ketat. Makanya Kenzo patuh dengan perintah, terutama perkataan suaminya manusia yang paling Kenzo kagumi.
"Kakak pergi lagi ke rumah bang Gavin?"
"Iya, kenapa emangnya?"
"Kenzo gak punya teman di rumah,"
"Biasanya juga gitu, malah kamu yang ninggalin kakak tiap hari."
"Tapi kan itu beda cerita, bunda sama ayah larang Kenzo main bola sebelum lulus,"
"Yah bagus, mending les privat aja sama bang Gavin. Biar nilai ujian kelulusannya bagus,"
Spontan Kenzo mendongakan kepalanya keatas, menatap wajah Kenzie dengan mengerutkan dahi.
"Emang bang Gavin guru?"
Sontak Kenzie tertawa kecil, mengacak-ngacak rambut Kenzo dengan gemas. Sebenarnya anak yang satu ini lucu, tapi karena kenakalannya selama ini, sifat lucu itu tertutupi. Yang ada naik darah tinggi menghadapi tingkahnya.
"Iya, bang Gavin guru les privat matematika," ungkap Kenzie.
"Serius kak?"
"Iya,"
__ADS_1
"Berarti Kenzo bisa minta uang dong."
"Bodoh,"
Kenzie menjambak rambut Kenzo, hingga siempunya meringgis kesakitan.
"Rasain, bikin kesal mulu."
Kenzo hanya mengerucutkan bibirnya, kembali memeluk tubuh Kenzie dengan erat.
"Kakak sama aja kayak bunda. Mana gak punya perasaan, masa anak sendiri gak di kasih makan," gerutu Kenzo.
"Masa?"
"Iya kak Kenzie. Waktu itu aku ketahuan main bola di lapangan dekat taman, malam nya aku gak di bolehin makan sama bunda," adu Kenzo.
Sontak Kenzie tertawa terbahak-bahak, tanpa memperdulikan wajah Kenzo berubah kesal.
"Makanya jangan bandel, udah dibilangin, masih aja nakal."
"Nenek lampir,"
Kenzie hanya tertawa kecil, membalas pelukan Kenzo sembari memejamkan mata.
"Kamu jangan bising! kakak mau tidur,"
Kenzo hanya mengangguk kan kepalanya, ikut memejamkan mata.
Hingga tanpa sadar mereka berdua tertidur, dengan napas yang teratur.
_________
Mobil Gavin sudah terparkir di depan rumah, terlihat rumah sepi dan pintu tertutup rapat. Dengan langkah lebar Gavin masuk kedalam, menaiki tangga satu persatu dan membuka pintu kamar dengan pelan.
Di ranjang terlihat pemandangan langka, kedua saudara kandung yang biasanya adu mulut, sekarang terlihat akur. Bahkan tidur berpelukan.
Dengan pergerakan sepelan mungkin, Gavin melangkah masuk kedalam. Membuka kancing seragam putihnya satu persatu. Tepat kemeja putih itu terlepas dari tubuhnya, terdengar suara lembut menyapa telinganya.
"Udah pulang?"
Sontak Gavin membalikkan tubuhnya, tersenyum lebar kearah Kenzie.
"Udah."
Gavin naik keatas ranjang, membaringkan tubuhnya di samping Kenzie, memeluk erat tubuh kecil itu dari belakang.
"Tumben di rumah," bisik Gavin, seraya mengelus lembut rambut Kenzo.
"Gak di bolehin keluar sama bunda."
Terdengar kekehan geli dari bibir tebal itu, hingga mendarat di wajah Kenzie. Mengecup lembut sedikit lama.
"Kamu udah makan siang?" bisik Gavin tepat ditelinga Kenzie.
"Udah, Kenzo yang antar ke kamar."
"Maaf yah, tadi ada urusan sebentar,"
"Emang kamu gak ikut sama yang lain?"
"Kemana?"
"Coret-coret baju,"
"Malas."
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, memilih memejamkan matanya kembali.
Tubuhnya dijadikan bantal guling, dari depan dan belakang sekaligus memeluknya. Sesekali terasa elusan lembut di perut buncitnya, dan bibir tebal itu kadang mengecup leher putihnya yang terekspos.
"Dia minta yang aneh-aneh lagi?"
"Gak,"
"Syukur deh, kayaknya dia tau Daddy nya lagi pergi."
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, membalas pelukan Kenzo hingga tertidur lelap.
__ADS_1
______________
Tepat Gavin keluar dari kamar mandi, terlihat Kenzie duduk di tepi ranjang dengan wajah khas bangun tidur. Bibir mungil dimanyukan kedepan.
"Jangan melamun, mandi gih!"
Kenzie hanya mengangguk kan kepalanya, menatap punggung kekar itu berdiri di depan lemari dengan handuk melilit di pinggangnya.
Saking gemasnya Kenzie bangkit dari tempatnya, berdiri tepat dibelakang Gavin, dan memeluk erat tubuh kekar itu dari belakang.
"Jangan dekat-dekat, jauh-jauh sana. Yang di bawah lagi mode on, nanti kita ketahuan lagi," goda Gavin.
"Mesum."
"Mandi gih, udah sore."
"Malas, lagian orang cantik gak perlu mandi yang ada makin cantik,"
"Kepedean,"
"Oh, maksud kamu aku jelek gitu?"
"Lumayan,"
"Yah!"
"Apa gak terima?"
"Dasar taik ayam, sok kegantengan
jadi orang," cibir Kenzie.
Meraih celana panjang dari dalam lemari, menutupi kaki kecilnya yang hanya ditutupi celana pendek. Kebetulan Kenzie hanya diperbolehkan memakai celana pendek di dalam kamar, kalo tidak sandal bundanya melayang detik itu juga.
"Mau kemana?" tanya Gavin dengan santainya, dengan menahan tawa melihat wajah cantik itu memerah menahan emosi.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kenzie melangkah keluar dari kamar membanting pintu cukup kencang, hingga menimbulkan suara nyaring.
"Suami gak tau diri, bisa-bisanya hina istri sendiri," gerutu Kenzei.
Menuruni tangga satu persatu, duduk dengan santainya di kursi meja makan tanpa memperdulikan tatapan kedua orangtuanya, dan mertuanya entah sejak pulang dari libur panjangnya.
Kenzie masih kesal dengan ucapan suaminya, entah sampai kapan pria yang satu itu berubah menjadi manusia yang baik. Terutama mulutnya.
"Kenapa nak?" tanya Lara, yang terlihat sibuk dengan urusan dapur dengan bundanya.
"Gak papa ma. Mama sama papa kapan pulangnya?" kilah Kenzie.
"Tadi siang, kamu gak kasih tau mama kalo kamu lagi hamil."
Lara mendekat kearahnya, duduk di samping Kenzie.
"Udah berapa bulan sayang?"
"3 bulan ma," bisik Kenzie, sembari melirik kearah kamar.
Kebetulan setelah Kenzie pulang sekolah, bundanya langsung menariknya ke dokter kandungan tanpa sepengetahuan Gavin.
Awalnya Kenzie malu datang ke dokter kandungan memakai seragam sekolah. Tapi sayangnya, Kenzei lupa bundanya hampir sama dengan suaminya. Pembohong besar, dan pemain drama yang terbaik.
"Kamu gak boleh kecapean yah,"
"Iya ma,"
"Oh, iya. Kalian berdua bulan madu nya dimana?" tanya Lara heboh, di ikuti bunda nya duduk di kursi yang lain.
Spontan wajah Kenzie memerah bak kepiting rebus, sembari mengumpat di dalam hati.
Emang sejak kapan mereka berdua bulan madu? yang ada malam pertama di kampung orang, di rumah orang, dan tempat tidur yang berisik. Tidak ada romantis-romantisnya sama sekali, yang ada lumpuh sementara.
"Kita bulan madu di Bali, iya Bali."
Kenzie tertawa kecil, dengan wajah kesal dan mengumpat suaminya di dalam hati.
Gavin yang mendengar pembicaraan mereka barusan, menahan tawa setengah mati. Kebetulan pembicaraan bulan madu itu masuk kedalam pendegaranya.
Maaf sayang, soalnya kamu terlalu cantik sih jadi orang. Emang siapa yang tahan tidur berdua tanpa bersentuhan. batin Gavin
__ADS_1
_______________
TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)