GAVIN (PERJODOHAN)

GAVIN (PERJODOHAN)
OTAK KENZO TERNODAI


__ADS_3

"BANG GAVIN!" Teriak Kenzo.


Sontak Gavin bangkit dari tempatnya, dengan napas yang memburu, kepala pening, dan bagian bawah yang mengeras sempurna. Gavin pikir terjadi apa-apa, ternyata Kenzo berdiri diambang pintu, menatapnya tajam seakan siap menerkam nya.


S*al, padahal Gavin akan sampai ke intinya. Bahkan mereka berdua sudah tengelam dalam permainan yang ia ciptakan, tapi semuanya runtuh sekejap.


"Bang Gavin ngapain?" Sergah Kenzo.


Gavin hanya mampu mengelengkan kepalanya, beralih menatap istrinya yang terlihat berantakan karena ulahnya.


Dengan sigap Gavin duduk di tepi ranjang, menyembunyikan pakaian dalam istrinya dibalik selimut, seraya menurunkan rok Kenzie dan membantunya bangkit dari tempatnya.


Wajah cantik itu terlihat memerah, bibir mungilnya bengkak, bahkan beberapa bagian tubuhnya sudah tercetak jelas tanda kepemilikan.


Dengan langkah lebar Kenzo mendekat kearah mereka berdua, duduk ditengah-tengah dan memeluk erat tubuh Kenzie.


"Kakak gak papa kan?" Tanya Kenzo khawatir, mendongak kan kepalanya keatas, merapikan rambut panjang Kenzie yang berantakan.


"Kakak gak papa kok," jawab Kenzie lembut, membalas pelukan Kenzo sembari menormalkan detakan jantung dan napas yang masih tersengal-sengal.


"Bang Gavin jahat!"


Sontak Kenzie tertawa kecil, merapikan rambut Gavin yang berantakan karena ulahnya. Sembari menatap wajah tampan itu yang terlihat kesal, dengan bibir tebal mengerucut kedepan dan tatapan sayu.


"Bang Gavin jahat, Abang mau bunuh kakak kan?"


Gavin hanya mengehela napas panjang, mengusap wajahnya gusar bingung harus menjelaskan apa. Tidak mungkin Gavin menjelaskan secara rinci, yang ada otak Kenzo ternodai karena ucapan nya.


Mana tubuhnya lemas, gairah yang memuncak itu membuatnya gerah, dan panas di waktu yang bersamaan. Tanpa merasa berdosa nya, Kenzie malah mengodanya. Mengelus lembut rahang, dan jankunnya yang terlihat naik turun.


"Kakak harus jauh-jauh dari bang Gavin, gimana kalo kakak Kenzie mati? Abang senang?" bentak Kenzo.


Ingin rasanya Gavin melempar Kenzo detik ini juga, melemparnya sejauh mungkin. Jauh dari jangkauan manusia.


"Bocil, kalo kamu gak tau apa-apa. Mending diam!" bisik Gavin tepat ditelinga Kenzo.


"Bang Gavin jahat!"


"Jahat darimana nya? itu simbiosis mutualisme. Ayah juga ngelakuin itu, biar–"


"Gavin!" sentak Kenzie.


"Biar dia tau yang, mana penganggu, sok tau lagi. Bila perlu kita praktekkan langsung di depan Kenzo, biar dia tau."


"Ya Tuhan, kelakuan kamu gak ada yang benar."


Gavin malah mencibir, sesekali mengusap wajahnya gusar.


Kenzo memilih diam, memeluk tubuh Kenzei yang terasa nyaman di peluk. Tidak seperti biasanya, hanya ada tulang.


"Kak, kok perut kakak buncit. Kayak ibu-ibu hamil tetangga kita," terang Kenzo. Menyentuh perut Kenzie yang juga terlihat berbeda dari biasanya.


"Kakak hamil," jawab Kenzie.

__ADS_1


Sontak Kenzo bangkit dari tempatnya, menatap Kenzie dengan tatapan syok, bingung, senang bercampur aduk.


"Serius kakak hamil? suaminya siapa?" tanya Kenzo dengan polosnya.


"Ya Tuhan, ampunilah dosa anak yang satu ini," gumam Gavin. Meraih kemeja putih istrinya, menutupi tubuh bagian atas Kenzie.


Kebetulan Kenzie hanya mengunakan tank top hitam dan rok, yang lainnya sudah Gavin buka tanpa sadar.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kenzo berlalu keluar dari kamar meninggalkan Gavin dan Kenzie menatap punggungnya berlalu keluar dari kamar.


Tak menunggu lama, tubuh kecil itu kembali masuk kedalam kamar. Dengan menunjukkan senyuman lebar kearah Kenzie.


"Kakak belum kasih tau ayah sama bunda yah?" tanya Kenzo, kembali duduk ditengah-tengah. Mengelus lembut perut buncit kakak nya.


"Bentar lagi Kenzo punya adek."


"Sepupu, bukan adek," celetuk Gavin asal.


"Ck, ponakan Vin. Bukan sepupu, kamu gimana sih," omel Kenzie.


"Sama aja yang, sama-sama manusia,"


Kenzie hanya mengelengkan kepalanya, mengelus lembut rambut Kenzo yang terlihat senang mengelus perut buncitnya.


Kebetulan kedua orangtua Kenzei menikah di usia yang matang, jadi bundanya tidak bisa mengandung lagi di usia nya yang sekarang. Kedua mertuanya juga sama, makanya kebelet pengen punya cucu selama ini.


"Ganti baju dulu yah," ujar Gavin, seraya bangkit dari tempatnya mengambil baju ganti mereka berdua dari dalam lemari.


"Nanti lanjut peluk kakak nya, biar kakak ganti baju dulu," ucap Gavin lembut kearah Kenzo, berlalu masuk kedalam kamar mandi di ikuti Kenzei.


"Ck, ngapain?" tanya Kenzie heran, seraya mengelengkan kepalanya.


"Lanjut yuk, bentar aja."


"Gak tau malu, udah ketahuan masih aja sempat-sempatnya mesum,"


"Lah bukan aku yang salah, kenapa marah sama aku?" tanya Gavin tak mau kalah.


"Diam gak! jadi suami gak pernah benar kelakuannya." Omel Kenzie.


______________


Rumah terlihat ramai, lebih tepatnya suara Agatha yang mendominasi. Padahal jam baru menunjukkan pukul 13:00, sejarah pertama kedua orangtuanya pulang lebih awal ke rumah. Biasanya lupa anak sendiri, saking sibuknya bekerja.


Kenzie hanya diam, duduk ditengah-tengah kedua orangtuanya mendengar omelan bunda nya.


"Kamu jangan bandel, kita kedokter kandungan sekarang!" desak Agatha sedari tadi.


"Kenzie gak mau bund,"


"Kamu jangan bandel!"


"Tunggu selesai ujian dulu bund, Kenzie malu,"

__ADS_1


"Emang salah nya dimana? kamu punya suami, bukan nya hamil di luar nikah."


"Tetap Kenzei gak mau," tolak Kenzie, tetap kekeh dengan pendiriannya.


Bahkan maniknya sudah berkaca-kaca, bibir mungilnya melengkung ke bawah.


Gavin hanya diam, duduk di sofa yang lain dengan Kenzo yang sedari tadi menempel dengannya. Padahal beberapa menit yang lalu, Kenzo sempat membentaknya.


Walau sebenarnya Gavin suka dengan tindakan pria kecil disampingnya. Masih kecil, Kenzo sudah berlagak dewasa menyangkut keselamatan kakak nya.


"Ck, bunda pusing ngomong sama kamu," gerutu Agatha.


Sontak Kenzie bangkit dari tempatnya, melangkah mendekat kearah Gavin. Duduk ditengah-tengah Gavin dan Kenzo, memeluk erat tubuh kekar itu dari samping.


"Bunda tukang maksa, gak mikirin perasaan orang," keluh Kenzie.


Spontan mereka semua mengulum senyum, bahkan Kenzo menutup mulutnya menahan tawa yang akan pecah sebentar lagi.


Sontak Agatha menatap tajam kearah Kenzo, mengancam putranya untuk tidak mengeluarkan tawanya.


Kenzie yang dulu dan sekarang, jauh berbeda perbandingannya. Apalagi Kenzo bahan amukan Kenzei selama ini, bisa langsung paham perbedaan Kenzie yang sekarang.


Jangankan menangis, mengadu saja Kenzie jarang. Layaknya manusia yang tidak memiliki hati, padahal sebenarnya menutupi kesedihan sendiri.


"Kita pulang aja Vin, bunda marah-marah mulu sama aku," adu Kenzie.


Gavin hanya mengangguk kan kepalanya, mengelus lembut rambut istrinya dengan senyuman lebar tercetak jelas dibibir tebalnya.


Kelakuan bumil yang satu ini kadang bikin geleng-geleng kepala, kadang harus mengelus dada dan menebalkan telinga mendengar omelan nya.


Sontak ayah Kenzie menyiku lengan istrinya, memberi kode lewat tatapan mata.


"Bunda minta maaf," ucap Agatha lembut.


"Bunda udah minta maaf, jangan nangis!" bisik Gavin lembut tepat di telinga Kenzie.


Siempunya hanya mengangguk kan kepalanya, perlahan melongarkan pelukannya beralih menatap kearah kedua orangtuanya.


Suasana terlihat tenang, hanya Kenzo yang sedari tadi menahan tawa. Hingga bangkit dari tempatnya, berdiri disamping Kenzie.


"Bunda sama ayah tau gak? Tadi bang Gavin mau bunuh kakak Kenzie," terang Kenzo dengan polosnya.


Sontak tubuh keduanya menegang, dengan wajah yang memerah.


"Maksudnya?" tanya Agatha, belum sadar maksud ucapan putranya.


"Bang Gavin gigit leher kak Kenzie, lihat."


Kenzo menyingkap sedikit kaos yang digunakan Kenzie, hingga menampakkan tanda kemerahan yang tercetak jelas di sana.


Sontak manik mereka semua melotot sempurna, wajah Gavin dan Kenzie memerah bak kepiting rebus.


"KENZO!" teriak Agatha.

__ADS_1


____________


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA CERITA INI:)


__ADS_2