
Ken dan Mark sudah kembali latihan di Klub setelah berhasil menjuarai Kejuaraan Badminton di Jakarta.
Siang itu, saat Livi dan teman-temannya baru selesai latihan bersama Jay dan Ryan, Ryan menghampiri Livi yang sedang beristirahat di sisi lapangan.
"Livi, kata Ken sekarang kamu di tunggu di ruang pelatih junior" kata Ryan.
"Oh iya Kak, makasih" kata Livi.
"Sama-sama"
Livi semangat hendak menemui Ken, dia langsung berdiri tapi Ryan memegang tangan nya.
"Ada apa Kak?" tanya Livi heran.
Ryan tak menjawab, dia hanya ulurkan tangan untuk merapikan rambut Livi yang sedikit berantakan. Livi cuma senyum sambil mengerling. "Udah?"
"Apa?"
"Udah rapikan rambutnya?"
"Eh, Iya udah"
"Ya udah, aku nemuin Kak Ken dulu ya" Livi segera menemui Ken di ruang pelatih junior. Ryan cuma bisa menghela nafas.
Sampai di ruang pelatih junior, hanya ada Ken disana. "Hai Oliv" sapa Ken.
"Hai" Livi duduk di samping Ken.
Ken mencubit dagu Livi. "Maaf aku baru balik ke Klub. Masih sibuk ngurusin hadiah kemenangan kemaren. Nyebelin kamu ih! Bikin aku kangen terus! Jadi pengen cepet-cepet latihan sama kamu biar bisa ketemu"
"Sekarang kan udah ketemu sama aku" Livi mengerling. Ken sampai bengong melihat bagaimana cantiknya Livi.
"Oya Oliv, aku pengen minta tolong sama kamu"
"Minta tolong apa?"
"Aku kangen makan lele goreng bikinan Mama ku. Kamu mau kan gorengin lele buat aku?"
"Lele? Apa itu? Nama yang aneh"
"Lele itu sejenis ikan. Sekarang lele nya udah ada di dapur asrama. Barusan aku udah suruh Mbak asrama buat beli di pasar. Kamu tinggal menggoreng nya"
"Ada-ada aja Kak Ken ini!"
"Jadi kamu menolak toh!"
"Iya oke, aku masakin sekarang!"
"Makasih Oliv"
__ADS_1
"Iya nanti kalau udah selesai aku kasih tahu ya"
"Oke, selamat masak ya!"
Livi bergegas ke dapur asrama. "Aduh, beres latihan bukannya mandi malah di suruh masak! Kirain nyuruh nemuin mau ngajak berduaan!" keluh Livi.
Dapur asrama sepi. Mungkin para juru masak sedang beristirahat karena jam makan malam masih lama. Livi menghampiri wastafel, ada kantong plastik hitam yang bergerak-gerak. Livi membuka ikatannya lalu menuangkan isinya ke wastafel. "Ih!!!" Livi memekik! Ia lihat dua ekor ikan lele besar keluar dari dalam kantong plastik! Masih hidup!
"Kok masih hidup?! Gimana motong nya ini?! Serem! Ada kumisnya! Kayak Kak Thony!" kata Livi sendirian.
Livi ambil pisau lalu coba memegang lele itu. Terasa licin tapi keras! Gerakan lelenya juga lincah! Livi susah memegangi nya.
"Dia harus mati dulu baru aku gampang memotong nya! Gimana biar makhluk ini mati ya?" Livi memandang sekeliling nya lalu menemukan ulekan untuk membuat sambal. Livi segera mengambilnya.
"Aku akan bunuh dulu dengan memukul kepalanya!" Livi acungkan tangan nya yang memegang ulekan. Lalu sekuat tenaga memukul kedua lele itu. 'prak!' 'prak!' 'prak!' 'prak!'
"Aw!!!" Livi menjerit saat darah lele muncrat ke wajahnya! Saat itulah Lovely, Angela dan Cecil datang ke dapur. Karena mereka dengar Livi sedang ada di dapur asrama.
"Lagi ngapain kamu Livi?" tanya Lovely. Livi menoleh ke belakang.
"Ya ampun Livi! Wajah kamu berdarah!" seru Lovely panik!
"Bukan! Ini darah ikan lele brengsek!" jerit Livi.
Angela menghampiri lalu melihat ke wastafel.
"Huek!!!" Angela mau muntah melihat dua ikan lele bersimbah darah dengan kepala yang hancur!
"Kamu Apain ikan lele nya? Menjijikkan!" Angela bergidik.
"Aku di suruh menggoreng nya sama Kak Ken! Tadi lelenya masih hidup! Aku bingung memotongnya, jadi aku timpuk dulu pake ulekan! Tapi sekarang kepalanya jadi ancur! Gimana ini?!" Livi bingung.
"Ya sudah. Kita potong-potong aja sekarang. Lalu kita goreng!" usul Cecil.
"Gak mau! Jijik aku! Kepalanya udah hancur!" Livi menggeleng.
"Kak Ken gimana?" tanya Lovely.
"Udah! Kita pesan aja lele goreng online! Suruh antar kesini!" usul Angela.
"Lele yang ini gimana? Kan sayang" kata Cecil.
"Buang aja! Bau amis! Makhluk menjijikkan!" rutuk Livi.
Livi melapisi tangan dengan plastik dan mengambil dua lele itu dari wastafel lalu membuang nya ke tempat sampah!
Angela segera pesan dua ekor lele goreng secara online. "Beres kan?" Angela senyum. "Gitu aja susah! Mending pesen!"
"Ada-ada saja Kak Ken itu! Menyuruh kamu menggoreng benda menjijikkan itu" kata Lovely.
__ADS_1
"Sekarang tinggal tunggu pesanan datang! Cecil, kamu tungguin di depan gerbang sana!" kata Livi.
"Siap!" Cecil segera pergi ke gerbang.
Pesanan datang. Livi segera merapikan meja makan di ruang makan asrama lalu menghubungi Ken. Tak lama Ken datang bersama Mark.
"Wah! Lele goreng! Asyik nih!" seru Mark.
Livi menyendokan dua piring nasi lalu menemani Ken dan Mark makan. Keduanya makan dengan lahap.
"Enak juga Oliv" kata Ken senang.
"Iya dong!" seru Livi bangga.
Selesai makan, Ken mencuci tangannya di wastafel. Sementara Mark sudah pergi duluan karena makan pakai sendok.
Sialnya, Ken tak sengaja melirik ke tempat sampah dan melihat dua bangkai lele! "Oliv! Itu apa toh?!" tanya Ken.
"Mati aku!" batin Livi menyadari kekeliruannya tak membungkus dulu bangkai lele itu! "Itu..."
Livi tak bisa menjawab.
Ken melotot! "Keterlaluan kamu Oliv! Kamu membuang dua lele itu ya?! Itu kan boleh beli! Terus yang aku makan tadi apa?! Kalau kamu gak bisa bilang saja! Bukannya kamu buang seperti itu toh! Dasar nakal kamu!"
"Maaf Kak Ken, udah sore.... Aku mau mandi dulu ya" kata Livi seolah tak bersalah lalu bergegas pergi dari hadapan Ken!
"Hey Oliv! Tunggu! Aku belum selesai ngomong!" seru Ken tapi Livi kabur.
Ken geleng-geleng kepala. "Dasar Oliv! Kalau dia gak mau masak ya jangan di bunuh terus di buang gitu toh! Berarti lele yang tadi ku makan dia pesan dari restoran!"
Akhirnya Ken memberikan dua lele itu pada Mbak asrama yang tentu saja dengan senang hati menerima nya.
Pada keesokan harinya, Livi bertemu Ken saat jam latihan siang. Ken terus cemberut dan melotot.
"Bodo amat!" batin Livi tanpa merasa bersalah.
"Di luar sana, masih banyak orang miskin yang makan cuma pakai garam! Jadi kalian harus bersyukur mendapatkan makan enak setiap hari! Bukannya malah membuang-buang lauk!" kata Ken menyindir Livi.
Semuanya jadi bingung. Ini pelajaran Badminton atau keagamaan sih? Cuma Livi yang bete karena merasa tersinggung!
Mark menghampiri Livi. Mark sudah dengar dari Ken tentang insiden ikan lele yang dia makan bersama Ken kemarin.
"Livi, nanti kalau kamu udah resmi jadi pacar Ken, kamu akan lebih banyak di suruh masak yang aneh-aneh sama dia! Ken itu sukanya landak! Belut! Cobra!" kata Mark menggoda Livi.
"Apa!?" Livi melonjak kaget!
"Jangan-jangan tahi lalat nya yang banyak di wajahnya itu karena suka makan binatang yang aneh-aneh" celetuk Cecil.
"Lebih baik aku punya pacar cowok lain aja!" kata Livi.
__ADS_1
Tanpa sadar ucapan Livi itu terdengar oleh Thony. " Yess! Masih ada harapan!" batin Thony.