
Livi menghela nafas. Saat ini dia cuma berdua dengan sahabat terbaik nya, Lovely. Saat nya Livi untuk mencurahkan isi hati nya.
"Aku juga harus berfikir lagi untuk meneruskan perjodohan ku dengan Kak Ken. Aku mulai ragu. Jangan-jangan dia hanya menganggap ku adik kecil dan tidak sungguh-sungguh mencintai aku" kata Livi "Dan kamu tahu Lovely? Selama ini Kak Ryan yang selalu menemani ku. Dia selalu ada waktu untukku. Karena aku sering di titipkan pada Kak Ryan oleh Kak Ken. Kadang-kadang aku merasa mulai menyukai Kak Ryan. Dia begitu manis. Waktu di gunung salak itu dia tidak pernah meninggalkan aku sedikitpun. Dia menggandeng tangan ku. Membelai rambut ku. Memapah tubuh ku"
Lovely nyengir "Sahabat jadi cinta dong?!"
"Aku gak tau bagaimana perasaan ku pada Kak Ryan. Yang jelas aku mulai nyaman dengan kehadiran nya disisi ku"
Keesokan harinya suasana di tempat latihan sepi. Karena beberapa atlet berangkat ke Newzealand untuk menjalani turnamen disana. Tapi menjelang siang suasana jadi ramai karena Mark kembali datang seusai liburan nya bersama tunangannya, Amel.
"Hai adik-adik!" sapanya ramah.
"Hai...!!!" semuanya semangat.
Walaupun sudah bertunangan. Mark tetap idola bagi semua. Cecil apalagi! Dia menghambur memeluk Mark!
"Kak Mark, aku kangen!" seru Cecil.
Mark tersenyum lalu mengacak rambut Cecil. Baginya semua adalah adik.
Ken juga ada disana. Usai latihan Ken menghampiri Livi.
"Oliv, maafin aku malam enggak main ke rumah kamu. Aku makan malam bareng kakak ku, Mas Nico" kata Ken sambil membelai rambut Livi.
"Bodo!" kata Livi cuek sambil minum sebotol minuman dingin.
"Marah ya? Atau kangen sama aku?" tanya Ken lalu iseng menarik karet rambut yang mengikat rambut Livi. Sampai rambut Livi terurai ke punggung.
"Ih! Apaan sih! Gerah tahu!" Livi berusaha mengambil ikat rambut nya dari tangan Ken. Tapi Ken malah menyembunyikan di belakang tubuhnya.
"Lucu juga gitu" Ken mencubit pipi Livi.
"Iya! Aku lucu! Kayak Oliv kan?!"
"Bener banget! Aku jadi Popeye nya! Hahahaha" Ken terbahak. Semenjak ada Livi Ken memang berubah dari seorang cowok dingin menjadi sering tersenyum dan tertawa.
Livi terpaksa membiarkan rambutnya terurai.
"Cantik, kita makan siang bareng yuk!" ajak Ken.
"Gak mau! Aku lagi puasa!" tolak Livi.
"Puasa?! Puasa apa toh?! Barusan kan kamu minum minuman dingin?"
__ADS_1
Livi ambil tasnya lalu bangkit berdiri "Aku lagi puasa makan siang bareng Ken!" kata Livi ketus lalu beranjak pergi.
Ken jadi bingung. Gak biasanya Livi ketus begitu.
'Jangan-jangan anak kecil itu lagi haid' fikir Ken.
Sementara itu, Thony segera menyusul Livi.
"Livi...!!! Tunggu!" seru Thony.
Livi menoleh "Ada apa?!"
"Ini untuk mengikat rambut kamu" Thony serahkan sebuah karet gelang.
Livi mengambil karet itu. "Makasih Kak Thony"
"Sama-sama hehehe" Thony terkekeh.
Tapi Livi malah menjepret karet itu ke lengan Thony! Thony pun terpekik karena kaget dan sakit! Livi kabur sambil cekikikan!
*******
Seminggu berlalu, Livi tetap cuek pada Ken. Ken benar-benar bingung! Sebenarnya Livi kenapa?! Livi tak pernah mau cerita. Lovely dan Angela juga tutup mulut karena di larang oleh Livi untuk cerita apapun pada Ken.
"Lho! Kok nyuruh aku sih?! Ini masalah pribadi kamu sama Livi! Aku gak mau masuk terlalu jauh dalam kehidupan kalian. Kamu tanya saja sendiri pada Livi. Kenapa akhir-akhir ini dia ketus sama kamu" kata Ryan.
"Livi gak mau cerita! Livi kan dekat dengan kamu! Coba kamu tanya padanya!" rajuk Ken.
Ryan menghela nafas "Ya sudah! Nanti aku coba tanya"
Ryan jadi bimbang. Bagaimana dia bisa menjauhi Livi?! Semenjak pulang dari gunung salak itu Livi malah makin dekat dengannya! Ken juga yang memberikan peluang!
Ken mulai aktif di perkumpulan Jetsky dan kadang tidak ada waktu untuk menemani Livi pergi les. Saat itulah Ken malah meminta Ryan untuk menemani Livi! Karena bagi Ken, Ryan adalah sahabat terdekat nya. Di asrama juga mereka satu kamar.
Ryan jadi semakin terjatuh dalam perasaanya sendiri! Dia sudah tidak bisa membohongi dirinya sendiri lagi! Ryan benar-benar jatuh cinta pada Livi!
*********
Jo juga bertemu lagi dengan Lovely. Jo agak kurusan. Seminggu di Newzealand Jo selalu berusaha untuk menghubungi Lovely tapi Lovely jarang membalas.
"Hai apa kabar My love sayang" sapa Jo saat bertemu Lovely di koridor sekolah.
Mereka bersalaman. Jo sangat merindukan Lovely begitu juga Lovely. Tapi Lovely berusaha menutupi perasaan nya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Kak Jo selamat ya jadi runer up di Newzealand!" seru Lovely.
"Iya. Aku juara kedua" kata Jo.
"Gak papa, juara kedua juga keren! Lumayan kan hadiah nya! Buat ajak Gilsha beli cincin!"
"Ya Tuhan Lovely... Apa perlu kamu meledek aku seperti itu?... Jangan sindir terus aku seperti itu... Kamu juga pasti tahu... Aku cuma menginginkan kamu!"
Jay muncul lalu mencolek bahu Lovely.
"Hai Non sayang. Apa kabar?" sapa Jay.
"Hai Aa Jay! Aku baik. Gimana kabar Aa Jay?!" pekik Lovely dengan nada yang di lebih-lebih kan.
Jo menghela nafas menahan emosi! Saat ini Jo tahu. Lovely sedang ingin jauh dari nya. Jo harus bersabar. Kalau Jo sampai memukul Jay lagi. Lovely pasti akan tambah menjauh.
"Aa sehat. Tapi Aa hanya melaju sampai perempat final" kata Jay.
"Keren kok!" kata Lovely.
"Aa kangen banget sama kamu Non"
"Aku juga kangen perhatian Aa Jay. Aa Jay selalu ada di saat aku sedih dan tertekan. Saat aku kesusahan, Aa selalu menatapku dengan kasih sayang. Tanpa meminta balasan apapun dariku atau berbuat macam-macam padaku"
Jay mengusap bahu Lovely. "Aa sayang kamu Love... Melihat kamu tersenyum adalah kebahagiaan buat Aa!"
Jo mencibir! Dia tahu Jay dan Lovely sedang menyindir dan memanas-manasi nya!
"Ya sudah! Aku duluan ya Lovely" kata Jo lalu meninggalkan Lovely dan Jay.
"Gimana Non? Mau terima cinta Aa?" tanya Jay sambil meraih jemari Lovely. Mata Jay menatap lembut.
"Maaf Aa Jay.. Aku belum berani bilang sama Mama... Sama Mama dan Papa Kak Jo juga... Walau sebenarnya aku sudah tidak nyaman dengan Kak Jo. Pelukan nya kasar! Cemburuan juga!"
"Ya sudah. Gak papa. Fikir-fikir dulu aja ya. Aa gak maksa kok"
"Makasih ya..."
Hari-hari di bulan Mei pun berlalu. Lovely selalu melewati bersama Jay. Latihan, makan, jalan-jalan, pergi les.
Jo pun mulai putus harapan dan mulai tidak semangat lagi untuk menjalani hidup nya.
Kasihan Jo...
__ADS_1