Girl Love Story'

Girl Love Story'
BAB 52 : Sepasang Pendaki


__ADS_3

Ryan melirik jam tangannya "Vi, udah 15 menit sejak Delia dan Aura turun gunung. Sekarang ayo kita berangkat" kata Ryan.


"Iya Kak" kata Livi lalu lebih dulu memeluk Lovely. "Aku duluan ya Lovely. Kamu hati-hati nanti"


"Iya. Kamu juga hati-hati ya Livi" kata Lovely.


Livi pun turun gunung bersama Ryan. Tinggalah Lovely bersama Jay di puncak. Ini adalah kali kedua Lovely hanya berdua saja dengan Jay. Sebelumnya Lovely pernah di bonceng Jay dengan motornya sehingga membuat Jo marah.


Jay menggeser duduknya mendekati Lovely.


"Kalau kamu tahu kita turun berdua. Bagaimana kalau kita turun berempat saja bersama Livi dan Ryan? Kita susul mereka. pasti mereka belum begitu jauh. Kamu mau Neng?" tanya Jay.


"Gak papa. Kita turun nanti saja. Menurut peraturan. 15 menit lagi" kata Lovely.


Jay tiba-tiba teringat bunga yang ia dapatkan saat pertunangan Mark. Jika saat ini dia berpasangan dengan Lovely. Dan kini hanya berdua saja dengan gadis itu. Apa semua ini ada hubungannya dengan bunga pertunangan Mark waktu itu?! Apa lagi-lagi alam semesta berkonspirasi?


15 menit berlalu. Jay menggendong ranselnya. "Sudah 15 menit. Ayo Lovely, kita turun gunung sekarang"


"Iya" Lovely segera gendong ranselnya juga.


Jay jalan duluan. "Jangan jauh-jauh di belakang Aa ya Neng! Harusnya Aa menggandeng tangan mu. Tapi Aa sudah berjanji pada 'kekasih mu' untuk tidak menyentuh mu!"


Mendengar itu, Lovely hanya diam. Dia faham kalau Jay pasti jengkel pada Jo. Jay pun mulai melangkah. Sesekali dia menengok kebelakang untuk memastikan kalau Lovely ada di belakang nya. Jay takut Lovely tertinggal jauh darinya.


*********


Tepat pukul 12 siang. Delia dan Aura sampai di pos 4. Delia tiba-tiba terfikir kalau Livi dan Ryan ada di urutan belakang nya. Bagaimana kalau arah panah di pos 4 dia rubah saja arahnya agar Livi dan Ryan tersesat?!


Nanti Ken pasti akan marah kalau Livi hilang bersama Ryan! Pasti akan sangat menyenangkan! Livi sudah terlalu banyak mengambil perhatian Ken! Bahkan Ken sampai tega menyakiti hati Delia kalau Ken hanya berselera pada gadis seperti Livi! Ken hanya menganggap Delia rongsokan! Sampai kapanpun Delia tidak akan pernah melupakan hal itu!


"Jam 12 siang. Kita shalat dhuhur dulu yuk?!" ajak Aura pada Delia.


"Aku gak bawa mukena Kak. Kak Aura saja yang shalat. Aku tunggu disini" kata Delia.


"Ya sudah" Aura segera menjalankan shalat dhuhur. Sementara Delia dengan iseng merubah arah panah di pos 4!


30 menit kemudian Livi dan Ryan sampai di Pos 4. Ryan shalat dhuhur dulu sementara Livi mencoba menelpon Ken tapi tidak ada sinyal. Selesai shalat dhuhur Ryan mengajak Livi makan siang dengan bekal yang mereka bawa.


"Tinggal 3 pos lagi. Apa kamu lelah Vi?" tanya Ryan.


"Enggak, aku masih kuat kok! Aku kan women strong!" jawab Livi lalu mengerling manja pada Ryan.

__ADS_1


Ryan tersenyum sambil menatap Livi. Livi juga jadi berdebar-debar. Sahabat karib Ken ini benar-benar manis! Uwwu seperti permen yupi!


Selesai makan siang, Livi dan Ryan meneruskan perjalanan lagi ke arah barat! Tanpa mereka tahu arah panah sudah dirubah oleh Delia! Padahal seharusnya mereka melanjutkan perjalanan ke arah timur!


Satu jam kemudian jalan setapak yang Livi lalui bersama Ryan menjadi semakin gelap! Pepohonan disana sangat rapat hingga tak tertembus cahaya matahari. Ryan mulai merasa ada yang tidak beres!


"Stop dulu Vi! Ini aneh!" kata Ryan.


"Aneh gimana Kak?" kata Livi.


"Jalannya makin gelap! Pohon-pohonnya makin rapat! Gak tembus cahaya matahari sama sekali! Sudah satu jam sejak meninggalkan pos 4! Harusnya kita sudah sampai di pos 5 sekarang! Coba kamu ingat-ingat Vi! Saat kita naik gunung kemarin suasananya tidak segelap ini!"


"Tapi tadi di pos 4 arah panah nya menunjukkan ke arah barat kan?!"


"Iya sih. Dari tadi juga aku liat kompas"


"Gimana dong Kak Ryan!" wajah Livi memucat!


Ryan coba membuka google untuk mencari petunjuk. Tapi tidak ada sinyal!


"Gimana ya?! Apa kita balik ke pos 4 lagi saja ya?! Atau kita lanjut terus ke barat?" Ryan bingung.


"Mending kita balik aja ke pos 4 Vi. Mungkin saja nanti kita ketemu Lovely dan Jay di jalan"


Ryan coba putar arah menuju kembali ke pos 4. Tapi dia dan Livi malah makin jauh masuk ke dalam hutan! Suasana pun menjadi semakin gelap! Terdengar suara petir! Hujan pun mulai turun rintik-rintik.


"Gawat! Sepertinya kita tersesat Vi!" kata Ryan panik sambil melirik ke jam tangan nya. Sudah menunjukkan pukul 5 sore!


"Gimana dong Kak Ryan! Harusnya kita sudah sampai di pos 1 dan berkumpul bersama teman-teman!" Livi juga panik.


"Aku tidak takut tersesat! Masalahnya kamu! Aku gak mau terjadi sesuatu sama kamu Vi!" kata Ryan.


"Aku juga tidak mau terjadi sesuatu sama Kak Ryan!" kata Livi.


Hati Ryan bergetar hebat! Dia menatap lembut Livi lalu mengusap rambut Livi.


Ryan menarik tangan Livi untuk duduk berdua di tanah. "Kita istirahat dulu saja Vi. Kalau memaksakan jalan juga nanti malah makin tersesat"


"Udah mau Maghrib Kak Ryan. Pasti yang lainnya khawatir kita belum sampai di pos 1"


"Iya, menurut Om Daryadi harusnya kita akan sampai di kaki gunung sekitar pukul 5 sore ini. Jay dan Lovely sampai pukul setengah 6. Lalu kita semua pulang ke Jakarta. Kalau kejadian nya jadi begini. Terpaksa kita malam ini menginap dulu disini"

__ADS_1


Hujan turun makin deras! "Hujan nya membesar Vi! Ayo kita cari tempat berteduh!" Ryan menggenggam tangan Livi lalu membawa nya berlari-lari di hutan. Livi membiarkan tangannya di genggam erat oleh Ryan. Hari sudah sangat gelap dan hujan turun deras. Bahaya kalau mereka sampai terpisah!


Akhirnya Livi dan Ryan sampai di sebuah gubuk tua yang sudah reyot. Ada sungai kecil mengalir di samping kanan gubuk. Ryan dan Livi sudah basah kuyup karena kehujanan.


Ryan menyalahkan senter HP nya.


"Kotor banget gubuk nya" keluh Livi.


"Sepertinya sudah lama gak di pakai. Mungkin dulu bekas tinggal petani atau penebang kayu" kata Ryan.


Ryan membuka ranselnya dan mengeluarkan baju dan sarung. "Kita basah kuyup Vi. Ganti baju dulu! Aku sekalian mau shalat dulu" kata Ryan lalu langsung saja membuka bajunya yang basah.


Livi merasa wajahnya panas lalu langsung membuang muka! Dalam gelap tubuh Ryan tampak bersinar!


Sementara Ryan menjalankan shalat Maghrib.


Livi ganti baju di belakang Ryan. Usai shalat Maghrib Ryan menyalakan api unggun. Sarung nya di hamparkan di lantai gubuk.


"Ayo Vi. Kita berdua duduk di atas sarung ini saja" kata Ryan.


"Iya Kak" Livi dan Ryan duduk berdua di atas sarung "Sudah pukul 7 malam. Semua pasti khawatir apalagi Kak Ken" kata Livi.


Tapi saat ini tidak ada Ken! Yang ada hanyalah sahabat karib Ken, Ryan!


dan ingin jadi kompas mu


ketika kau hilang arah


dan ingin jadi sentermu


menuntun mu dalam gelap


dan ingin jadi tendamu


melindungi mu dari badai


lalu ku nyalakan api unggun


untuk hangatkan jiwamu


Fiersa Besari - sepasang pendaki

__ADS_1


__ADS_2