Girl Love Story'

Girl Love Story'
BAB 73 : Pulang Kampung


__ADS_3

Lovely pergi ke Singapore bersama Jo. Sementara Jay pulang ke Bandung mengendarai mobil barunya dengan hati yang luka parah. Sepanjang perjalanan air matanya tumpah bercucuran.


Jay seperti sedang bermimpi. Lovely meninggalkan nya. Pergi jauh dan hanya menitipkan perih....


Tadi Jay masih berharap saat dia menyerahkan tiket pesawat ke Singapore untuk menyusul Jo Lovely akan menolak dan memilih ikut Jay pergi ke Bandung. Tapi kenyataannya berkata lain...


Tahun-tahun yang lalu. Jay pulang kampung masih menggunakan motor. Sekarang dia sudah membawa mobil sendiri. Tapi hatinya terasa ada yang berbeda. Sekarang ada luka...


Sampai di rumahnya. Jay bersimpuh di kaki orang tua nya. Minta maaf karena besok sudah memasuki bulan suci Ramadhan. Jay menangis haru. Bukan cuma karena hatinya bersedih, Jay merasa banyak kesalahan dan terlalu sibuk di Jakarta sehingga tidak bisa sering pulang untuk mengunjungi keluarga nya. Jay juga sedih karena tidak bisa membawa Lovely...


Bapak memeluk Jay. "Jangan nangis Jay. Ada apa?" tanya bapak.


"Maaf Jay jarang pulang Pak..." kata Jay.


"Gak apa-apa Jay. Jay sudah berjuang demi negara. Bisa menang di berbagai kejuaraan. Bapak bangga sama Jay!"


"Nyaman masih sewaktu jadi anak SMA Pak. Sekarang mah rumit..."


Jay masuk kamarnya. Duduk di jendela balkon kamarnya sambil melamun. Hujan turun dengan derasnya. Segalanya seperti mimpi. Jay yang biasanya bersama Lovely kini menjalani hari sendiri. Tapi perasaan Jay takkan pernah berubah.


Hujan yang turun deras mengingatkan Jay saat berdua bersama Lovely di gunung salak. Saat mereka tersesat dan Lovely ada dalam pelukannya. Hujan pernah menahan Lovely dalam dekapan Jay.


3 minggu ini Lovely selalu bersama nya. Tersenyum, menangis, tertawa.


Lovely yang cantik. Lovely yang manis. Lovely yang cengeng. Lovely yang wangi bayi...


Satu tangan kecil mengusap air mata di pipi Jay. Tercium wangi segar bayi! Jay tercekat dan menoleh.


"Fadly" Jay mendapati keponakan nya yang lucu.


"Amang (Om) nangis?" tanya Fadly yang baru berusia 4 tahun itu.


"Enggak sayang, mata Amang kelilipan" Jay berdusta. Fadly meniup-niup mata Jay. Dengan perasaan haru Jay memeluk Fadly erat-erat.


"Makasih Fadly. Amang sayang kamu"


"Fadly juga sayang Amang. Kita turun yuk?! Kita makan bersama. Besok kan udah mau puasa"


Ibunya Jay masuk kamar. Ibunya melihat putra bungsu nya yang menangis. "Jay, kita makan dulu yuk?! Semua sudah menunggu kamu" kata Ibu.

__ADS_1


"Iya Bu, sebentar" kata Jay. Ibu tahu Jay bersimbah air mata. Di peluknya Jay agar bersandar di bahunya.


"Ada apa Jay? Kamu nangis terus?"


Jay tak tahan. Dia menangis tersedu-sedu di bahu Ibu. Ibu langsung membelai-belai rambut Jay. "Cerita sama Ibu, Jay"


Dengan tersendat dan bersimbah air mata Jay mulai bercerita. "Tadinya Jay mau pulang kampung sambil bawa cewek Bu. Sepulang dari gunung salak Minggu lalu, dia selalu ada bersama Jay. Dia selalu nemenin Jay. Jay sayang sekali sama dia Bu. Bogoh pisan (Cinta banget)!" Cerita Jay. "Tapi tadi pagi... Dia ninggalin Jay! Dia pergi ke Singapore sama orang lain! Jay sakit hati Bu! Tega sekali dia sama Jay!"


"Sabar Jay... Mungkin belum jodoh nya kamu" kata Ibu.


"Tapi Bu. Selama ini di nyaman dan seneng sama Jay! Dia bilang dia butuh Jay! Dia sayang sama Jay! Saat dia sedih, Jay yang ada untuk menghiburnya. Saat Jay melihat orang-orang menekan nya, Jay ada di garis terdepan untuk membela nya! Jay rela sakit untuk dia! Tapi di saat-saat terakhir dia memilih ikut dengan orang lain yang cuma bisa nuntut dan merepotkan dia! Andai saja dia jadi Jay sebentar saja Bu... Dia gak akan sanggup terluka seperti ini... " Air mata Jay mengalir semakin deras.


Ibu pun ikut meneteskan air mata.


"Udah. Sekarang Jay wudhu, Shalat, trus dzikir. Udah itu kita makan ya?"


"Iya Bu..."


"Jay kuat! Jay harus kuat! Nanti kan minggu depan Jay mau ikut kejuaraan Asia. Jay gak boleh sakit! Besok mau puasa! Tunjukkan sama cewek itu, kalau Jay akan baik-baik saja!"


"Insya Allah Bu... Makasih Bu... Cuma ibu yang ada saat Jay sedih dan terjatuh"


"Tapi kenapa dia lebih dulu meninggikan Jay sebelum akhirnya meninggalkan Jay? Jay ingin membenci dia Bu... Tapi tidak bisa... Jay malah membenci diri Jay sendiri karena tidak bisa membencinya..." desah Jay pelan.


"Mungkin dia tidak pernah mencintai kamu Jay. Dia cuma bersama kamu kalau dia merasa sedih saja" kata Ibu.


"Iya Bu... Hanya cinta Ibu yang kekal untuk Jay. Ibu mencintai Jay bahkan sejak Jay masih di dalam kandungan"


Ibu tersenyum. Tangis Jay sudah berhenti.


"Jay. Bagaimana dengan Fitri? Dia selalu menanyakan tentang kamu" kata Ibu lagi.


"Fitri... Ah biarkan saja Bu"


"Kamu tidak ta'aruf lagi sama dia?"


Jay menghela nafas panjang. Dulu saat di bangku SMA. Jay dekat dengan adik kelas nya yang bernama Fitri. Fitri memang gadis terpopuler di SMA dan gadis itu jatuh cinta pada Jay yang adalah ketua OSIS di SMA itu.


Sampai tiba saat Jay lulus SMA dan mendapat panggilan untuk menjadi atlet di klub badminton di Jakarta. Jay pamit pada Fitri dan Fitri menanyakan status hubungan mereka.

__ADS_1


Jay suka Fitri. Walau selama bersama dia belum pernah mengatakan kata cinta, Jay hanya merasa dekat dan dia tidak hanya melewati waktu berdua dengan Fitri. Ada Hadi juga di antara mereka. Kemana-mana mereka bertiga bahkan Jay membawa Hadi dan Fitri saat ada acara keluarga. Hadi adalah teman sekelas Jay di SMA


Saat itu Jay tidak mengerti apa yang di namakan cinta. Dia merasa tidak akan bisa dekat dengan gadis lain selain Fitri. Jay berkata "Kita jalani saja dulu. Kita ta'arufan. Kalau nyaman, nanti sekitar 4-5 tahun kita halal-in aja"


Tapi ternyata Fitri mulai tak sabaran menjalani hubungan jarak jauh. Dia mulai sering menanyakan dan menuntut. Kapan Jay pulang?! Kapan Jay pulang?! Hanya itu yang ditanyakan Fitri jika mereka berkomunikasi.


Jay mulai merasa tidak nyaman. Ini bukan SMA lagi! Jay harus meniti karir dari bawah sehingga dia menjadi atlet hebat seperti sekarang ini. Dan itu butuh waktu dan proses. Sampai Jay kehilangan waktu untuk keluarga.


Jay mulai menjauhi Fitri. Tidak pernah perhatian atau komunikasi lagi. Hanya lewat Instagram kadang Fitri menuliskan keluh kesahnya agar Jay bisa membacanya.


Tapi Jay malah semakin jauh dan tidak perduli lagi.


"Jay tidak pernah berjanji apapun sama Fitri Bu. Biarkan saja" kata Jay.


Lovely telah datang dan mengubah segala rencana.


Lovely yang terbaik juga terburuk.


Lovely yang mengajari arti jatuh hati.


Lovely juga yang mengajari arti patah hati.


Lovely yang beri harapan lalu pergi.


aku benci caramu


meninggikan diriku


aku benci caramu


meninggalkan diriku


aku benci melihat


kau bahagia tanpaku


dan yang paling ku benci


adalah ku tak bisa membenci mu

__ADS_1


Fiersa Besari - Obsesi


__ADS_2