Girl Love Story'

Girl Love Story'
BAB 54 : Mencari Jalan Pulang


__ADS_3

"Lovely... Aku mencintaimu... Sangat mencintaimu..." itulah kata yang tadi malam Jay bisikan di telinga Lovely. Tapi Lovely tidak mendengarnya. Lovely sudah tertidur dalam pelukan Jay. Malam makin merambat dan Jay pun akhirnya ikut tertidur. Bersandar di dinding goa dengan posisi Lovely tidur dalam pelukannya.


Paginya Lovely terbangun saat cahaya matahari pagi memasuki goa. Saat tersadar Lovely ada dalam pelukan Jay. Lovely segera menjauh dengan wajah bersemu merah. Jadi semalaman dia tidur dalam dekapan Jay?!


Lovely membuka switer dan kupluk yang dipakaikan Jay padanya tadi malam. Rasanya ingin dia buka juga baju dan celana Jay yang ia pakai kalau saja bajunya sendiri tidak basah kuyup. Lovely mengeluh. Tubuhnya lemas dan demam.


Jay ikut terbangun. Dia lihat Lovely sedang melipat sarung dan switer miliknya. Jay mengambilnya dan memasukan nya ke dalam ransel.


"Kak Jay, makasih ya. Kamu pinjami aku sarung, switer dan pakaian. Kalau tidak mungkin tadi malam aku sudah mati karena kedinginan" kata Lovely.


"Iya sama-sama Lovely"


Lovely mengeluarkan semua sisa bekal makanan di ranselnya lalu dimakan bersama Jay.


"Bagaimana kita sekarang ya?! Kita tersesat seperti ini. Jo mu pasti sudah panik ini!" kata Jay.


Lovely diam. Dia juga teringat akan Jo. Benar apa kata Jo. Sebaiknya acara lintas alam ini di batalkan saja. Bagaimana Lovely dan Jay pulang sekarang?! Tubuhnya terasa lemah dan demam.


"Neng, apa kamu masih kuat berjalan?" tanya Jay.


"Aku rasanya tidak kuat Kak. Tubuhku lemas dan demam" jawab Lovely.


"Kita lanjutkan perjalanan. Aa gendong kamu ya?!"


"Jangan! Nanti Kak Jo marah!"


"Saat ini kamu harus memikirkan keselamatan kamu! Jo urusan belakangan!"


Lovely terdiam sebentar. Tapi akhirnya mengangguk. "Ya sudah. Terserah Kak Jay saja"


Jay bereskan ranselnya lalu coba menggendong tubuh Lovely. Tidak begitu berat. Jay lalu mulai melangkah perlahan.


Sepanjang perjalanan Lovely tidak berani menatap Jay! Lovely takut terbawa perasaan akan semua perhatian dan perlakuan Jay padanya.


Untungnya di tengah jalan Jay bertemu seorang kakek pencari kayu bakar.


"Alhamdulillah!" seru Jay lalu memanggil sang kakek yang sedang berjalan tak jauh di depan nya.


"Punten Aki! Antosan sakedap!" (Maaf Kek, tunggu sebentar!)


Kakek itu menoleh "Aya naon?!" (Ada apa?!)

__ADS_1


"Abdi nyasab sareng rerencangan. Punten tulungan abdi hoyong bisa turun gunung Ki. Abdi nuju ngadaki gunung sareng rombongan" (Saya tersesat bersama teman. Tolong saya agar bisa turun gunung Kek. Saya sedang mendaki gunung bersama rombongan)


"Oh... Timana kitu?!" (Oh dari mana gitu?)


"Ti Jakarta" (Dari Jakarta)


"Eta bisa basa Sunda?" (Itu bisa berbahasa Sunda?"


"Abdi asal Bandung Ki" (Saya berasal dari Bandung Kek)


"Oh hayu atuh tuturkeun! Aki ge Bade ka kaki gunung!" ( Oh ayo ikuti! Kakek juga mau ke kaki gunung)


"Turnuhun pisan Ki" (Makasih banyak Kek)


Sang kakek melirik pada Lovely yang di gendong Jay "Eta saha? Mani bule kitu! Mani geulis kitu! Kabogoh maneh?!" (Itu siapa? Putih sekali! Cantik sekali! Pacar kamu?!)


"Sanes Ki, nembe rerencangan. Ieu teu kiateun mapah deui. Awakna panas. Kamari kahujanan" (Bukan Kek, baru bersahabat. Dia sudah tidak kuat berjalan lagi. Badannya panas. Kemarin kehujanan)


"Oh karunya teuing! Hayo atuh gancangan ameh geura nepi!" (Oh kasihan sekali! Ayo segera agar cepat sampai)


Jay mengikuti kemana Kakek itu berjalan menuju kaki gunung. Dalam hati Jay tak berhenti bersyukur karena mendapat pertolongan.


Jay menatap Lovely yang tertidur dalam gendongan nya "Kita akan segera sampai Love... Tersenyumlah... Sebentar lagi kamu akan bertemu dengan Kak Jo mu" bisik Jay.


*********


Di tengah jalan tiba-tiba Livi berteriak kesakitan "Aduh!!!" lalu Livi jatuh tersungkur!


"Kenapa Vi?!" Ryan panik lalu jongkok di sisi Livi.


"Kaki ku sakit! Ada yang menyengat Kak!"


Ryan memeriksa kaki Livi. Ternyata ada seekor kelabang yang menyengat kaki Livi! Tepat di betisnya! Ryan segera menyingkirkan kelabang itu dari betis Livi dan menginjak nya! Lalu tanpa merasa jijik Ryan menghisap betis Livi yang bengkak!


"Awh..." Livi berteriak karena merasa sakit dan geli.


Beberapa kali Ryan menghisap betis Livi lalu melepeh darahnya.


Livi menangis kesakitan. Ryan merangkul bahunya. "Udah Vi, racun nya sudah aku hisap tadi" kata Ryan.


"Bagaimana kalau nanti Kak Ryan keracunan?!" Livi khawatir.

__ADS_1


"Enggak. Aku sudah berkumur barusan"


"Kaki ku sakit... Aku gak bisa berjalan lagi... Kak Ryan pergi saja! Tinggalkan aku disini!"


Ryan menggeleng "Aku akan menggendong mu! Ayo kamu naik ke punggung ku! Aku tidak akan meninggalkan kamu sendiri disini! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan mu! Aku berjanji! Mati hidup kita tetap bersama!"


Livi bengong sejenak. Kok Ryan jadi berlebihan begitu? "Kok kamu baik banget sama aku?!" tanya Livi.


Ryan sadar karena sudah terbawa perasaan. "Eh anu... Kamu kan kekasih Ken, sahabatku. Ken sudah menitip kan kamu padaku. Kewajiban aku untuk menjagamu"


Akhirnya Livi main ke punggung Ryan. Mereka pun melanjutkan perjalanan ke arah timur.


*********


Sementara itu di kaki gunung. Suasana sudah gempar karena Jay, Ryan, Lovely dan Livi tidak kembali ke pos 1 kemarin sore.


Jo dan Ken sangat panik. Begitu juga Om Daryadi dan Om Didi. Mereka segera menghubungi Tim SAR dan klub di Jakarta. Papa Lovely dan Papa Livi pun segera menyusul dengan membawa ambulans.


Jo sampai menelpon keluarga nya untuk mengabarkan kalau Lovely menghilang. Ken juga berniat baik gunung lagi untuk mencari Livi kalau saja tidak di tahan Rifky.


"Om harus bertanggung jawab kalau Livi sampai kenapa-kenapa toh!" ancam Ken pada Om Daryadi.


"Iya maaf Ken... Ini juga bukan ingin Om sampai terjadi seperti ini" kata Om Daryadi panik.


"Ini pasti rencana konspirasi Jay sama Ryan untuk lebih lama bersama Lovely dan Livi!" kata Jo emosi.


"Sabar Jo. Tim SAR sedang mencari mereka" kata Hisyam menenangkan Jo.


"Firasat ku sudah tidak enak dari awal!" kata Angela.


Pukul 10 siang. Tim SAR yang mencari kembali bersama Ryan yang menggendong Livi! Semua berseru lega! Ken segera meraih Livi dari punggung Ryan.


"Livi sayang, kamu kemana aja toh?!" Ken memangku Livi.


"Kak Ken... Aku tersesat bersama Kak Ryan..." kata Livi lalu berlindung di pelukan Ken.


Hati Ryan terasa berdarah! Dia yang menyelamatkan. Ken yang mendapatkan pelukan!


"Ini kaki kamu bengkak?" tanya Ken sambil meraba kaki Livi.


"Aku di sengat kelabang tadi! Untung Kak Ryan menghisap bekas gigitannya jadi aku selamat dan tidak keracunan"

__ADS_1


Papa Livi ikut menghampiri lalu memeluk putri kesayangannya. Livi pun segera di masukan dan di rawat di dalam ambulans.


__ADS_2