Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #31


__ADS_3

"Tidak perlu gugup."


Jordan meraih tangan Sofia yang tampak gelisah. Berusaha menenangkan segala kegelisahan yang tidak perlu.


"Apakah sangat terlihat?" Tanya Sofia dengan suara parau. Mencoba setenang mungkin namun tidak bisa.


Banyak hal yang dia pikirkan. Sesungguhnya dia sendiri takut akan ke istana. Takut pada tempat yang membuatnya terkurung di dalam mimpinya. Takut akan masa depan yang mungkin berubah lagi. Takut akan sesuatu yang tidak menentu. Pada intinya Sofia takut.


Sentuhan hangat tangan Jordan sedikit mengobati rasa khawatirnya. Dia percaya pada Jordan. Dia bisa menggantungkan hidupnya padanya.


"Saya baik-baik saja." Sofia mengangguk sambil tersenyum.


"Orang-orang yang berada di bawahmu sangat banyak, mereka tidak mungkin berani menyakitimu Sofia. Jika ada yang berani katakan saja padaku."


"Pfft, hahaha.." Sofia tidak bisa menahan tawanya. Melihat dahi Jordan berkerut tawa Sofia semakin meledak.


"Apakah saya terlihat tidak bisa diandalkan?"


'Ya, jika mungkin aku ingin terus mengurungmu didalam jangkauanku. Bahkan saat inu kamu sangat cantik. Aku tidak sudi membagi kecantikanmu dengan laki-laki lain.' Isi hati Jordan berkibar.


"Buka begitu. Kamu harus membuat kekacauan besar seperti yang aku sampaikan kemarin. Buatlah yang besar hingga membuatmu harus mengandalkanku." Jawab Jordan dengan senyum tersungging.


"Jangan menggodaku!" Sofia mendengus kesal.


"Aku tidak menggodamu." Senyum Jordan semakin nakal.


Tawa kecil memenuhi kereta kuda yang bergoyang hingga kusir menginterupsi kebagiaan mereka.


"Sudah sampai Yang Mulia."


Kereta melambat kemudian berhenti.


Seketika tubuh Sofia menegang.


"Jordan.." Suara Sofia bergetar.


"Ingat ada aku disampingmu Sofia. Jangan khawatir."


Sofia mengangguk kecil.


Pintu kereta terbuka dan Jordan keluar lebih dulu. Mengulurkan tangannya untuk membantu Sofia turun.


Aula dalam istana berada di istana utama, tempat tinggal kaisar. Memiliki dua aula besar yang sering digunakan untuk tempat pertemuan serta bola skala besar.


Pesta pagi ini adalah mereka yang diundang secara khusus oleh kaisar. Hanya orang-orang terpilih. Para bangsawan tingkat tinggi dan orang kepercayaan kaisar. Undangan hanya untuk dua orang. Mereka bisa membawa istri atau anak mereka. Pesta ini menunjukkan siapa saja yang mendapat kepercayaan kaisar. Skalanya memang kecil namu penuh dengan kepentingan.


Pesta ini bisa menjadi ajang untuk menunjukkan legitimasi keluarga.


Rumor tentang Duchess Hexalios yang dulunya adalah wanita kaisar merebak bagai angin puyuh. Tamu undangan mengantisipasi seperti apa pertemuan mereka.


Duke Hexalios pasti semua orang tahu dia adalah saudara terdekat raja dan pewaris nomor dua setelah kaisar. Mereka bertanya-tanya seperti apa wajah Duchess hingga diperbutkan dua orang laki-laki dengan kedudukan tinggi.


Begitu kereta kuda dengan simbol Hexalios yang agung memasuki gerbang istana, semua orang menahan nafas. Mereka berbondong-bondong merapat dan mendekat disekitar pintu masuk.


Pintu kereta biru dengan banyak ornamen emas terbuka. Seorang laki-laki tinggi dengan fisik mengagumkan turun. Duke Hexalios rupanya. Tangannya terulur kedalam. Sebuah tangan kecil dengan renda putih mewah terlihat mengambil tangan Duke. Sedikit demi sedikit sosok wanita dengan gaun biru tua terlihat. Dibantu oleh Duke, wanita itu turun.


Mereka saling berbisik kecil sebelum saling tersenyum. Dengan dituntun Duke, wanita itu meraih tangan Duke kemudian mengikuti berjalan masuk.


Duchess Hexalios yang menjadi buah bibir masyarakat kelas atas akhirnya menampakkan dirinya.


Memegang erat tangan Duke dengan kepala tertunduk. Ketika kepalanya terangkat, sosok cantik terlihat. Mereka berjalan di tengah karpet merah dan berhenti tepat di depan pintu aula.


"Yang Mulia Duke dan Duchess Hexalios memasuki ruangan!"


Udara di dalam aula tiba-tiba lenyap. Hawa dingin segera merayapi. Seluruh tubuh Sofia menegang. Dia merapatkan tangannya. Ingin rasanya bersembunyi dari puluhan pasang mata yang menatapnya. Langkahnya goyah.


Jordan yang merasakan ketegangan Sofia menarik tubuh gemetarnya dekat dengannya. Mengelus tangan kecil di lengannya kemudian tersenyum tipis. Tatapan mereka bertemu. Mulutnya terbuka sedikit seolah berbisik.

__ADS_1


'Jangan khawatir!'


Sofia mengangguk dengan sinyal yang dikirimkan Jordan. Rasa tenang segera menyebar. Kehangatan tangan Jordan menenangkannya. Apa jadinya dia tanpa Jordan disampingnya, melindunginya. Sofia menggigit bibir bawahnya untuk menyembunyikan rasa gelisahnya.


Sepertinya semakin hari dia bergantung pada Jordan. Bagaimana hidupnya saat dia meninggalkannya? Di tengah hiruk pikuk tatapan banyak orang, Sofia ingin menangis.


Dia berusaha menegakkan punggungnya. Menata emosi kemudian menyembunyikannya dalam kebanggaan diri dan senyuman.


Jordan membawanya ke tempat paling ujung. Disana ada sebuah panggung dengan dua kursi. Seperti singgasana kaisar dan permaisurinya.


Karena terlalu gugup Sofia tidak melihat barisan orang yanh berdiri rapi sejajar di samping kanan dan kiri. Di tengah-tengah ada karpet merah yang membentang dari singgasana hingga pintu.


Meskipun mereka berdiri dengan rapi tatapan mereka tak bisa dipungkiri ke arahnya dan Jordan yang berdiri dipaling ujung dan terpisah. Sofia tersentak.


Dia segera menundukkan kepalanya karena tatapan yang sangat membebani.


Jordan melepaskan ikatan tangan mereka. Sofia terkejut kemudian mendongak.


"Apa ada yang salah? Wajahmu pucat." Sebuah tangan menyentuh halus pipi Sofia.


Sofia sontak menggelengkan kepalanya.


"Haruskah kita kembali?"


Mata Sofia membulat. Bahkan acara belum dimulai. Tentu itu adalah tawaran yang menggiurkan tapi bagaimanapun mereka sedang ada di acara resmi. Sangat tidak sopan bukan.


"Saya hanya gugup. Saya baik-baik saja." Sofia menampilkan senyum terbaiknya.


Jordan mengangguk kemudian merendahkan kepalanya. Menyamai pandangan Sofia.


"Hmm, jangan khawatir. Ada aku." Jordan kembali mengelus pipi Sofia dengan tangannya.


Sofia mengangguk dengan antisipasi penuh. Mengerjapkan matanya kemudia menghela nafas dalam-dalam. Dia perlu belajar untuk menguasai emosi di depan publik alih-alih etiket dunia sosial.


Tangan Jordan meraih tangannya kemudian merajut jari-jarinya bersama. Sofia mendongak kemudian tersenyum saat tatapannya bertemu dengan Jordan.


Saat mereka saling menguatkan diri dengan senyuman dan tatapan hangat, ada interupsi keras dari luar.


Semua suara menjadi tenang. Suasana hening begitu pintu dibuka. Sofia menegakkan punggung dan pandangannya. Tangan Jordan meremas ikatan mereka. Menyalurkan kehangatan dan ucapan samar.


"Semua akan baik-baik saja."


"Ya semua akan baik-baik saja."


Semua orang menoleh ke arah pintu masuk. Begitu pintu dibuka, dua orang yang sangat agung dengan jubah emas dan mahkotanya terlihat sangat sombong.


Mereka mengenakan pakaian resmi Kekaisaran Elderbar dengan simbol keagungannya. Mereka berjalan dengan percaya diri. Kepala semua orang menunduk, tidak terkecuali Jordan dan Sofia.


Menyambut Kaisar dan Permaisuri Elderbar, sang penguasa tanah Dewa Elderbar yang makmur. Mahkota merah untuk kaisar dan mahkota putih untuk permaisuri sebagai buktinya.


Tubuh Sofia menegang saat tatapannya yang jatuh ke lantai melihat gaun merah yang terseret. Jubah panjang mereka mengekor jauh dan menyapu lantai. Dadanya bergemuruh.


Dulu, di kehidupan sebelumnya, alih-alih melihat penobatan Janetta sebagai permaisuri, dirinya dikurung di istana belakang seperti tahanan. Masa depan memang banyak berubah, Sofia membasahi bibirnya. Gugup terus merayapinya.


Begitu dua orang agung Kekaisaran Elderbar duduk di singgasana, kepala semua orang terangkat.


"Hidup Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri Elderbar!" Seruan lantang menggema. Sofia menggerakkan bibirnya untuk menyamai gelombang yang ada.


Acara didominasi dengan pidato Kaisar dan penyampaian dukungan dari para bengsawan untuk pasangan agung tersebut. Tidak terkecuali dia dan Jordan. Sofia berdiri di samping kiri Jordan dengan kepala menunduk. Menutup rapat mulutnya sesuai dengan instruksi Jordan.


"Sambutan, aku yang akan melakukannya. Sofia cukup ada disampingku."


Tanpa melepaskan genggaman tangannya, Jordan menuntun Sofia mendekat kursi kaisar dan permaisuri kemudian memberikan sambutan dan penghormatan. Kurang lebih isinya seperti ini.


"Salam kepada Yang Mulia, saya Jordan Hexalios dan istri saya Sofia Hexalios mengucapkan selamat atas penobatan permaisuri Janetta de Elderbar. Semoga kemurahan hati Dewa Erlderbar terus menyertai Kaisar dan Permaisuri Elderbar."


Setelah menunduk hormat mereka mundur dan memilih tempat yang sepi disudut ruangan tak jauh dari pusat acara.

__ADS_1


Secara alami para bangsawan membubarkan diri dari barisan kemudian secara bergantian memberikan sambutan ke depan.


Bahu Sofia merosot. Krisis yang baru saja dia alami secara mengejutkan hilang. Tubuh yang sejak tadi kaki kini rileks. Tanpa memandang Alex dan Janetta ketika memberi sambutan, Sofia merasa lega. Metode yang baru saja dia temukan di detik-detik terakhir ternyata efektif. Entah apa jadinya jika dia berhadapan langsung dengan mereka, meskipun itu hanya tatapan.


Kini ditempat yang tak jauh dari singgasana, Sofia mengawasi mereka. Mahkota itu, sejak awal Sofia tidak menginginkannya. Tidak ada rasa iri atau cemburu sedikitpun. Tidak.


Mahkota putih dengan mutiara bersinar di atas kepala Janetta sejak awal memang bukan miliknya. Bukan posisi permaisuri yang membuatnya sedih, tapi masa depan yang mengelilingi mereka. Felix, itulah satu-satunya hal yang membuat hati Sofia terluka. Mungkin lebih bail untuk tidak dekat dengan Alex atau Janetta sebanyak mungkin. Dia takut tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Fia.."


Sofia tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Sofia.."


"Ah.."


Sofia mengalihkan pandangannya ke Jordan.


"Kamu baik-baik saja?"


"Ya saya baik-baik saja."


"Wajahmu sedikit pucat."


"Saya hanya gugup."


Berusaha menyembunyikannya lagi dengan senyum tipisnya.


"Apa yang kamu pikirkan hingga tidak mendengarku?"


"Maaf.." Sofia mengakui kesalahannya. Ada laki-laki luar biasa disampingnya lalu kenapa dia malah memikirkan hal lain. Sofia mengutuk dirinya sendiri dalam hati.


"Sofia lihat aku."


Tangan besar yang cukup menutupi pipinya terasa hangat. Sofia mengangkat kepalanya. Jordan menarik wajahnya untuk melihatnya. Kedua tangan besarnya di pipi Sofia.


"Apakah kamu memikirkan Felix?"


Mata Sofia bergetar. Jordan sepertinya bisa membaca pikirannya. Malu karena tertangkap basah, tatapan Sofia menunduk. Berusaha melarikan diri.


"Lihat aku Sofia, jangan seperti ini." Suara rendah itu memohon.


Sofia kembali mengangkat kepalanya kemudian mengangguk.


"Jangan khawatir, mimpi itu tidak akan pernah menjadi kenyataan."


"Semua berkat Jordan. Saya beruntung bertemu Jordan."


Tangan Jordan mengelus kepala Sofia pelan.


"Tidak ada yang perlu Sofia khawatirkan lagi."


Sofia mengangguk dengan senyuman. Senyum paling indah untuk Jordan. Suasana diantara mereka menjadi hangat. Pasangan Duke dan Duchess Hexalios sangat sibuk dengan dunia mereka hingga tanpa mereka sadari, diam-diam semua pasang mata mencuri pandang ke kemesraan kecil di sudut ruangan.


Mereka penasaran dengan bisik-bisik diantara mereka. Duke Jordan Hexalios yang dikenal kaku dan tampa ekspresi entah kenapa hari ini menunjukkan banyak warna di wajahnya.


Dia tersenyum, berbisik hingga tertawa. Disampingnya ada seorang wanita yang tampaknya menjadi sumber dari perubahan itu.


Jordan Hedalios, satu-satunya bangsawan berpangkat Duke dan sauadar dekat Kaisar selalu menjadi orang yang sulit untuk disentuh. Namun hari ini dia menunjukkan cela dirinya melalui wanita yang diperkenalkan sebagai istrinya, Duchess Sofia Hexalios.


Mata para bangsawan berkilau. Laki-laki yang dulunya sulit dan teguh sepertinya bisa dilunakkan melalui entitas disebelahnya. Wanita kecil yang membangkitkan sisi protektif Duke. Dari awal acata hingga saat ini, tangannya tidak lepas dari Duchess. Mereka seperti punya dunia mereka sendiri.


Para kepala keluarga yang memiliki istri dan anak perempuan mengatur ulang rencana mereka. Menjadi sebuah tantangan untuk bisa menarik sedikit perhatian Duke Hexalios, entah itu persahatan atau bisnis. Alih-alih mendekati kaisar yang mudah ditebak, Jordan Hexalios selalu menjadi mangsa yang sulit didapatkan.


Melihat kekayaan dan keluhuran Keluarga Hexalios, dekat dengannya lebih menjanjikan.


Segera, gelombang pergaulan kelas atas berubah. Arus itu mengarah lurus ke Sofia Hexalios.

__ADS_1


Air liur keserakahan menetas dari semua orang.


The Empress Crown #32 Next...


__ADS_2