
Rasanya sakit parah. Tubuh Jessy seperti akan terbelah jadi dua. Dia menangis dan menjerit sekaligus. Beban tubuh Kent menindihnya. Jessy melingkarkan erat tangannya ke leher dan kedua kakinya di pinggang Kent.
Tubuhnya bergetar sepanjang malam. Saat Kent memperdalam dorongannya dan mempercepat ritmenya, punggung Jessy melengkung. Rasa sakit yang amat sangat cepat berganti dengan rasa nikmat tiada tara. Bibirnya terus mengeluarkan erangan centil.
"Eung! Mas pelan, sedikit pelan. Mas Kent!" Jessy menjerit saat dorongan benda tumpul Kent mencapai titik lemahnya.
"Kamu yang melahapku Jess. Argghhh! Jessy!" Suara geraman Kent menggema. Inti miliknya serampangan saat dia mencapai puncak.
Mereka mencapai puncak bersama. Tubuh mereka ambruk. Nafasnya tersengal kasar. Keringatnya banyak akibat panas yang tidak ada hentinya datang.
"Jessy..." Ucap Kent lembut. Matanya menatap tubuh Jessy yang lemah. Dia merapikan anak rambut yang berserakan di wajah Jessy. Rambut yang diikat rapi kini berantakan.
Jessy memejamkan matanya dengan nafas tidak tertatur. Dadanya naik turun. Jessy membuka matanya saat Kent membelai pipinya. Air mata Jessy tumpah. Hatinya rumit.
"Kenapa menangis? Kamu menyesal?" Kent menyapu air mata yang terus keluar dari sudut mata Jessy.
Jessy menggeleng lemah. Obat itu masih mempengaruhinya. Tubuhnya masih panas. Gairah aneh masih menempel padanya. Tubuh Jessy gemetar menanggapi sentuhan Kent.
Kent menurunkan kepalanya kemudian mencium bibir Jessy yang terbuka. Mengejar lidahnya dan menyapu seluruh isi mulut Jessy. Ciuman itu dalam dan intens. Tubuh Jessy kembali tersulut. Erangan lolos dari bibirnya.
"Ayo lakukan satu kali lagi." Bisik Kent dengan senyum tipisnya.
Jessy tak mampu menanggapinya. Sekedar meggerakkan badan saja sulit. Tubuhnya lemas, panas dan peka terhadap sentuha. Jessy menutup erat matanya saat penyusup masuk dengan mudahnya.
Setelah akhir yang tak terhitung jumlahnya, Jessy pingsan.
*****
"Semalam kami datang tapi tidak ada jawaban saat kami mengetuk pintu." Ucap dokter yang berdiri tak jauh dari tempat tidur.
Kent mengangguk kemudian mempersilahkan dokter pergi. Selanjutnya dua orang di belakang maju ke depan.
"Kami sudah memeriksa CCTV, dan kami juga sudah menemukan identitasnya. Namanya Ian Harry Laksono, pegawai magang. Bulan depan masa kerja tetapnya."
"Pecat segera." Titah Kent.
"Baik Pak. Kami juga menemukan ponsel Ibu Jessy di meja balkon bar hotel."
Kent mengambil ponsel Jessy yang tergeletak di meja.
"Kalian boleh pergi. Untuk hari ini aku akan beristirahat di bungalow, jika ada pihak dari Jayanegara yang mencarinya sambungkan langsung ke nomor panggilan bungalow. Pastikan situasi aman dan tidak ada rumor aneh yang beredar." Ucap Kent dengan suara tajam.
Dua orang itu mengangguk kemudian segera pergi. Suasana kembali tenang. Hanya deburan ombak dan suara angin yang terdengar. Bungalow terletak di paling ujung bangunan hotel. Menjorok ke arah laut langsung. Ocean view adalah latar belakangnya. Dua hari lalu Kent bertemu dengan Jessy di jalan menuju bungalow. Tapi Jessy tidak tahu bungalow ini karena letaknya yang tersembunyi.
Kent bangun lebih awal. Dia segera mandi dan berganti pakaian nyaman. Menyalakan mesin kopi seraya menghubungi orang-orangnya untuk datang.
Setelah pertemuan itu selesai, Kent kembali ke kamar. Disana Jessy masih tidur dengan wajahnya yang pucat. Kent meletakkan cangkir kopinya kemudian mendekati Jessy. Dia khawatir. Hari menjelang siang tapi Jessy belum bangun. Kent menempelkan punggung tangannya ke dahi Jessy. Panas. Sangat panas. Kent tersentak. Dia mengguncang tubuh Jessy kemudian mengangkat kepalanya.
"Jess, Jessy." Kent menepuk pelan pipi Jessy.
Tidak ada jawaban. Nafas panas berhembus dari hidung Jessy.
__ADS_1
"Jessy!" Volume suara Kent meningkat.
Tidak ada jawaban. Kent kembali merebahkan tubuh Jessy kemudian menarik selimut untuk menutupinya. Kent mengambil gagang telepon di meja sebelah ranjang.
"Panggil dokter kemari sekarang."
Tepat saat Kent menutup gagang telepon, ponsel Jessy yang tergeletak di meja dekat cangkir kopi berdering.
Yolanda.
Nama Yolanda muncul. Kent segera menggeser terima panggilan.
"Halo Jess, kamu dimana? Kamu semalam gak balik ke kamar. Kamu baik-baik aja kan?" Suara cemas terdengar.
Kent diam.
"Jessy, halo.. ini aku Yola."
"Halo..." Kent akhirnya buka suara.
"Ini siapa?" Hening sejenak. "Ini benar nomornya Jessica Jayanegara?" Suara Yola kembali terdengar.
"Jessy semalam ditempatku. Dia aman sekarang."
"Kamu siapa? Kenapa ponsel Jessy ada padamu?"
"Ada sedikit insiden kecil tapi tidak apa-apa. Apakah ini Yolanda teman Jessy?"
"Aku Kent. Yolanda tidak perlu khawatir, aku akan mengurus Jessy. Kamu dan teman-teman yang lain silahkan nikmati liburan kalian di Bali."
"Kent? Kent siapa? Kamu juga teman Jessy?"
Kent tidak menjawab.
"Bisa ceritakan apa yang terjadi pada Jessy? Dia baik-baik saja kan?"
"Iya dia baik-baik saja. Tidak perlu khawatir."
"Oke deh kalau gitu, Kent tolont titip Jessy ya. Nanti kalau kita sudah ketemu aku akan tanya langsung ke dia."
Kent menutup panggilan telepon. Saat itu pintu di ketuk. Kent membuka pintu kemudian mempersilahkan dokter masuk.
"Demamnya sangat tinggi, karena obat yang diberikan jumlahnya banyak. Tubuhnya tidak bisa mengatasinya." Jelas dokter dengan suara terbata. Dia tak berani menatap Kent yang duduk di depannya.
"Saya sudah memberikan obat penawar. Setiap dua jam saya akan datang untuk mengecek cairan infusnya."
Kent mengangguk.
"Apa akan ada gejala yang lain?"
"Tidak. Anda cukup menjaga suhu tubuhnya."
__ADS_1
"Setiap dua jam tidak perlu datang. Taruh saja cairan infus disini, aku yang akan menggantinya."
Dokter mengangguk kemudian pergi.
Kent kembali ke sisi Jessy. Dia mencelupkan handur ke air dingin kemudian memerasnya. Kent menyeka keringat panas di dahi Jessy. Dia menari selimut turun kemudian membuka ikatan pakaian tidur Jessy. Semalam Kent yang memakaikannya.
Begitu simpul ikatan terurai. Dada Jessy terlihat. Tanda merah berserakan di leher hingga pundaknya. Kent tersenyum miris. Penuh hati-hati Kent menyeka tubuh Jessy kemudian mengganti pakaian dan selimut yang basah oleh keringat Jessy. Kent merawat Jessy penuh kasih sayang.
Tubuh Jessy panas. Dia demam tinggi. Saking tingginya, dia hilang kesadaran.
Kent bangkit untuk mengganti air di wadah saat ponsel Jessy kembali berdering.
Mas Juna.
Mata Kent menatap ponsel yang berteriak keras. Nada deringnya sangat khas.
Kent segera mengambil ponsel itu seraya berjalan menjauh dari Jessy.
"Halo Jess? Kamu dimana? Masih di Bali?" Suara Juna langsung memberondong.
"Halo Juna, ini aku."
"Ini siapa? Dimana Jessy?" Nada interogasi terdengar jelas.
"Ini aku Kent."
Ada hening sejenak.
"Kent? Kamu bersama Jessy?"
"Iya dia bersamaku."
"Dimana Jessy? Bisa berikan teleponku ke dia?" Pinta Juna.
"Jessy tidak bisa menerima telepon sekarang. Kamu bisa berbicara padaku."
"Apakah terjadi sesuatu?" Nada Juna khawatir.
"Ada insiden yang terjadi."
"Jessy baik-baik saja kan?"
"Sejauh ini dia baik. Dia aman bersamaku."
"Aku baru saja kembali dari Singapura. Siang ini ada pertemuan dengan beberapa pemegang saham. Mungkin sorenya aku baru bisa terbang ke Bali."
"Tidak perlu terburu-buru."
"Tidak. Tolong jaga Jessy sampai aku datang. Makasih ya Kent."
Panggilan terputus. Kent kembali meletakkan ponsel Jessy. Ada rasa tidak suka di hatinya. Dia menatap lama ponsel itu kemudian bergerak ke dapur.
__ADS_1
Jungkir Balik Dunia Jessy #12 Next...