Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #35


__ADS_3

Dunia aristokrat Elderbar terguncang. Para bangsawan yang sejak awal menentang menghapusan undang-undang istri kaisar yang nantinya akan menjadi permaisuri adalah wanita bangsawan, mengeluarkan petisi penurunan permaisuri yang baru saja dilantaik.


Keributan di hari penobatan terkenal dengan skandal pesta teh. Nama Duchess Sofia Hexalios dan Permaisuri Janetta Elderbar menjadi buah bibir paling panas di ibukota.


Pada wanita bahkan tak kecuali para laki-laki diam-diam melakukan pertemuan untuk menggosipkan skandal pesta teh. Bisik-bisik dari akar bawah menggeliat dan menggoyang tatanan atas.


Kritikan pedas dilontarkan pada pasangan kekaisaran saat ini. Rasa tidak puas dan kecewa menetas dari banyak tempat. Bahkan skandal ini menjadi berita utama di koran-koran lokal. Telah menjadi konsumsi publik, dari rakyat jelata hingga bangsawan.


Setelah skandalnya pecah Permaisuri Janetta Elderbar mengurung dirinya di dalam istana seperti terkena penyakit mematikan. Bahkan para pelayan sulit untuk melihat wajahnya. Seolah pengecut yang melarikan diri setelah membuat kesalahan. Siapa yang harus meredakannya? Tentu saja Kaisar Alex Elderbar.


Keadaan tidak membaik malah seperti menyiram minyak ke dalam api yang berkobar. Kritikan kepadanya semakin pedas. Keluhan hingga sumpah serapah sering terlontar pada ketidaksesuaian perilaku Permaisuri Elderbar.


Permaisuri adalah ibu negara, kepribadiannya adalah teladan. Bagaimana bisa rakyat percaya dan mengikutinya jika hari pertama penobatannya, sang Permaisuri malah bersikap brutal.


Nama Sofia tidak luput dari gosip. Semua orang seolah seperti profiler, mencoba mencari tahu tentangnya hingga membandingkannya dengan Janetta. Masa lalunya terungkap. Jati dirinya bahkan dengan mudah dibicarakan di jalanan.


Jordan kesal. Skandal pesta teh sepertinya lebih merugikan Sofia dibandingkan Janetta. Meskipun dilihat dari sudut pandang lain. Jordan hanya tidak ingin orang lain menyebut nama Sofia. Sofia hanya miliknya.


Hampir setiap hari dilakukan pertemuan aristokrat untuk membahasa penurunan gelar Permaisuri. Ini lebih dari sakit kepala. Bagaimana tidak, Jordan harus menghadirinya karena belum lama ini dia masuk ke dalam sistemnya. Jika akan berakhir seperti ini setelah menyelesaikan misinya dia harusnya mengundurkan diri.


Jordan menekan pelipisnya saat mendengar para pejabat saling berdebat. Ada dua kelompok. Pro dan kontra. Sedangkan bagaimana sikap Alex, tentu saja dia diam. Dengan tabah mendengarkan mereka hingga akhir sambil berusaha membantu Janetta meskipun itu terlihat konyol di mata Jordan.


Sangat tidak kompeten. Jordan telah meluapkan amarahnya pada Janetta dan Alex tiga hari setelah Sofia tidak sadarkan diri. Dia secara pribadi datang ke istana setelah mengirim surat peringatan. Mereka saling mengenal dan dia berteman baik dengan Janetta. Jadi Jordan tidak menyangka dia sebenarnya adalah orang yang kasar.


"Masalah ini akan aku serahkan pada publik. Aku tidak akan membuat pernyataan yang memberatkan atau meringankan perbuatanmu Janetta. Banyak orang menjadi saksi dan korbannya adalah Sofia. Berani-beraninya kamu menyentuhnya tanpa izinku. Apakah kamu lupa siapa yang membuatmu menjadi Permaisuri? Kamu benar-benar gila Janetta!" Amarah Jordan menggelegar.


Mereka hanya bisa diam. Alex sendiri tidak bisa membantah karena sangat jelas apa yang dilakukan Janetta saat itu. Seperti menutupi sinar matahari hanya dengan telapak tangan. Mustahil.


"Jika terjadi apa-apa pada Sofia aku tidak akan pernah memaafkan kalian. Bersujudlah padanya saat dia sadar nanti. Kalau tidak, aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan. Termasuk mengguncang mahkotamu hingga jatuh. Ingat itu Janetta." Jordan mengakhiri pidatonya dengan kasar. Dia membanting pintu kemudian meninggalkan istana.


"Sudah kubilang tinggalkan dia sendiri." Alex membuka mulutnya setelah Jordan pergi.


"Bagaimana kamu akan menyelesaikan kekacauan ini sekarang?"


"Maafkan saya." Jawab Janetta pelan.


"Renungkanglah kesalahanmu dan jangan berani-beraninya kamu keluar dari istana. Jangan lakukan hal tidak masuk akal yang memicu opini publik lebih buruk."


Janetta mengangguk.


Itulah sebabnya kenapa Jordan lebih memilih diam dan bertahan menghadiri omong kosong yang harus dia dengar setiap hari. Rasa frustasinya meningkat karena Sofia belum juga bangun. Sudah tiga puluh hari sejak dia pingsan. Tidak ada yang tahu keadaannya kecuali orang-orang di mansion Hexalios.


Jordan tenggelam dalam rasa takut karena Sofia seperti mayat hidup. Semakin hari tubuhnya semakin kurus dan wajahnya pucat. Untung saja ada para penyembuh dari kuil yang membuat tubuhnya tetap terjaga. Jordan hampir gila.


Ingin rasanya dia menebas setiap kepala yang dia lihat hari ini. Omong kosong mereka semakin hari semakin mengerikan. Dia takut tidak bisa bertahan. Haus darah yang telah lama tidur di dalam dirinya akhir-akhir ini bangun. Mungkin dia bisa sedikit tenang dengan melihat darah.


Namun Jordan mengingat Sofia. Dia tidak ingin ketika suatu hari nanti Sofia bangun kemudian melihatnya dalam keadaan menggila. Jordan menutup matanya erat-erat dan melonggarkan ikatan dasinya. Dadanya sesak. Dia butuh menjernihkannya. Orang yang bisa membantunya hanya Sofia. Dia butuh Sofia.

__ADS_1


Di tengah kekacauan itu, Sir White komandan ksatria mendekatinya.


Dia merendahkan punggungnya kemudian berbisik di telinga Jordan.


"Yang Mulia, Nyonya sudah bangun."


Sontak Jordan berdiri kemudian melangkah menuju pintu.


"Kereta kuda sudah disiapkan di pintu depan." Tambah Sir White yang berjalan mengikuti Jordan.


Jordan tidak peduli dengan pertemuannya. Di kepalanya hanya dipenuhi Sofia. Dia hanya ingin segera pulang dan bertemu Sofia. Itu saja.


Salah satu pelayan yang mendapati Sofia bangun berteriak dan mengejutkan seluruh mansion. Akhirnya, kamar Jordan yang sebelumnya menjadi tempat yang sangat sakral menjadi ramai. Para pelayan berkumpul disana. Ingin melihat Nyonya mereka yang selama ini mereka khawatirkan.


Sofia mengedarkan pandangannya ke semua sudut kemudian membuka mulutnya.


"Dimana ini?"


Kepala pelayan maju kemudian menjawab.


"Di kamar Yang Mulia Nyonya."


Sofia mengangguk kemudian hendak membuka mulutnya namun didahului oleh kepala pelayan yang tahu apa yang akan ditanyakan Sofia.


"Yang Mulia sedang dalam perjalanan kembali dari istana."


"Bantu saya bangun." Perintah Sofia.


"Dokter akan segera datang Nyonya, tolong beristirahatlah dulu."


Tak berapa lama para dokter datang kemudian melakukan pemerikasaan. Sofia duduk bersandar pada kepala ranjang. Ada empat orang yang mengelilinginya namun hanya satu orang yang menanyaianya. Tiga orang lainnya fokus menyembuhkannya.


"Bagaimana perasaan Nyonya? Apakah ada yang terasa sakit?"


Sofia menggeleng pelan. Tidak ada rasa sakit di badannya. Hanya saja tubuhnya sangat lemah hingga untuk menggerakkan tangannya saja dia tidak bisa.


"Sudah berapa lama saya tidak sadarkan diri?" Tanya Sofia dengan suara serak.


"Tiga puluh dua hari Nyonya." Dokter menjawab.


Wajah Sofia terdistorsi. Sudah selama itu ternyata. Pantas dia tidak punya tenaga. Meskipun dia tidak makan atau minum selama itu tubuhnya tetap segar dan tidak mengalami kerusakan. Itu sepertinya karena para penyembuh dari Kuil Elderbar yang memperhatikannya dengan baik.


Sofia mengalihkan pandangannya pada dua orang wanita yang masih muda di sampingnya. Mereka mengamatinya dengan seksama.


"Yang Mulia Duke sudah tiba Nyonya."


Ah. Hati Sofia berdebar. Mengingat kembali pengakuan Jordan yang dia dengar saat tidak sadarkan diri. Apa yang harus dia lakukan, apakah jujur padanya atau bersikap seolah tidak tahu.

__ADS_1


Di tengah pikirannya yang rumit. Suara langkah kaki tergesa-gesa semakin mendekat.


"Sofia."


Kepala Sofia mendongak dan tatapan mereka bertemu.


Ya Tuhan.


Jantung Sofia hampir meledak. Mungkin saat ini pipinya telah diwarnai merah. Orang yang berdiri tak jauh darinya adalah orang yang sangat dia rindukan. Suaranya yang familiar pernah menjadi harapan hidupnya. Suara yang menyejukkan sekaligus menenangkan.


"Jordan.." Ucap Sofia lirih. Hampir tidak terdengar. Dia memaksakan senyumnya.


Langkah Jordan lebar mendekatinya. Tubuhnya jatuh tersungkur di dekat Sofia.


Sontak Sofia terkejut.


"Jordan apa yang anda lakukan?"


"Benarkah itu kamu? Sungguh kamu sudah bangun? Aku sedang tidak bermimpi bukan?"


Jordan meraih tangan Sofia kemudian menciumnya. Air matanya tumpah. Wajah maskulin yang selalu ditampakkan retak.


Tubuh Sofia menegang.


Para pelayan dan dokter meninggalkan ruangan tanpa aba-aba. Peristiwa sentimentil pasangan tuannya bukanlah konsumsi publik. Diam-diam kepala pelayan menutup pintu kemudian membubarkan pelayan. Dia mengatur beberapa pelayan untuk tetap tinggal. Sebagai upaya sewaktu-waktu tuan mereka memanggil. Mereka berdiri pada jarak aman dengan wajah yang dipenuhi kelegaan.


"Jordan aku baik-baik saja." Sofia menyeka air mata dipipi Jordan.


Bagaimana bisa seorang laki-laki menangis begini. Laki-laki harus menunjukkan sikap kuat. Menangis lebih cocok untuk wanita. Maka dari itu hati Sofia sakit melihat Jordan menangis. Siapa dia hingha berani membuat Yang Mulia Duke menangis.


"Ya aku tahu itu." Jordan mengangkat tubuhnya kemudian duduk ditepian tempat tidur.


"Aku sangat khawatir." Tambahnya.


"Maafkan aku." Jawab Sofia pelan.


"Tolong jangan seperti ini lagi. Kamu membuatku takut."


Tiba-tiba Jordan menarik tubuh Sofia kemudian memeluknya. Kehangatan segera menyebar. Entah suara detak jantung siapa yang lebih keras, yang mereka tahu suaranya sama-sama keras. Mereka berpelukan lama dalam diam.


Meskipun tubuh mereka saling dekat satu sama lain, pikiran mereka tidak sama. Dua orang yang sedang berpelukan canggung tersebut tidak tahu harus bagaimana setelah ini.


Sofia yang berusaha menata hatinya menerima pelukan hangat dari Jordan. Saat ini dia memilih diam dan akan mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaanya.


Sedangkam Jordan diam-diam menghela nafas lega. Satu-satunya kekhawatirannya telah pudar. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga Sofia agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.


Tidak ada yang tahu kapan mereka akan saling jujur tentang perasaan masing-masing.

__ADS_1


The Empress Crown #36 Next...


__ADS_2