
Ironis sekali. Itulah kata yang pantas mendeskripsikan peristiwa yang menimpa mereka.
Kent kembali membawa wadah berisi air dan handuk. Dia duduk ditepian ranjam. Menatap lekat Jessy yang masih menangis.
"Kenapa masih menangis Jess?" Ucap Kent seraya mencelupkan handuk ke dalam air kemudian memerasnya. Dengan penuh hati-hati menyeka pipi Jessy.
Jessy benci keadaannya sekarang. Dia tidak suka terlihat lemah dihadapan orang yang tidak menyukainya. Dia pasti sedang ditertawakan olehnya.
"Kita ironis sekali ya." Jessy mengarahkan pandangannya pada Kent.
"Hmm?" Kent yang sibuk menyeka pipi Jessy yang basah menanggapi.
"Selama menikah kita sama sekali tidak pernah seperti ini."
"Memang seperti apa?"
"Tidur bersama."
Tangan Hent berhenti. Dia meletakkan handuk ke wadah kemudian menatap Jessy. Bola mata yang kemarin sayu kini cerah dan tegas.
"Apa kamu tidak menyesal melakukannya denganku?"
Dahi Kent berkerut.
"Ah iya, laki-laki kan bisa melakukannya tanpa rasa suka."
"Apa yang kamu bicarakan?"
"Aku membicarakan tentang keadaan kita yang ironis. Lucu ya, kita melakukannya setelah kita bukan lagi suami istri. Selama menikah malah tidak." Ucap Jessy dengan senyum hambar.
"Kamu yang memintanya Jess, jangan bicara macam-macam."
"Tapi kamu bisa saja menolaknya kan?"
"Aku sudah memperingatkanmu Jess. Kamu yang memohon padaku, aku ingatkan kamu jika kamu lupa."
Mata Jessy membulat sempurna. Kent tidak salah, hanya Jessy yang tidak mau kalah dari Kent.
"Kamu menyesal? Sudah kubulang kamu tidak boleh menyesal."
"Tidak. Aku tidak menyesal. Lagipula itu sudah terjadi. Jika nanti aku menikah lagi pasti akan aneh kalau aku yang sudah pernah menikah masih suci. Aku anggap ini memang sesuatu yang harus terjadi. Hanya saja tertunda empat tahun lamanya. Tugasku sebagai istri berarti sudah tuntas." Jelas Jessy.
Sekuat tenaga Jessy bangkit. Namun kepalanya terus berdenyut. Akhirnya dia bersandar di kepala ranjang dengan lemah.
"Kenapa kamu selalu seperti ini sih Jess? Kamu cukup bilang terima kasih." Kent merendahkan suaranya.
"Iya terima kasih sudah menolongku. Aku hanya menyesali diriku sendiri. Kenapa aku harus terlihat lemah di depanmu."
__ADS_1
"Kamu tidak suka bertemu lagi denganku?"
"Bukannya kamu yang gak suka ketemu aku?"
"Jess aku punya nama, namaku bukan kamu." Suara Kent tajam.
Jessy diam. Menolak menaggapi Kent. Dia memalingkan wajahnya.
"Kita baru saja bertemu lagi setelah empat tahun Jessy. Tapi kenapa kita selalu seperti ini setiap kali bertemu." Suara Kent melembut. Dia seperti menangani anak kecil yang merajuk.
"Tidak ada seorangpun di dunia ini yang senang bertemu dengan mantan suami yang membencinya." Timpal Jessy cepat.
"Aku tidak membencimu."
"Tapi kamu tidak menyukaiku dan melimpahkan semua kesalahan padaku." Jessy kembali menatap Kent.
"Tidak seperti itu Jessy."
"Apa kamu masih menyukai Mbak Jhoya? Aku sudah tahu semuanya. Pernikahan kita memang sudah salah sejak awal. Jika kamu tahu kalau itu salah kenapa diam saja? Kamu bisa membatalkan pernikahannya. Jelas bukan aku yang kamu inginkan. Aku yang terbuai impian pernikahan yang bahagia terlihat menyedihkan di matamu. Bukan aku kan yang kamu harapkan, tapi Mbak Jhoya? Maka dari itu kamu membenciku." Suara Jessy lemah tapi tajam.
Mata Kent membulat sempurna. Itu adalah rahasianya dengan orang tuanya yang ternyata salah melamar. Harusnya Jhoya kakak Jessy tapi Jessy yang menjadi sasarannya. Terjadi kesalah pahamam di tengah prosesnya. Saat sadar akan kekeliruan itu, upacara pernikahan telah disiapkan sedemikiam rupa. Kenta tidak bisa mengelak. Selama masa pernikahan, dia belum bisa menerima kenyataan.
"Cukup Jess, jangan dibahas lagi. Itu sudah lama sekali berlalu. Kita tidak mungkin terus hidup dengan kesalahan masa lalu bukan?" Kent tersenyum tipis. "Aku memang salah dan aku minta maaf atas ketidakmampuanku Jessy. Kamu boleh membenciku sesuka hatimu." Suara Kent lemah.
"Sudah kulakukan. Aku selalu berharap agar kita tidak bertemu lagi. Tapi Tuhan memang kadang suka bercanda." Jessy diam sejenak. "Semoga kita tidak bertemu lagi kedepannya." Lanjutnya.
"Juna baru saja tiba semalam. Aku akan memberitahunya jika kamu sudah sadar." Kent bangkit kemudian meninggalkan Jessy sendiri di kamar.
Dadany sesak. Mendengar Jessy yang melontarkan apa saja yang ada di pikirannya, Kent seperti melihat dirinya. Dulu dia seperti itu pada Jessy. Pikirannya rumit. Dia kacau.
"Jessy!" Teriak Yola saat melihat Jessy. Dia langsung berhambur masuk dan meneluk Jessy.
"Kamu kenapa bisa kayak gini sih Jess. Kamu itu khawatir lho." Ucap Yola hampir menangis.
"Ada yang ngasih aku obat gak bener La. Tapi aku gak papa kok, aku udah sembuh." Jawab Jessy tenang.
Ada beberapa orang yang masuk ke kamar, ada Juna, Yola dan Kent. Sedangkan teman Jessy yang lain menunggu di ruang tengah bungalow. Siang ini mereka akan kembali ke Jakarta.
"Aku takut banget pas kamu gak balik ke kamar. Aku coba telpon kamu. Tapi yang angkat Pak Kent. Terus tadi Pak Juna telpon aku katanya kamu baru saja bangun dari demam. Kamu gak papa kan Jess?" Ulang Yola dengan suaranya yang cemas.
Jessy mengangguk lemah.
"Syukur deh. Kami balik dulu ke Jakarta ya Jess. Kamu disini dulu aja gak papa sampai sembuh total. Nanti kerjaan kamu biar aku yang urus sama Doni."
"Makasih ya La. Tapi aku bakal balik Jakarta secepatnya kok La, ya kan mas?"
"Iya." Juna dan Kent menjawab bareng.
__ADS_1
"Maksudku Mas Juna. Kapan kita balik mas?" Jessy mengarahkan pandangannya pada Juna dan sepenuhnya mengabaikan Kent.
Juna mengangguk.
"Oh gitu. Oke deh Jess. Kita balik dulu ya."
"Salam buat teman-teman ya La. Maaf membuat kalian khawatir."
"Gak Jess. Kami sayang Jessy banyak-banyak." Yola kembali memeluk Jessy.
Setelah kepergian Yola, suasana kembali hening. Juna melangkah mendekati Jessy.
"Mana yang masih sakit Jess?" Tanya Juna memeriksa setiap inti tubuh Jessy.
Jessy menggeleng.
"Gak ada mas. Aku dah sembuh kok. Kapan kita balik Jakarta?" Tanya Jessy.
"Setelah kamu sembuh."
"Aku udah sembuh kok."
"Tapi kamu sepertinya masih lemah Jess."
"Mas Juna kan bisa gendong aku. Aku pingin cepat pulang. Aku gak suka disini." Ucap Jessy spontan.
Kent seperti manusia transparan disana. Kehadirannya tidak dihiraukan oleh Jessy.
"Iya tunggu bentar. Mas kan perlu persiapan dulu."
"Iya benar Jess. Karena membawa orang yang sakit, tidak bisa sesuka hati. Lagipula jarak Bali ke Jakarta gak dekat." Timpal Kent.
Lagi-lagi Kent tidak dihiraukan, bahkan Jessy sama sekali tidak melihatnya.
"Gak bisa sekarang balik ke Jakarta ya mas?" Rengek Jessy pada Juna.
"Bisa, tapi butuh waktu. Kita balik nanti sore ya."
Jessy mengangguk.
"Oke gak papa. Tapi aku tidak mau disini. Bawa aku keluar mas. Aku gak suka." Jessy menarik tangan Juna. Memohon dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya mas bakal bawa Jessy keluar. Jessy mau kemana? Tubuhmu kan masih lemah Jess."
"Kemanapun mas asal bukan disini."
Kent berdiri kaku melihat Jessy yang memohon pada Juna untuk membawanya pergi. Hati Kent tenggelam. Dia bingung dengan perasaannya sendiri. Kent tidak suka melihat Jessy seperti itu.
__ADS_1
Jungkir Balik Dunia Jessy #14 Next...