Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #15


__ADS_3

Saat fajar menyingsing Alex segera berangkat. Hari ini adalah hari kematin pasangan Duke dan Duchess Hexalios terdahulu. Wajah Jordan melintas cepat di benak Alex. Setiap tahunnya Jordan akan mengurung diri saat hari peringatan. Oleh sebab itu, mansion Hexalios tidak pernah melakukan upacara persembahan.


Alex selalu datang untuk menghibur Jordan. Mereka seperi kakak dan adik yang dibesarkan oleh Duchess Hexalios.


Sesampainya disana Alex tak menemukan Jordan. Dia mendengar penjelasan kepala pelayan dalam diam.


"Yang Mulia Duke keluar mansion sebelum matahari terbit. Beliau hanya membawa Sir White dan keluar mengendarai kuda."


Tidak mungkin Jordan ke makam orang tuanya. Karena itu adalah hal yang tidak pernah dia lakukan. Dahi Alex berkerut. Hal ini adalah pertama kalinya Jordan bisa keluar dari kamar pada hari kematiaan orang tuanya.


"Kira-kira kemana Jordan pergi? Apakah ada tempat yang baru-baru ini dia kunjungi."


"Untuk itu saya kurang tahu Yang Mulia. Mungkin Alfons bisa menceritakannya. Karena Alfons dan Sir White yang dekat dengan Yang Mulia Duke."


"Panggil dia."


Alex mencoba memecahkan teka-teki keberadaan Jordan. Seberapa keras dia berpikir, tidak ada satupun jawaban yang Alex dapat.


"Anda memanggil saya Yang Mulia?"


"Ya. Mungkin kamu tahu dimana Alex berada?"


"Tidak Yang Mulia. Yang Mulia Duke tidak meninggalkan pesan apapun pada saya sejak kemarin."


"Lalu dimana dia? Mungkin ada yang sering di kunjungi baru-baru ini?"


Alfons mengangguk.


"Kalau itu ada. Yang Mulia Duke setiap dua atau tiga hari sekali akan berkunjung ke istana. Mungkin Yang Mulia sudah tahu."


"Istana? Terakhir aku bertemu Jordan setelah pesta pendirian. Dan itu sudah lama sekali. Satu bulan yang lalu."


"Mungkin Yang Mulia Duke tidak bertemu anda. Duke pasti mengunjungi Lady Sofia."


"Ya?"


"Saya selalu mendapat perintah untuk mengawasi Lady Sofia. Saya menunggu Lady Sofia dipintu belakang istana untuk menyampaikan pesan Duke atau membawa sesuatu."


Tenggorakan Alex tercekat. Istana tempat tinggal Sofia adalah tempat yang paling dia abaikan.


"Yang Mulia Duke pasti ada disana."


"Seberapa dekat hubungan mereka?"


Alfons ragu untuk menjawab.

__ADS_1


"Kamu bisa menceritakannya padaku. Tidak ada rahasia antara aku dan Jordan."


Alfons mengangguk kemudian membuka suaranya.


Saat cerita dari Alfons mengalir. Alex mengernyitkan alisnya beberapa kali. Cerita Alfons ditutup dengan Jordan yang tertarik dengan Sofia.


Alex bangkit setelah mendengar cerita Alfons.


"Cerita yang menarik."


Dia pergi begitu saja. Alex tahu dimana Jordan berada. Dia bergegas kembali ke istana. Tujuannya bukan kembali ke tempatnya tapi Alex langsung menuju istana belakang.


Alex bertemu dengan ajudan Jordan yang sedang berjaga disamping kuda milik tuannya.


"Salam kepada Yang Mulia Kaisar Elderbar."


"Dimana Jordan?"


"Yang Mulia Duke sedang berkuda."


"Aku akan menyusulnya."


Alex melepas ikatan kuda dan segara naik.


"Tapi Yang Mulia."


Kuda hitam gagah langsung melesat setelah kekangnya ditarik. Tujuan pertama Alex adalah hutan berburu dan danau. Karena disekitar istana belakang hanya ada itu. Jordan tidak akan pergi jauh karena area istana tidak semuanya bisa digunakan untuk berkuda.


Hutan berburu tidak ada. Alex memacu kecepatannya ke danau. Begitu hamparan rerumputan dan genangan air terlihat, Alex melambat. Matanya memindai sekitar.


Di bawah pohon yang rindang dan diantara angin sepoi-sepoi, dua manusia sedang duduk santai sambil tertawa. Suara mereka pecah di udara.


Sangat harmonis. Dua orang yang seperti sedang memadu kasih. Sang wanita tersenyum malu-malu. Sedangkan sang laki-laki terus menggoda dan matanya penuh dengan madu kasih sayang.


Saat keduanya tenggelam dengan kebahagiannya sendiri, Alex tertegun tak percaya. Dua orang yang jaraknya tak jauh darinya sangat berbeda dengan yang biasanya dia lihat.


Wanita itu adalah Sofia. Beberapa kali Alex bertemu dengannya. Wanita yang dia nikahi itu memiliki tatapan yang dingin. Tanpa emosi. Tapi saat ini Sofia memperlihatkan berjuta emosi yang asing untuknya.


Jordan, laki-laki yang duduk disamping Sofia tak kalah mengejutkan Alex. Sikapnya sangat lembut seolah menghargai Sofia dengan sepenuh hatinya.


Tiba-tiba kepala Jordan jatuh ke pangkuan Sofia. Mereka saling berbisik. Alex ingin tahu apa yang saling mereka bisikkan.


Dada Alex tertohok saat Sofia membelai wajah dan rambut Jordan. Penuh hati-hati dan pertimbangan.


Alex memalingkan wajahnya. Dia memutar kendali kemudian kembali. Seperti mengintip sesuatu yang tidak seharusnya.

__ADS_1


Entah kenapa, perasaan Alex rumit melihat kemesraan Jordan dan Sofia. Sedikit iri. Karena Sofia tidak pernah melihatnya seperti Sofia melihat Jordan.


Sofia selalu mengeluarkan aura permusuhan dengannya. Pikiran Alex kosong.


Bisakah seseorang berubah begitu cepat? atau memang seperti inilah Sofia yang sesungguhnya.


Dia menikahinya. Mereka saling mengucap janji dihadapan Dewa Elderbar. Bahwa ikatan mereka suci. Tapi kenapa Sofia malah tersenyum pada laki-laki lain.


Bukankah seharusnya orang itu adalah dia?


Pikiran Alex berputar-putar. Seharusnya Sofia lebih dekat dengan dia daripada Jordan.


Sofia adalah istrinya. Bukankah seharusnya dia menjaga kehormatannya sebagai seorang istri?


Jordan tidak mungkin terpengaruh dengan Sofia bukan? Seharusnya tidak.


Kata 'seharusnya' berulang kali Alex ucapkan dalam hati.


Pikiran rumit tersebut segera Alex enyahkan. Dia tidak peduli. Sofia hanya alat. Bagaimapun dia tidak akan bisa pergi dari istana tanpa izin darinya. Mereka adalah pasangan legal di hadapan semua orang.


Selama Alex tidak menceraikannya, Jordan tidak akan bisa berbuat apa-apa. Dia tidak mungkin menentang perintah Kaisar Elderbar.


Alex sampai pada kesimpulan bahwa hubungan mereka tidak penting baginya. Saat ini Jordan baru saja memiliki mainan baru. Jadi jika dia sudah bosan, Jordan akan meninggalkan Sofia begitu saja.


Akhirnya Sofia akan kembali menjadi wanita yang diasingkan di istana belakang.


Tidak berarti dan sendirian. Kembali ke tempat asalnya, hanya sebuah alat.


Seringai muncul di bibir Alex. Ketenangannya telah kembali.


Fokus utamanya adalah Janetta.


Janetta harus segera melahirkan pangeran jadi dia bisa segera menyingkirkan Sofia. Wanita rendahan dari bangsawan desa. Dijual oleh keluarganya untuk menjadi alat kaisar.


Wanita yang bahkan tidak layak menjadi istri kaisar mengingat sejarah kelahirannya. Alex tahu.


Sofia memiliki darah setengah bangsawan. Dia hanya anak haram Baron Barell dengan rakyat jelata.


Alex menutupi kenyataan ini. Sofia harus menjadi bangsawan sungguhan demi Janetta. Sejak awal itulah tugasnya. Menjadi batu loncatan untuk Janetta.


Rencana Alex sudah sampai di titik tengah. Rencana ini harus berhasil. Dia hanya mau Janetta sebagai permaisurinya. Wanita yang dia cintai harus duduk disampingnya. Jika hukum mutlak kekaisaran tidak bisa, Alex akan membuat kemungkinannya sendiri. Dengan caranya sendiri.


Meskipun dengan cara menyakiti banyak orang, Alex tidak peduli.


Mahkota permaisuri akan dia persembahkan hanya untuk Janetta.

__ADS_1


The Empress Crown #16 Next...


__ADS_2