Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #37


__ADS_3

Jordan dan Sofia duduk saling berpelukan untuk waktu yang lama tanpa mengatakan apa-apa. Mereka membutuhkan waktu untuk memilah perasaan yang telah melonjak hingga batasnya.


"Bisakah kita batalkan perjanjian pernikahan kita dan menjadi pasangan yang sesungguhnya?"


Suara rendahnya bergema diseluruh tubuhnya. Sofia menarik diri sedikit dari pelukannya dan mengangkat kepalanya untuk menatapnya.


Sofia dengan tenang menganggukkan kepalanya.


"Melakukan apapun yang Jordan inginkan."


Jordan membalas senyum Sofia.


Tiba-tiba pusat gravitasinya terguncang dan dia berteriak.


"Kya!" Jeritnya yang sontak memeluk leher Jordan karena takut jatuh.


Tubuhnya terangkat tiba-tiba. Sofia mengeratkan pelukannya pada leher Jordan.


"Jordan! Apa yang anda lakukan!"


"Bukankah Sofia bilang aku boleh melakukan apapun?"


"Ya? Apa, apa maksud Jordan?"


Tubuh Jordan bergerak yang secara praktis tubuh Sofia ikut bergerak.


"Kya! Jordan!"


Punggung Sofia menyentuh permukaan yang lembut. Tubuhnya ditekan oleh tubuh Jordan yang berat di atasnya. Jordan membawanya ke tempat tidur.


Tubuh kecil segera tenggelam di tengah berat bada Jordan.


"Sejak kapan?" Tanya Jordan dengan suara teredam.


Bibirnya bermain-bermain di ceruk leher Sofia. Menggodanya dengan main-main.


Sofia memecamkan matanya erat merasakan bibir Jordan yang menjelajahi lehernya. Rasanya geli.


"Apa maksud Jordan?" Sofia berusaha menahan suaranya.


"Sejak kapan Sofia mulai menyukaiku?"


"Entahlah.. ah!" Jordan menggigit lehernya. Rasanya menyengat namun tidak sakit.


Jordan mengangkat kepalanya kemudian menatap Sofia di bawahnya.


"Jika kamu tidak menjawab dengan benar aku akan menghukummu." Ucap Jordan yang kembali merendahkan tubuhnya.


Sasarannya kali ini adalah bibir Sofia. Benda lembut dan mungil yang sejak tadi mengganggu konsentrasinya ini rasanya manis. Jordan dibuat mabuk kepayang oleh rasanya. Lidahnya memaksa bibir Sofia yang gigih tertutup.


Dia menggigit bibir bawahnya untuk mendapatkan akses yang lebih leluasa.


Erangan rendah lolos.


Tubuh Sofia bergidik ngeri. Seluruh bulu tubuhnya merinding berdiri. Tangannya mencengkeram pundah Jordan untuk menjauhkannya. Serangannya tiba-tiba dan brutal. Sofia tidak mampu bernafas. Namun pemberontakannya segera ditekan. Dia kalah dalam kekuatan.


Tubuhnya jatuh lemas di dalam genggaman Jordan.

__ADS_1


"Sejak kapan hmm?" Tanya Jordan disela-sela ciumannya.


"Hah.. hah.. setelah, hah.. keluar dari Soltera.. emm.." Sofia berusaha menjawab ditengah pengejaran Jordan pada lidahnya. Dia tidak diberikan kesempatan untuk menjawab.


"Sejak saat itu?" Jordan melapas bibirnya kemudian mengangkat padangannya.


Mata mereka bertemu.


"Aku lebih lama dari itu."


Sofia mengerutkan dahinya. Dia ingin bertanya namun fokusnya kabur. Bibirnya basah oleh air liur mereka.


"Aku sudah mencintai Sofia sejak pertama kali kita bertemu di jalanan ibukota. Masih ingatkah kamu pada pertemuan pertama kita?"


Sofia mengangguk.


"Saya menolak tawan Jordan untuk menjadi teman."


"Ah iya. Maka dari itu kamu harus dihukum Sofia."


"Eung!" Jordan kembali menggigit leher Sofia.


Dia meninggalkan dua tanda gigitan di leher Sofia. Bintik merah yang menjadi tanda kepemilikannya.


"Malam ini aku akan melakukan apapun yang aku inginkan. Sofia sudah memberikan izin."


Tatapan mereka kembali bertemu.


"Jordan.. tunggu.." Sofia berusaha mengendalikan dirinya dari mengerang.


"Tidak, aku tidak bisa menunggu lagi Sofia."


"Sofia mencintaiku bukan?"


Jordan mengangkat kepalanya lagi untuk mencapai pandangannya.


Sofia mengangguk lemah.


"Aku ingin bukti bahwa Sofia sungguh mencintaiku."


Sofia terdiam. Berusaha memproses ucapan Jordan di kepalanya yang sekarang telah berubah menjadi bubur. Tubuhnya sangat aneh. Rasa asing menggeleyar tak terkontrol. Bahkan dia sangat sensitif pada belaian. Sofia terkejut dengan sisi dirinya yang nakal. Dia mengerang hanya dengam ciuman darinya.


"Bolehkah aku?" Jordan meraih ikatan simpul di gaun yang Sofia kenakan.


Dia sengaja memilih gaun yang sederhana bukan untuk menggoda Jordan. Dia hanya mempertimbangkan kepraktisannya untuk tidur malam.


Sofia mengerti arah pertanyaan Jordan. Mereka telah mengkonfirmasi perasaan masing-masing. Berjanji akan menjadi pasangan yang sesungguhnya. Jadi untuk apalagi Sofia meragukan Jordan. Dia adalah laki-laki pilihannya.


Bukankah akan baik-baik saja jika dia bersamanya?.


Sofia mengangguk pelan. Tangannya terangkat untuk menyambut Jordan.


"Melakukan apapun yang Jordan inginkan."


"Sofia.. aku mencintaimu."


"Saya juga. Ah! Eung!"

__ADS_1


Malam baru saja dimulai namun Sofia sudah basah kuyup oleh cinta Jordan. Mereka mencapai titik-titik puncak bersama. Ruangan yang hanya disinari cahaya bulan menggema suara-suara aneh. Teriakan, erangan dan ******* bercampur menjadi satu.


Cahaya matahari masuk melalui jendela yang tidak tertutup. Dua manusia yang meringkuk di balik selimut masih pulas dengan nafas yang tenang.


Sofia membuka matanya terlebih dulu. Matahari tampaknya sudah tinggi karena ruangan menjadi terang benderang. Sebuah tangan melingkari perutnya dengan erat. Nafas teratur menggelitik belakang lehernya.


Dia tidak bisa bergerak karena ditahan oleh tubuh kokoh yang memeluknya dari belakang. Dia mengingat aktivitasnya semalam. Pipinya segera diwarnai merah.


Berapa kali mereka melakukannyan. Dia tidak bisa menghitungnya secara akurat karena dia terus didorong dan disiksa berkali-kali hingga pingsan.


Saat Sofia membuka matanya lagi Jordan masih ulet mendorongnya hingga ke puncak lagi dan lagi. Hingga Sofia pingsan lagi karena kelelahan.


Sofia mengipasi wajahnya yang terasa panas. Bagaimana dia bisa menghadapi Jordan sekarang. Dia malu dengan perbuatannya semalam.


Tanpa sadar tubuhnya menggeliat dan membangunkan Jordan. Merasakan pergerakan dibelakangnya Sofia sedikit menoleh.


"Jordan sudah bangun?"


"Hmmm.."


Jordan menarik tubuh Sofia mendekat. Alhasil punggungnya menabrak dada kokoh Jordan.


Sofia terkesiap.


"Jordan bangun sudah pagi." Sofia berusaha melarikan diri. Namun lagi-lagi dia gagal. Tubuhnya telah dikuasi Jordan sepenuhnya.


Dia meringkuk kecil seperti mangsa yang berhadapan dengan predator dipuncak rantai makanan.


"Masih pagi Sofia, tidur lagi."


Sebuah suara menggelitik dari belakang leher. Tangan Jordan yang melingkari perutnya kini telah menjelajahi seluruh tubuhnya.


"Jordan sudah siang. Ayo bangun. Para pelayan pasti sudah menunggu di luar."


"Aku tidak peduli." Suara kesal terdengar lebih jelas.


Tiba-tiba posisinya berubah. Sofia ditarik telentang menghadap Jordan yang sudah menjulang di atasnya.


"Jordan cukup." Bentak Sofia seraya memukul lengan Jordan.


Bukannya mereda, mata Jordan semakin membara. Bukan karena pukulan pelan Sofia namun karena tindakannya yang terlihat imut di mata Jordan.


Dia menggeliat sebagai upaya menberontak. Apalah kekuatan Sofia jika dihadapkan pada kekuatan Jordan. Apapun yang dia lakukan malah membakar gairah Jordan. Segalanya tampak imut dan membuatnya gila. Dia tidak tahan lagi. Dia dibuat gila oleh Sofia.


"Jordan! Ah!"


Sebuah penyisipan dangkal mengakhiri pemberontakan Sofia. Rasa sakit waktu pertama kali menerimanya kini berganti menjadi kesenangan yang tidak bisa dijelaskan. Sofia kembali basah kuyup oleh cinta Jordan.


Dia baru benar-benar dilepaskan setelah sore hari. Aneh rasanya melakukan hal seperti itu saat ruangan terang benderang.


"Aku tidak peduli siang atau malam. Saya hanya ingin memakan Sofia." Itulah jawaban Jordan saat mendengar protes Sofia.


Betapa malunya dia menunjukkan tubuhnya yang penuh dengan tanda merah dari Jordan. Dia tidak sanggup mandi sendiri karena tubuhnya yang lelah setelah disiksa berkali-kali olehnya.


"Ah!"


Sofia terkejut pada rasa aneh yang tiba-tiba datang. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu. Cairan kental milik Jordan yang tidak tertelan sepenuhnya mengalir melalui pahanya. Di depan para pelayan yang membantunya mandi.

__ADS_1


Rasanya dia ingin menghilang.


The Empress Crown #38 Next..


__ADS_2