Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #32


__ADS_3

Antrian bangsawan yang ingin menyampaikan sambutan kepada kaisar dan permaisuri semakin lama semakin habis. Setelah salam hormat dan orang terakhir selesai, kaisar dan permaisuri bangkit dari kursinya kemudian berpisah setelah bertukar beberapa kata.


Tiba-tiba lautan manusia yang berserekan di setiap sudut aula secara alami memisahkan dari dengan dua jenis, laki-laki dan perempuan. Pintu aula sebelah kiri terbuka, permaisuri berjalan ke arah pintu. Secara mengejutkan para wanita mulai mengikuti permaisuri di belakangnya.


"Waktunya sudah tiba."


"Ya?"


"Pesta teh untuk para wanita, dan diskusi politik untuk para laki-laki." Suara Jordan acuh tak acuh.


"Haruskah saya?" Sofia ragu-ragu.


Jordan mengangguk.


"Pergilah. Cukup dengan menunjukkan wajah, minum teh dan makan makanan manis. Kamu pasti akan suka."


Jordan menarik tangan Sofia mendekat. Kemudian dia menuntun Sofia ke pintu yang telah dilewati para wanita.


"Pergilah sebelum tertinggal. Ini tidak akan lama, jangan terlalu gugup. Sofia memiliki kedudukan lebih tinggi dari semua wanita yang hadir."


Sofia mengangguk pelan. Jujur dia tidak tahu apa yang terjadi, harus bagaimana dan entahlah. Perasaan Sofia campur aduk. Dia ingat dengan jelas bahwa Jordan menyebutkan pesta teh khusus para wanita, tapi dia belum siap sama sekali.


"Ini tidak akan lama, aku akan ada disini menunggu Sofia. Jika Sofia merasa tidak sanggup, Sofia bisa meninggalkan. Posisimu membuatmu bisa melakukan apapun." Jordan melepaskan ikatan tangan mereka kemudian mendorong Sofia melewati pintu.


Dengan ragu Sofia mengambil langkahnya. Namun sebelum melewati ambang pintu, Sofia berbalik. Jordan masih disana, melihatnya.


"Jordan, saya akan baik-baik saja. Jordan silahkan menikmati waktunya."


Menunjukkan wajah tegar dengan senyum indah andalannya, Sofia melewati pintu itu. Sebuah pintu yang mengarah keluar, sebuah taman indah terlihat. Bukan taman istana utama yang pernah Sofia lihat, namun taman dengan pohon-pohon besar tumbuh. Meja panjang dan kursi berjejer diletakkan.


Semua hidangan tersaji dan tertata dengan rapi. Teko dan cangkir berhias rupa-rupa telah diletakkan di depan para wanita yang memiliki kursi mereka masing-masing.


Sofia menjadi orang yang terakhir masuk.


Bulu matanya yang lentik berkibar. Dia memindai sekitar dengan menemukan kursi tanpa pemilik, satu-satunya. Kursi yang ada di depan sana, dekat dengan Janetta.


Keringat dingin segera membasahi tangan Sofia. Jelas dia gugup. Dia sedang mempertimbangkan akan duduk atau kembali. Namun mustahil untuk kembali, di dalam ruangan penuh dengan laki-laki dan obrolannya. Sedangkat di depannya adalah barisan para wanita yang menatapnya dengan instens tanpa terkecuali.


Pilihan yang sulit. Di tengah pikirannya yang berkecamuk suara lembut dan rendah membuyarkan lamunan. Suara langkah kaki mendekat terdengar.


"Salam Yang Mulia, perkenalkan saya Marianne Ovell, Baron Henry Ovell adalah suami saya."


Sofia menanghapi dengan hormat. "Perkenalkan saya Sofia Hexalios."


"Senang berkenalan dengan Duchess, silahkan duduk di tempat duduk anda Yang Mulia."


Perlahan Baroness Ovell mununtun Sofia ke kursi kosong. Ternyata kursi itu adalah miliknya. Tatapan Sofia jatuh pada Janetta yang duduk sendiri di kursi paling ujung. Sofia melebarkan gaunnya kemudian menunduk rendah memberi hormat sebelum duduk. Dia mengucapkan terima kasih singkat, Baroness Ovell duduk beberapa jarak kursi darinya.


Tampaknya kursi itu diurutkan bersadarkan gelar kebangsawanan mereka.


Setelah semua orang duduk. Teh disajikan. Sofia tidak punya keinginan untuk akrab dengan semua orang termasuk pada Janetta yang menjadi tokoh utama hari ini.


Dia hanya ingin minum teh makan camilan kemudian pergi. Seperti apa yang dikatakan Jordan.


"Jangan cemaskan apapun."


Sofia menghela nafas kemudian menegakkan punggungnya. Dia mengangkat cangkirnya pelan. Menghirup aroma teh kemudia menyesapnya.


Enak.


Namun tidak seenak teh yang ada di mansion Hexalios. Tampaknya dia sudah terbiasa dengan apapun yang dia terima di rumah itu. Hingga apapun yang ada di luar tampak hambar.


Aneka kue dikeluarkan pada putaran kedua. Secara mengejutkan satu piring strowberry cheseecake diletakkan di depannya. Mata Sofia melebar.


"Kamu pasti akan menyukainya." Ucapan Jordan terngiang.


Makanan ringan kesukaannya. Kue yang tidak pernah absen hadir selama istirahat santainya di mansion. Dia lebih menyukainya karena koko Hexalios membuatnya dengan sangat baik. Lebih enak dari yang pernah dia makan.


Antusias Sofia meningkat. Dia meraih piring kecil itu mendekat kemudian mengambil garpu. Saat ujung garpu hampir mengenai makanan, sebuah suara mengejutkannya.


"Tampaknya Duchess adalah orang yang blak-blakan."


Sofia mengangkat kepalanya dan segera tahu itu adalah suara Janetta, tokoh utama hari ini.

__ADS_1


Bingung dengan ucapan Janetta yang sepertinya adalah teguran, Sofia mengedarkan pandangannya. Hanya dia yang memegang garpu dengan mata penuh ambisi ke makanan di depannya, sedangkan wanita lain enggan menikmati makanan di depan mereka. Bahkan mereka cenderung acuh.


Lalu apa yang harus dia lakukan? Bukan semua ini dihidangkan untuk dimakan? Sofia membasahi bibirnya kemudian menjawab.


"Duke mengatakan untuk menikmati pesta teh ini, maaf jika saya melakukan kesalahan Yang Mulia. Saya hanya mematuhi ucapan suami saya." Sofia jujur.


Emang itulah adanya. Untuk apa dia bohong. Lagipula Janetta mengatakan jika dia adalah orang yang blak-blakan. Namun wajah Janetta mengeras. Senyum tipisnya menghilang.


"Ya ampun, Duchess sangat mulia. Saya iri menjadi sesama wanita." Seruan kecil muncul dari para wanita.


Sofia menoleh ke arah mereka kemudian tersenyum. Tampaknya ucapannya menimbulkan riak.


"Kalau begitu kami juga akan menikmati acara ini sebagai dedikasi untuk suami saya. Sepertinya suami saya juga menginginkannya seperti Duke Hexalios." Suara di ujung kursi terdengar jelas.


Meja ini didekorasi dengan tempat duduk saling berhadapan. Total ada sepuluh orang yang saling berhadapan dan satu orang duduk terpisah. Dialah yang memiliki mahkota hari ini, Permaisuri Janetta de Elderbar.


Sofia tersenyum tipis kemudian menggerakkan garpunya lagi. Seolah mengabaikan bisik-bisik para wanita yang mengikutinya. Mereka menikmati milik mereka masing-masing.


"Ah ya ampun Duchess, apakah gaun yang anda kenakan datang dari rumah mode Butterfly Fox?"


Mungkin karena suasana mencari cair, para wanita mengobrol dengan santai.


Sofia menghentikan tangannya dari memotong strowberry cheesecakenya kemudian mengangkat kepalanya.


"Ah benar, saya hampir tidak mengenalinya. Saya pernah melihat desainnya baru-baru ini. Tapi kemudian ada kabar jika Butterfly Fox menghentikan reservasi gaun untuk sementara waktu. Akhirnya saya tahu alasannya, Duchesslah alasannya." Wanita lain menanggapi dengan mata berbinar.


Kehidupan sosial itu memberatkan. Sofia secara langsung tidak menjawab hanya senyum yang tersungging.


"Duke ternyata sangat perhatian pada Duchess." Suara lain mengikuti.


"Beruntung sekali menjadi Duchess bisa mengenal dua laki-laki hebat di Elderbar." Baroness Ovell menimpali.


'Oh..'


Suara riuh segera meledak. Para wanita mengiyakan dengan anggukan dan senyum malu-malu.


Mata Sofia membulat sempurna. Dia hampir saja memuntahkan apa yang baru saja dia telan. Dia paham arah pembicaraan ini.


"Iri sekali dengan Duchess."


Jantung Sofia copot seketika. Terlihat wajah retak dimana-dimana.


Bukankah ini terlalu akrab untuk disebut pesta minum teh formal? Sofia menelan teriakannya. Sepertinya posisi sebagai Duchess Hexalios hanya lelucon bagi mereka. Niat mereka terlihat jelas, mengolok-ngoloknya.


"Sepertinya pada Lady salah paham. Hubungan saya dengan Yang Mulia Kaisar tidak seperti itu." Sofia berusaha menjelaskan.


"Tentu kami tahu Duchess, anda adalah wanita yang beruntung. Jika itu saya, saya akan tetap memilih untuk menjadi Duchess." Wanita paling ujung dengan gaun kuning cerah berseru. Sontak semua orang menoleh kearahnya.


Tanpa aba-aba semuanya mengangguk.


"Betul bagaimanapun itu adalah Duke Hexalios. Duke sepertinya sangat menyayangi Duchess, lihat saja sepanjang acara pandangan Duke tidak lepas dari Duchess."


Keterlaluan.


Sofia melirik Janetta. Bohong jika dia tidak mendengarkan percakapan ini. Wajahnya tidak bisa didefinisikan. Seperti seorang aktris yang pandai menyembunyikan emosinya. Apakah dia tidak tersinggung? Sofia membuat kesimpulan sendiri di kepalanya, apa yang disampaikan para wanita ini adalah lebih baik memilih Jordan dibandingkan Alex.


Diluar dugaan dia tenang. Maka dari itu Sofia mengalihkan padangannya. Lagi pula bukan dia yang memulai percakapan ini. Jadi mari sedikit bersenang-senang.


"Suami saya, yah.. sedikit murah hati." Jawab Sofia tiba-tiba.


"Ya ampun Duchess.. sungguh?"


Gelombang kembali naik.


"Duke sangat murah hati, dia sangat mencintai Duchess. Sepertinya Duke sangat memperhatikan penampilan Duchess. Bagaimanapun hari ini adalah penampilan Duchess pertama kali di lingkungan sosial."


"Duke memang orang yang perhatian." Jawab Sofia pelan.


Menyenangkan mengikuti arus yang mereka ciptakan. Ini tidak lebih dari basa-basi belaka. Jika ada yang perlu dibanggakan kenapa tidak. Semua bangsawan suka memakan rumor, bahkan rumor yang tidak penting.


Apa yang mereka katakan memang benar. Sofia beruntung, Jordan memang murah hati dan perhatian.


"Duchess ternyata orang yang menyenangkan, kenapa anda baru muncul sekarang? Setidaknya kita bisa menjalin hubungan atau berkumpul dengan pesta teh." Wanita yang duduk di depan Sofia menyahut. Perempuan muda yang sejak tadi menutup mulutnya kini tak kuasa akan gelombang pasang.

__ADS_1


"Betul. Pasti sulit bukan untuk tinggal di istana sebelumnya? Menjadi Duchess memang lebih baik daripada menikah tapi memiliki hubungan yang tidak jelas. Apapun alasannya kita layak bahagia bukan?"


Klak.


Sebuah dentuman cangkit terdengar keras. Semua orang menutup mulutnya.


Para wanita menoleh ke arah sumber suara. Janetta. Topeng anggun yang dia kenakan telah retak. Entah sejak kapan. Bahkan Sofia yang larut pada gelombang tak memperhatikan dia lagi.


Bukankah ini seperti pengasingan secara halus? Tidak melibatkan seseorang dalam percakapan. Padahal jelas siapa tuan rumahnya.


"Ah maaf Yang Mulia, kami sangat tertarik dengan Duchess hingga tanpa sadar berbicara yang tidak perlu." Seseorang berusaha mencairkan suasana yang kikuk.


"Apa yang coba kalian katakan?" Tanya Janetta dengan nada sedikit tinggi.


Tak ada yang menjawab.


"Apakah kalian mencoba membandingkan Yang Mulia Kaisar dengan Duke Hexalios? atau kalian mencoba membandingkan saya dengan dia?" Dagu Janetta menunjuk Sofia.


Matanya berapi-api. Terlihat dia tersinggung. Secara tersirat memang para wanita berusaha berbicara omong kosong tentang Jordan dan Alex. Tapi mengejutkan jika Janetta salah paham antara dia dan Sofia. Bahkan Sofia tidak mampu menangkap prasangka itu. Membandingkannya dengan Janetta. Ya jelas dia kalah.


Siapa yang dimahkotai sekarang? Janetta. Siapa yang menjadi permaisuri? Janetta. Siapa yang diakui dan dipilih Alex? Janetta. Bukan Sofia. Jadi yang beruntung adalah Janetta, dia menjadi ibu dari bangsa Elderbar.


Sofia mengatur emosinya kemudian berusaha membuka mulutnya.


"Saya memohon maaf atas nama para..."


Byur.


"Ya Tuhan!" Teriakan terdengar.


Bulu mata Sofia berkibar, rasa panas yang menyengat terasa. Bibirnya yang membuka seketika membeku saat tatapannya jatuh pada Janetta yang menyiram teh dicangkir padanya.


"Siapa yang memberimu ijin untuk membuka mulut! Dasar tidak tahu malu! Wanita sialan!" Umpat Janetta kemudian melemparkan gelas ke meja.


Suara teriakan kembali terdengar. Para wanita berdiri dari kursi mereka. Suasana menjadi gempang. Sofia linglung. Apa yang baru saja ternadi.


'Aduh!' Sofia merasa sakit amat sangat di leher hingga bagian depan dadanya. Sepertinya air teh yang masih panas mengenai lehernya kemudian mengalir hingga dadanya. Dia mencoba berdiri namun tidak bisa. Tubuhnya gemetar hebat.


"Hanya dengan melihatmu aku merasa muak! Dasar ja*ang gila!" Amarah Janetta berkobar melihat Sofia yang terdiam.


Sofia bahkan tidak tahu kesalahan apa yang dia perbuat. Jika dia tetap diam, dia tidak tahu apa yang akan Janetta lakukan padanya. Lebih baik untuk pergi dan menghindari hal-hal tidak diinginkan.


Sofia berdiri. Menundukkan kepalanya sedikit lebih rendah. Mengaku salah dan minta maaf.


Bukan uluran tangan atau kata-kata baik, sebuah tamparan melayang dipipi kirinya.


Plak.


Tubuh Sofia terpelanting hingga jatuh. Rasa nyeri segera menyebar dipipinya. Sofia memegangi pipinya dan berusaha menahan air matanya.


"Sudah kubilang tutup mulut kotormu itu!" Suara Janetta kembali menggema.


Kenapa dia diperlakukan seperti ini. Dia salah apa hingga dia harus mendapat perlakuan buruk.


"Sofia!" Sebuah suara familiar terdengar.


Sofia yang linglung dengan posisi jatuh di lantai mendongak. Itu Jordan. Laki-laki yang selalu ada untuknya. Air mata yang dia tangan terdorong keluar begitu saja.


Melihatnya mendekat membuat tangisnya pecah.


"Apa yang terjadi?"


Jordan segera meraih tubuhnya kemudian memeluknya.


Tubuh Sofia gemetar hebat. Pandangannya kabur oleh air mata. Yang dia rasakan hanyalah tubuh Jordan yang memeluknya.


Ingatan tentang hidupnya dimimpi, Alex dan Felix kembali berputar hingga pandangannya kabur. Dadanya sesak.


Sofia pingsan.


Terakhir yang dia dengar adalah teriakan Jordan dan hiruk pikuk ruang pesta teh yang terguncang.


The Empress Crown #33 Next..

__ADS_1


__ADS_2