Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
Game of Hearts #17


__ADS_3

Rumah tak terawat dengan pintu pagar terkunci rapat. Sudah satu tahun Seokyung tidak pulang. Rumah itu menyimpan banyak kenangan dengan ibunya. Besok adalah peringatan satu tahun meninggalnya. Seokyung ingin mengunjungi makamnya. Dia rindu ibunya. Dia ingin menceritakan kisah hidupnya. Seokyung juga ingin menceritakan tentang anak-anaknya dan juga ayah mereka, Kang Inhwan.


Seokyung masuk dengan langkah yang berat. Rumah itu gelap dan banyak tanaman tumbuh liar. Seokyung membuka pintu dengan kunci yang dia bawa. Malam ini dia akan tidur disini kemudian besok setelah mengunjungi ibunya dia harus kembali ke Seoul.


Listrik dirumahnya tidak menyala. Mungkin karena lama tidak digunakan semua saluran dirumahnya terputus. Seokyung membuka semua jendela untuk memdapatkan sinar bulan. Untung saja air masih bisa keluar, Seokyung membasuh wajahnya dengan air kemudian mencari lilin untuk penerangan tidurnya.


Seokyung mengambil kasur kemudian dia gelar di ruang tengah. Seokyung tidak ingin tidur ditempat yang gelap dan tertutup. Perasaannya sudah cukup sesak memikirkan hidupnya. Seokyung ingin tidur dengan disinari sinar bulan dari pintu samping rumahnya.


Karena kelelahan yang amat sangat dia langsung menutup mata saat menyentuh bantal.


Seokyung bermimpi. Di dalam mimpi itu dia bertemu Hwan. Air mata Seokyung keluar tanpa bisa dikendalikan. Dia rindu laki-laki itu.


"Apakah kamu mimpi buruk?"


Seokyung membuka matanya.


"Hwan?"


"Iya ini aku."


"Aku pasti bermimpi."


Seokyung menutup kemudian membuka matanya lagi. Air matanya mengalir deras hinggi pipinya basah.


"Aku pasti sangat merindukanmu hingga mimpi ini terasa nyata." Bibir Seokyung gemetar.


Seokyung menatap Hwan yang berbaring disampingnya. Tubuh mereka saling berhadapan.


"Aku, aku merindukanmu." Ucap Seokyung dengan suara yang teredam isak tangis.


Dia mendekati Hwan kemudian memeluknya. Wajahnya tenggelam di dada Hwan. Air matanya keluar lebih deras. Kehangatan segera menyebar. Tubuh hangat inilah yang selama ini dia rindukan. Aroma samar parfum Hwan yang lama tidak dia cium kini memenuhi dadanya. Tidak bisa disangkal jika Seokyung sangat merindukan Hwan.


"Hwan, aku mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku, aku sangat merindukanmu." Suara Seokyung bergetar. Dia ingin bertemu dengan Hwan dan mengatakan semua perasaannya. Tapi dia takut. Karena ini mimpi, Seokyung ingin membebaskan hatinya.


Isak tangis berubah menjadi dengkuran halus. Nafas Seokyung kembali teratur. Mata bengkak yang tertutup rapat itu masih basah. Wajahnya putih tapi pucat. Tampak kelelahan diseluruh tubuhnya. Dia lebih kurus dari sebelumnya. Pemandangan ini menyakiti hati.


Sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela dan pintu yang terbuka. Dengan mata yang berat Seokyung membuka matanya. Ada bayangan gelap dihadapannya. Sosok besar yang menghalau sinar matahari masuk menimpanya. Seokyung mengerjapkan matanya.


"Hwan?" Dia terkejut. Dia semalam bermimpi bertemu Hwan, dan Hwan masih ada disampingnya.


"Mungkin karena aku sangat merindukanmu makanya mimpi ini terasa sangat nyata." Ucap Seokyung seraya menyentuh bibir Hwan dengan jarinya. Dia menelusuri wajah Hwan perlahan. Dari mata, hidung dan kembali ke bibir. Dia lama-lama menikmati wajah Hwan. Ingin mengingatnya sepuasnya, jika dia bangun wajah itu akan menghilang.


Merasakan sentuhan di wajahnya Hwan membuka matanya. Seokyung dengan wajah serius dan mata yang mengancam akan menangis, menatapnya lekat. Tangannya menyentuh bibirnya. Tampaknya Seokyung tidak sadar jika mata Hwan terbuka.


"Kamu sudah bangun?"


Tangan Seokyung tersentak karena bibir Hwan yang bergerak. Mata mereka saling mengunci.


Seokyung menarik tangannya. "Kamu seperti nyata di mimpi."


"Kamu tidak bermimpi sayang, ini aku." Hwan menarik tangan Seokyung. Akibatnya tubuh Seokyung menabrak Hwan.


"Ya?" Seokyung gelagapan.


"Aku nyata. Aku Kang Inhwan."

__ADS_1


"Nyata? Berarti aku tidak bermimpi?" Seokyung bangkit karena terkejut. Dia bertumpu pada dada Hwan.


"Tidak. Kamu tidak bermimpi." Hwan menarik Seokyung dan dia jatuh ke dada Hwan lagi.


"Lalu yang semalam juga bukan mimpi?"


"Tentu saja bukan. Aku nyata sayang." Hwan mengelus kepala Seokyung pelan.


"Sungguh?"


"Iya. Aku sungguhan."


"Bagaimana bisa kamu ada disini?"


"Aku sudah lama mencarimu, dimana kamu bersembunyi dariku hmm?"


Keduanya diam. Mereka saling menikmati detak jantung yang beradu. Tiba-tiba Seokyung teringat sesuatu. Wajahnya mendongak.


"Sepertinya semalam aku membuat kesalahan."


Dahi Hwan berkerut.


"Aku mengatakan hal yang tidak seharusnya."


"Tentang kamu mencintaiku dan merindukanku?"


Seokyung menggigit bibirnya. Karena semalam bukan mimpi, tentu saja Hwan mendengar pengakuannya.


"Apa yang salah?"


Hwan mengusap bibir Seokyung dengan ibu jarinya. Dia tidak ingin bibir manis itu terluka.


"Aku biasanya mengigau ketika tidur. Maaf." Jawab Seokyung dengan kepala menunduk.


Hwan menarik dagu Seokyung untuk mencium bibirnya sekilas.


"Kalau sudah diucapkan tidak bisa ditarik lagi." Hwan melepas ciumannya sebentar kemudian menciumnya lagi.


Seokyung menutup matanya. Merasakan bibir Hwan yang manis. Ciuman yang dalam dari Hwan tiba-tiba berhenti.


"Dengarkan baik-baik, aku akan mengatakan sesuatu yang penting."


Seokyung menatap Hwan lekat-lekat.


"Kamu adalah jantung hatiku Seokyung, aku mencintaimu dengan segenap jiwaku. Jangan tinggalkan aku lagi. Aku tidak bisa hidup tanpamu." Hwan mengeratkan pelukannya.


"Jangan pergi lagi dariku." Suara Hwan rendah.


Tubuh Seokyung merinding. Dia mengerjap masih tidak percaya. Pertama, semalam bukan mimpi. Kedua, Hwan mengaku mencintainya. Apakah ini mimpi atau kenyataan sungguhan. Seokyung tak berani menerka-nerka. Dia takut bahwa ini ternyata hanya mimpi.


"Tetaplah berada disisiku Seokyung, aku butuh kamu dan anak kita butuh ibunya."


"Hwan?"


"Ya?"

__ADS_1


"Ini bukan mimpi bukan?"


"Bukan sayang."


"Hwan?"


"Hmmm?"


"Aku merindukanmu. Aku mencintaimu." Ucap Seokyung dengan suara rendah.


Seokyung mendongak dan menyentuh wajah Hwan. Memastikan lagi dan lagi jika ini bukan mimpi.


Keberanian yang entah datang dari mana, Seokyung mengangkat tubuhnya sedikit kemudian mencium bibir Hwan sekilas. Tangan Hwan menarik lehernya dan memperdalam ciuman mereka. Tanpa disadari Seokyung dengan nyaman berada di atas tubuh Hwan.


"Aku merindukanmu." Desah Hwan diantara ciuman mereka.


Seokyung menjawabnya dengan tersenyum.


"Kemana saja kamu selama ini?" Hwan melepas ciumannya.


Seokyung hanya diam dengan kepala menunduk.


"Aku mencari kemana-mana, tapi kamu menghilang tanpa jejak. Kenapa baru pulang ke Busan hmm? Kamu dimana selama ini sayang?"


Seokyung mengangkat kepalanya saat mendengar Hwan mengucapkan kata 'sayang'.


"Aku di Seoul."


Dahi Hwan berkerut. Kalau Seokyung di Seoul kenapa dia tidak pulang. Mereka sedekat itu tapi kenapa Hwan tidak bisa menemukannya.


"Kenapa tidak datang atau menghubungiku?"


"Aku takut, mungkin Sora akan mengusirku lagi."


"Tinggal dimana kamu selama ini sayang? Aku gila karena tidak bisa menemukanmu." Hwan membelai pipi Seokyung.


"Di rumah bibi pembantu."


"Ya?" Hwan terkesiap.


"Saat Sora datang dan aku diusir, bibi pembantu menolongku. Aku ditawari tinggal di rumahnya. Aku masih ingin memberikan ASIku pada Inkyung dan Inseo. Jadi aku meminta bantuannya untuk memberikannya diam-diam." Jelas Seokyung terbata.


"Tapi bibi tidak memberitahuku apapun."


"Aku yang mencegahnya. Aku takut Sora tahu."


"Tapi aku berhak tahu Seokyung."


"Maafkan aku." Seokyung kembali menunduk.


"Apakah bibi mengatakan sesuatu padamu?"


"Tentang?"


"Aku menceraikan Sora."

__ADS_1


Game of Hearts #18 Next...


__ADS_2