
Saat itu larut malam. Jordan pulang setelah memimpin latihan militer ordo ksatria. Wajahnya tertekuk dan bibirnya tak berhenti mengeluh.
"Anda sudah kembali Yang Mulia." Sambutan kepala pelayan selalu hangat seperti biasa.
Jordan acuh tak acuh.
"Ada sebuah surat yang dibawa Alfons Yang Mulia."
Langkah Jordan bergenti. Wajah yang seperti kehilangan minat pada apapun sebelumnya kini menjadi cerah.
"Dimana? Dimana suratnya?"
"Saya letakkan di meja kerja anda."
Jordan segera mengagkat kakinya. Bahkan jika kedua kakinya patah dia akan merangkak.
Setelah mencapai pintu ruang kerja yang terletak berseberangan dengan kamae tidurnya, Jordan membuka pintu secara kasar. Detak jantungnya melonjak saat dia melihat amplop putih tergeletak di atas meja.
Tangan Jordan membuka ikatan tali dengan hati-hati. Saat kertasnya dibuka, sebuah kain yang sangat familiar terpampang pertama.
Jordan mengerutkan alisnya.
Salam kepada Jordan Hexalios dari Sofia.
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas segala bantuan anda. Saya tida mampu membalasnya kecuali hanya dengan ucapan.
Saya sudah mencucinya dengan segenap ketulusan hati saya. Sebagai tanda terima kasih saya, saya menyertakan satu buah sapu tangan yang tidak sebanding dengan milik anda.
Mohon diterima.
Kemudian ada satu hal yang ingin saya sampaikan. Mohon maaf sebelumnya, saya tidak bisa menjadi teman anda. Manusia biasanya bergaul dengan sesamanya. Mohon jangan tersinggung, saya memikirkan kehormatan anda.
Sebuah keberuntungan bisa bertemu dengan orang sebaik anda. Untuk kedepannya semoga kita tidak bertemu lagi.
Semoga berkat Dewa Elderbar selalu menyertai anda.
Salam Sofia.
Darah mendidih di tubuh Jordan. Surar itu jelas berisi penolakan. Wajah Sofia yang tersenyum tipis di toko kain melintas begitu saja di benaknnya.
Jordan menggedor meja dengan kedua tangannya. Dia ingin berteriak. Surat kertas berwarna biru tersebut sudah kusut. Jordan meremasnya sekuat tenaga. Jika bisa dia ingin berlari ke istana sekarang. Dimana Sofia tinggal.
"Sir White!" Jordan berteriak saat dia membanting pintu.
"Ya Yang Mulia!"
Seorang laki-laki muda segera berlari ke arah pintu. Sebelumnya dia berdiri tegak di sekitar ruang kerja Jordan.
"Besok aku akan ke istana. Tunda semua agendaku besok, dan panggil Alfons kemari."
Gelapnya malam segera berubah menjadi cerahnya pagi. Hari ini Sofia berencana membawa barang-barang yang telah dia buat ke pasar. Dia akan menjualnya. Entah kemana dan dimana, Sofia belum memikirkannya.
Sejak fajar menyingsing hingga matahari tinggi di atas kepala, Sofia sibuk bersiap. Setelah dirasa semuanya siap Sofia dan dua pelayannya bergegas berangkat melalui pintu belakang.
Dua pasang mata mengamati tiga orang dengan penutup kepala keluar dari pintu belakang istana. Setelah mereka jauh tidak terlihat, seekor rajawali dilepaskan dengan sebuah ikatan putih di kakinya.
"Yang Mulia, Duke Hexalios meminta audiensi hari ini."
Alex mendongak. Pena bulu yang sejak tadi sibuk kini berhenti.
"Sekarang?"
"Ya yang Mulia, saat ini Duke berada di depan pintu."
"Suruh dia masuk."
Alex menjawab dengan dahi berkerut. Tidak biasanya ini terjadi. Orang itu tidak pernah sopan padanya. Mengingat sikapnya yang sering mendobrak pintu tanpa permisi.
"Hei Jody!" Seloroh Alex begitu melihat orang yang dimaksud.
"Salam kepada matahari Elderbar. Semoga berkat dewa Elderbar menyertai anda."
Mata Alex hampir terlempar keluar saat mendapat sopan santun dari orang yang sebelumnya tidak sopan sama sekali.
"Bagaimana kabar anda?"
Tubuh Alex seketika tegang dengan tindakan selanjutnya.
"Apa yang coba kamu lakukan ini Jody?" Tanya Alex dengan suaranya yang suram. Bulu kuduknya berdiri.
"Memberi salam kepada Kaisar Elderbar." Jawanya singkat dan acuh tak acuh.
__ADS_1
"Ya tentu aku tahu. Tapi kamu tidak seperti biasanya. Kamu masuk kemudian memberi salam hingga menanyakan kabar. Sopan santun macam apa ini?" Tawa meledak dari bibir Alex.
Dia adalah Jordan. Teman sekaligus keluarga paling dekat Alex. Mereka tumbuh bersama. Umur mereka sebaya meskipun Alex lebih tua beberapa bulan. Laki-laki itu selalu membanting pintu ketika masuk dan selalu spontan tanpa basa-basi. Hari ini dia sangat berbeda.
"Ah sial!" Umpat Jordan yang kesal mendengar tawa Alex.
Jordan menghempaskan tubuhnya ke sofa dekat meja kerja Alex.
"Apa yang terjadi?"
Alih-alih menjawab, Jordan menghela nafas.
"Kamu tampak frustasi Jody."
Alex mengambil tempat duduk di sofa yang kosong.
"Aku ingin mencari seseorang."
"Siapa?"
Alis Alex terangkat.
"Seseorang yang ada disini Lux."
Mereka punya panggilan sendiri ketika hanya berdua. Ketika di tempat umum mereka akan bermain sopan santun.
"Maksudnya?"
"Aku datang untuk mencari seseorang. Di istana. Aku sedang meminta izinmu."
"Oh..." Bibir Alex membulat. "Sejak kapan kamu harus meminta izin untuk melakukan sesuatu di dalam istana Jody? Kamu bertindak seperti dirimu." Tawa kembali meledak dari mulut Alex.
"Mungkin jika aku sudah menemukannya aku akan membawanya pergi. Aku hanya tidak ingin bermain kasar. Semua yang ada di dalam istana adalah milikmu, tentu aku butuh izin dari pemilik."
"Semua milikku juga milikmu Jody."
Dahi Jordan berkerut.
"Kamu serius?"
Alex mengangguk dengan senyum lebarnya. Jordan sudah Alex anggap sebagai adiknya. Ibu Alex meninggal setelah melahirkannya, oleh sebab itu ibu Jordan yang membesarkannya. Mereka sudah bersama sejak masih bayi.
Bagitu pula ketika orang tua Jordan yang meninggal tiba-tiba, mereka selalu bersama dan saling menguatkan. Apapun yang diinginkan Jordan tidak ada alasan untuk tidak mengabulkannya, kecuali tahta.
"Orang."
"Ya? Siapa?" Rasa penasaran menetas dari bibir Alex.
"Aku bertemu dengannya di pasar."
"Seorang wanita?"
Jordan mengangguk malu-malu.
"Astaga! Jody kami sudah besar rupanya." Lagi-lagi tawa meledak.
Wajah Jordan merah padam.
"Ah sial! Diam kamu Lux! Saat kamu mengakui perasaanmu pada Janetta aku tidak pernah meledekmu." Suara Jordan penuh kesal.
"Ya oke oke. Aku hanya senang Jody. Jangan marah." Alex berusaha menguasai dirinya. Dia menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya.
"Aku hanya kesal. Dia mengirimiku surat kemarin."
"Lalu? Apakah kamu ditolak?"
Mata Jordan membulat sempurna.
Alex kali ini melanggar janjinya. Tawanya kembali meledak dan kali ini lebih keras.
"Ah sial! Kenapa aku menjadi bahan ejekan sekarang."
"Janetta pasti akan senang mendengarnya."
"Arrgghh!" Jordan mengusak rambutnya kasar.
"Kamu datang jauh-jauh kemari untuk membujuknya bukan?"
Jordan mengangguk.
"Siapa dia? Apakah aku tahu orangnya?"
__ADS_1
"Kurasa tidak."
"Apakah dia sendiri yang mengatakan kalau dia tinggal di istana?"
"Tidak. Aku melihat tanda istana saat pertemuan pertama kami."
"Dia bekerja di istana?"
Tanda atau plat istana hanya dimiliki oleh para pekerja. Tanda itu bisa memudahkan mereka untuk keluar masuk istana. Warna plat yang mereka miliki disesuaikan dengan jenis pekerjaan mereka.
"Aku baru dua kali bertemu dengannya."
"Apa warna tandanya?"
"Perak."
"Warna itu untuk pelayan."
"Aku tahu."
"Dia pasti istimewa hingga bisa menggunjang batin Jordan Hexalios."
Jordan tak menanggapi.
"Apakah dia tahu siapa dirimu?"
Jordan menggeleng ragu.
"Aku hanya menyebutkan namaku saja. Tapi aku menuliskan Hexalios di surat yang aku kirim melalui kurir."
Alex menggaruk dagunya.
"Dia pasti tahu siapa dirimu Jody."
"Tapi tidak mungkin semua pelayan tahu siapa aku Lux. Dia bilang dia selalu keluar istana melalui pintu belakang."
"Dia mungkin bekerja di dapur atau pelayan urusan gudang." Alex berhenti sejenak. "Apa rencanamu?"
"Aku akan bertemu dengannya langsung."
"Aku rasa ini cinta pada pandangan pertama."
Jordan diam.
"Kalau dia tetap menolak bagaimana?"
"Aku akan memaksanya. Seperti apa yang pernah kamu lakukan pada Janetta. Aku akan butuh banyak saranmu Lux."
Dahi Alex berkerut dan bibirnya membentuk senyum.
"Lakukan apa yang kamu inginkan Jordan."
"Aku anggap kamu memberikan izin Lux."
"Tentu saja."
Jordan segera bangkit dan merapikan pakaiannya.
"Kalau boleh tahu siapa namanya?"
"Dari banyaknya pelayan tidak mungkin kamu mengenalnya bukan?"
"Jika kamu berhasil kamu akan menikahinya bukan Jody? Dia akan menjadi adik iparku. Tidak buruk tahu namanya lebih awal. Mungkin jika kamu tidak bisa menemukannya aku bisa membantumu melalui kantor menajemen pelayan."
"Sofia. Sofia Margareth."
"Sofia?" Alex seperti tidak asing dengan nama itu.
"Iya ingat itu Lux. Dia akan segera menjadi Sofia Hexalios."
Tanpa mempedulikan Alex yang sedang linglung, Jordan meninggalkan ruang kerja kaisar begitu saja.
Tinggal Alex sendiri yang sedang mencoba mengingat nama Sofia.
"Panggil saya Sofia Yang Mulia."
"Tolong kabulkan perminataan saya. Izinkan saya keluar istana. Saya akan keluar melalui pintu belakang. Saya berjanji tidak akan mendekati istana utama."
Darah panas mengalir deras di tubuh Alex. Kepalanya seperti dihantam oleh sesuatu yang berat.
Jantung Alex berdebar lebih kencang dari biasanya. Perasaan aneh segera menyusup dan menyebar.
__ADS_1
The Empress Crown #8 Next...