
Hari-hari berlalu seperti biasa. Saking biasanya Sofia hingga tidak menyadari jika satu bulan telah berlalu sejak kecelakaan itu. Dia beraktivitas seperti biasa.
Saat dia sedang sibuk mengeringkan bunga di halaman depan, seseorang datang menghampiri.
Wanita muda berpakaian pelayan datang membawa sesuatu di tangannya.
"Selamat pagi Nona, saya datang atas perintah Yang Mulia Kaisar."
Sofia menoleh kearah sumber suara.
"Apa yang kamu bawa?"
"Anda bisa membukanya sendiri."
Pelayan itu menyodorkan kotak berukuran sedang kepada Sofia.
"Baik terima kasih, kamu boleh kembali."
Setelah pelayan itu menghilang Sofia mengambil kursi halaman yang kosong kemudian membuka kotak dipangkuannya.
Gaun berwarna cerah terungkap. Ada surat tergeletak di atasnya.
Sofia membaca surat itu dengan dahi berkerut.
"Tiga hari lagi?" Gumam Sofia.
Dia menatap nanar gaun yang terlipat rapi di dalam kotak. Sofia menghela nafas dalam-dalam. Kelegaan mengalir ke seluruh tubuhnya. Akhirnya dia akan bebas.
Pesta pendirian Elderbar tiba.
Sofia mengenakan gaun yang dikirim oleh Alex. Gaun pesta sederhana dengan warna biru pucat. Tak banyak hiasan. Begitu pula dengan mutiara yang menjadi hiasan. Tak ada satupun.
Gaun panjang dan leher yang sedikit rendah. Pundak Sofia terbuka. Dia menggulung rambutnya ke atas. Tanpa memakai perhiasan apapun. Riasan diwajahnya tipis. Pemanis satu-satunya yang melekat ditubuhnya adalah sepatu sederhana dan sarung tangan putih berenda peninggalan ibunya.
Penampilannya sangat sederhana untuk dikatakan sebagai istri kaisar.
Sofia menata hatinya. Hari ini adalah hari penentuannya. Dia seperti bukan datang ke pesta, tapi datang ke tempat pembebasan.
Dia menegakkan punggungnya saat pelayan Alex menjemputnya. Sesuai dengan instruksi Alex dalam surat. Sofia harus hadir di waktu yang tepat.
Tidak ada kereta mewah yang menjemputnya. Dia berjalan kaki mengikuti pelayan.
Pesta itu diadakan tiga malam. Sofia mendengarnya dari Ema dan Rona. Malam ini adalah malam pertama. Dikatakan bahwa ini adalah pesta privat, hanya tamu undangan saja yang bisa hadir.
Sebuah aula di sisi kanan istana utama sangat cerah. Suara alunan musik dansa terdengar. Sofia memantapkan langkahnya.
Saat pintu dibuka, tepat musik dansa juga berhenti. Sofia bisa merasakan tatapan orang-orang padanya. Dia terus mengikuti pelayan hingga sampai tujuan. Tempat Alex berdiri di atas singgasana.
Sofia mendongak dan mendapati bahwa Janetta Oliver duduk dengan anggun di samping Alex. Tangan mereka berdua saling bergandengan. Sepertinya Alex sudah sembuh total. Punggungnya yang tegak tidak menunjukkan bahwa dia pernah terluka sebelumnya. Sungguh luar biasa pikir Sofia.
__ADS_1
Seperti de ja vù. Ingatan Sofia berpendar cepat. Dalam mimpi, Janetta Oliver diumumkan sebagai selir Alex dalam sebuah pesta. Apakah sekarang waktunya?
Sofia berusaha untuk menenangkan dirinya yang gemetar. Dia membungkuk untuk memberi salam pada Alex, bagaimanapun sopan santu adalah etiket dasar para bangsawan. Meskipun dia adalah darah campuran. Pengetahuan seperti ini umum diketahui.
"Salam kepada matahari Elderbar."
"Kamu sudah datang."
"Ya Yang Mulia."
"Pesta sudah bisa dimulai."
Sofia mendongak saat Alex bangkit kemudian turun dari singgasana. Ada beberapa anak tangga yang harus dia lewati sebelum mencapai lantai dimana Sofia berdiri.
Sofia berbalik atas perintah Alex. Barisan bangsawan yang diundang pada malam ini memperhatikan tokoh utama pesta dengan seksama. Alex maju beberapa langkah dari Sofia.
"Semuanya!" Suara Alex menggema ke seluruh ruangan.
"Ada yang ingin saya sampaikan!"
Sofia menggigit bibir bawahnya. Dia gugup. Semua mata tertuju padanya. Bukan karena apa yang akan diucapkan Alex.
"Hari ini saya umumkan bahwa Janetta Oliver adalah selir istana, dan secara resmi menjadi istri kedua kaisar."
Bisikan rendah terdengar dari sana-sini. Sofia melirik sekitarnya. Saat matanya sibuk mengamati, tatapannya tak sengaja bertabrakan dengan mata milik orang yang tidak asing bagi Sofia.
Itu adalah Jordan. Tatapannya mengarah ke Sofia. Seperti binatang buas yang mengunci mangsa. Sofia mengalihkan pandangannya dan menunduk.
Ucapan selamat mengalir dari banyak tempat. Sofia tidak menghiraukan. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Tatapan Jordan yang misterius. Akhirnya Jordan tahu siapa dirinya. Tapi bisa jadi tidak juga, Alex belum mengungkapkan identitasnya.
"Kemudian yang berdiri di belakang saya adalah wanita yang saya nikahi beberapa bulan lalu. Kalian pasti sudah mendengar kabarnya. Dia adalah anak perempuan Baron Barell dari wilayah barat. Perkenalkan dirimu."
Menyebut namanya seperti sebuah kesalahan bagi Alex. Sofia menegakkan punggungnya kemudian berjalan maju. Yang Alex maksud adalah dirinya bukan, karena tidak ada lagi wanita yang ada dibelakangnya kecuali dirinya.
"Salam kepada semuanya. Perkenalkan saya Sofia. Senang bertemu dengan semuanya." Sofia menunduk sebentar kemudian kembali melangkah.
Semua orang tertegun, tanpa reaksi seperti saat Alex mengumumkan Janetta. Wajah mereka menjadi pias. Seperti melihat kotoran yang mengganggu.
"Mari bersulang untuk kemakmuran Elderbar."
"Hidup Elderbar!"
"Bersinar untuk matahari dan bulan Elderbar!"
Alex mengangkat gelas anggur diikuti oleh semua orang. Janetta yang entah sejak kapan meninggalkan tempat duduknya kini sudah berdiri disamping Alex. Hanya dua orang yang tidak bersorak untuk ini. Dia dan Jordan yang menyilangkan tangannya di dada. Diam-diam Sofia melihatnya.
Apa ini sudah berakhir?
Sofia hanya ingin segera keluar dari tempat ini. Perannya sudah selesai.
__ADS_1
Musik dansa terdengar tepat setelah sorakan untuk Alex dan Janetta reda. Lampu yang menggantung di atas menyorot pasangan istana.
Alex mengulurkan tangannya pada Janetta kemudian menariknya ke tengah lantai dansa. Suasana menjadi gelap saat dua sejali melangkah indah bersama. Semua orang bertepuk tangan.
Sofia memanfaatkan momen ini untuk menyingkir. Meskipun dia tidak ada disana, tidak akan ada yang mencarinya. Sofia menyelinap diantara kerumunan kemudian keluar ke balkon.
Angin malam segera menerpa wajahnya.
Sofia menyangga tubuhnya yang hampir ambruk pada tepian balkon. Tubuhnya seperti kehilangan kekuatannya. Nafasnya kasar.
Semua sudah berakhir. Semuanya sudah beres. Sofia menekan dadanya kuat-kuat sambil menenangkan dirinya. Dia baik-baik saja saat Alex mengumumkan Janetta, tapi ketika lampu ruangan redup dan perhatian semua orang tertuju pada satu-satunya cahaya, Sofia melihat sekilas wajah Alex tumpang tindih dengan Felix.
Wajah kaku tak bernyawa Felix de Elderbar, anaknya dengan Alex dalam mimpi, berkelebat.
"Sofia."
"Astaga!" Sofia memekik kaget saat suara tiba-tiba muncul dari belakang.
Balkon yang terbuka disinari bulan cukup untuk mengetahui siapa pemiliki suara itu. Sofia terkesiap. Jordan Hexalios berdiri tegak tak jauh darinya.
"Jor, Jordan." Sofia gagap. Dia melihat Jordan tadi. Tapi dia tidak menyangka Jordan akan menghampirinya.
"Ya ini aku. Lama tak bertemu Sofia."
Suara rendah Jordan mengirimkan getaran dingin yang menjalari punggung Sofia. Sofia menggigit bibir bawahnya. Sekuat tenaga mengendalikan tubuhnya yang terus gemetar.
"Jangan seperti itu. Kamu bisa melukai bibirmu Sofia."
Jordan mendekat kemudian mengusap bibir Sofia dengan ibu jarinya.
"Apa yang kamu lakukan?" Sofia terhenyak kemudian sontak mundur.
Sayang, dibelakang punggungnya adalah pagar balkon. Tubuh Sofia limbung. Untung saja tangan Jordan dengan sigap meraih pinggangnya.
"Sofia kamu bisa saja terluka."
Jordan menarik tubuh Sofia mendekat. Wajah Sofia bertabrakan dengan dadanya.
"Saya baik-baik saja."
Dia berusaha untuk melepaskan diri namun usahanya sia-sia. Jordan telah membenamkan kepalanya ke ceruk lehernya. Tubuh Sofia menegang.
"Sebentar saja seperti ini." Suara Jordan teredam.
"Jordan." Sofia membasahi bibirnya yang kering. Sikap Jordan yang tiba-tiba membuatnya takut.
"Tolong sebentar saja. Aku butuh waktu berpikir. Pikiranku sedang kacau saat ini."
Jordan mengeratkan pelukannya. Sofia yang tidak berdaya, pasrah dengan perlakuan Jordan.
__ADS_1
The Empress Crown #12 Next...