
Seperti apa yang ada di dalam mimpinya. Hanya ada dua pelayan yang melayaninya. Tidak ada yang lain.
Sofia mengingat wajah dua gadis muda yang berdiri dihadapannya, Ema dan Rona.
Wajah mereka pias. Sadar akan keterasingannya sejak awal, Sofia menampilkan senyum terbaiknya pada mereka berdua. Dia tidak boleh goyah dihari pertamanya tinggal di istana.
"Selamat pagi Yang Mulia. Apakah tidur anda nyenyak?" Ema buka suara lebih dulu.
"Tidurku baik. Jangan panggil aku Yang Mulia, itu terlalu berlebihan. Panggil saja aku Sofia." Jawab Sofia ringan.
"Mana mungkin saya berani Yang Mulia." Ema dan Rona serentak menunduk. Membungkuk rendah.
"Baiklah panggil saja Nona Sofia, bagaimana?"
"Tapi..." Rona mengangkat pandangannya.
"Ayolah, hanya untuk kita bertiga saja. Bukankah kita hanya tinggal bertiga saja disini?" Bujuk Sofia.
Mata mereka berdua membulat. Seperti mendengar sesuatu yang seharusnya tidak layak diketahui.
"Maafkan kami Yang Mulia." Mereka kembali membungkuk.
Sofia menatap nanar tindakan dua pelayan di depannya. Mereka masih muda, lebih muda dari dirinya. Tapi keadaan telah memaksa mereka untuk terikat dalam situasi yang tidak menguntungkan ini. Sofia tertawa sinis.
Mimpinya mungkin gambaran masa depan. Tapi Sofia menolak untuk menerimanya. Jika memang iya, Sofia akan mengubah mimpi itu.
"Ema, Rona mari hidup bersama dengan baik. Aku pasti akan menyelamatkan kalian." Sofia melangkah maju kemudian memeluk mereka.
Hanya sebatas ini yang bisa Sofia katakan pada mereka. Dia akan menyimpan mimpinya untuk dirinya sendiri. Dia akan melindungi orang-orang di dekatnya, Ema dan Rona.
Hari-hari berlalu begitu saja, Sofia masih merenungkan mimpinya. Kejadiannya sama persis. Tidak ada siapapun yang datang padanya. Hidupnya benar-benar terasing di dalam istana.
Dia adalah istri sah kaisar, istri pertama. Harusnya orang-orang memuliakannya. Bukankah dia permaisuri atau ibu negara kekaisaran ini, itulah pertanyaan Sofia. Seolah dia bukan siapa-siapa. Sofia tidak marah atau geram. Dia hanya tersenyum pahit. Bibir kecilnya mengumpat.
'Kaisar sialan!'
Sofia akhirnya memutuskan satu hal.
'Mari jalani hidup diistana dengan caraku sendiri, dan jika suatu hari nanti kaisar itu datang, Sofia akan membuat perjanjian dengannya.'
Tentu saja Sofia tahu kapan dia akan datang. Tidak dalam waktu dekat. Itu masih jauh dari perkiraan.
"Nona, disekitar sini ada sungai." Celoteh Ema.
Mereka sedang berjalan-jalan di taman belakang. Waktu sorr hari sangat pas untuk bersantai. Sudah dua minggu sejak Sofia tinggal di istana. Tidak ada satupun yang datang menemuinya. Sofia tidak masalah.
"Apakah jauh?" Tanya Sofia penasaran.
__ADS_1
"Tidak terlalu jauh Nona." Timpal Rona.
Hubungan mereka semakin akrab. Sofia yang tidak ingin terlalu dihormati membujuk mereka setiap hari. Akhirnya dua pelayan itu mengikuti keinginan Sofia.
"Aku ingin kesana, bisakah kalian antar aku kesana?"
Ema dan Rona serempak mengangguk. Jaraknya tidak terlalu jauh. Mereka berjalan lebih dulu untuk membimbing Sofia.
Sofia mengedarkan pandangan ke arah sungai yang dimaksud. Lebih ke danau dari pada sungai. Aliran sungai itu sendiri terputus oleh tembok istana. Airnya jernih dan pemandangannya indah. Suara kicauan burung terdengar riang. Sofia menutup matanya erat.
Dadanya naik turun untuk menghirup udara. Wangi bungan dan air bercampur menjadi satu.
Kakinya terangkat begitu dia membuka matanya. Air sungai yang jernih seolah memanggilnya.
"Nona anda mau kemana?" Ema mencegah langkah Sofia dengan menarik tangannya.
"Ayo main air." Senyum cerah tersungging di bibir Sofia.
"Maaf?" Ema terbelalak kaget.
"Ayo!" Sofia menarik tangan Ema dan Rona untuk mengikutinya.
Setelah kaki dan ujung gaun menjadi basah terkena air, tawa meledak. Tiga perempuan muda melepas keresahan dihati masing-masing dengan bermain air.
Tubuh Sofia basah kuyup. Dia membanamkan dirinya sepenuhnya ke dalam air dengan mata tertutup. Sungai tersebut cukup dalam untuk orang dewasa.
Sebuah suara tiba-tiba terdengar dan Sofia sontak bangkit keluar dari air. Matanya linglung mencari sumber suara. Bukan suara Ema atau Rona. Mereka berdua tampak sedang asyik sendiri.
Sofia keluar dari air dan menatap rimbunnya pepohonan di depannya. Ada suara gemerisik dan sesuatu berwarna putih bergerak kecil menggoyangkan rerumputan.
Sofia berlari mengejar. Teryata itu adalah kelinci kecil. Dengan empat kaki munglinya, hewan itu berlari sangat kencang.
Tubuh Sofia yang berat karena gaunnya yang basah terus mengejar. Dia mengikuti kelinci itu masuk ke dalam hutan. Hutan itu ada di samping istana yang dia tinggali.
Nafasnya tersengal. Bagian bawah gaunnya kotor oleh tanah. Akhirnya kelinci itu berhenti. Diantara rerumputan hijau yang tidak begitu rimbun.
Sofia mengatur nafasnya kemudian hendak mencoba mendekat. Namun sesuatu yang entah datang darimana mendahuluinya.
Sebuah anak panah melesat dan segera menembus tubuh kelinci itu hingga tumbang. Darah segar mengotori dedaunan sekitar.
"Astaga!" Sofia memekik keras. Dia mundur dan kakinya menabrak akar pohon. Tubuh Sofia jatuh ke tanah.
Derap langkah kaki terdengar. Sofia menoleh ke arah suara.
Beberapa orang berpakain kstarian dengan panah di tangannya muncul begitu saja.
Tubuh Sofia gemetar.
__ADS_1
"Disini!" Salah satu bersorak keras kemudian suara hentakan kaki kuda bergemuruh.
Sofia menggenggam gaunnya dengan tangannya yang bergetar.
Sekelompok penunggung kuda tiba ditempat tak berapa lama. Kepala Sofia menunduk. Tubuh meringkuk kecil di tanah.
"Yang Mulia, kita menemukan target."
Mendengar itu Sofia mengangkat pandangannya. Betapa terkejutnya dia melihat laki-laki yang duduk diatas kuda menggunakan pakaian berburu. Dia adalah kaisar, Alex de Elderbar. Laki-laki yang telah menikahinya. Suami yang mengucap janji setia sehidup semati beberapa minggu lagi.
Sofia menatap datar. Pertemuan mereka seharusnya tidak sekarang. Masih jauh. Di dalam mimpinya, dia akan bertemu kaisar kurang lebih tiga bulan lagi.
Tatapan mereka bertemu, Sofia dan Alex. Dahi Alex berkerut. Dia pasti mengenali Sofia.
Ksatria yang membawa tubuh kelinci ditangannya ikut menoleh ke arah pandangan Alex, di tempat Sofia tersungkur.
"Kamu siapa?"
Kstaria tadi membuka suaranya.
Sofia bangkit di bantu oleh ksatria lain yang posisinya dekat dengan dirinya.
Mulut Sofia terkunci.
Alih-alih menjawab pertanyaan ksatria tersebut, Sofia mengatur dirinya kemudian membungkuk ke arah laki-laki penunggang kuda yang ada di barisan paling depan.
"Salam kepada matahari Elderban. Semoga berkat dewa menyertai anda." Sofia menegakkan punggungnya.
"Mohon ampuni kesalahan hamba, hamba tidak tahu jika sedang ada perburuan disekitar sini. Saya terbuai oleh keindahan kelinci kecil tersebut dan tanpa sadar saya mengikutinya." Mata Sofia jatuh ke tanah.
"Kamu pasti salah satu pelayan di istana berburu." Suara ksatria lain terdengar.
"Benar tuan. Mohon maaf atas kesalahan saya."
"Kamu basah kuyup. Apa yang terjadi padamu?"
"Saya sedang bermain di sungai bersama teman saya. Bolehkah saya kembali? Teman saya mungkin mencari saya."
"Iya kamu boleh. Segera jauhi area berburu. Disini sangay berbahaya. Segeralah kembali." Sebuah titah terdengar dari mulut ksatria.
Sofia kembali membungkuk kemudian berbalik. Dia segera menghilang di balik rimbunnya pepohonan.
Dia terus mengangkat kakinya yang terasa nyeri dengan paksa. Setelah cukup jauh menyingkir tubuhnya jatuh tersungkur.
Sofia memegangi dadanya dengan kedua tangannya. Nafasnya tersengal.
Dia baru saja berbohong. Pernikahannya dengan kaisar dilakukan secara tertutup. Secara praktis tidak ada yang mengenalinya. Dia juga tidak sempat melihat ekspresi kaisar. Sofia tidak pedulu. Di kepalanya hanya dipenuhi ingatan tentang mimpinya, tentang kematiannya.
__ADS_1
The Empress Crown #3 Next...