
Bagai menyesap manisnya madu dan pahitnya obat. Hwan duduk termenung di ruang kerjanya. Pikirannya penuh. Perjanjian telah sampai ditengah, Seokyung sudah hamil. Sembulan bulan lagi akan melahirkan dan perjanjian selesai.
Harusnya Hwan senang karena dengan kelahiran anak itu Sora akan kembali. Itu janji Sora. Jika seorang anak telah lahir dia akan kembali dari aktivitas bellerinanya di luar negeri. Tapi Hwan tidak senang. Dia ingin mundur dan memutar waktu. Ingin agar perjanjian itu tidak segera berakhir.
Tangannya mengusap wajahnya kasar. Hwan mendesah keras. Hatinya sesak. Wajah Seokyung terbayang dimatanya.
"Hwan." Suara ketukan mengejutkan Hwan. Dia segera bangkit dan membuka pintu. Wajah Seokyung terlihat.
"Ada yang ingin aku sampaikan." Ucapnya lirih.
"Masuklah." Hwan membuka pintu lebih lebar kemudian menarik tangan Seokyung masuk. Mereka duduk di sofa dan saling berhadapan.
"Aku sudah mengirim pesan pada Sora."
"Tentang?"
"Tentang kehamilanku." Jawab Seokyung menunduk. Bagaimanapun, dia harus bertanggungjawab pada perjanjian itu.
Bukan hanya Hwan, Seokyung juga sedang mengalami pergulatan batin.
"Lalu?"
"Nomornya tidak bisa dihubungi jadi aku pengirim pesan. Belum dijawab."
Hwan menyandarkan bahunya ke sofa kemudian menepuk tempat kosong disampingnya. Seokyung bangkit kemudian duduk di samping Hwan. Tubuhnya segera ditarik ke dalam pelukan Hwan.
"Lupakan Sora. Fokus saja pada kehamilanmu. Ada yang kamu inginkan?" Tanya Hwan tak mempedulikan Sora yang menjadi topik pembicaraan mereka.
Seokyung menggeleng. Dia membenamkan wajahnya ke dada Hwan. Menghirup aroma musk manis Hwan yang dia suka. Dada bidang serta tangannya yang hangat mampu menenangkan pikirannya. Rasa takut kembali muncul. Seokyung takut akan rasa yang akan dia rindukan ini. Air mata mengancam keluar tapi dia menahannya sekuat tenaga. Hari ini adalah hari bahagia karena dia dinyatakan hamil. Seokyung tidak ingin menodai hari indah ini.
Hari-hari cepat berlalu. Mereka hidup seperti biasanya. Menekan sekuat tenaga rasa takut akan akhir dari perjanjian itu. Melupakannya dan terlarut dalam kebahagiaan. Fokus mereka sekarang adalah bayi yang ada di dalam kandungan Seokyung. Perutnya makin besar dan usianya menginjak empat bulan.
Selama masa kehamilan Hwan membatasi aktivitas Seokyung secara ketat. Setelah kemunculannya di Jeju saat peresmian hotel baru, Seokyung banyak mendapat undangan untuk acara amal atau sekedar pesta kelas atas. Tentu tidak semua undangan dia hadiri. Seokyung hanya datang jika Hwan juga datang. Seokyung tidak pernah sekalipun pergi tanpa ditemani Hwan, kecuali ke dokter. Itupun karena dokternya adalah teman Hwan. Bukannya Hwan takut Seokyung akan ketahuan tapi lebih ke alasan pribadinya. Hwan dengan segala sikap posesifnya.
__ADS_1
"Selamat bayinya kembar." Wajah cerah Arthur terlihat.
"Kembar?" Hwan terhenyak.
"Anak kembar jarang sekali didapat. Kalian beruntung." Arthur menunjukkan monitor USG pada Hwan yang berdiri di belakangnya. Ada dua bulatan kecil dilayar. Bergerak-gerak dan menggemaskan.
"Jenis kelaminnya belum bisa aku pastikan. Bulan depan datang lagi. Akan aku pastikan mereka akan menunjukkannya pada kita." Senyum Arthur kembali terbit.
Hwan mengangguk. Dia masih tidak percaya jika ada dua nyawa di dalam perut Seokyung.
Sedangkan Seokyung yang mendengarkan penjelasan dokter menahan nafas. Dia tidak menyangka jika dia hamil kembar. Tidak mungkin dia bilang pada dokter jika dia adalah anak kembar. Semua orang hanya tahu tentang Ahn Sora, tanpa Ahn Seokyung sebagai saudara kembar. Seokyung mengelus perutnya yang bulat. Kini dia membawa dua nyawa di dalam perutnya.
"Ada yang kamu inginkan?" Tanya Hwan. Dia sedang berada dibalik kemudi mobil. "Barang atau makanan atau apapun?" Desaknya lagi.
"Kamu harus segera kembali ke kantor bukan?"
Awalnya Seokyung berencana untuk ke dokter sendirian tapi Hwan memaksa ikut. Dia tahu jika Hwan hari ini ada rapat penting. Setiap hari Hwan selalu mengatakan jadwalnya pada Seokyung. Jadi dia tahu semua jadwal harian Hwan. Jadi Seokyung tak mungkin menginginkan sesuatu saar Hwan sedang sibuk. Meskipun ada satu hal yang dia inginkan.
"Aku bisa mengundur pertemuan." Jawab Hwan datar.
"Aku baik-baik saja. Antar aku pulang dan segera kembali. Banyak orang yang menunggumu."
"Pertemuan tidak akan dimulai tanpa ada aku."
"Hwan... aku baik-baik saja." Bujuk Seokyung.
"Kalau begitu ikut aku ke kantor. Setelah itu kita bisa makan malam bersama." Hwan menoleh kemudian tersenyum.
"Ya? Aku tinggal di rumah saja."
"Aku tidak akan lama. Mau ya? Aku masih ingin bersamamu."
Kata-kata seperti inilah yang tidak bisa Seokyung tolak. Dia hanya cemas. Dia tidak pernah kesana sebelumnya. Dia takut akan pandangan orang lain yang mungkin mengenal Sora. Tapi demi Hwan dia mengalah.
__ADS_1
Saat dinyatakan hamil Hwan melarang Seokyung untuk melakukan aktivitas di luar. Seperti menghadiri pertemuan, hanya ke dokter yang diperbolehkan. Akibatnya Nyonya Kang jarang terekspos. Kehamilannya juga tak terendus publik.
"Aku bisa tinggal di rumah saja." Ucap Seokyung.
Hwan membuka pintu dan mengulurkan tangannya. Dia tidak mempedulikan Penolakan Seokyung.
"Kamu baru pertama kesini bukan? Kamu bisa melihat-lihat kantor selama aku ada pertamuan. Ini hanya pertemuan kecil dengan para bawahan. Tidak akan lama. Aku janji." Jelas Hwan yang membantu Seokyung keluar dari mobil.
Hwan membenarkan posisi selendang di pundak Seokyung. Dia menggunakan terusan hitam selutut tanpa lengan. Garis dadanya rendah maka dari itu Hwan menempatkan selendang di pundaknya untuk mengurangi paparan kulit putihnya. Seokyung menggunakan sepatu datar tanpa tas mewah di tangannya. Dia memang tidak biasa membawanya. Kenyataannya memang dia tidak harus membawa uang, Hwan sudah mengurus semuanya.
"Di luar dingin, ayo segera masuk." Hwan mengeratkan tubuhnya. Tangannya memeluk pinggang Seokyung dengan posesif.
Beberapa staff sudah menunggu saat mobil Hwan berhenti di depan lobi dan mereka turun bersama. Pihak staff kantor segera membentuk barisan untuk menyambut kedatangan istri CEO mereka.
Perjalanan mereka mulus dari masuk lobi hingga ke ruangan Hwan. Setiap pegawai yang berpapasan dengan mereka pasti berhenti dan memberi hormat. Banyak mata yang mengawasi terutama pada perut buncit Seokyung.
Para pegawai kantor pusat Kangin Group memang tidak menatap secara langsung tapi Seokyung jelas tahu. Mereka diam-diam mencuri lihat dirinya saat melewati para pegawai. Ada banyak wajah terkejut setelah melihat perutnya yang besar.
Seokyung meremas pundak Hwan dan mengeratkan tubuhnya. Dia seperti anak kecil yang bersembunyi dibalik tubuh ayahnya.
"Jangan pedulikan mereka." Bisik Hwan. "Itu ruanganku." Hwan menunjuk pintu emas besar yang terbuat dari kayu. Terlihat beberapa orang mengenakan pakaian rapi berbaris di depan pintu.
"Selamat datang CEO Kang, selamat datang juga Nyonya!"
Tubuh Seokyung tersentak sedangkan Hwan melihatnya dengan tersenyum. Seokyung seperti kelinci ketakutan di matanya.
"Persiapkan pertemuan dan tolong urus Nyonya selama aku pergi." Titah Hwan.
"Baik CEO Kang." Mereka serempak menjawab.
"Tunggulah di dalam. Aku akan segera kembali." Hwan memeluk Seokyung serta menanam ciuman acak di wajahnya.
Saat Hwan berbalik, hati Seokyung jatuh. Melihat punggung Hwan menjauh menyadarkan perasaannya. Sejak kapan kehadiran Hwan sangat penting baginya. Entah sejak kapan, yang pasti hati Seokyung kosong saat tidak ada Hwan di dalam jangkauannya.
__ADS_1
Game of Hearts #10 Next...