
Hidup segan mati tak mau. Itulah kata yang tepat disematkan pada hidup Kent Ozyl Putra Sadewa. Tidur tidak tenang. Makan tak enak. Kerja tidak fokus. Entah apa yang diinginkan hatinya. Kent hidup seperti tanpa jiwa, hanya luarannya saja.
Emosinya mengerikan. Akibat dari berhari-hari tidak tidur berimbas pada pekerjaannya. Banyak dokumen menumpuk. Banyak rapat yang ditunda.
Karyawan dan para pemegang saham khawatir dengan keadaan vacuum ini. Tidak biasanya pimpinan mereka seperti ini. Kent terkenal dengan CEO bertangan dingin. Teliti dan tajam. Baru kali ini CEO mereka mengabaikan pekerjaannya.
Saat menutup matanya hanya Jessy yang terlihat dimatanya. Kent buru-buru terjaga untuk menghilangkan bayangan itu. Dadanya sesak. Kent tidak tahu harus bagaimana, satu yang pasti dia harus bertemu Jessy.
Keinginan itu segera dia urungkan. Mengingat ucapan Juna terakhir kali, '*Jessy terguncang setelah bertemu denganmu lag*i'. Tapi ini demi kebaikannya. Dia ingin memastikan hatinya. Jessy menolaknya lagi tandanya dia harus berhenti. Sikap memaksanya hanya akan menyakiti Jessy.
Kent mengambil ponsel kemudian mengirim pesan.
Jessy ini aku Kent. Bagaimana kabarmu? Ada yang ingin aku bicarakan. Kapan kamu punya waktu? Besok aku ada pekerjaan di Jakarta.
Lima menit, sepuluh menit, hingga satu jam Kent menunggu. Pesan itu terkirim tapi tidak dibalas. Kent mengirim pesan berikutnya.
Kalau Jessy gak mau ketemu boleh telpon? Sebentar saja.
Hingga hari berikutnya tak satupun pesannya dibaca oleh Jessy. Kent mendengus kesal. Pesan itu terkirim dan pasti Jessy sudah membacanya, tapi tidak dia membalas.
Jess aku ada di Jakarta. Kamu gak mau beri aku waktu sebentar aja buat ketemu? Please Jess, kasihanilah aku.
Kent melepaskan semua harga dirinya demi satu orang wanita, Jessica Hayuning Jayanegara. Tapi tidak satupun usahanya berhasil. Jessy benar-benar mengabaikannya.
Mata Kent setiap detik melihat layar ponsel. Jika mata itu bisa mengeluarkan api, ponsel itu pasti sudah meledak saking seringnya di tatap.
Kent mengirim pesan untuk terakhir kali sebelum dia tidur.
Jess aku di masih di Jakarta sampai tiga hari ke depan. Jika kamu berubah pikiran dan setuju bertemu denganku. Balas pesanku ya. Aku menunggunya Jess. Selamat malam, have a nice dream Jessy.
Tubuh Kent tenggelam ke lautan kapuk. Setelah mengirim pesan Kent terpejam. Berusaha untuk tidur. Siapa tahu besok ada balasan dari Jessy.
*****
Kepala Jessy berdenyut sakit saat dia bangun tidur. Tanpa sadar pipinya basah. Semalam Jessy bermimpi buruk. Dia menangis dalam tidurnya. Mimpi itu tentang pernikahannya dengan Kent yang berakhir dengan perceraian.
Suasana hati Jessy sangat buruk hari ini. Ada lingkaran hitam di matanya. Wajahnya pucat dan matanya sayu. Tubuhnya menggigil dan berkeringat dingin.
"Jess kamu gak papa? Pucat banget. Sakit?" Suara Yola terdengar begitu Jessy masuk ruangan.
__ADS_1
"Kurang tidur La."
"Tumben kamu kurang tidur? Akhir-akhir ini kamu kan doyan makan sama suka tidur di kantor. Ada masalah?" Yola kembai buka suara.
"Gak sih. Gak tau aja kenapa gak bisa tidur." Elak Jessy dengan suara tenang. Tidak mungkin dia bilang jika dia diteror Kent dengan banyak pesan. Dia sudah berhasil sejauh ini mengindari laki-laki itu.
Pemicu mimpi buruk tentang pernikahannya adalah pesan yang terus datang dari Kent.
"Yakin gak papa? Kalau sakit ijin aja Jess." Renatha menimpali.
"Gak papa mbak, aku kuat kok."
"Halo selamat pagi semuanya. Aku bawa sarapan kopi untuk kita semua." Suara riang Doni memenuhi ruangan.
Aroma kopi panas yang khas segera menyebar. Jessy yang baru saja membuka laptopnya ikut menangkap aroma kopi. Tapi tiba-tiba perutnya melilit, seperti ada yang menonjoknya keras-keras.
"Hoek!" Jessy menutup mulutnya kemudia lari ke kamar mandi.
"Jess kamu kenapa?" Suara Yola menyusul setelahnya.
Jessy memuntahkan semua isi perutnya. Tubuhnya ambruk ke lantai kamar mandi. Tangannya dingin dan berkeringat. Jessy gemetar. Tanpa sadar air matanya tumpah.
Jessy kembali ke ruangan dengan wajahnya yang pucat. Penampilannya berantakan.
Jessy mengangguk lemah. Dia kembali duduk ke kursinya. Kepala bersandar.
"Kamu ijin aja Jess, wajahmu pucat banget lho Jess. Kamu masuk angin itu." Ucap Renatha.
"Benar Jess apa yang dibilang Mbak Rena, mending kamu istirahat aja di rumah. Mau aku anter pulang?" Yola menawarkan diri.
"Aku istirahat sebentar disini pasti baikan kok. Kayaknya aku kurang istirahat deh makanya gini." Jessy menolak tegas. Dia baik-baik aja.
Belum sempat berhasil meredakan rasa mual yang menyerang, rasa itu kembali menguat saat pintu ruang Tim Arsitek dan masuklah Mario yang membawa sebuah toples.
"Hai hai, istriku kemarin membuat kolak durian. Karena masih ada aku bawa."
"Hoek!" Kali ini Jessy terlalu lemah untuk lari ke kamar mandi. Dia muntah di mejanya. Cairan kuning kental segera berserakan dimana-mana.
"Jessy!" Semua orang kompak berteriak.
__ADS_1
"Jess kamu gak papa?" Yola segera menghampiri dengan tissue ditangannya.
"Ambil handuk dan air." Titah Renatha. Doni mengambil handuk sedangkan Ferdi mengambil air.
"Jess kamu pulang aja deh, kondisimu mengenaskan. Kamu butug istirahat. Aku anter kamu pulang yuk." Bujuk Yola seraya mengelap wajah Jessy yang kotor.
Doni dan Ferdi membantu tugas untuk membesihkan meja Jessy. Sedangkan Renatha dan Yola mengurus Jessy yant terkulai lemah.
Mario mematung ditempat dengan kotak berisi kolak durian di tangannya.
"Ada apa ini?"
"Jessy lagi gak sehat mas." Jawab Yola cepat.
"Dia udah muntah dua kali." Timpal Renatha.
"Jessy kenapa? Lagi hamil?" Tanya Mario polos.
Semua orang terhenyak dan sontak menatap Mario yang mematung.
"Mas jangan ngaco!" Teriak Yola dengan mata berkilat kesal.
"Kan biasanya tanda orang hamil itu mual dan muntah."
"Udah deh kamu kalau gak mau bantu bawa pergi kotak yang ada ditanganmu itu. Jessy lagi masuk angin, dia lagi sensistif sama mau. Sana cepat pergi." Renatha turun tangan. Dia segera mengusir Mario pergi. Dengan gampangnya Mario menurut. Biang keladi dari muntahnya Jessy telah pergi.
"Jess aku antar pulang aja ya. Kamu gak bisa kerja kalau kayak gini."
Jessy mengangguk pelan. Dia benar-benar tidak ada kekuatan. Seluruh tubuhnya dingin. Perutnya terasa teraduk-aduk tidak karuan. Dia hanya mampu mengerjapkan matanya.
"Kita mampir apotek ya La, aku butuh beli obat."
Yola mengangguk kemudian memapah Jessy. Renatha mengemasi barang Jessy kemudian ikut mengantar ke lobi depan. Cukup Yola saja yang mengantar Jessy.
"La minta tolong beri tahu Mas Juna ya, ini ponselku. Gak pakai sandi kok."
"Kamu gak papa masuk sendiri?" Tanya Yola ragu-ragu.
"Aku cuma sebentar kok."
__ADS_1
Jessy menyerahkan ponselnya ke Yola sedangkan dia tertatih berjalan masuk apotek. Tubuhnya bisa ambruk jika ada yang menabraknya. Maka dari itu sekuat tenaga Jessy memaksa tubuhnya untuk bergerak. Dia ingin membeli sesuatu dan Yola tidak boleh tahu.
Jungkir Balik Dunia Jessy #18 Next...