Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
Jungkir Balik Dunia Jessy #18


__ADS_3

Tubuh Jessy luruh ke tanah saat melihat benda pipih ditangannya. Ada dua garis merah disana. Tangan Jessy gemetar. Dia mencengkeram erat benda itu.


Sebuah ingatan tiba-tiba kembali berputar. Ingatan tentang pembicaraannya dengan Kent di kafe bulan lalu.


"Kamu mungkin saja bisa hamil."


Seperti dihantam oleh kenyataan yang tidak ingin dia percayai, tubuh Jessy bergidik. Semuanya bergerak ke arah yang tidak terduga.


Jessy menolak percaya. Ada kehidupan lain di tubuhnya. Dia hamil. Dia mengandung anak Kent.


Karena tamu bulanan yang datang tidak rutin, Jessy acuh tak acuh. Dia tidak pernah memikirkan kapan masa suburnya. Saat sadar bahwa dia hamil, Jessy menyesali kebodohannya.


Tuduhan Kent yang menurutnya tidak mendasar kini tidak bisa diabaikan begitu saja. Kent benar, Jessy hamil. Lantas apa yang harus dia lakukan.


Isi kepala Jessy blank.


"Jessy kamu di dalam? Apa terjadi sesuatu?" Suara ketukan pintu terdengar. Orang di luar adalah Juna.


"Iya mas." Jawab Jessy pelan.


"Kenapa lama banget di dalam? Kamu kenapa?" Suara Juna tumbuh cemas.


Pintu kamar mandi terbuka. Jessy keluar dengan kepala tertunduk.


"Jess kata Yolanda kamu sakit. Kamu gak papa?" Pertanyaan Juna segera menyergap Jessy.


"Jessy..." Juna meraih pipi Jessy kemudian memgangkatnya. Matanya melebar saat melihat air mata yang terurai dari mata Jessy.


"Mas aku hamil." Ada kepahitan yang tertinggal di ujung lidah Jessy.


Juna terdiam. Dia butuh waktu beberapa detik untuk memproses ucapan Jessy. Begitu mendengar tangis Jessy yang pecah, Juna menarik tubuh gemetar Jessy ke dalam pelukannya.


"Gak papa Jess, apa yang bisa mas lakukan?" Juna membelai punggung Jessy.


Jessy menggeleng cepat dalam pelukan Juna. Dia sendiri bingung apa yang harus dia lakukan.


"Aku benci orang itu mas, kenapa dia terus menyakitiku. Apa salah Jessy padanya. Padahal Jessy sudah menjauh, tapi dia terus datang." Ucap Jessy terbata. Air ata membasahi seluruh pipinya. Dia menangisi nasib yang menimpanya.

__ADS_1


Setelah lama menangis Jessy akhirnya tertidur di pelukan Juna. Suara nafasnya berat.


Juna menyeka wajah Jessy yang basah dengan tissue. Hatinya tenggelam. Apalagi sekarang. Bukan kenyataan Jessy hamil yang mengusiknya, tapi bagaimana nasib Jessy setelah ini. Anak yang di dalam perut Jessy tentu harus memiliki ayah.


Kepala Juna berdenyut nyeri. Dia melepas ikatan dasinya yang terasa sesak kemudian membuangnya ke lantai.


Ada satu nama yang terlintas cepat di pikirannya, Kent Sadewa. Orang yang sepertinya harus bertanggung jawab akan semua kekacauan ini.


Tapi Juna tidak mau bertindak gegabah. Semua keputusan ada ditangan Jessy. Juna akan mengikuti apa yang akan Jessy lakukan. Karena Jessy yang akan menjalaninya bukan dia. Its Jessy life not him.


Juna tetap berada disisi Jessy hingga pagi hari. Dia tidur di sofa kamar Jessy. Khawatir akan sesuatu yang bisa saja terjadi. Untungnya Jessy tidur dengan tenang. Namun pagi hari saat dia membuka mata semuanya tidak baik-baik saja.


Jessy tidak ada ditempat tidurnya. Juna mencari ke semua ruangan tidak ada. Dia memanggil-manggil Jessy tapi tidak ada jawaban. Juna juga menghubungi ponsel Jessy tapi ponsel itu berdering tak jauh darinya.


Jessy meninggalkan ponselnya. Benda datar itu tergelatak di tempat tidurnya. Juga panik. Jessy tidak bisa ditemukan dimana saja. Dia segera menyambar ponsel itu kemudian mengubungi siapa saja yang ada di daftar kontak Jessy.


Bahu Juna merosot. Dia takut Jessy bertindak nekat.


Orang yang dicari-cari ternyata ada disuatu tempat. Dia berjalan gontai memasuki sebuah lobi yang tidak asing baginya. Hari masih pagi dan belum ada aktivitas yang berarti.


"Ada yang bisa kami bantu?" Seorang petugas resepsionis menghampiri Jessy yang berdiri termangu di tengan lobi Royal Corp Jakarta.


"Sebelumnya sudah membut janji?"


Jessy menggeleng cepat.


"Pak Kent sepertinya belum datang Ibu, silahkan duduk dulu kami akan konfirmasikan dulu."


"Bilang saja Jessica Jayanegara mencarinya."


Petugas itu mengangguk kemudian meninggalkan Jessy sendirian.


Jessy menyapukan pandangannya ke sekitar. Semalam dia telah berpikir banyak. Menangis tanpa henti. Akhirnya dia dapat satu kesimpulan. Dia harus bertemu Kent.


Setelah beberapa saat menunggu, Jessy diantar naik oleh petugas tadi ke ruangan Kent. Dia dipersilahkan masuk meskipun di dalam tidak ada siapa-siapa.


Jessy mengambil tempat duduk di sofa yang nyaman. Terlihat sangat nyaman. Ketika diduduki, sofa itu menenggelamkan tubuh Jessy. Punggungnya rileks.

__ADS_1


Jessy memejamkan matanya kemudian membukanya lagi. Sakit kepalanya tidak mereda. Dia tidak peduli dengan penampilannya saat ini. Dia mengenakan kaos putih dan lose skirt semata kaki. Dia bahkan pergi tanpa membawa ponselnya.


'Pasti mengerikan.' Gumam Jessy dalam hati.


Dia menghela nafas kasar. Jessy menyandarkan kepalanya ke sofa. Matanya menatap lurus ke langit-langit di atasnya. Saat pikirannya terbang kemana-mana, terdengar suara pintu di buka.


"Jessy..." Suara lembut terdengar. Jessy menoleh kemudian bangkit.


Kent berdiri tak jauh darinya, mengenakan pakain santai alih-alih kemeja atau jas rapi.


"Kenapa datang tanpa menghubungi? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Kent berjalan mendekat.


Jessy diam mematung. Melihat wajah Kent entah kenapa meredakan sakit kepalanya. Rasa hangat segera menyebar ke seluruh tubuhnya. Air mata tak bisa dibendung lagi. Tangis Jessy pecah.


"Apa yang terjadi Jess? Ada apa?" Kent panik. Dia segera menghampiri dan membaw Jessy ke dalam pelukannya.


"Kamu pasti sengaja kan melakukan ini? Kamu sangat membenciku makanya kamu lakukan ini. Jahat! Jahat!" Jessy memukul dada Kent dengan segala kekuatannya. Suaranya bergetar karena isak tangis.


"Iya aku jahat. Kamu boleh memukul sesuka hatimu Jess tapi jangan menangis. Ceritakan padaku apa yang terjadi? Kamu tidak membalas satupun pesanku dan datang tanpa memberitahu." Kent menarik tubuh Jessy lebih dekat. Mencium puncak kepalanya kemudian membelai punggungnya.


"Aku hamil." Suara Jessy terbata. Kepalanya terbenam di dada Kent.


'Aku hamil.' Kent meragukan telinganya sendiri. Tubuh Jessy gemetar dalam pelukannya. Dia tidak salah dengar. Itu yang dikatakan Jessy.


"Hamil? Kamu hamil?" Kent memastikan dengan suaranya yang rendah.


Jessy mengangguk. Dia masih menangis.


Seperti disiram air es ditengah musim panas. Seperti menemukan oase di padang pasir. Saat sampai ke jalan buntu dan tidak ada jalan lain, sebuah keajaiban tiba-tiba datang.


Hati Kent penuh. Perasaan lega menyusup ke seluruh tubuhnya. Tangannya mengertakan tubuh Jessy ke dalam pelukannya.


Diam-diam Kent tersenyum penuh arti. Hatinya melambung tinggi.


"Kita duduk dulu ya." Kent mengangkat tubuh Jessy yang seringan bulu.


Dia duduk di sofa terdekat dengan tubuh Jessy masih dalam pelukannya.

__ADS_1


"Jess jangan menangis lagi. Kamu boleh melampiaskan isi hatimu sepuasnya. Pukul aku kalau itu bisa meredakan hatimu." Suara Kent melembut. Dia seperti sedang membujuk anak kecil yang merajuk.


Jungkir Balik Dunia Jessy #19 Next...


__ADS_2