Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
Jungkir Balik Dunia Jessy #10


__ADS_3

Seperti anak kecil yang sedang dimarahi, tubuh Jessy menyusut. Dia kembali tenang. Hanya saja air matanya tumpah. Panas ditubuhnya tidak mereda dan tubuhnya melakukan di luar kontrolnya.


Antara sadar dan tidak sadar. Hati Jessy sakit. Dia tahu lawannya adalah Kent, orang yang paling dia benci. Tapi hanya dia yang bis menolongnya saat ini. Pria bajingan yang dia temui tadi telah memberinya sesuatu hingga tubuhnya tak bisa dikendalilan. Dia ingin meredakannya. Jessy ingin menghilangkan rasa asing yang menyelimuti dirinya.


Sentuhan Kent sedikit menenangkan gemetarnya. Jessy sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan. Tubuh Kent seperti obat penawarnya. Rasanya dingin dan nyaman. Jessy tidak suka rasa ini. Rasa yang harus merendahkan dirinya di depan Kent.


Tapi Kent terua berteriak padanya. Jessy sadar bahwa Kent memang tidak pernah menyukainya. Meskipun sudah memohon, Kent tidak akan pernah menolongnya.


Jessy bangkit kemudian turun dari tubuh Kent. Di bergeser untuk memberi ruang pada Kent. Sadar akan tubuhnya tanpa gaunnya, Jessy masuk ke dalam selimut. Tubuhnya gemetar, dia benci rasa panasnya. Jessy hanya bisa menangis. Dia harus menahan ini.


"Maafkan aku." Ucap Jessy dengan suara bergetar. "Aku kehilangan ponselku, boleh minta tolong untuk menghubungi temanku? Kami ada di kamar 505." Lanjutnya.


Disetiap kamar hotel ada telpon yang bisa menghubungkan setiap kamar dengan nomor panggilan sama dengan nomor kamar.


Jessy tidak berani menatap Kent. Dia menundukkan kepalanya. Gemetar di tubuhnya kian hebat. Jessy meringkuk dengan kaki tertekuk di dada. Pipinya basah oleh air mata. Dia sekarat.


"Dokter..." Celetuk Jessy. "Pasti ada dokter disekitar sini. Boleh minta tolong untuk dipanggilkan dokter?" Jessy mendongak dan tatapa mereka bertemu.


Kent duduk di tepian ranjang dengan mata yang menatapnya tanpa berkedip. Tatapan itu lebih menyakitkan daripada rasa yang harus Jessy tahan ini.


"Maaf aku terlalu banyak minta tolong. Aku akan mengurusnya sendiri." Jessy mengangkat tubuh lemahnya. Dia benci terlihat lemah di depan Kent.


Tidak pernah satu kalipun Jessy menunjukkan dirinya yang lemah dihadapan Kent saat mereka masih menikah. Jessy memberontak hingga akhir. Tapi kali ini Kent melihat dirinya yang lemah. Itu menyakiti hatinya secara tidak langsung.


Tubuhnya sangat berat. Jessy hanya ingin mengambil gaunnya yang tergeletak di lantai. Tapi tubuhnya tidak mau bergerak.


Air mata Jessy kembali tumpah. Dia menggigit bibir bawahnya. Dia menahan sekuat tenaga erangan yang hampir lolos dari bibirnya. Dia terbakar gairah. Rasa asing yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dia menutup rapat pahanya. Ada yang mengancam meledak dari area bawahnya.


"Jangan menangis."


Sebuah tangan tiba-tiba menyapu pipi Jessy yang basah. Tangan itu dingin. Jessy memejamkan matanya menikmati rasa dingin dari tangan Kent.


"Apa yang kamu ingin aku lakukan?" Suara itu lembut dan merdu. Tubuh Jessy menegang. Inti miliknya berdenyut.


"Jessy..."


Suara lembut itu terdengar lagi saat dia tidak menjawab. Jessy membuka matanya. Kent menatapnya. Gairah Jessy memuncak, tubuhnya semakin memanas. Dia butuh sesuatu untuk mendinginkannya, yaitu sentuhan Kent.


"Tolong aku." Kelopak mata Jessy mengerjap dan bulir air mata jatuh. Matanya memohon. Dia hanya ingin bebas dari rasa sakit ini.


"Aku bisa menolongmu, tapi jangan menyesal ya." Ucap Kent membelai pipi Jessy. Wajahnya yang semerah apel menggoda Kent. Bibir merahnya itu apalagi. Kent mengarahkan jarinya ke bibir Jessy.

__ADS_1


Mereka berdua tahu apa yang diinginkan tubuh Jessy. Perbuatan yang bisa menghentikan gemetarnya. Sentuhan yang bisa menghilangkan rasa panas ditubuhnya.


Jessy mengangguk. Dia butuh Kent. Karena memang hanya ada Kent disini. Daripada dengan orang yang tidak dia kenal. Jessy membuang seluruh harga dirinya. Untuk kedua kalinya Jessy tidak masalah. Setelah ini dia hanya perlu menjadi Jessy seperti biasa. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Jika itu Kent, dia pasti bisa. Sifat Kent yang acuh tak acuh sangat mendukung.


Kent tersenyum. Pikiran liar memenuhi pikirannya.


"Aku hitung sampai tiga, kalau sampai hitungan ketiga kamu tidak bisa melarikan diri Jessy." Kata-kata Kent memuntahkan ancaman.


Bahkan Jessy tidak gentar. Tubuhnya semakin kejang saat Kent menatapnya. Dia bergairah hanya dengan ditatap. Jessy memegang tangan Kent yang ada di bibirnya.


"Lakukan saja. Aku mohon." Air mata Jessy kembali tumpah. Dia sampai tidak tahu berapa kali dia menangis.


"Kamu menginginkanku tapi kamu menangis?" Dahi Kent berkerut. "Aku harus menghukummu."


Tanpa menghitung sampai tiga, Kent menarik dagu Jessy mendekat kemudian ******* bibir merah yang sejak tadi memohon padanya.


Jessy mendekatkan tubuhnya. Selimut lepas dari tubuhnya. Tangannya melingkar di leher Kent. Ciuman semakin diperdalam. Jessy melenguh pelan. Seperti ada sesuatu yang meledak. Jessy merapatkan pahanya. Kakinya bergesekan. Jessy resah.


Kent menjauhkan tubuh mereka. Memberikan ruang untuk Jessy bernafas. Kent mengusap bibir Jessy yang basah oleh air liurnya. Pandangannya berkabut.


Tangannya Jessy membuka satu persatu kancing kemeja Kent. Dia menelun ludah saat melihat dada bidangnya. Pemandangan yang baru dia lihat.


"Sudah cukup melihatnya." Kent kembali menyerbu bibir Jessy.


Tubuh mereka melilit. ******* dan lenguhan saling bersahutan. Mereka saling mendamba tubuh mereka masing-masing.


"Eung!" Punggung Jessy melungkung saat sesuatu meledak darinya.


Ciuman Kent beralih dari bibir ke pipi, kemudian turun ke leher, pundak dan dada Jessy. Dua buah dadanya terlihat menyumbal dibali bra tanpa tali yang dia kenakan. Kent menarik pengaitnya. Dua benda itu terungkap. Bentuknya bulat, berisi dengan puncak merah muda yang tegak. Mata Kent berkilau melihatnya. Tanpa menunggu waktu yang lama, Kent memainkan lidahnya di sekitarnya. Mencium, menghisap bahkan menggigit. Ada tanda mereka menyebar dari leher hingga dada Jessy.


Milik Kent menegang. Rasanya tegak dan semakin membesar. Aroma tubuh Jessy membakitkan kepekaannya.


"Jess kamu boleh melarikan diri sekarang. Aku tidak akan berhenti jika sudah mulai." Kent mendongak dan menatap Jessy yang berantakan.


Jessy tidak menjawab. Dia dipenuhi kenikmatan dari sentuhan Kent. Kakinya menggeliat resah. Jessy tak mampu lagi mengendalikan tubuhnya. Dia pasrah dibawah tindihan Kent.


"Jangan menyesal setelah ini Jess, kamu yang memintanya." Ucap Kent dengan suaranya yang berat.


Kent menarik turun satu-satu kain yang tersisa di tubuh Jessy. Tangannya segera menyelinap ke area tersembunyi. Disana sudah basah.


"Ahhhh!" Jessy mendesah dengan suara berat. Jari Kent memainkan area sensitifnya. Wajah Jessy merah padam. Dia menutup kakinya.

__ADS_1


"Aku ingin melihatnya, jadi buka kakimu." Pinta Kent.


Jessy membuka kakinya. Gerakannya ini menyebabkan pintu masuk miliknya sedikit terbuka.


"Ah! Eung!" Jessy menjerit saat sesuatu masuk ke dalam.


Jari Kent menerobos tanpa peringatan. Jessy menjerit centil. Tubuhnya semakin terbakar. Tubuh Jessy mengheliat tak karuan. Seperti hidupnya telah menghamba pada kenikmatan.


"Kent! Ah! Kent! Eung!" Cairan bening meledak dari tubuh Jessy. Mengalir keluar dan menodai seprei.


Kent menarik keluar jarinya yang yang basah oleh cairan pelepasan Jessy.


"Panggil aku dengan benar." Pinta Kent seraya memainkan sekitar aerah intim milik Jessy.


"Kent..." Ucap Jessy lemah.


"Kamu harus dihukum karena berbuat salah." Kent mencubit daging montok yang menantangnya sejak tadi.


Jessy tak mampu menjawab. Tubuhnya melelah dan otaknya seperti bubur. Tidak mampu untuk berpikir.


"Terima hukumanmu Jess, kamu terus menggodaku dan berbuat salah. Kali ini lebih besar, aku akan sepelan mungkin agar kamu tidak sakit."


Jessy mengangguk.


Kent meletakkan tangan Jessy di lehernya. Dia telah melepas semua pakainnya tanpa Jessy sadari. Kent menurunkan berat badannya. Kaki Jessy direntangkan kemudian kedua tangannya menahan agar aksesnya lebih mudah.


Dia mendekatkan tubuh mereka. Menggosok sekitar area sensitif Jessy. Meraba-raba untuk mencari jalan masuk. Dengan sekali hentakan, kejantanan miliknya menerobos masuk.


"Ahhhh!" Jessy menjerit. Tubuhnya mengerat kedalam pelukan Kent.


"Terlalu sempit." Kent seperti ikan kekurangan air. Pintu itu terlalu sempit dan ketat. Dia menahan diri untuk tidak mendorong terlalu keras karena takut melukai Jessy.


"Sakit!" Jessy menelan teriakannya.


Kent kembali medorong miliknya masuk. Tidak peduli akan rintihan Jessy, dia juga sama. Miliknya seperti dihimpit oleh sesuatu yang sempit.


"Jess! Aku bisa gila!"


Kent kembali menyentak. Kejantanannya dilahap semua oleh Jessy. Inti Jessy berdenyut tak karuan. Pikiran rasional Kent buyar. Dia mendorong serampangan. Membabi buta dengan kenikmatan yang diberikan oleh Jessy.


Jungkir Balik Dunia Jessy #11 Next...

__ADS_1


__ADS_2